Secret of the Heart

Secret of the Heart
Sisi lain Melly



Malam Harinya, Dion kembali meminta izin untuk menginap, Melly yang tak kuasa menolak rengekan sang anak pung terpaksa mengizinkan. Walaupun ingin sekali ia mengusir lelaki itu, agar menjauh dari mereka.


Namun apalah daya, pada akhirnya Dion tetap tidur di tempat mereka. " Ada masalah?" Tanya Dion, sejak Melly kembali siang tadi, wanita itu hanya diam dan tidak banyak bicara seperti biasanya, pandangannya juga kosong. Seakan ada yang mengusik ketenangan wanita itu. Dion tentu sadar akan perubahan sikap Melly saat ini.


Melly menggeleng kepalanya. Sembari membuang pandangan kearah lain. " Tolong temani Hani, aku ingin sendiri." Pintahnya.


" Tanpa di minta pun aku akan melakukannya, mel. Tapi aku hanya ingin memastikan kamu baik baik saja." Sahut Dion tak membuat Melly menatap kepadanya.


" Aku baik baik saja! Pergilah."


" oke, selamat malam." Dion berbalik meninggalkan Melly di saat yang bersamaan Melly pun menatap punggung Dion. Begitu langkah Dion terhenti, Melly langsung membuang mukanya lagi, ia seakan tahu Dion akan berbalik menatapnya. Dan benar saja.


Dion kembali menatap Melly." Jika ada yang menganggu pikiran mu, katakan lah! Jangan disimpan Sendiri, jangan sampai ada kesalahan pahaman yang bisa membuat kita menyesal di kemudian hari."


Melly tersenyum, seraya berkata di dalam Hati. " Tahu kah kamu by, tuhan menciptakan penyesalan agar kita sama sama tahu dan sadar, tidak semua hal dapat di ulang kembali." Melly menekuk lutut ya dan menenggelamkan wajahnya di sana begitu bayangan Dion menghilang di balik pintu kamar.


Entah sampai kapan dia harus terus diam di saat hatinya tidak kuat lagi menanggung semuanya, harus kah ia pergi lagi? Tapi mau sampai kapan dia terus berlari dan menghindar di saat sosok yang paling dia sayang, separuh nafasnya membutuhkan perhatian dan kasih sayang Dion.


Pikiran Melly kacau, dadanya begitu sesak! Tetapi tidak ada air mata yang menetes sedikit pun seolah matanya sudah lelah memproduksi cair bening itu.


Tidak tahan dengan keadaannya saat ini, Melly berdiri dari tempat duduk, ia melangkah masuk kedalam kamar, mengambil tas dan kunci mobil Dion yang berada di Laci dalam Nakas, jangan tanya kenapa Melly bisa tahu, karena setiap Dion datang ia selalu menyerah kunci mobil dan dompetnya kepada Melly untuk di simpan.


Melly meninggalkan apartemen! Ia terus berkendara di jalan tanpa tujuan, bahkan malam yang semakin larut. Tapi Melly tidak tergerak sedikit mu, untuk pulang karena dia tahu Hani akan aman bersama Dion.


Tepat jam 1 malam mobil itu berhenti di parkiran salah satu club. Club itu begitu mewah tidak semua orang bisa masuk di dalamnya, sebab mereka harus melewati penjaga dan melakukan periksa identitas mereka, peraturan ini sengaja di buat pengurus club agar tidak ada yang membuat kekacauan di tempat itu.


Melly keluar dari dalam mobil, melangkah dengan begitu anggun kedalam club dan duduk di depan meja bar tender. Ini adalah tempat terakhir yang akan ia kunjungi jika dalam keadaan kacau seperti sekarang ini.


Jika Di Canberra ia tidak perlu repot repot untuk keluar, sebab ia mempunyai stok minuman! Tunggu Hani tertidur maka ia akan menikmatinya di balkon apartemennya seorang diri. Sekali pun profesi nya, membuat ia tahu buruknya mengkonsumsi minuman beralkohol tetapi ia tetap mengkonsumsinya.


...\=\=\=\=\=\=\=...


Sementara Di apartemen, Dion yang tidak bisa terlelap tentu tahu Melly pergi. Ia hanya memejamkan mata saat Melly masuk untuk mengambil kunci mobil dan tasnya, agar Melly tidak curiga kalau di belum tidur.


Setelah kepergian Melly, Dion merasa gelisah, ia terus mundar mandir menunggu wanita itu pulang. " Kamu kemana sih Mel?" Gumam Dion sambil melirik jam besar yang menempel di dinding apartemen. Waktu telah menunjukkan angka satu tetapi Melly belum juga pulang.


Karena khawatir, Dion mengambil ponselnya untuk mengecek kebenaran mobil. Karena mobil itu terpasang GPS yang terhubung dengan ponselnya.


" Kamu ngapain disitu." Tanya Dion, ia terlihat semakin khawatir, saat tahu di mana mobilnya, berada. Ingin rasanya Dion menyusul Melly! Tetapi tidak ada yang menemani Hani di sini dan tidak mungkin kan dia meninggal putrinya sendiri.


Dion terpaksa membawa Hani kerumahnya. Ia tidak punya pilihan, bahkan rencananya membawa Hani untuk bertemu mamanya, setelah sidang, minggu depan harus ia percepat, karena kecerobohan Melly.


" Makasih bi." Ucap Dion kepada salah satu pembantu yang membukakan pintu untuknya! Setelah itu, Dion melangkah ke kamar mamanya.


Tok... Tok.. Tok.. " MA.."


Panggil Dion sambil mengetuk pintu kamar mamanya, tak berselang lama pintu pun terbuka. " Ada apa.." Tanya Wanita paruh baya yang berdiri tepat di hadapan Dion sembil membenarkan piyama tidurnya. " Anak siapa ini." Sambungnya lagi.


" Nanti Dion Jelasin! Titip Hani dulu." Tanpa menunggu mamanya buka mulut untuk bertanya lebih jauh, Dion langsung masuk kedalam kamar, meletakkan Hani tepat di samping papanya yang tidak terganggu sedikit pun tidurnya.


Sementara, mamanya Dion tidak dapat, membeku seketika! Melihat wajah yang sama persis dengan Dion! Tapi Dalam versi perempuan. " Aku pergi ya ma." pamit tetapi tidak di hiraukan wanita itu, ia terlalu terhipnotis dengan wajah cucunya.


...\=\=\=\=\=\=...


Setelah berkendara ugal ugalan Di jalan raya, Akhirnya Dion tiba di club. Ia mengedarkan pandangannya. Untuk mencari keberadaan Melly. Dan tatapan itu berhenti pada meja bar tender, dimana seorang perempuan tengah meletakkan kepalanya di atas meja dengan salah satu tangan sebagai alas nya.


Apa yang dia tidak cukup tahu tentang Melly, sehingga dia bisa kecolongan. Hati nya sakit mengetahui jika dialah penyebab wanita baik dan penurut itu mengenal tempat ini.


" Mel." Dion Menepuk pundak Melly.


Wanita itu mulai kehilangan kesadarannya, ia memicingkan matanya kearah Dion, dan mulai tertawa, sehingga beberapa pelanggan menatap kearah mereka. " Hai Mantan." Ucap Melly mulai mabuk. Ia mengambil gelas berisi martin yang di pesan pelanggan di sampingnya dan menyiramkan ke wajah Dion. " Dasar pembohong." Teriaknya. Ia bahkan tidak segan segan melempar gelas kosong itu ke arah Dion.


Walaupun sakit, Dion hanya bisa menahannya! Sebab ini salahnya. " Aku lelah." lirihnya dan mulai terisak. Tidak ingin membuat Melly jadi tontonan, Dion mendekatinya untuk membawa Melly pulang, tetapi wanita itu memberontak dan menolak. Akhirnya Dion mengangkat tubuh Melly layaknya karung beras.


" Aku nggak mau pulang, kamu pembohong, kamu bilang akan bercerai, tapi kenapa istrimu menemui aku. Dia bahkan memintaku meninggalkan kamu demi anak kalian, lalu bagaimana mana dengan anakku? Haniku juga butuh ayah, padahal aku sudah memberikan semua yang dia butuhkan. Kamu jahat, kamu pembohong. " Teriak Melly sambil memukul punggung Dion, kepalanya yang penting semakin pening saja! Dalam posisi itu.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...Bersambung. ...


...Happy Reading.. 💘💘💘...