
Selesai berziarah kemakan ibunya Melly, keduanya memutuskan untuk pulang. Lagi senja telah berganti gelapnya malam saat mobil yang di Kendari Dion meninggalkan area pemakaman.
" Aku ingat! dulu kamu pernah cerita kalau kamu tidak ingin tinggal bersama, Ayah dan mami? Kenapa?" Tanya Dion. Dulu ia tidak sempat mendengar banyak cerita tentang Melly hanya sedikit yang dia tahu tentang wanita itu. Karena sibuk mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi di Oxford. Setelah kembali gantian Melly yang sibuk dengan kuliahnya. Banyak waktu yang mereka lewatkan bersama dan saling mengenal, bersyukurnya seminggu setelah mereka menikah Melly mengajaknya untuk berziarah ke makam ibunya.
Melly melirik Dion. Dion pun menatap kearahnya, membuat tatapan keduanya bertemu dan terkunci beberapa saat sebelum Melly yang lebih dulu memutuskan tatapan mereka.
" Aku hanya terlalu nyaman sama kehidupan aku saat itu, walaupun kehidupan aku serba kekurangan."
" Tapi pada akhirnya kamu ikut mereka juga kan?" Sambung Dion.
Melly menaikkan kedua bahunya, seraya berkata. " Mau bagaimana lagi, aku terus di desak."
" Tapi, aku bersyukur, pada akhirnya kamu Ikut mereka kalau tidak! Mungkin sampai saat ini aku tidak akan pernah menemukan kamu. "
" Apaan sih, jangan berlebihan deh."
" Aku tidak berlebihan honey, seandainya kamu tetap di desa, pasti aku tidak akan pernah bertemu dengan kamu! Desanya aja jauh banget. "Sahut Dion.
" Tidak ada yang tahu rencana tuhan seperti apa dan bagaimana ia mempertemukan hamba nya. Lagian kalau takdir kita berjodoh! Mau aku tinggal di neptunus sekali pun kita akan tetap bertemu." Dion langsung tertawa mendengar ucapan Melly.
" Iya juga sih! Kita istirahat dulu ya! Nanti besok kita lanjutin perjalanan lagi, aku capek. " Ucap Dion sambil memutar kemudinya dan berhenti di salah satu Hotel yang mereka lewati.
" Tapi Hani gimana? "
" Ada kak Dian sama mama! Hani pasti baik baik aja." Melly tidak menyahuti ucapan Dion.
" Baiklah, tapi besok kamu harus bawah Hani pulang. " Ucap Melly Melly setelah berpikir, ia tidak mungkin memaksa Dion untuk pulang di saat lelaki itu mengatakan ia lelah sementara perjalanan mereka masih jauh.
" Iya, terima kasih ya." Sahut Dion sembil mengusap kepala Melly.
" Terima kasih untuk. " Tanya Melly. Jelas saja dia bingung, tidak ada yang ia perbuat tetapi Dion justru mengucapkan terima kasih.
" Terima untuk semuanya, terima kasih, karena kamu tidak pernah membenci nya dan justru mencintainya di saat kamu tidak menginginkan kehadirannya.."
" Jangan berterima kasih pada ku, Hani hadir karena aku menginginkannya dan satu hal yang harus kamu tamu, sama seperti wanita lainnya. Aku juga menginginkan seorang anak. Jadi tidak merasa bersalah atau apapun itu kepadaku. " Entah kenapa Melly jadi kesal mendengar ucapan Dion.
Wanita melepas sabuk pengen setelah itu ia membuka pintu mobil dan keluar terlebih dulu tanpa menunggu ucapan Dion selanjutnya.
" Kenapa sekarang kamu semakin sensitif. " Dion di buat geleng-geleng kepala dengan tingkah Melly. Tidak ingin semakin membuat suasana Hati Melly Semakin buruk, Dion pun mengikuti langkah wanita itu.
Begitu tiba di lobby hotel, Dion menarik tangan Melly, membuat wanita itu sedikit berputar dan berakhir menubruk dadanya. " Kenapa marah." Tanya Dion sembari menatap lekat wajah Melly. " Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu! Hanya saja aku telah senang, sampai berbicara seperti itu."
" Lupakan, aku juga tidak marah."
" Terus kenapa pergi terburu buru seperti itu." Tanya Dion, Jika Melly tidak memalingkan wajahnya. Dion pasti berhasil mengecup bibir Melly sayang cium yang tidak terencana itu hanya berakhir di pipi Melly.
" Jangan suka ambil kesempatan dalam kesempitan, sana pesan kamar, aku capek. " Melly mendorong dada Dion.
Dion pun menuruti ucapan Melly, ia melangkah mendekati resepsionis hotel. Belum sempat ia membuka suara, Melly lebih dulu memanggilnya.
"Ya."
" Pesan satu kamar saja! Malam aku tidak ingin sendiri." Dion mengangguk.
...\=\=\=\=\=\=...
" Tapi aku tidak punya baju ganti, kamu kan tahu, aku tidak mungkin memakai bajuku kembali." Sahut Melly.
" Sebaiknya kamu mandi dulu, aku memiliki beberapa baju di mobil, kamu bisa memakainya untuk sementara."
" Baiklah." Melly mengangguk, seraya melangkah masuk kedalam kamar mandi, sementara Dion turun kebawa. Ia menuju mobilnya yang terparkir di basement.
Begitu Melly selesai mandi, Dion langsung memberikan Melly, bajunya setelah itu gantian Dion yang menyegarkan Dirinya.
Selesai makan keduanya tidak langsung beristirahat, melainkan menghabiskan waktu di balkon sambil menatap bulan yang tengah bersinar tanpa ada yang berbicara sampai tatapan mereka berpisah kearah ponsel Dion.
" Kak Dian." Ucap Dion sambil menunjukkan layar benda pipi itu kepada Melly, Dimana Foto Dian Dan Hani tertera di sana.
" Kalian Dimana? Hani ingin berbicara dengan Melly." Ucap Dian begitu Dion menerima panggilan video itu.
" Aku dan Melly memiliki sedikit urusan, tapi sudah kami menyelesaikannya l. Rencana besok baru kita pulang. Apa kakak bisa menjaga Hani untuk kita." Tanya Dion
" Tentu saja, anak kalian berdua adalah anakku juga jadi kalian tidak perlu sungkan kepadaku. " Sahut Dian dari Seberang sana." Mana Melly, berikan ponselmu kepadanya, aku bosan melihat wajahmu. "
" Aku ini adikmu, kenapa kamu begitu tega berbicara seperti itu kepadaku. "
" Jangan pasang wajah memelas mu. Kamu akan membuatku muntah, berikan ponselnya kepada Melly." Desak wanita itu lagi.
Dion pun memberi ponselnya kepada Melly." Dian ingin berbicara dengan mu. " Ucap Dion, walaupun sejak tadi wanita itu mendengar ucapan kakak beradik itu.
" Hai kak, apa kabar? " Tanya Melly.
" Kabar kakak baik! Bagaimana mana denganmu."
" Sama seperti yang kakak lihat aku juga baik! Apa Hani merepotkan kakak. "
" Tidak, kakak justru senang bisa mengurusnya! Ini Hani mau bicara sama kamu." Wajah Dian kini sudah berganti dengan wajah Hani. " Mommy kenapa belum menjemput ku, kata nenek sama tante Dian, kalau mommy belum datang menjemput Hani, Hani boleh tidur di sini selama yang Hani mau! Apa tidak apa apa mommy? "
" Iya sayang nggak papa, selama Hani tidak ngerepotin tante Dian dan nenek." Sahut Melly.
" Iya mommy, Hani nggak ngerepotin kok, tanya aja sama Dian. Ia kan tante. " Gadis kecil itu menatap kearah dian, meminta dukungan darinya." Iya mel, dia baik kok. "
" Ya sudah, kalau gitu Hani tidur ya, udah malam nih. "
" Iya mommy, selamat malam. Muchhh. " Hani menyerahkan ponsel kepada Dian." Aku bujukin Hani tidur dulu ya, besok usahakan jam 11 pagi kalian sudah harus disini, karena kita ada sesi foto keluarga. Bye. "
Baru saja Melly ingin bertanya, Dian sudah mengakhiri panggilan itu. Melly menatap kearah Dian, meminta penjelasan atas ucapan Dian barusan. Tetapi Dion hanya menaikkan bahunya, seraya berkata dia juga tidak tahu.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...Bersambung. ...
...Happy reading. 💘💘💘...