Secret of the Heart

Secret of the Heart
Calon duda



" Ya aku tidak pernah tulus mencintai kamu! Apa kamu puas! Kamu bisa mengenal dengan baik buah hati kamu tetapi kamu tidak bisa melihat ketulusan dari wanita yang kamu cintai, ciih dasar pembohong. Kamu bertanya tentang ketulusanku? Apa kamu lupa jika aku pernah menjadi wanita yang baik, aku mengerti kamu, tahu seperti apa sifat buruk kamu tanpa pernah mengeluh sedikit pun. Tetapi sayangnya kamu lupa jika aku hanyalah wanita biasa, yang bisa merasakan sakit, kecewa dan lelah dengan keadaan saat itu." Ucap Melly dengan perasaan mengebuh gebuh, ia seakan lupa dimana dia berada saat ini.


Ucapan Melly, berhasil menyentil tepat di hati Dion." Maaf. " Sahut Dion penuh penyesalan." Tapi aku tidak akan meninggalkan kalian berdua, aku akan berada disini sampai Hani sembuh." Sambung Dion, Melly pun hanya menangapi dengan memutar bola matanya.


" Tidak perlu repot repot, karena baik aku mau pun Hani, tidak membutuhkan kehadiran kamu, karena kita berdua sudah terbiasa sendiri sejak dulu." Tegas Melly, ia melangkah mendekati Dion dan menarik pergelangan tangannya, agar lelaki itu keluar dari ruang rawat anaknya.


Walaupun Melly mengunakan semua kekuatannya tetap saja sia sia, Dion tidak bergeser sedikit pun dari tempat duduknya.


" Dion." Teriak Melly, Lelaki itu hanya melirik sekilas wajah mantan istrinya sebelum kembali menatap wajah damai Hani yang masih tertidur. " Keluar nggak?"


" Nggak. "


" Keluar aku bilang! Kamu budek ya." Melly semakin kehilangan kesabaran, ia sampai memukul punggung Dion berulang kali, tetapi dion tidak bergeming sama sekali, ia justru membiarkan Melly melakukan apa yang ingin wanitanya itu lakukan.


Seandainya Melly ingin melakukan sesuatu yang lebih dari ini, Dion akan tetap membiarkannya. Karena Dion tahu perjuangan wanita itu begitu besar entah berapa banyak keringat dan air mata yang harus Melly curahkan sehingga Hani bisa sebesar ini. " Kamu yang budek kali, orang aku bilang nggak mau keluar, malah maksa."


" Terserah kamu deh, aku capek." Ucap Melly, pada akhirnya ia memilih duduk di sofa. Terus berdebat pun percuma, yang ada HANI malah kebangun nanti.


Cukup lama ruang itu sunyi senyap, Melly asyik dengan ponsel di tangannya, sementara Dion tidak ada bosan bosannya menatap wajah putrinya.


Lelah terlalu lama duduk, Dion memilih untuk berbaring di sofa yang sama dimana Melly telah lebih dulu duduk di sana, ia mengunakan kedua paha Melly sebagai Alas kepalanya. " Dion, apa yang kamu lakukan."


" Berbaring, apa lagi." Jawab Dion dengan begitu santainya seolah tidak ada masalah di antara mereka.


" Aku juga tahu kamu sedang berbaring, tetapi kenapa harus di pangkuan aku." Tanya Melly lagi. ia berusaha menyingkirkan kepala Dion dan sedikit menjauh.


" Ya Karena aku mau."


" OH, jadi kalau kamu mau, terus aku harus biarin gitu." Dion tersenyum sembari mengangguk kan, kepalanya. " Jangan kurang ngajar ya kamu, aku nggak mau, angkat kepala kamu sekarang! Jangan sampai aku di bilang perusak hanya karena suami orang berbaring di atas pangkuan aku. Amit amit deh." Ucap Melly, ia segera berdiri dan berpindah pada kursi yang sebelumnya di duduk oleh Dion.


" Kata siapa aku suami orang! Orang aku calon duda kok. " Akunya.


" Bodo amat, tetap aja masih suami orang juga." Ketusnya.


" Hamm. Terus kalau udah nggak berstatus suami orang, berarti boleh." Tanya Dion dengan menaik turunkan kedua alis. Dia begitu menikmati kebersamaan mereka saat ini, sampai lupa jika pekerjaan di kantor sedang menantinya .


" Ya nggaklah. "


" Tapi aku mau Honey." Melly langsung melempar tatapan membunuhnya." it's okay. " Dion mengangkat kedua tangan layaknya orang menyerah.


Suasana di ruangan itu kembali Hening untuk sesaat sebelum suara Dion kembali memecah keheningan di antara mereka." Mel, Aku kangen banget sama kamu." Ucap Dion. Sedikit saja Melly berbalik ia bisa melihat ketulusan di kedua manik Dion. " Sekeras apa pun aku berusaha untuk bahagia dan baik baik saja, semuanya terasa percuma, sebab cuma kamu wanita yang bisa membuat aku merasakan apa yang namanya bahagia, rasa nyaman serta cinta! Aku lelah bersikap baik baik saja di saat hati dan pikiranku tidak baik baik saja. " Akunya. Sementara Melly hanya berpura pura tidak mendengar, sebab jauh di lubuk hatinya, Melly merasa getir.


Harusnya ia membenci Dion atas apa yang terjadi pada dirinya selama ini. Bencinya karena tidak ingin mendengar penjelasan Melly dan membenci karena Dion bisa tersenyum bahagia serta berkata dia baik baik saja dengan wanita lain di sisinya. Itu sungguh menyakitkan untuk Melly, di saat Dion membanggakan anaknya di hadapan Melly sementara Melly harus menyembunyikan keberadaan Hani. Tetapi apa mau di kata sekuat apa pun Melly membodohi diri sendiri bahwa dia tidak membutuhkan Dion dan berlari lebih jauh lagi. Semakin Melly berusaha menghindar semakin dalam pula ia jatuh cinta pada mantan suaminya itu.


Melly menatap penuh kasih sayang, wajah putrinya yang tidak terganggu sedikit pun dengan keberadaan mereka serta perdebatan di antara mereka.


Ingin sekali Melly melupakan masa lalu, segala rasa sakitnya dan memberikan kebahagiaan yang sebenarnya untuk Hani, tetap Melly sadar untuk saat ini dia tidak bisa melakukan itu.


" Mel, dengerin aku ngomong nggak sih." Tanya Dion.


" Telinga aku masih di tempat yang sama." Melly terus bersikap judes dengan Dion, berharap lelaki itu muak dan meninggalkan mereka.


" Sebenarnya tujuan kamu datang ke rumah sakit itu buat apa?" Tanya Melly. Entah cara apa Lagi yang yang harus Melly lakukan agar Dion pergi.


" Buat jenguk Naina, anak Luna dan Reval." Jawab Dion, apa adanya.


" Lah terus kenapa masih disini."


" Aku udah jenguk Naina, sekarang pengen nemenin anak aku, apa itu salah. " Dion memasang wajah cemberut, sekali pun Melly tidak Melirik dia sedikit pun.


" Anak dari mana, emangnya kamu yang lahirin dia?"


" Iya aku sadar bukan aku yang lahirin dia, tetapi aku yang buat, aku yang paksa kamu, coba hari itu aku nggak maksain kamu, apa Hani bisa ada." Ucap Dion dengan bangga ya seolah ia telah melakukan kontribusi besar.


Melly menarik nafas dalam dalam dari hidung, kemudian membuangnya melalui mulut, ia merasa percuma berdebat dengan Dion.


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu ruangan rawat Hani terbuka, masuklah dua orang perawat." Permisi bu, pak! Pasien Harus kita pindahkan." Kata salah seorang dari mereka.


" Pindahkan kemana Sus."


Nyonya Sanjaya, meminta agar pasien ini berada satu ruangan dengan putrinya, beliau juga sudah mengurus semuanya. " Jelasnya.


" Luna. " Gumam Melly.


" Bagaimana bu, apa boleh kita pindahkan." Tanya perawat itu lagi.


" Ya Silakan." Hani pun di pindahkan keruang yang sama dengan Naina.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....


...Happy reading. 💘💘...