
Dua minggu sebelum penculikan Hani.
Seorang pria dengan penampilan sederhana, berlari sambil mendorong brankar, di temani dua orang perawat, mereka menyusuri koridor rumah sakit, sebelum masuk ruangan emergency.
Lelaki itu di minta untuk menunggu di luar sementara, paramedis melakukan tindakan kepada wanita yang baru saja ia antar. Wanita itu tak lain adalah ibunya. "Bertahanlah bu! Ibu harus sehat! Aku tidak punya apa apa lagi selain ibu." Ucapnya penuh harapan, seakan wanita yang sedang mendapat tindakan di dalam sana bisa mendengarnya.
Lelaki itu duduk pada bangku yang berada di depan ruangan emergency, menanti pintu itu kembali kembali terbuka dan mendengar mereka mengatakan ibunya baik baik saja, walaupun ia tahu hal itu mustahil, tetapi tidak ada salahnya kan, jika ia sedikit berharap .
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pintu itu terbuka keluar lah seorang perawat yang menghampirinya.
" Anda di panggil dokter! Mari saya antar." Ucap perawat itu. Lelaki yang biasa di panggil Ivan itu mengangguk, ia pun segera berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah sang perawat.
Setibanya di ruangan dokter, Ivan duduk berhadapan langsung dengan Dokter Nielson." Kenapa baru sekarang anda, membawanya lagi, bukankah sudah saya katakan, untuk rutin melakukan check up. Kalau sudah begini, mau tak mau kita harus melakukan operasi dalam waktu dekat, jika tidak! Itu akan membahayakan ibu anda, bahkan kemungkinan terburuknya anda akan kehilangan ibu anda. " Ucap Dokter Nielson, membuat Ivan yang sejak tadi menunduk langsung mengangkat wajahnya.
" Tolong lakukan yang terbaik untuk ibu saya Dok. " Mohon nya.
" Kami pasti akan melakukan yang terbaik, tetapi sebelum itu, ada harus melengkapi administrasi dan biaya operasinya terlebih." Sambung Dokter Nielson.
" Apa tidak bisa, operasinya di lakukan terlebih dulu, saya janji akan melunasi biaya operasi ibu saya secepatnya Dok. " Ivan menggenggam kedua tangan dokter Nielson, berharap sang dokter dapat mengasihaninya, dan memberi ia sedikit keringanan.
" Saya pun ingin membantu anda, tetapi prosedur rumah sakit ini sudah seperti itu, saya harap anda mengerti. " Ucap Dokter Nielson. Sementara Ivan hanya bisa mengangguk.
Tergambar jelas raut kebingungan di wajahnya. Entah ia harus cari uang di mana untuk operasi ibunya.
Sudah tujuh tahun ia memperjuangkan kesembuhan ibunya di negara ini bahkan, seluruh harta warisan peninggalan ayahnya telah habis terjual.
" Baiklah Dok, saya permisi." Ivan pun meninggalkan Ruang Dokter Nielson.
Di koridor Rumah sakit ia mendapatkan panggil video dari seseorang yang jauh di negara tercinta Indonesia.
" Hallo, tumben sekali kamu meneleponku! Biasanya aku yang menelepon duluan, itu pun lama baru kamu menjawabnya." Ivan bersungut kepada orang yang meneleponnya.
" Entahlah, tiba tiba aku ingin, Melihat wajahmu." Akunya dari seberang sana. Membuat bibir Ivan sedikit tertarik." Kamu seperti tidak senang, aku menelepon mu. "
" M**aksudnya**?"
" Wajah mu begitu kusut, seakan kamu enggan menerima melihat wajah ku."
" ini tidak ada hubungannya denganmu. Ibu ku sakit dan harus di operasi, aku tidak tahu harus mencari biayanya kemana? Apa kamu punya saran, atau kenalan yang bisa memberikan ku pekerjaan, apapun itu aku akan melakukannua demi ibuku. "
" Kenapa tidak pinjam pada bos mu. "
" Tidak bisa, aku sudah terlalu lama menyusahkan mereka, untuk biaya kemon ibu. "
" Terus kamu mau bagaimana? "
" Hmmm, entahlah aku sendiri juga bingung. " Untuk sesaat keadaan mereka Hening." Kamu lihat apa sih." Tanya Ivan saat menyadari orang yang meneleponnya melihat kearah lain.
" Itu dokter. " Tanya orang itu, sambil menunjuk seorang dokter wanita, yang tengah berbicara dengan dokter Nielson. Jaraknya persis di belakang Ivan jadi terlihat jelas oleh, orang itu.
" yang mana ia." Tanya Ivan sembari menengok kebelakang. " OH, itu dokter Nielson, Dia dokter yang menangani penyakit ibu." Lanjutnya.
" Bukan, yang perempuan."
" Oh gitu." Obrolan mereka pun terus berlanjut. Sampai tiba tiba wanita yang yang di panggil ia itu. Mengatakan sesuatu yang membuat Ivan terkejut." Van, kamu kan lagi butuh uang, buat biaya operasi ibu. Kenapa kamu tidak menculik, anak dokter di rumah sakit itu, terus minta tebusan buat biaya operasi ibu."
" Nggak, aku nggak melakukan hal serendah itu, bagaimana kalau ketahuan terus aku di tangkap. Nggak, nggak! Aku masih bisa kerja. " Tolak Ivan dengan tegas.
" Dengar dulu, aku ngomong."
" Pokoknya, aku nggak mau. "
" Kamu mau kehilangan ibu. Van biaya operasi itu tidak sedikit, belum biaya perawatan setelah operasi dan obat obatnya, kamu yakin bisa kumpulin dalam waktu dekat? Nggak Kan.!" Ivan terdiam. Membuat wanita yang di panggil ia itu kembali membuka mulutnya. "Van, sepertinya dokter wanita itu baik, kamu bisa menculik anaknya! Terus minta tebusan. Kalau pun ketahuan kamu bisa menceritakan keadaan ibumu kepada mereka. Aku yakin mereka akan membantu kamu. Selama kamu tidak menyakiti anaknya. Tapi semua terserah kamu sih. Aku tutup telponnya ya. Bye. " Wanita itu pun, mengakhiri panggil itu tanpa menunggu jawaban dari Ivan.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Setelah hari itu Ivan terus mengikuti aktivitas Melly dan Hani, ia mengamati keduanya dari jauh.
Ketika Melly sedang bertugas atau pulang ke apartemen untuk istirahat, ia akan menemani ibunya di rumah sakit. Begitu lah seterusnya sampai ia mendapatkan nomor ponsel Melly dari seorang perawat yang termakan gombalannya.
Dan begitu ia mendapat peluang, kejadian penculikan itu pun tidak dapat di hindari, yang lebih mirisnya lagi Ivan tidak sadar kalau di dimanfaatkan. Oleh wanita yang dia panggil ia itu.
Wanita itu hanya ingin membalas rasa sakit hatinya kepada Ivan karena sudah meninggalkannya tanpa kejelasan dan untuk Melly, tentu saja sama dengan Ivan. Ia ingin Melly merasakan kehilangan walaupun hanya sesaat, tanpa harus mengotori tangannya.
Ivan yang babak belur mengakui semua perbuatannya kepada polisi dan meminta maaf atas perbuatannya yang telah berani menculik, Hani. Andai saja kesehatan ibu tidak terus menurun, Ivan juga tidak akan mau melakukan hal itu.
Tetapi apa mau di kata, Semuanya sudah terjadi dan Ivan mau tidak mau harus menerima hukuman atas perbuatannya.
Saat Dion dan Reval menjelaskan semua itu. Keesokan harinya, Melly langsung meminta Reval dan Dion mengantarnya untuk mengunjungi Ivan, ia ingin mendengar lebih jelas dari mulut lelaki itu.
Melly berjanji, kepada Ivan akan menjamin biaya operasi serta perawatan ibunya. Asal dia mau mengatakan alasan kenapa dia menargetkan HANI putrinya, sementara ia lebih mengenal dokter Nielson, jika alasannya, karena dokter Nielson adalah dokter yang merawat ibunya. Itu terlalu klise untuk Melly.
Dan Ivan mengatakan yang sebenarnya kalau dia hanya mengikuti saran, Kekasihnya atau lebih tepatnya mantan kekasih.
Saat di tanya Nama kekasihnya! Lelaki itu pun menyebut nama Ria, hal itu membuat Reval, Melly terkejut dan terlebih Dion.
Yang lebih mengejutkannya lagi, Ivan adalah Ayahnya Lisa,. Sebenarnya Ivan sangat mencintai Ria dan dia tidak berniat meninggalkan wanita itu.
Hanya saja keadaan ibunya yang membutuhkan perawatan, membuat ia harus mengutamakan nya, di atas apapun.
" Kebetulan yang sangat manis." Ucap Melly sembari menepuk pipi Dion, begitu meraka berada di parkiran." Sejauh mana pun aku berlari, kalau sudah di takdirkan seperti ini. Pasti akan terjadi juga." Sambungnya. Sementara Dion dan Reval Hanya Diam. Tidak dapat berkata kata.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...Bersambung. ...
...Happy reading. 💘💘...
...Karena ini hari senin. Jangan pelit ya🤣🤣🤣...