
Kedua manik mungil itu, menanti jawabannya. Melly tahu sebenarnya Hani ingin bertanya apa dion ayahnya, tetapi ia takut menyinggung perasaan Melly. " Yes it's Him. You can call him Daddy (Ya itu Dia. Kamu bisa memanggilnya daddy) ." Untuk Hani, Melly berani menekan egonya ke titik paling rendah, saat melihat tatapan penuh harap dari putrinya.
" Really." Hani terlihat begitu bahagia membuat wajahnya semakin mengemaskan. Melly mengangguk tanpa ia sadari. " Yeah." Hani kembali bersorak sambil tepuk tangan. " Asyik Hani bisa di jemput saat pulang sekolah sama seperti Irene." Ucapnya lagi, membuat Melly merasakan sakit di hatinya.
Ternyata Hani membutuhkan sosok Dion, tetapi ia tidak pernah meminta dan bertanya selama ini dan Melly pikir Hani baik baik saja.
Melly melirik Dion dan memintanya untuk mendekati Hani, ia dengan besar hati memberikan Dion waktu bersama Hani. Sementara Melly melangkah keluar ruangan untuk menenangkan dirinya.
Sebelum Dion mendekati ranjang Hani, Reval lebih dulu menghampirinya dan berisik. " Jangan besar kepala dulu, mungkin Hani sedang membutuhkan supir." bisikkan nya penuh Ejekan tetapi di abaikan oleh Dion.
Di sisi lain, Saat tangan Melly akan meraih handal pintu, suara Hani menghentikan langkahnya. " Mommy mau kemana?"
" Mommy di panggil dokter sayang, nanti mommy balik lagi ya." Jawab Melly sekaligus meminta izin, agar Hani tidak menangis. Ia tidak menengok kepada putrinya itu. Jika sedikit saja ia menengok air mata yang sejak tadi ia tahan pasti akan membasahi kedua pipinya dan Melly tidak ingin terlihat lemah di mata orang lain termasuk Hani putrinya, karena sejatinya seorang ibu yang hebat adalah panutan untuk anaknya.
Jangan mengatakan dia lemah, karena dia mampu menahan tangis dan kadang dia harus menangis untuk membasuh luka nya. Dia berjuang seorang diri, merawat tanpa kenal lelah dan ketika besar sang anak menginginkan kasih sayang anaknya. Melly tidak iri kepada Dion dia hanya merasa gagal sebagai seorang ibu yang tidak bisa memberi kebahagiaan seutuhnya untuk anaknya.
Langkahnya terhenti saat dia berada di rooftop rumah sakit. Ia menatap gelapnya langit malam, melipat kedua tangan di dada dan membiarkan air matanya keluar dengan bebas tanpa perlu ia menahannya.
" Mel.." Panggil Luna, terlalu banyak berpikir sehingga Melly tidak menyadari jika luna mengikutinya. " Kamu nggak papa kan?" Luna tahu, wanita yang ada di hadapannya ini. Tidak baik baik saja! Tetapi dia harus bertanya, agar tidak menyinggung perasaan Melly dengan sikap so tahu.
" Seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja." Jawab Melly. Ia mengusap kedua pipinya setelah itu menunjukkan senyum kepada luna.
" Terus kenapa kamu disini." Tanya Luna lagi, Kedua sudut bibir Melly semakin tertarik keatas.
" Lima tahu bukan waktu yang singkat, banyak hal terjadi dalam lima tahun kemarin, entah itu baik atau pun buruk! Kita sama sama melewatinya dengan cara yang berbeda serta tempat kita berpijak pun berbeda. Kamu disini dan aku jauh di sana tanpa siapapun yang bisa aku gapai untuk sekedar bersandar. Jika rasa sesak memenuhi dadaku, aku butuh tempat seperti ini, berharap rasa sesak itu sedikit berkurang." Melly menjeda ucapannya menarik nafas melalui hidung dan mengeluarkan melalui mulut." Ini lah cara positif ku mengsugesti diri sendiri. " Sambung Melly.
" Syukurlah, aku pikir kamu akan melakukan hal yang aneh aneh. " Melly Tertawa.
" Bunuh diri maksud kamu." Luna mengangguk dengan polosnya.
" Apa aku selemah itu."
" Tidak."
" Terus. "
" Aku hanya takut kehilangan kamu lagi." Sahut Luna.
" Kamu terlalu berlebihan, sana turun nanti aku akan menyusul." Pinta Melly, Luna mengangguk sebelum meninggalkan Melly seorang diri.
" Jangan lama lama! Hani akan merengek mencari mu nanti. "
" Iya, aku tahu bawel. "
Lima belas menit kemudian, Melly kembali keruang rawat Hani. Ia berpapasan dengan Dion yang hendak keluar dari ruangan itu. " Masuklah, aku harus mengangkat telepon dulu. " Dion menunjuk layar ponselnya kepada Melly.
" Tunggu. " Langkah Dion yang hendak menjauh terhenti. " Jangan senang dulu kamu, aku mengatakan hal itu hanya untuk Hani dan aku tidak ingin terlihat buruk di mata anakku suatu hari nanti." Sambung Melly dengan tatapan yang begitu menusuk.
" Ya ya ya! Apa pun alasan kamu, aku sangat berterima kasih honey, sungguh ini hari yang paling membahagiakan setelah kita berpisah. " Sahut Dion. Tetapi tidak di hiraukan oleh Melly, wanita egois itu tetap menerus kan langkahnya, tanpa mau menengok sedikit pun kebelakang untuk melihat wajah Dion.
Jam lima pagi Melly terbangun. Sejak memiliki Hani di hidupnya Melly sudah terbiasa bangun lebih awal.
Melly merapikan sofa yang ia gunakan untuk tidur, sebelum melangkah ke kamar mandi, membersihkan dirinya.
Setelah selesai dengan ritual paginya, Melly mengecek suhu tubuh HANI, ia melihat putrinya itu masih tertidur pulas, suhu panasnya pun sudah turun.
" Mimmy." panggil Nayna. Melly tidak tahu, sejak kapan gadis kecil yang belum genap tiga tahun itu bangun.
" Hai sayang, sudah bangun ya." Ucap Melly seraya menghampiri Naina. Yang tengah menatapnya penuh ke heranan. Naima mengangkat kedua tangannya. Ia ingin Melly menggendongnya.
" Mel, Biar aku yang urus Naina! Kamu harus mengurus Hani." Ucap Luna, Ibu tiga anak itu pun sudah bangun.
" Kamu sudah bangun?" Tanya Melly.
" Kamu yang baru memiliki satu anak saja bisa bangun lebih awal, apalagi aku yang memiliki tiga anak." Terangnya. Membuat Melly tertawa kecil.
" Bukannya suami kamu kaya, kenapa kamu masih harus repot sih? Kan bisa pakai jasa beby sister.
" Aku tidak ingin anakku lebih dekat dengan orang lain dari pada aku." Jawab Luna apa adanya. " Tuh Hani sudah bangun. " Luna memberi kode melalui matanya.
Melly pun berbalik, menghampiri HANI. " Hay, sayang! Apa tidur kamu nyenyak." Tanya Melly di angguki Hani. Gadis kecil itu menatap wajah Dion dan sesekali mengusap kedua matanya.
" Kenapa menatapnya seperti itu. " Tanya Melly lagi. Kali ini Hani menggelengkan kepalanya sambil berkata tidak. Luna yang sejak tadi melihat interaksi ibu dan anak itu senam senyum sendiri melihat tingkah HANI.
" Apa aku boleh membawanya jalan jalan?" Kali ini giliran Hani yang bertanya.
" Tentu saja boleh, kalau dokter sudah membolehkan Hani untuk pulang."
" Kapan itu Mommy."
" Tunggu sampai Hani sembuh."
" Kenapa tidak sekarang aja mommy." Gadis Kecil itu mencoba tawar menawar dengan Melly.
" Apa kamu yakin ingin pergi seperti itu. " Tunjuk Melly pada tangan Hani yang di pasang infus. Pada akhirnya Hani memilih menyerah. " Waktunya membersihkan diri sebelum sarapan mu datang sayang." Sambung Melly. Ia menghentikan tetes cairan infus itu, sebelum mengendong Hani dengan perlahan lahan sehingga tidak membangunkan Dion yang masih tertidur.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading.. 💘💘...