
" Mommy." Teriak Hani sambil berlari kearah Melly yang tengah bercengkrama bersama beberapa orang tua yang tengah menunggu anaknya pulang juga.
Mendengar teriakkan Hani, Melly langsung berbalik seraya berjongkok dan merentangkan kedua tangannya kepada Hani." I Miss you, mommy." Ucap Gadis kecil itu lagi, setelah berada dalam dekapan hangat Melly. Dua Hani tidak bertemu, membuat ia begitu merindukan sosok Melly.
" Cuma mommy aja nih, daddy nya nggak?" Tanya Dion, entah sejak kapan, Lelaki itu sudah berdiri dibelakang Melly dan Hani. Ia bahkan tidak sungkan untuk memeluk kedua wanitanya.
" Hani juga kangen sama Daddy." Serunya, begitu Melly menyudahi acara pelukan mereka, wanita itu merasa tidak enak dengan tatapan ibu ibu yang tengah menunggu anak anaknya itu.
" Sini peluk Daddy kalau gitu." Melly menggeser sedikit tubuhnya sehingga ayah dan anak itu lebih leluasa, Melepaskan rasa rindu mereka.
Mendengar permintaan Ayahnya Hani langsung berpindah ke pelukan Dion, Lelaki itu Memeluk erat tumbuh Hani mencium seluruh wajah putrinya. Tidak sampai di situ saja, ia bahkan mengetik perut Hani, membuatnya. Tertawa sambil meminta tolong kepada Melly untuk membantunya lepas dari Dion. " Mommy Tolong, Hani geli."
Melly yang melihat pemandangan itu, bukannya membantu malah ikut tertawa. " By, udah Kasian Hani nya." Tegur Melly. Membuat Dion mau tidak mau menghentikan aksi. Ia mengangkat tubuh Hani sedikit lebih tinggi seraya berkata.
" Kamu semakin mengemaskan sayang, Daddy sangat merindukan Hani." ucapannya membuat Hani tertawa dan giliran gadis dia mengecup wajah Dion.
" Hani juga kangen sama Daddy."
" Udah kangen kangennya, lanjut Di rumah aja." Melly menghentikan Ungkapan berlebihan anak dan suaminya." Lisa mana sayang. " Tanya Melly, saat netra nya tak kunjung menjumpai gadis kecil yang bernama Lisa.
Hani menadahkan tangannya dengan bibir bawah yang sedikit ia majukan." Di kelas mungkin. " Jawabnya kemudian. Membuat Dion gemas dan mengigit pipi Hani. Ia bahkan tidak mengindahkan teriak penolakan dari Hani.
" Ya sudah, kalian tunggu di mobil saja, biar Mommy yang cari Lisa."
" Oke, Mommy." Jawab Ayah dan anak itu kompak, membuat Melly geleng geleng kepala. Sebelum datang menjemput Hani, Melly sudah mengabari Dian, agar kakak iparnya itu tidak perlu datang untuk menjemput Hani dan Lisa. Sebab ia dan Dion yang akan datang menjemput keduanya.
Melly menelisik setiap ruangan yang ia lewati, sampai langkahnya terhenti di salah satu ruangan di mana Lisa tengah duduk seorang Diri, sembari menatap buku yang ada di hadapannya.
" Sayang kamu sedang apa?" Tanya Melly, Wanita itu mengambil tempat duduk tepat di depan Lisa. Salah satu tangannya terulur mengusap surai hitamnya.
" Mommy." Lisa mendongka kelapanya ke arah Melly. " Maaf, Lisa belum bisa dapat Nilai sempurna." Ucapnya sambil menunjuk buku di mana tulisan gadis kecil itu terlihat sangat berantakan.
" Tidak apa sayang, nanti Lisa belajar lagi ya! Biar mommy yang bantu Lisa nanti." Gadis kecil itu mengangguk, Kedua matanya langsung berbinar.
Setelah Lisa. DI bawah hari itu, Melly sengaja meminta gadis kecil itu untuk memanggilnya mommy juga, semua itu dia lakukan agar Lisa tidak terlalu merindukan ria, walaupun Melly sadar keberadaannya tidak akan bisa mengantikan ria di hati Lisa, setidaknya ia telah melakukan sedikit hal untuk tumbuh kembang anak itu. " Yuk, Kita pulang. " Ajak Melly seraya merapikan buku dan tempat pensil Lisa yang masih berada di atas meja dan memasukkan kedalam tasnya. " Mau mommy gendong?" Tawar Melly. Gadis kecil itu terlihat mengangguk sesaat, sebelum ia kembali menggeleng kepalanya.
Melihat keraguan Lisa, Melly merasa gemas dan mencubit pipinya. " Sini." Serunya sembari membawa tubuh kecil itu dalam gendongannya. Dan melangkah meninggalkan ruang kelas Lisa untuk bergabung bersama Dion dan Hani yang sedang menunggu mereka di dalam mobil yang berada di parkiran sekolah Dan begitu Lisa Dan Melly mendarat kan bokong mereka di jok belakang, Dion langsung melajukan mobilnya, meninggalkan parking sekolah.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Melly naik dengan perlahan diatas ranjang, untuk bergabung bersama Dion yang sejak tadi telah berada di sana, Lelaki itu sedang fokus memainkan tabletnya, setelah menidurkan Hani dan Lisa di kamar mereka.
Begitu selesai makan malam, Melly menemani kedua gadis itu belajar dan mendengar cerita mereka. Walaupun kebanyakan Hani yang bercerita. Entahlah gadis kecil itu begitu senang berceloteh mulai dari pelajaran, teman sekolah sampai kejadian Di rumah Bundanya pun ia ceritakan kepada Melly.
" By." Panggil Melly.
" Anak dari suami kak Dian udah dua ya." Ucap Melly sembari memainkan jarinya di atas dada bidang sang suami.
" Ya, Alesya Bagaskara. Beberapa bulan setelah kita cerai gadis kecil itu lahir, mungkin usianya 8 atau 9 tahun dan si kecil ellania. Yang seumur Hani atau mungkin di bawahnya. " Jelas Dion. " Kenapa, Hmm?" Usapan lembut pada surai coklatnya. Membuat Melly mengangkat sedikit wajahnya menatap kepada wajah Dion.
" Apa kak Dian bahagia setelah kehadiran mereka?" Dion menjawab dengan menaikkan kedua bahunya. Bila ia mengatakan tidak, dia juga tidak pernah melihat kakaknya itu menangis walaupun ia tidak pernah melihat tawanya, setidaknya senyum di wajahnya, biasa di artikan dia baik baik aja." By, tidak ada wanita di dunia ini, yang ikhlas di duakan. Mereka mungkin tersenyum, bersikap rela dan mengatakan baik baik saja. Tetapi jauh di dasar hati mereka kecemburuan itu ada. Walaupun wajah mereka tidak bisa menunjukkan hal itu."
" Kenapa kamu ngomong seperti itu! Apa kak Dian mengatakan sesuatu kepadamu. " Melly menggeleng kepalanya dengan cepat.
" Aku ingat dulu, kak Dian mengizinkan kak Andara Nikah lagi, agar ia juga bisa merasakan senangnya di panggil ibu, walaupun anak itu bukan lahir dari rahimnya, Tapi. " Melly menjeda ucapannya. Sementara Dion hanya Dian dan menunggu istrinya itu menyelesaikan ucapannya." Tapi kata Hani, Kedua anak itu memanggil kak Dian dengan sebutan tante. " Dion tercengang, selama ini Dian tidak pernah membawa kedua anak itu ke rumah mereka, ia hanya sering mendengar kakaknya itu bercerita tentang keseharian dan seberapa mengemaskan kedua bocah yang bernama Alesya dan Ellenia itu.
" Hani ngomong seperti itu." Melly mengangguk.
" Dia memang seperti itu, suka menceritakan segala hal yang dia alami tanpa di lebih Lebih kan atau ia tutupi, jika ada yang tidak dia mengerti maka dia akan bertanya sampai dia mendapatkan jawabannya."Jelas Melly.
" Besok kita tanya lebih jelasnya sama kak Dian ya." Dion mengalihkan pembicara mereka." Karena sekarang waktunya kamu untuk memberi hak aku. " Melly menatap alisnya.
" Hak?" Dion mengangguk dengan seringai iblis di bibirnya jangan lupa tatapan memangsanya. Satu detik kemudian, Melly pun menjauhkan tubuhnya dari Dion, tapi usahanya sia sia. Karena tangan Dion lebih dulu melingkar di pinggangnya dan menahan tubuh Melly." Dion biarkan aku istirahat, kamu tidak pernah memberi aku waktu untuk istirahat sejenak kemarin."
" No honey, I'm giving you seven years to rest! Is that still lacking?" Bisik Dion seraya mengigit telinga Melly dengan lembut.
" You're crazy." Dan Melly pun tidak bisa menghindari penyatuan mereka.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading.. ππ...
...Kemarin aku di hubungi editor untuk membuat cerita poligami, karena akan ada lomba menulis cerita poligami. Dan di minta untuk buat kerangka cerita dengan tema poligami. ...
...Karena aku nggak punya ide aku nggak balas chat dari editor. Tapi beberapa hari ini kolom komentar di penuhi dengan Andara dan Dian....
... Akhirnya aku putuskan untuk buat cerita mereka. Itulah kenapa beberapa hari yang lalu aku nggak update. Karena fokus buat kerangka cerita. Satu cinta untuk dua hati. Tapi untuk mulai eksekusinya belum tahu kapan, tunggu kabar dari editor dulu oke....
...Terima kasih untuk dukungan dan komentar kalian. Karena komentar kalian cukup membantu disaat aku kehabisan ide. Maaf aku belum bisa balas komentar kalian satu satuππ...