
Dion tidak bisa tidur, walaupun matanya terpejam sejak tadi. Ia terus bergerak dengan gelisah, berbalik ke sana kemari dengan sesekali menatap kearah Melly, berharap wanita itu akan terusik dan terbangun, tetapi sayangnya Melly tidak terusik sedikit pun dengan pergerakan Dion. " Mel, Melly." Panggil Dion.
Lelaki itu mencoba untuk membangunkan Melly, tetapi hasilnya nihil, Melly tidak merespon panggilannya. Pada akhirnya ia mengalah dan mencoba untuk kembali tidur, tetapi sayang hasilnya tetap sama.
Dion yang masih terjaga memilih turun dari ranjang, setelah itu melangkah keluar dari kamar untuk menenangkan pikirannya serta hasrat yang sejak awal telah di undang oleh Melly.
Lelaki itu memilih berjalan jalan di taman, ia berharap dinginnya angin malam dapat menjernihkan pikirannya lagi.
Waktu telah menunjukkan Angka sepuluh. Terlihat taman itu tidak sepenuhnya sunyi, karena ada beberapa pasangan yang tengah duduk tak jauh dari tempat berada. Dion duduk sembari mengangkat wajahnya ke atas dan memejamkan matanya.
Dion tidak tahu saja kalau sejak tadi Melly tidak pernah tidur. Ia hanya mengatur nafasnya senatural mungkin dengan kedua mata yang terpejam.
Begitu mendengar pintu kamar di tutup dari luar Melly langsung membuka kedua matanya. dan mengurut dadanya pelan .
Ia merasa lega melihat ruang itu Sepi dan tidak ada tanda tanda Dion di sana. Perlahan Melly turun dari ranjang, ia melirik keatas meja di mana makan yang di pesan Dion belum sepenuhnya dimakan.
" Seperti Dia akan lama." Gumam Melly, lalu menghampiri meja itu, mengambil gelas kosong berbentuk piala dan sebotol red wine ia tuangkan isinya kedalam gelas itu, setelah itu Melly berjalan kearah balkon dan berdiri di sana sembari menyesap wine yang ada di tangannya. Membiarkan angin bermain main dengan rambutnya yang terurai.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Lima belas menit di taman, Dion mulai merasa ngantuk, ia terus saja menguap, tetapi lelaki itu belum ingin kembali ke kamar. Sekuat apapun Dion menahannya, rasa ngantuk itu semakin menjadi, membuat Dion mau tidak mau harus kembali ke kamar.
Setibanya di depan pintu kamar mereka, Dion membuka pintu dengan pelan sehingga tidak menimbulkan bunyi yang akan mengusik istrinya yang tengah tertidur.
Dion kembali menutup pintu itu dengan perlahan, begitu dirinya berada di dalam kamar. Saat ia ingin melangkah kearah ranjang mata Dion menangkap sosok Melly yang tengah berdiri di balkon jauh di depannya.
Wanita itu belum menyadari kedatangan Dion, sampai sebuah tangan melingkar di perutnya, membuat Melly terkejut dan melepaskan gelas yang sejak tadi ia pegang, gelas itu terjatuh kebawah entah mendarat dimana, semoga tidak mendarat di kepala orang, harap Melly.
" Kenapa bangun Hmmm?" Tanya Dion sambil mencium pundak Melly, sesekali menjilat dan menggigit kecil permukaan kulit wanita itu
Melly memejamkan matanya, saat ia kembali merasakan perasaan geli bercampur nikmat. Sementara tangan Dion yang berada di perut Melly kini telah berpindah pada dadanya dan Mengusap ujungnya. " Di_on." Kaki Melly lemas, seakan ada kupu kupu yang menari nari di perutnya.
Saat dion dengan sengaja mengusap dan menarik pelan Puncak gunung kembar itu.
" Kenapa, mel." Tanya Dion. " Aku boleh_"Sambungnya saat Melly tidak merespon pertanyaan Dion sebelumnya.
" Mau aku tolak pun tangan kamu sudah terlanjur berada di situ kan." Sahut Melly seakan ia tahu apa yang ingin di ucapkan Dion."
" Berarti aku boleh melakukannya. " Tanya Dion lagi, tanpa menyebut apa yang di maksud dengan boleh itu. Lalu memutar tubuh Melly sehingga berhadapan dengannya. Tangan Dion tidak berhenti dengan kegiatannya walaupun kini telah berhadapan dengan Melly
Disisi lain, Dion yang mendapat lampu hijau dari Melly tentu saja tidak menyia nyiakan kesempatan. " Semoga kamu tidak berubah pikiran sayang, sebab itu akan sangat menyiksaku melebihi tujuh tahun ini." Sahut Dion dan langsung mencium bibir Melly. ******* dengan perlahan lalu mengendong tubuh wanita itu seperti Kuala, membawa tubuh wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu masuk kedalam kamar sebelum merebahkan tubuh Melly di atas ranjang dan mulai menindihnya dan kembali mencium bibir Melly yang selalu menjadi candu untuknya.
Ciuman yang awalnya lembut dan perlahan itu. Kini semakin menuntun bahkan tangan keduanya tidak tinggal diam, bergerak secara acak sembari menyusuri setiap jengkal kulit satu sama lain.
Dion menyudahi ciuman mereka dan membantu Melly melepaskan lingerie yang Melly gunakan sehingga terpampang lah aset berharga sang istri.
Dion kembali mencium Melly, Ciuman itu perlahan turun menyusuri tengkuk Melly, menjilat serta mengigit kecil di sana. Sementara Jari jari tangannya bermain pada puncak Gunung kembar Melly.
Malam ini Melly tidak menghindar atau menolak sentuhan Dion. Mungkin karena dia juga merindukan sentuhan itu atau efek dari wine yang baru saja ia minum! Entahlah yang pasti kejadian ini akan berdampak baik bagi keduanya.
Jantung Melly berdetak tak menentu saat Dion menatapnya dalam keadaan tidak mengunakan sehelai benang seperti sekarang ini. sesungguhnya wanita itu begitu malu tetapi sebisa mungkin ia menahan perasaan itu. Melly memejamkan matanya tidak ingin membalas tatapan Dion. Saat lelaki itu kembali menyentuh serta menikmati apa yang ada pada tubuhnya. Tak lupa Meninggalkan beberapa jejak sebagai bukti cintanya untuk Melly.
Suara lenguhan Melly terus terdengar di ruang itu, sesekali ia mendesis kalah bibir dan jari tangan Dion memanjakannya. Bahkan Melly sempat menjerit saat ia mencapai puncaknya. Bibir Melly melengkung dan matanya memancarkan binarnya tersendiri. Setelah sekian lama ia kembali merasakan kepuasan ini.
Tidak lama setelah itu, Dion menyatukan mereka berdua dalam rasa yang sama, saat hal itu terjadi Dion merasakan debaran di dadanya serta rasa takut. Takut kehilangan kendali dan berlaku kasar yang menyakiti Melly. Terlalu lama di tinggal membuat Dion menjadi sedikit melow dan berhati hati bahkan di saat seperti ini pun ia masih sempat memikirkan hal yang tidak penting itu.
" By lebih cepat." Ucap Melly, wanita itu tidak henti hentinya mendesah dan mengerang dibawanya. Saat Dion terus menghujam bagian intinya dan membuat ia merasa sebuah rasa yang tidak dapat di deskripsikan dengan kata kata.
Rasa yang mewakili perasaan cinta, rindu dan takut menjadi satu dalam sebuah sentuhan dan hentakkan.
Semua yang terjadi malam ini, terasa begitu indah, bahkan suara kulit yang bertemu, decapan bibir mereka serta ******* mengalung menjadi satu di telinga mereka. Bagaimana musik romantis yang menemani mereka di malam panjang ini.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading.. 💘💘...
...Harusnya aku udah update dari malam tapi dua kali di tolak ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜...