Secret of the Heart

Secret of the Heart
End.



" DION dasar pembohong, dimana kamu sembunyikan semua berkas berkas ku." Wanita itu memekik kesal sembari berlari kecil menuruni satu persatu anak tangga menuju ruang keluarga.


Sementara lelaki yang tengah Duduk bersantai di ruang keluarga sambil mengendong buah hati mereka, yang belum genap satu bulan itu! Hanya tersenyum simpul.


Dia tahu sebentar lagi macan betinanya itu akan mengamuk Karena semua Ijazah dan bukti-bukti prakteknya serta sertifikat yang dia dapat selama menjadi dokter, telah di pindahkan lelaki itu ke tempat sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Reval. Tentunya tanpa sepengetahuan Luna, istrinya Reval.


" Honey jangan teriak-teriak, kasihan Aiden nya, baru saja tidur." Tegur Dion, seolah tidak terjadi apapun. Ya Bayi laki-laki yang ada dalam dekapan daddy nya itu di beri Nama Haiden sauqi Xavier.


" Sayang ada apa ini? Kenapa kamu teriak teriak." Tanya Mama mertuanya. Yang baru saja keluar dari kamar Dian.


" Ada apa sih, kenapa kamu marah-marah seperti ini." Dian yang berada di belakang mamanya, ikut bertanya.


" Dion bohongi aku ma. " Teriaknya lagi.


" Honey_"


" Apa! Emang kenyataannya seperti itu kan, kamu udah janji kalau aku boleh kerja setelah aiden lahir, tapi kenyataannya kamu curang kan! Katakan dimana kamu sembunyikan berkas berkas aku Dion." Geramnya.


" Dion_" Ucapan mamanya tertahan. Karena Dion lebih dulu menyahuti wanita paruh baya yang telah membawanya ke dunia ini.


" Mama, Dion Titip Aiden bentar ya." Dion menyerahkan putranya kepada sang mama. Kemudian menghampiri Melly. " Ayo sayang kita perlu bicara." Tanpa ba bi bu Dion langsung mengangkat tubuh Melly dan membawanya ke kamar mereka sementara di belakang sana Dian dan mamanya hanya bisa geleng-geleng kepala.


" Heran mama sama mereka! Pertengkaran dan perdebatan seolah tak bisa lepas dari mereka berdua, tapi entah kenapa itu tidak bertahan lama dan sering terjadi! Hmmm, dari mereka mama belajar hubungan harmonis tidak selamanya tentang cinta, kata kata dan sikap manis saja! Terkadang pertengkaran dan perdebatan juga dapat memberi warna dan waktu untuk kita introspeksi diri. " Ucap Mamanya Dion, di benarkan oleh Dian.


Benar saja. Entah apa pembicara mereka berdua di dalam kamar itu! Sebab begitu kedua pasangan itu keluar kamar mereka kembali akur seolah tidak terjadi apa apa! Padahal mama dan kakaknya Dion belum lama mendarat kan bokong mereka di sofa ruang tamu.


" Aiden mana ma." Tanya Melly sembari ikut duduk di samping mama mertuanya itu.


" Tuh lagi tidur." Jawab wanita paruh bayah itu sambil menunjuk box bayi yang tidak jauh dari mereka, semenjak usia kandungan Melly dan Dian genap tujuh bulan mertuanya itu sudah menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedua cucunya, mulai dari tempat tidur sampai hal sekecil apapun yang di butuhkan kedua cucunya dan semua itu ia siapkan double ada juga yang lebih, katanya sih untuk jaga-jaga.


Saat mereka tengah asyik ngobrol, Hani, Lisa dan Kakek mereka, yang entah dari mana ikut bergabung bersama mereka. Suasana seperti ini sering mereka lewat setelah Dian dan Melly kembali ke rumah itu.


Rumah yang dulunya sepi dan hanya di isi dengan parah pelayanan yang berlalu lalang melakukan tugas mereka, kini begitu ramai dengan suara tangisan dua bayi tampan itu juga suara tawa, tangis dan perdebatan Lisa dan Hani. Rumah itu hampir tidak pernah Sepi beberapa minggu ini.


" Papa senang kita bisa kumpul seperti ini. Rasanya papa ingin hidup seratus tahun lagi dan melihat kesuksesan mereka." Ucap lelaki paruh bayah itu sambil menatap Hani dan adik-adiknya.


" Mama juga pa. Ternyata apa yang mama takut kan selama ini, hanya ketakutan semata. Kenyataannya, sekarang mama udah punya empat cucu. " Sahut wanita itu sambil terkekeh.


" Iya ma, Andai Andara bisa ikut kumpul bersama kita, pasti keluarga ini akan lebih lengkap." Dian yang mendengar ucapan papanya tidak terpengaruh sedikit pun, ia hanya fokus menatap wajah mungil yang tengah menyusu padanya. Tidak ada tatapan kecewa atau pun sedih yang ada hanya senyuman untuk sang buah hati.


Sementara Melly menatap iba sekaligus kagum kepada wanita yang menjadi kakak iparnya itu. Dian yang pernah mencintai tanpa tapi, bertahan tanpa alasan dan bersabar tanpa sadar pun, pada akhirnya melepaskan tanpa pesan. Wanita itu berhasil sampai pada fase tertinggi mencintai. Ya karena fase tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan dan Baik dia mau pun Luna mungkin tidak akan pernah sampai di fase itu. Tahu sendiri lah seperti sikap kedua wanita itu.


" Untuk apa mengingat dia yang tidak pernah mengingat kita! Ada atau tidaknya dia, kita juga bisa bahagia. Selama kita saling support dan mendukung satu sama lain. Apapun keputusan kakak nanti, ingat ada keluarga kakak disini." Dion menghampiri Dian dan mengecup puncak kepala Kakaknya sembari berkata." Jika pada akhirnya kakak tidak ingin kembali, aku bersumpah, nyawaku taruhan nya. aku tidak akan membiarkan dia kekurangan kasih sayang seorang ayah." Dion mengusap puncak kepala Gio.


" Terima kasih, kakak sayang sama kamu." Ungkapan itu begitu tulus disertai usapan lembut di pipi Dion.


" Aku juga sayang sama kakak, bukan Dion aja." Sahut Melly tak mau kalah. Membuat Dian tersenyum sembari mengangguk.


" Kakak tahu itu."


" Hani juga sayang sama Bunda dan dede bayi." Gadis kecil yang sejak tadi tengah asyik bermain dengan Lisa tak mau kalah dengan orang tuanya begitu pun dengan Lisa.


" Bunda juga sayang sama Hani begitu juga dengan Dede bayi." Dan mereka pun tertawa bersama.


Entah mengapa Hari ini mereka jadi mengungkapkan perasaan satu sama lain. Tapi satu yang pasti, hari itu adalah hari yang paling membahagiakan untuk mereka.


Baik Dion, Melly maupun orang tua atau pun keluarga mereka. Hubungan pernikahan mereka masih panjang sesuai umur yang di berikan tuhan. Dan selama masa masa itu, pasti ada berbagai kerikil dan duri yang menanti mereka di depan sana.


Tapi Dion dan Melly yakin, selama pondasi kepercayaan dan rasa cinta mereka kuat, mereka pasti bisa melewati semua itu! Karena ada dukungan keluarga serta tanggung jawab sebagai orang tua yang mereka pikul.


Dan Takdir hidup seseorang tidak dapat di tebak, sejauh apapun Melly mencoba untuk berlari pada akhirnya ia akan kembali kepada pemilik hatinya. Begitu juga dengan Dion sekuat apapun dia mencoba baik baik saja tanpa pemilik hatinya, pada akhirnya dia kalah dan mecari pemilik hati.


Ya. Karena cinta memang seluar biasa itu. Dan baiknya! Tuhan menyatukan mereka dalam cinta mereka walaupun harus melawati proses yang sulit dan waktu yang panjang.


Karena pada dasarnya mereka ditakdirkan untuk satu sama lain. Melly untuk Dion dan Dion untuk Melly.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...End. ...


...Happy reading.. 💘💘...


...Terima kasih semuanya yang telah mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir. 🙏🙏🙏 ...


...Terima juga, untuk jari-jari kalian yang tidak bosan menekan like, memberi vote, hadiah dan komentar untukku. ...


...Aku tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada kalian, hanya ucapan terima kasih dan doa yang tulus, semoga kalian dan keluarga di berikan kesehatan dan rejeki yang berlimpah dimana pun kalian berada. 🤲🤲...


...Amiin. 🤲🤲...


...Sekali lagi terima kasih. 🙏🙏🙏...