Secret of the Heart

Secret of the Heart
Kamu!



" Selamat pagi, sayang." Ucap manis itu, menyambut pagi Melly ketika ia membuka matanya.


Dilihatnya, Dion sedang menatap kepada nya, Lelaki itu berbaring menyamping! Dengan Telapak tangan kanan di jadikan tumpuan kepalanya. "Bagaimana mana tidur." Sambungnya lagi.


" Pagi juga. Kamu bertanya tentang tidur semalam?" Dion mengangguk. Ia masih berada dalam posisi yang sama. "Lumayan menyenangkan. " Sambungnya.


Wanita itu tidak terkejut sedikit pun dengan sikap Dion. Bahkan dulu waktu mereka awal menikah, sikap Dion jauh lebih manis dan ini, membuat Melly yang awalnya hanya ingin memanfaatkan lelaki itu. Berakhir mencintainya. Hanya saja dulu mereka kurang komunikasi dan terbuka satu sama lain.


"Syukurlah kalau begitu." Ujar Dion, lalu mengecup kening Melly begitu lama Dann berakhir di bibir Melly. " Mau Mandi dulu atau sarapan dulu." Tanya Dion lagi, setelah menyudahi ciuman selamat pagi mereka.


" Tubuhku terasa lengket sekali, sepertinya aku harus mandi terlebih dulu."


" Pilihan yang tepat honey, aku sudah menyiapkan air hangat untuk kamu." Seru Dion. Lelaki itu pun beranjak dari tempat tidur, ia berjalan ke sisi ranjang dimana Melly berada setelah itu mengangkat tubuh Melly ala bridel.


Melly pun dengan senang hati mengalungkan tangannya di leher Dion. Lelaki membawa Melly ke kamar mandi dan meletakkannya kedalam bathtub. " Cepatlah, aku akan menunggumu di luar." Ucap Dion. Ia kembali mendarat kan sebuah kecupan di puncak kepala Melly. Sebelum meninggalkan Melly.


" By." Panggil Melly.


" Ya honey, butuh sesuatu." Dion yang hendak menutup pintu kamar mandi, Kembali menghampiri.


" Ya. " Melly mengangguk, seraya menatap Dion penuh arti.


" Apa itu honey! Katakanlah, aku akan mengambilnya untukmu."


" Kamu! aku ingin kamu menemani ku." Melly sedikit bergerak ke depan, memberikan ruang di Bathtub itu untuk Dion. Lelaki itu mengerti dengan maksud Melly tanpa perlu bertanya lagi.


Dion pun, melepas celana bokser yang ia guna, karena hanya itu satu satu benda yang ada di tubuhnya. Kemudian ikut bergabung bersama Melly di dalam Bathtub yang telah di isi air hangat dengan busa melimpah di dalamnya.


Keduanya berendam bersama dengan Melly bersandar pada dada bidang Dion sembari memejamkan matanya, sementara Dion. Lelaki itu tengah mengusap busa sabun pada pundak Melly dan bagian tubuh Melly lainnya, yang bisa ia jangkau.


...\=\=\=\=\=\=\=...


Di saat Melly dan Dion tengah menikmati kebersamaan mereka. Hani putri kesayangan mereka, justru tengah mencari ibunya.


Sejak gadis kecil itu membuka matanya pagi ini, ia langsung mencari keberadaan Melly di kamar yang biasanya Mommy nya itu tempati.


" Mommy, Mommy dimana sih." Ucap gadis kecil itu, sembari memanyung kan bibirnya. Ia tidak mendapati Melly di kamarnya.


"Mommy." Teriak nya lagi, sambil menuruni anak tangga menunju dapur.


" Sayang, kamu sudah bangun?" Dian menghampiri keponakannya itu, saat mendengar suaranya yang memanggil manggil Melly. Tepat sebelum kaki Hani menginjak anak tangga yang terakhir.


" Aunty, mommy mana?" Tanya Gadis Kecil itu kepada Dian.


" Mommy belum pulang sayang, Mommy masih kerja. Hani butuh sesuatu." Jawab Dian setelah mengecup puncak kepala Hani.


Hani menggeleng kepalanya. " Terus Daddy mana aunty?" Tanya Gadis Kecil itu lagi.


" Daddy juga kerja sayang." Tidak tega rasanya Dian membohongi keponakannya itu, tetapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin kan dia mengatakan Mommy dan daddy tengah berduaan.


" Terus Hani ke sekolah sama siapa? "


" Sama aunty dong! Aunty yang akan nganterin Hani ke sekolah, nanti pulang sekolah kita main kerumahnya Aunty luna. Di Sana, Hani bisa main sama Nayna sama Naela! Mau nggak." Tawar Dion sambil mentoel dagunya Hani. " Udah dong, jangan di manyun gin gitu bibirnya, jelek loh. Sekarang kita kembali ke kamar biar aunty bantu Hani mandi ya."


Hani kembali mengangguk kepalanya, lalu mengulurkan kedua tangannya kepada Dian." Gendong boleh! Boleh aunty."


" Boleh dong sayang, sini." Dian langsung mengangkat tubuh Hani. Gadis kecil itu, walaupun belum genap enam tahun, tapi tubuhnya cukup berisi. Membuat Dian sedikit kualahan saat mengendong tubuh Hani seraya menaiki anak tangga menuju kamar Hani yang ada di lantai dua, berdampingan dengan kamarnya dan kamar Melly dan Dion.


Tapi herannya, Melly terlihat biasa saja saat mengendong Hani, terus menerus saat bersama putrinya itu.


" Selamat pagi kakek. Selamat pagi nek." Sapa Hani kepada Kakek nenek nya. Sebelum duduk di kursi yang telah di sediakan untuknya.


" Pagi sayang." Sahut kedua pasangan paruh bayah itu.


" Pagi ma, PA." Giliran Dian yang menyapa kedua orang tuanya sambil mengecup pipi mama dan papanya secara bergantian.


" Pagi sayang, semalam kamu tidak pulang." Tanya Sang Papa.


Dian menggeleng kepalanya sebagai jawaban. " Hani mau sarapan apa. Nasi goreng, bubur atau roti." Dian sambil membalikkan piring yang berada di depan Keponakannya itu.


" Roti aja aunty."


" Selamat pagi aunty Di, kakek, nenek. " Sapa Lisa yang baru saja di antar pelayan rumah di itu. Lisa duduk tepat di samping mamanya Dion sementara Hani di antar dian dan kakeknya.


" Pagi juga Lisa." Sahut Melly sembari meletakkan roti yang telah di olesi selai strawberry di atas piring Hani. " Selamat makan sayang."


" Terima kasih aunty." Hani pun menikmati sarapannya. Sambil melihat kearah Lisa, yang tengah di bantu oleh pelayan itu.


" Kamu sudah izin sama suami kamu?" Tanya sang Papa lagi, saat Dian meletakkan semangkuk bubur di hadapan papanya.


" Pa, biarkan saja dia disini! Lagian di sana kan ada istrinya yang lain, kenapa papa begitu peduli sih sama dia, yang harus papa peduli in itu anak kita bukan. " Sahut mamanya.


" Ma, Suami Dian itu menantu kita, itu tandanya dia juga anak kita bukan orang lain."


" Tapi semenjak dia menikah lagi, mama sudah menganggap dia orang lain. Bersyukur mama tidak langsung mengusirnya saat ia berkunjung kesini. "


" Ma_"


" Ma, PA udah dong! Ada Hani dan Lisa disini." Dian menghentikan perdebatan antara kedua orang tuanya. " Pa Dian udah izin kok, lagi semalam itu bukan waktunya Dian sama mas Andara, jadi dia izinin Dian untuk nginap disini nanti setelah dari rumah luna, Dian langsung pulang kok. Papa nggak perlu khawatir ya." Jelas Dian. Menghentikan perdebatan di antara kedua orang tua nya. Ia tahu papa dan mamanya peduli dengan dia. Cari sampai di mana pun tidak ada orang tua yang tega melihat anaknya di duakan. Tapi karena alasannya jelas papa nya bisa menerima hal itu, toh selama ini suami Dian cukup adil kepadanya. Dan tidak pernah mengungkit kekurangan Dian.


Setelah perdebatan itu mereka menikmati sarapan Dalam Diam begitu juga dengan Hani dan Lisa, Kedua gadis kecil itu seakan mengerti situasi yang ada.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....


...Happy reading.. 💘💘...


...Maaf ya telat....


...Soalnya dari pagi tuh aku ngantuk terus, coba di kasih kopi kali aja bisa langsung melek lagi....


...(🤭ya salam,. Malak mode baru. 🤣...


...OH iya aku juga mau promo. ...


Mampir juga di cerita aku Sevi is mine. Ceritanya juga seru kok. Cuman lebih banyak bawang plus sedikit menguras emosi. Aja🤣