
Keesokan Harinya, Dion kembali menemui pengacaranya. Lelaki itu, ingin proses perceraiannya dengan Ria. Segera Mendapatkan ketukan palu. Yang mengabulkan permintaannya.
Dan sesuai dengan harapannya. Pembacaan putusan akan di lakukan besok. Dion di haruskan hadir.
Tanpa berpikir panjang Dion langsung mengiyakan, permintaan pengacaranya. Mengingat besok ia akan terlepas dari hubungan yang tidak sehat itu.
Setelah dari Kantor pengacaranya, Dion kembali ke kantor. Guna menyelesaikan pekerjaannya sebab lelaki itu sudah begitu merindukan Melly dan Hani. Mengingat semalam ia tidak menemani mereka. Karena Melly tidak mau dia menginap lagi di sana.
" Benar benar labil dia. Hari ini iya, besoknya nggak. Entah apa mau nya." Gumam Dion saat memikirkan tingkah Melly, sembari duduk di kursi kebesarannya.
Lelaki itu baru saja tiba di perusahaannya. Ia mulai menyalahkan laptop dan memeriksa pekerjaan yang telah menumpuk di atas meja kerjanya, Karena tinggal dua hari.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Sementara Di apartemen, Melly baru saja mendapatkan telpon dari perawat yang biasanya membantu Melly. Bahwa dokter yang bertanggung jawab menggantikan Melly, mengalami kecelakaan, sehingga beberapa keluarga pasien mengeluh karena kerabat mereka tidak mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik.
Pada Akhirnya Melly harus kembali ke canberra malam ini juga. Setelah mengambil menutup telpon. Melly mengeluarkan koper, mengemas beberapa helai pakaiannya dengan Hani serta keperluan keberangkatan lainnya.
" Mommy, kita mau pergi?" Tanya Hani. Saat melihat Melly mengunci koper itu.
" Iya sayang, mommy punya pekerjaan! Bukan kah Hani juga rindu sekolah." Melly mencoba memberi pengertian kepada putrinya itu. Ia tahu Hani mulai nyaman disini tetapi, sebagai seorang dokter yang sudah bersumpah. Ia tidak bisa mengabaikan pasiennya, hanya untuk kesenangan semata, banyak harapan bergantung di pundaknya. Entah sembuh atau tidak, setidaknya Melly telah berusaha. Dan untuk Hani, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya umur, putrinya pasti akan mengerti.
Hani mengangguk kepalanya. " Iya mom, tapi kenapa Hani tidak sekolah disini saja, disini banyak orang yang sayang sama kita tapi di sana hanya kita berdua."
" Kata siapa berdua, kan ada teman teman kerja Mommy, ada teman Teman sekolah Hani juga kan." Sahut Melly, seraya mengusap kepala Hani. Ikatan Darah memang tidak dapat di bohongi. HANI betah karena Ada Dion dan keluarganya.
Hani kembali mengangguk, membenarkan ucapan Melly. Tetapi gadis kecil itu memiliki keraguan di hatinya." Tapi mom. "
" Tapi apa sayang, apa teman teman Mommy tidak baik sama Hani atau ada teman teman Hani yang jahat in Hani di sekolah." Tanya Melly, langsung mendapat gelengan dari putrinya. " Apa Hani tidak mau ikut Mommy?" Hani kembali menggeleng kepalanya.
" Terus Apa saya. " Tanya Melly lagi.
" Bisa kah kita tidak pergi Mommy Dan kenapa Hani tidak sekolah disini saja.? " Gadis kecil itu balik bertanya,. Melly tersenyum seraya menggeleng kepalanya.
" Maaf sayang, pekerjaan Mommy ada di sana dan mommy tidak punya alasan untuk tinggal disini." Jelas Melly." Sudah jangan banyak tanya, sekarang ambil tas Hani di kamar, terus kita ke rumah tante luna." Gadis kecil itu mengangguk, ia langsung berlalu dari hadapan ibunya, segera. Bergegas ke kamar.
Sementara Melly Hanya menatap punggung Hani." Bila sudah besar nanti kamu pasti akan mengerti kenapa Mommy tidak ingin tinggal, dan mommy sadar akan keegoisan mommy." Ucap Melly dalam hatinya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Tepat jam sebelas siang, Melly dan Hani tiba di rumah Luna, wanita itu begitu antusias menyambut kedatangan Melly dan putrinya.
" Tumben datang nggak kasih kabar dulu." Ucap Luna begitu keduanya duduk di ruang tamu. " Jangan bilang kamu mau balas aku, soal yang kemarin." Tuduh luna, tetapi tidak di hiraukan Melly sama sekali.
" Aku mau minta tolong sama kamu." Ucap Melly begitu to the point, Setelah beberapa saat hening, karena pelayan menyuguhkan minuman dan beberapa kue kering untuk mereka.
" Minta tolong apa?"
" Aku akan kembali ke aussie malam in_"
" No, aku tidak akan membantu." Luna langsung memotong ucapan Melly.
Mendengar hal itu, Melly hanya memutar bola matanya malas. Ia melirik Hani yang tengah duduk di sampingnya lalu menatap kepada luna. " Aku Mohon lun, Hanya kamu yang bisa bantu aku." Luna tetap pada pendiriannya.
Melly tahu tidak mudah untuk membujuk luna, maka dari itu ia meminta salah seorang pelayan luna membawa Hani untuk bermain bersama anak anak luna. karena ia akan memohon kepada sahabatnya itu.
Sementara di tempat lain. Hani diantar ke taman belakang, dimana Naela dan Naina sedang bermain. Taman belakang itu begitu luas, ada gazebo, ayunan, seluncuran dan beberapa permainan anak lainnya, yang luna dan Reval sediakan untuk anak anak MEREKA. sementara di sudut taman itu, ada beberapa kandang yang di sediakan untuk hewan peliharaan anak anak mereka.
" Kamu siapa." Tanya Naela.
" Dia anaknya tante Melly kak." Sahut Naina, gadis kecil itu tentu saja mengenal Hani, karena mereka pernah di rawat di ruangan yang sama. " Yang kemarin kita kerumahnya itu loh." Sambungnya lagi. Sedangkan sang kakak hanya ber oh ria mendengar penjelasan Naina.
" Ayo kak, kita main." Ajak Naina, gadis itu menarik Tangan Hani. Dan ketiganya pun bermain bersama. Sementara pelayanan yang mengantar Hani hanya mengawasi mereka dari jauh.
Setelah puas bermain Naela mengajar Hani untuk melihat, kucing, kelinci dan burung Kakak tua yang berada di kandang yang tidak jauh dari mereka.
Mata Hani begitu berbinar melihat kucing, ia jelas menyukai hewan berbulu itu. Saat tengah Asyik bermain, dengan kucing peliharanya Naela.
Gadis kecil itu melihat ke arah, batang pohon tumbang yang sengaja di biarkan, dimana hewan manis dan imut lainnya tengah menatap kepadanya. Hewan berbulu putih dengan garis garis hitam itu, membuat Hani meletakkan Kucing kesayangan Naela dan berjalan kearah hewan itu.
" Hai. Manis." Panggil Hani. Ia meletakkan tangannya di atas kepala hewan itu dan mengusap nya.
" Jangan sentuh Dia." Bentak Seseorang dari belakang sana membuat Hani terkejut, tetapi tangannya tidak berpindah dari hewan itu sedikit pun. " Singkirkan tangan kamu dari nya." Teriak anak laki laki yang baru genap enam tahun itu. Siapa lagi kalau bukan Narendra.
Ia menatap tajam kepada Hani, seolah gadis kecil itu adalah musuh yang harus ia waspadai. Sementara Hani, tidak menunjukkan ekspresi apapun ia hanya menatap sekilas kepada Narendra, setelah itu kembali fokus dengan hewan itu.
Membuat Narendra, semakin jengkel dan menarik rambutnya, agar menyikir dan tidak menyentuh tiger nya.
" Kakak, jangan." Tegur Naela. Ia langsung melepas tangan Narendra dari rambut Hani.
" Sakit kan? Makanya jangan pernah menyentuh milikku." Ucap Narendra. Ia mengangkat! Hewan kesayangannya dan berlalu dari hadapan Hani dan adik adiknya tanpa minta maaf.
" Dasar pelit." Teriak HANI. Tetapi Narendra tidak peduli ia terus berjalan.
" Kepala kamu sakit ya? " Tanya Naela. Hani, hanya menggeleng kepalanya. " Maaf ya. Kita main lagi Yuk." Ajak Naela setelah meminta maaf untuk Narendra.
Ketiganya pun kembali bermain setelah mendapat anggukan kepala dan Hani.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...Bersambung. ...
...Happy reading.. 💘💘...
Bonus visual tiger.
...Jangan lupa komen. Tapi jangan jadi mak comblang. 🙅...
...🤣🤣🤣...