
Luna menghampiri Melly yang tengah duduk di sofa. Ia duduk tepat di samping sahabatnya itu! Melly terlihat begitu lelah. " Mel, bukannya semalam kamu bilang, sampai disini jam dua belas siang kan?" Tanya luna Sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu telah menunjukkan pukul delapan malam.
" Iya, tadi pesawat mendarat sekitar jam 12! Kenapa emang?" Melly menengok untuk melihat lebih jelas wajah Luna.
" Nggak papa, cuma nanya aja." Melly mengangguk sebagai tanda ia mengerti. " Kamu sudah makan." Tanya Luna lagi.
Melly menunjukkan senyumnya sebelum menggelengkan kepalanya." Kalau anak sakit, jangan kan ingat makan, nama kita aja! Mungkin kita lupa." Kini giliran luna yang menggeleng kepalanya seraya berdesis, mungkin benar apa yang di katakan Melly. " Namanya juga orang panik, iya nggak!" Melly meminta pendapat luna.
" Kalian Nggak usah Cemas seperti itu, bahkan dulu waktu aku hamil, tidak ada makan yang enak di mulut ku, semuanya yang masuk pasti akan keluar lagi, selang lima menit atau tidak sampai." Melly kembali berbicara saat ia melihat tatapan kasihan yang di tunjukkan Luna dan Reval. Bahkan Dion pun menunjukkan ekspresi bersalah dan penyesalan dalam waktu yang bersamaan." Jangan menatap ku seperti itu. " Bentak Melly.
" Kamu mau makan apa? Biar aku belikan." Tawar Dion, raut wajahnya masih sama.
" Tidak perlu! Aku belum lapar."
" Kamu yakin Mel?" Sahut luna. " Katakan kepadaku, kapan terakhir kamu makan."
" Entahlah, aku lupa. " Ucap Melly sambil menaikkan kedua bahunya." Mungkin waktu di Canberra." Sambungnya.
" Di Canberra." Dion mengulang ucapan Melly, dengan kedua tangan yang di kepalkan. Wanita itu masih sama, selalu mengabaikan dirinya." Kamu harus makan, sekarang. " Pinta Dion, langsung di tolak oleh Melly.
" Aku akan makan bersama Hani."
" Bagaimana kalau Hani belum juga bangun! Apa kamu akan tetap menunggunya?" Tanya Reval.
" Tidak masalah, aku juga belum lapar."
" Mel_"
"Jangan memaksaku lun."
" Tapi kamu harus makan sekarang." Ucap Dion tidak ingin di bantah.
Melly tersenyum mengejek. " Kamu tidak berada pada posisi, dimana aku harus menuruti setiap kata yang keluar dari mulut mu, by! Jadi jangan besar kepala hanya karena aku bersikap baik padamu. Itu hanya formalitas dari sikap sopan santunku dan semua orang yang kenal aku, mendapatkan porsi yang sama seperti kamu." Ketiga orang itu tercengang mendengar apa yang di katakan Melly.
Melly mungkin wanita acuh tak acuh dan bermulut pedas. Tetapi ketegasannya sungguh tidak bisa di ragukan.
" Luna bangunkan aku, jika Hani sudah bangun! Aku sangat lelah. " Melly merebahkan tubuhnya di sofa, ia benar benar sangat lelah. Otak dan hatinya harus beristirahat walaupun hanya sesaat.
" Ya, aku akan menjaga hani tanpa kamu meminta."Sahut Luna. Begitu Melly tertidur Dion pun pergi.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Suara tangisan Hani mengusik Melly yang tengah tertidur." Mommy, Hani mau mommy. " Dion dan luna sedikit kewalahan menenangkannya sementara Reval, memilih membujuk, Naina yang ikut terbangun, karena tangisan Hani.
" Hani." Panggil Melly. Suara Melly Bagaikan mantra yang langsung bekerja untuk Hani. Putrinya yang sejak tadi merengek mencarinya terdiam, ketika suara lembut penuh kasih, masuk ke dalam indra pendengarannya.
" Sabar ya sayang, Nanti Mommy buka ya, kalau cairannya sudah Habis." Melly menunjuk botol infus yang tergantung pada tiang yang terbuat dari besi itu. " Kan Mommy, sudah bilang kalau sakit itu nggak enak kan." Hani mengangguk seraya mengangkat kedua tangan kepada Melly. Ia begitu merindukan dekapan ibunya.
Melly menggeleng kepalanya, ia mencubit ujung hidung HANI dengan main main, " Nanti tangan kamu semakin sakit sayang."
" Ya." Hani menelisik ruangan yang ia tempati dan menatap secara berganti kepada Reval, Luna, Dion dan berakhir pada Melly. " Mommy! Are they your friends?" Tanya Hani sedikit berisik tetapi mereka masih bisa mendengarnya. Dalam otak kecilnya, ia berpikir jika ketiga orang itu tidak akan mengerti apa yang dia katakan dan Jangan salahkan dia atas pikirannya saat ini, salahkan saja Melly. Ia mengajarkan Hani dua bahasa sekaligus, bahasa inggris untuk lingkungan sekitar dan sekolah sementara bahasa Indonesia saat mereka tengah berdua, jadi sekali pun Hani lahir dan tumbuh di negara negara empat musim. Ia tetap pase dengan bahasanya.
" Hmm, mereka teman Mommy." Jawab Melly.
" Mom, Do they understand what I'm saying? (Apakah mereka mengerti yang aku katakan?)" Bukannya menjawab, Melly malah tertawa terbahak bahak. Apa yang tengah di pikirkan Hani, sampai bisa menduga hal seperti ini.
" Apa kalian mengerti apa yang di bilang Hani Barusan?" Melly bertanya kepada Reval, Luna dan Dion! Setelah merendahkan tawanya begitu ia melihat wajah cemberut serta mata HANI yang berkaca-kaca.
" Aku tidak mengerti, karena di Oxford! Dosennya mengajar pakai bahasa lain, Benar kan val." Dion menepuk pundak Sahabatnya itu. Dengan berat Hati Reval mengangguk kepala.
" Kalau kamu lun?" Kini giliran Luna yang masuk jebakan.
" Tidak, aku tidak mengerti apa pun." Sahut Luna.
" Dengarkan sayang, mereka tidak mengerti apa yang HANI katakan, sekarang Hani mau tanya apa?" Melly tahu, jika Hani sudah berbicara seperti ini, tentu saja ada hal penting yang ia ingin bicarakan dengan Melly tetapi tidak ingin orang lain mengetahuinya. Waktu di Canberra juga dia seperti ini, jika ada yang menyakiti atau mengganggunya ia akan memberitahu Melly mengunakan bahasa Indonesia.
" Boneka Hani mana Mommy?" Tanya Hani, membuat Melly mengerutkan keningnya.
" Boneka yang mana?" Tanya Melly. " Mommy cuma bawah kamu, boneka yang ini, nanti kalau Hani sudah sembuh kita beli ya." Melly mengambil boneka keluarga Barbie yang ia letakkan di dalam tas jinjing selalu ia bawah saat bepergian dengan HANI. Lalu menyerahkan boneka itu ke tangan putrinya.
Wajah Hani berbinar saat melihat boneka itu, ia menatap penuh Harap kepada Melly." Mommy." Serunya sambil menunjuk boneka Kecil. "it's mee." Hani menunjuk boneka yang satu lagi. " it's Him." Boneka Ken yang terakhir ia tunjukkan. Sambil melirik sekilas ke arah Dion.
Melly pikir jawabannya waktu itu sudah cukup untuk membungkam Hani, tetapi hari ini ia membuktikan kalau dia salah, Hani kembali mengulang pertanyaan yang sama terlebih di depan Dion dan sahabatnya. Sungguh malu rasanya berada di posisi saat ini.
Kedua manik mungil itu, menanti jawabannya. Melly tahu sebenarnya Hani ingin bertanya apa dion ayahnya, tetapi ia takut menyinggung perasaan Melly. " Yes it's Him. You can call him Daddy (Ya itu Dia. Kamu bisa memanggilnya daddy) ." Untuk Hani, Melly berani menekan egonya ke titik paling rendah, saat melihat tatapan penuh harap dari putrinya.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading 💘💘...