
" Siapa bilang aku tidak melihat kamu! Justru karena aku menyadari kehadiran kamu! Maka dari itu, aku bersikap baik kepada dirinya. Walaupun aku sempat Naif dengan berkata kalau anaknya bisa mengantikan posisi kamu! Tetapi waktu mengajarkan semuanya, nama boleh sama dan mata boleh keliru saat melihat tetapi hati tidak pernah salah mengenali pemiliknya. " Ucapnya penuh percaya diri.
Dion ingin memeluk tubuh Melly, tetapi baru saja tangannya melingkar di pinggang Melly, wanita itu sudah lebih dulu mendorongnya seraya berkata." Alaah, Dulu juga kamu ngomong kaya gini ke aku! Bahkan lebih manis dari ini, hampir diabetes aku kemakan kata kata dan janji manis kamu. Cihh pada akhirnya apa kamu dua aku juga kan, bahkan lebih dari itu." Dion mengusap Dadanya. Ia menatap wanita yang tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada.
" Untung cinta." Gumam Dion, tangannya masih berada di tempat yang sama.
" Aku nggak pernah menduakan cinta kamu_"
" OH ya! Serius." Dion dengan cepat mengangguk Kan kepalanya dengan wajah yang di buat se menggemaskan mungkin. " Terus, Hampir setiap Hari pulang pagi, pergi ke hotel dengan wanita berbeda beda, ke club malam. Ngapain By, main petak umpat atau congklang?" Tanya Melly dengan nada mengejek.
" Mel, Tidak semua yang kamu lihat dan kamu pikirkan itu benar, aku memang sering ke hotel, tapi kebanyakan dengan sekretaris aku dan itu murni urusan pekerjaan."
" Sekretaris, kamu berapa sepuluh, dua puluh atau seratus, kalau kamu mau bohong, mending di pikir dulu." Sentak Melly.
" Diam." Dion langsung membekap mulut Melly dengan tangannya." Makanya kalau aku ngomong itu di dengar in dulu. Jangan main potong aja. " Protes Dion, sembari melepas bekapannya pada bibir Melly.
" Dengar baik-baik! Biar nggak ada salah paham lagi di antara kita."
" Udah buruan jelasin nggak usah banyak tingkah." Dion langsung memberi Melly tatapan menusuk kepada Melly.
Kapan Dia akan menjelaskan biduk permasalahan mereka , jika Melly selalu seperti ini.
" Iya iya aku Diam! Jelasin sekarang. " Dion mengangguk. Tanpa memutuskan pandangannya dari Melly, Dion mulai berbicara.
" Sekretaris aku cuman satu, Hanya saja! Setiap aku membawa mereka menghadapi pesta atau bertemu klaen di salah satu Hotel. Besoknya Dian selalu menampar serta memecat mereka secara sepihak tanpa persetujuan aku ataupun mendengar penjelasan kita. Kamu bisa bertanya langsung kepada Dian. Yang kedua, aku memang sering ke club, tapi untuk menemani Jayden, ya! Walaupun aku sesekali menyentuh wanita di sana tetapi tidak setiap hari. Aku melakukan hal itu terkecuali pikiran aku udah buntu dan benar benar membutuhkannya... "
" Kenapa nggak minta sama aku."
" Bagaimana aku mau minta hak aku! Jika setiap kali aku pulang selalu mendapati kamu tertidur bersama tumpukan tugas tugas kamu wajahmu terlihat begitu lelah, rasanya aku ingin meminta kamu berhenti tapi aku sadar itu cita cita kamu, kamu begitu ingin menjadi dokter dan aku sudah berjanji akan mendukung kamu bukan. Mel, Aku jajan di luar bisa di hitung dengan jari, bahkan jika aku kebelet sekali pun, aku akan mencari wanita yang benar benar bersih. Hanya untuk memastikan sikap buruk aku tidak akan berdampak kepada wanita yang aku cintai."
" Apapun alasannya, cara kamu itu salah dan kamu nggak pernah mencoba memperbaiki semuanya sejak awal, kamu terus membiarkan aku tersiksa dengan dugaan ku sendiri, serta pertanyaan yang tidak kunjung mendapatkan jawaban By. " Teriak Melly.
" Maaf, aku pikir kamu tidak pernah mencintai aku! Makanya kamu semakin tidak peduli dan terus mendiami aku, saat itu aku yakin penjelasan aku tidaklah penting karena sejak awal kamu tidak pernah mencintai aku. "
" Aku Diam karena aku lelah by, Aku terlalu lelah dengan semuanya saat itu dan pada akhirnya aku memilih mengakhiri semuanya! Jika kamu tanya aku cinta atau tidak sama kamu. Jawabannya, aku sangat mencintaimu kamu, jika kamu tanya kapan aku mulai mencintai kamu, jawabannya, saat kamu mengikrarkan aku menjadi istri mu, pada saat itulah aku belajar mencintai kamu." Dion Terdiam. Ini kan kata Kata yang ia nantikan selama ini, dan karena hal ini pula ia mengambil langkah yang merugikan mereka berdua." Saat aku menerima pinangan kamu, Aku sudah siap lahir batin, untuk menjalani suka dan duka bersama kamu apa pun keadaan aku, mau aku capek atau tidak itu tugas ku, harusnya kamu tanya sama aku, aku bisa atau tidak jangan ambil keputusan sendiri. Umur aku mungkin tidak sematang kamu saat itu tetapi bukan berarti aku akan bersikap ke kanak-kanakkan. Ini keputusan aku suka atau tidak suka, aku pasti akan bicara jika kamu bertanya. " Ucap Melly sambil menunjuk nunjuk dada Dion.
" Entahlah, aku tidak tahu harus apa saat ini. Sebaiknya kita ketempat mama! Aku khawatir Hani akan mencari ku." Melly Menyudahi obrolan mereka, walaupun dalam benaknya masih ada yang ingin ia tanyakan, Tetapi untuk Hari ini cukup sampai disini.
" Mel."
" Sudahlah. "
" Aku Mohon.. " Dion Tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya. Membuat Melly kembali memutar langkahnya.
Wanita itu iku berlutut, sejajar dengan Dion. Ia menangkup wajah Dion dengan kedua tangannya, sehingga tatapan mereka bertemu." Tolong Jangan memaksa aku. "
" Tapi aku sayang sama kamu, aku cinta kamu mel."
" Aku tahu By, dari mata kamu aku bisa melihat banyak cinta untuk aku. Tapi aku butuh waktu untuk menyembuhkan Hati aku, aku tidak akan menyangkal, karena nama kamu masih disana. Tapi untuk memulai lagi. Aku butuh waktu. Tolong mengerti aku."
Cinta boleh boleh saja dan memaafkan memang suatu keharusan. Tetapi jika harus memulai suatu hubungan baru di atas luka yang masih menganga dengan kepercayaan yang begitu menipis, itu bukan ide yang bagus dan jalan keluar untuk mereka. Sebisa mungkin Melly menahan dirinya, memikirkan lagi langkah apa yang harus dia ambil. Sebelum menentukan keputusannya nanti.
" Mel, sekali saja! Kalau tidak bisa untuk kita berdua, lakukanlah Demi Hani. Aku Mohon." Dion masih saja memohon.
" By, Aku masih mencintai kamu! Sampai Detik ini! Jadi apa yang harus takutkan, percaya sama aku by, Dan biarkan semesta bekerja dengan caranya, yakinlah Sesuatu yang telah di takdir kan untuk kamu tidak akan pernah menjadi milik orang lain." Melly berusaha meyakinkan Dion, karena dia tahu Hatinya begitu lemah untuk lelaki itu, jika Dion tetap memaksa, tidak menutup kemungkinan, kalau Melly akan luluh pada saat itu juga.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...Bersambung. ...
...Happy reading.. 💘💘...