
Sejak datang Melly hanya Diam ia terus memikirkan kata kata Luna. Satu jam dua jam Melly masih diam, sampai di menit berikutnya, barulah ia membuka mulutnya.
" Ada yang ingin aku bicarakan! aku tunggu kamu di balkon." Ucap Melly, ia langsung berdiri dari duduknya tanpa mengatakan siapa yang ingin dia ajak bicara.
" Tunggu apa lagi sana ikut, Hani biar Reval yang pindahin ke Kamar." Sahut Luna, Saat Dion tidak bergerak sedikit pun dari tempat duduknya.
" ini kesempatan kamu, mintalah yang benar benar kamu dan Hani butuh kan." Reval turut menimpali ucapan istrinya. Sembari mengangkat Hani yang telah tertidur di pangkuan Dion.
" Maksudnya?"
" Pergilah, kamu akan tahu nanti." Pintah Reval.
" Cepat sana, apa kamu ingin dia berubah pikiran. " Sambung Luna, keduanya begitu kompak dan gigih dalam menyelesaikan masalah sahabat mereka., Dion MENGANGGUK dan ia pun menyusul Melly.
" Ada Apa? " Tanya Dion begitu berdiri tepat di belakang Melly yang tengah menatap keindahan kota Sydney di malam hari.
" Aku akan memaafkan kamu dan menuruti satu permintaan kamu, Asalkan kamu mendapatkan Hak asu anak wanita bernama ria itu dan kamu harus memastikan agar wanita itu tidak bisa menemui anaknya walaupun untuk sesaat." Ucap Melly tanpa basa basi terlebih dahulu, wanita itu bahkan, enggan menatap wajah Dion.
Sikapnya itu membuat ia tidak melihat senyum kemenangan dari seorang Dion. Kini lelaki itu mengerti apa yang di maksud sahabat sahabatnya.
" Kamu yakin, kamu bisa menuruti permintaanku." Tanya Dion.
" Justru aku yang tidak yakin dengan kamu! Apa kamu yakin bisa mendapatkan hak asu anak itu." Sahut luna Dengan senyum mengejeknya entah sejak kapan wanita itu sudah berbalik menatap wajah Dion.
" Menikahlah dengan ku." Ucap Dion, membuat Melly terkejut, Dia bukan tidak pernah berpikir bahwa Dion akan. Memintanya untuk menikah, saat mengingat ada Hani, Melly berpikir mungkin lelaki itu akan meminta lebih banyak waktu bersama Hani. Tetapi semua sudah seperti ini, tidak mungkin untuk dia menarik kata katanya kembali.
Cara satu satunya hanya menyanggupinya, lagian tidak mungkin Dion akan mendapatkan hak asuh anak itu, mengingat mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali, apalagi ibunya masih hidup dan anak itu masih di bawah umur. Tentu hak asuh akan jatuh ke tangan ibunya sekeras apapun Dion berusaha.
Beberapa saat lalu Melly sempat berpikir untuk memisahkan ibu dan anak itu, tetapi kalau dia yang harus terikat dengan Dion lagi, seperti nya dia berubah pikiran. Hanya saja ego wanita itu setinggi langit jika harus menarik kata katanya lagi.
" Baiklah, aku akan menikah denganmu! Setelah kamu mendapatkan hak asuh anak itu." Dion langsung menggeleng kepalanya.
" Bagaimana, jika kamu berubah pikiran." Tanya Dion. " Detik ini saja, aku berani bertaruh kamu pasti telah menyesal menawarkan permintaan itu untuk ku. " Sambung Dion. Ia menebak dengan tepat pemikir Melly saat ini.
" Tapi karena semua sudah seperti ini, aku akan mengambil langkah terbaik. Sehingga aku maupun kamu tidak akan rugi dalam hal ini, aku mendapatkan keinginanku dan kamu juga begitu. " Ucap Dion lagi. Tetapi Melly tetap Diam. " Untuk kenyamanan dan keamanan bersama. Di hari, jam, menit dan detik yang sama. Aku akan menunjukkan bukti hak asuh anak ria kepada kamu dan disaat itu juga kita akan menikah. Bagaimana?" Tanya Dion lagi.
" Terserah kamu saja dan Semoga kamu berhasil." Sahut Melly sebelum kembali memunggungi Dion.
Sementara lelaki itu, memberanikan diri untuk melangkah lebih dekat dengan Melly dan melingkarkan tangannya di pinggang Melly. Sembari berbisik di telinganya. " Persiapkan diri kamu, besok luna dan Reval akan kembali ke jakarta, hari berikutnya kita bertiga karena besok aku harus menggusur surat pindah untuk Hani." Di akhir dengan sebuah kecupan di pundak Melly.
" Apa maksud kamu? Kenapa kamu begitu yakin." Melly melepas tangan Dion dari pinggangnya dan mendorong lelaki itu agar menjauh darinya." keyakinan kamu yang terlalu berlebihan, akan menghancurkan kamu. " Ucap Melly, entah kenapa dia marah mendengar ucapan Dion.
Melly meninggalkan Dion dengan perasaan kesal kepada lelaki itu, sementara di belakang sana. Dion tersenyum penuh kemenangan.
" Karena kamu mengajak aku bertarung untuk sesuatu yang telah aku menangkan sejak awal honey." Gumam Dion. Dia bisa seyakin ini, karena sebelum menikah dengan Ria, ia telah membuat kesepakatan jika anak ria lahir, maka Dia akan menjadi anak Dion dan Ria harus siap menjauhi anaknya jika Dion menginginkan hal itu. Kesepakatan itu bukan hanya di bibir saja. Sebab dion meminta Ria dan kedua orang tuanya tanda tangan hitam di atas putih.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Keesokan harinya Luna dan Reval kembali ke jakarta. Keduanya sempat menawarkan untuk kembali bersama sama, tetapi Dion menolak hal itu. Karena Dion ingin Reval dan Luna menyampaikan kepada keluarga mereka tentang rencana pernikahan mereka juga melakukan persiapan pernikahan. Karena pernikahan mereka dulu hanya di lakukan tertutup. Untuk itu kali ini ia akan melakukan pesta resepsi yang mewah. Agar semua orang tahu siapa istrinya.
" Jangan lupa untuk mengurus cuti. Karena besok kita akan kembali ke jakarta." Ucap Dion saat Melly hendak berangkat kerja.
" Tetapi aku belum setuju akan hal itu." bantah Melly.
" Terserah kamu, setuju atau tidak kita akan tetap kembali besok." Sahut Dion, kali ini dia tidak akan mengalah dengan Melly. Hanya untuk saat ini saja.
" Tidak, aku hanya ingin memastikan agar kamu tidak menarik kata kata mu sendiri. "
" Kamu menyebalkan Dion. Aku benci kamu. " Teriak Melly. Ia bahkan tidak menghiraukan keberadaan Hani di antara mereka.
" Apa mommy marah sama Daddy? " Tanya Hani, setelah Melly pergi.
" Tidak sayang. Mommy hanya kesal saja! Karena kita akan pulang ke jakarta tetapi mommy belum mendapatkan izin dari bosnya." Bohongnya. Tetapi namanya anak kecil tetap saja ia percaya dengan kata kata Dion.
" Begitu ya Daddy?" Sahut Hani dengan polosnya.
" Iya sayang."
" Kasihan mommy, Daddy! Apa Daddy tidak bisa membantu mommy untuk mendapatkan izin dari bosnya, sama seperti daddy mendapatkan izin dari sekolah Hani." Tanya Hani.
" Bisa dong sayang, kalau Mommy minta tolong sama daddy. Seandainya daddy langsung bantu gitu aja. Nanti mommy nya makin marah sama daddy! Hani mau mommy marah terus sama mommy. " Tanya Dion sambil mengusap kepala Hani.
" Nggak Daddy. " Jawabannya. " Terus Hari ini kita kemana?" Tanya Hani balik.
" Temani daddy ke suatu tempat mau. " Bukannya menjawab Dion mala balik bertanya.
" Mau daddy, tapi kemana? "
" Kasih tahu nggak ya." Ucap Dion sambil pura pura berpikir. " Nanti juga Hani bakal tahu, kita pergi sekarang ya. " Gadis kecil itu hanya pasrah sembari mengangguk.
Dion dan Hani mengunjungi Ivan. Aneh nya tidak ada rasa takut sedikit pun dimata HANI saat bertemu Ivan, ia justru me nanya kan kabar lelaki itu.
Setelah sedikit berasa basi. Dion mengatakan kepada, Ivan tentang rencananya mengambil hak asuh Lisa. Awalnya Ivan menolak keras karena dia juga merindukan anaknya itu dan ingin merawatnya jika keluar dari sini. Sebab dia sudah tidak memiliki apapun selain ibunya dan Lisa.
Dion pun membuat kesepakatan dengan Ivan jika dia sanggup tidak kembali kepada Ria. Maka Dion akan memberikan hak asuh Lisa begitu masa tahannya selesai. Dan Ivan menyanggupi hal itu.
Dion juga menyampaikan perkembangan kesehatan ibunya setelah di operasi dua hari yang lalu, serta meminta izin untuk membawa ibunya, Kembali ke jakarta dan menjalani perawatan di sana.
Ivan mengangguk, Lelaki itu tidak ada hentinya mengucapkan terima kasih kepada Dion dan menyesali perbuatan.
Ivan tidak tahu seperti apa perasaannya saat ini. Di satu sisi di menyesal telah menculik Hani, sedang di sisi lain dia bersyukur. Kejadian itu membuat ibunya mendapatkan perawatan yang layak.
Ivan berjanji pada dirinya, ia akan menjaga Hani dengan segenap jiwanya jika dia sudah bebas dari sini. Sebagai bentuk ucapan terima kasih atas kebaikan kedua orang tuanya. Dan akan merawat serta mendidik Lisa dengan baik, sehingga ia tidak menjadi seperti ria di kemudian hari.
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading. 💘💘...