
Kehadiran Hani, seakan membawahi rejeki tersendiri serta kebahagiaan yang tiada tara untuk Melly, ia tidak tahu bagaimana hidupnya jika tuhan tidak menghadirkan Hani di dalam kehidupannya.
Setelah Hani berusia tiga bulan, Melly mendapatkan tawaran beasiswa di Moulbarne, untuk Menjadi Dokter spesialis! Melly pun tidak menyia nyiakan kesehatan yang ia punya. Toh semua itu akan sangat membantu untuk pendidikan Hani dan kehidupannya di masa mendatang.
Dan satu hal yang Melly syukuri dari pertemuannya dengan Dion selain Hani adalah lelaki itu masih memberikannya kompensasi sampai saat ini. tunjangan bulan akan Melly terima sampai dia menemukan suami yang baru. Tunjangan itu Sebesar lima puluh juta sebulan, awalnya Dion ingin memberikan seratus juta, tetapi keluarganya sarta Melly menentang hal itu, pada akhirnya mereka sepakat Melly mendapat tunjangan bulanan sebesar lima puluh. Dan hal itu sangat membantu Melly untuk sekarang ini.
Uang lima puluh juta sangatlah kecil tidak cukup dua puluh persen dari penghasilan Dion, tentu uang seperti itu tidak ada apa apanya bagi Dion selama Melly yang mengunakannya.
...\=\=\=\=\=\=...
Dan sekarang Bayi perempuan yang cantik dan kulit putih dengan bola mata yang sama persis seperti Dion, telah menjelma menjadi anak perempuan yang begitu cantik. Walaupun mereka hanya berdua! Semua keperluan Hani, Melly penuhi. Dan Segala suka, duka dapat mereka dapat Lewati Dengan baik hingga Melly bisa menjadi Dokter spesialis onkologi yang cukup di perhitungan di Canberra, ibu kota Australia. Begitu kuliahnya selesai, Melly mencoba peruntungannya di Canberra dan disinilah dia saat ini.
Pada siang hari ketika Melly selesai menangani pasiennya, ia langsung menuju Duntroon playschool yang tidak lain adalah sekolah Hani.
" Mommy." Suaranya begitu nyaring, membuat sebagian orang tua yang masih berada di lingkungan sekolah menatap kepadanya seraya menggeleng kepala mereka. Sementara Hani, hanya cuek ia berlari ke arah Melly " Mommy Lihat." Ucapnya sambil menunjuk sebuah kertas kepada Melly dan bercerita bagaimana guru guru memujinya tadi.
" Hebat, Hani yang terbaik." Ucap Melly seraya mengangkat kedua Jempol.
" Terima kasih Mommy." Ucap Hani di ikut sebuah kecupan yang mendarat Di pipi Melly. Melly pun membalas dengan mencium seluruh wajah putrinya.
" Oke, Hari ini Hani yang nentuin kita makan dimana?" Seru Melly sambil mengangkat tubuh Putri.
" Hani ingin makan Es krim dan Coklat." Ucap Hani begitu bersemangat, sungguh sebuah kebahagiaan saat melihat putrinya bisa tumbuh sebesar ini tanpa kekurangan, walaupun pun terkadang Melly selalu di selimut rasa takut, jika suatu saat Hani bertanya siapa Ayahnya.
" Boleh, tapi Hani harus makan siang dulu ya." Hani mengangguk setuju dengan usulan Melly.
Setelah makan Siang dan menemani Hani makan Es krim, Keduanya pulang ke apartemen mereka. Dalam perjalanan pulang Hani yang kekenyangan langsung tertidur, membuat Melly harus menggendongnya.
Drrrttt drrrttt...
Getaran dari benda pipi yang ada di atas meja rias, menghentikan aktivitas Melly yang tengah mengerikan rambutnya. Setelah meletakkan Hani di tempat tidur dan melepas sepatutnya. Melly langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.
" Hallo Dok." Ucap Melly setelah menggeser Ikon berwarna hijau pada layar ponselnya.
" Hallo Mel, kamu dimana!." Tanya Suara Barito dari Seberang sana.
" Di apartemen Dok, ada apa?"
" Jangan terlalu Formal sama aku lah Mel, umur kita cuma beda setahun." Keluh, orang yang menelepon Melly! Yang tidak lain adalah teman kuliah Melly semalam di Moulbarne, Namanya Richard, dia adalah dokter spesialis Bedah. Richard berumur 32 tahun dan dia juga berasal dari Indonesia.
" Terus aku harus panggil kamu apa! Richard gitu, kesannya nggak sopan banget." Sahut Melly.
" Kalau nggak sopan, panggil aja mas! Atau sayang juga Boleh." Goda Dokter Richard, tetapi tidak di anggap serius oleh Melly. Bukan hanya Dokter Richard seorang yang secara terbuka menunjukkan perasaannya kepada Melly, beberapa rekan kerja yang lain juga seperti itu, bahkan tak jarang keluarga pasien yang ia tangani menjodoh jodohkan Melly dengan Keluarga mereka yang masih lajang, Melly pun hanya welcome dengan mereka tetapi tidak sampai menaruh hati, seakan ia telah mati rasa untuk hal itu atau belum bisa terlepas dari belenggu cinta Dion.
" Itu yang aku harapkan."
" Udah ah, Ada apa dokter telpon Aku." Melly segera Mengalihkan pembicara mereka.
" Oh iya, aku sampai lupa tujuan aku nelpon kamu! Untung kamu ingatin." Ucapnya di iringi tawa kecil dari seberang sana." Gini Mel, entar Malam Aku balik ke Indonesia, aku boleh nggak ketempat kamu sekalian ketemu sama Hani, aku kangen banget sama kalian berdua. Nggak tahu kapan lagi bisa ketemu sama kalian, soalnya aku mendapat tawaran kerja di sana." Suara terdengar berat, seakan ia enggan meninggalkan Melly dan Hani, tetapi Richard bisa apa! Melly tidak sedikit pun memberinya kesempatan, seandainya Melly mau menjadi kekasih atau istrinya, Richard pasti sudah membawa keduanya.
" Selamat ya Dok! Kalau Dokter mau kesini, aku dan Hani pasti akan menyambut Dokter dengan baik."
" Baiklah aku aku akan ke tempat mu sekarang." Panggil itu pun berakhir setelah Melly mengatakan iya.
Satu jam kemudian, bel apartemen Melly berbunyi. Tanpa menunggu lama, Melly langsung membuka pintu untuk tamu yang tak lain adalah dokter Richard." Silahkan Duduk Dok. " Melly Mempersilahkan Dokter Richard untuk duduk.
" Terima kasih, Hani mana Mel."
" Nanti aku panggil kan! Permisi sebentar ya dok." Melly langsung menuju kamar tidurnya untuk mengecek Hani, Ternyata putrinya itu sudah bangun tetapi masih duduk di atas ranjang mengumpul namanya terlebih dulu.
Melly menghampiri Hani dan mengendong nya, walaupun putrinya itu sudah berusia empat tahun, tetapi Melly masih suka mengendong.
" Hai, om dokter! maaf ya Hani baru bangun." Ucap Melly menurunkan suara Hani, begitu ia kembali ke ruang tamu dengan Hani dalam gendongannya.
" Sayang, nih om Dokter punya hadiah buat kamu." Ucap Dokter Richard sambil menyerahkan boneka teddy bear berukuran sedang Dan keluarga Barbie yang sengaja ia bawah untuk Hani.
" Terima kasih Om." Ucap Hani dengan suara khas bangun tidurnya.
" Sama sama sayang. " Mereka pun mengobrol santai, satu jam berlalu, dokter Richard pamit untuk pulang.
Begitu dokter Richard pergi, Melly mengajak Hani untuk Mandi, setelah itu keduanya menikmati langit sore di balkon Apartemen.
Saat tengah asyik bersantai, Hani menghampiri Melly sambil membawa boneka Barbie pemberian Dokter Richard dan bertanya kepada Melly. " Mommy, ini mommy." Ucapnya sambil menunjuk boneka barbie kepada Melly, " ini aku." ia kembali menunjukkan boneka barbie kecil. " Dan ini siapa Mommy?" Kali ini Hani menunjukkan boneka Ken lengkap dengan setelan jas nya. Hal itu membuat tubuh Melly membeku dan wajahnya terlihat pucat. Pertanyaan sederhana tetapi sangat Melly takuti.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading. 💘💘...