Secret of the Heart

Secret of the Heart
Perkara foto



Dion menekan bel begitu ia sampai di depan apartemen dimana Hani dan Melly berada. Walaupun ia tahu kunci apartment itu, tetapi sebagai seorang lelaki dewasa yang menghargai wanita yang ia cintai tentu saja dia harus menunggu sampai Melly yang membukakan pintu dan mempersilahkan dia untuk masuk.


" Syukurlah kamu sudah datang." Ucap Melly begitu pintu itu terbuka, membuat pria yang ada di hadapannya itu menatap bingung sekaligus tak percaya, wanita itu menunggunya. Beberapa saat kemudian suara tangis Hani menyadarkannya.


" Ada apa? Hani kenapa menangis. " Tanya Dion.


Melly menaikkan kedua bahunya. Seraya berkata " Masuk dan tanyakan sendiri." Melly terlalu malas sekaligus gengsi menjelaskan penyebab putrinya menangis.


Melly melangkah masuk terlebih dulu, di ikuti Dion setelah pria itu menutup pintu apartemen.


" Sayang kamu kenapa menangis, hmmm! Mau apa? Minta sama Daddy, tapi jangan nangis kaya gini dong, kamu kan baru sembuh." Bujuk Dion setelah berlutut di hadapan Hani yang tengah duduk di sofa.


Dion mensejajarkan tingginya dengan putrinya, salah satu tangan Dion terangkat untuk mengusap pipi chubby Hani dengan begitu sayang.


Sementara Melly memilih duduk di sofa sambil membulak balik maja yang sempat ia letakkan di atas meja kecil samping sofa yang ia duduki. Sesekali Melly mencuri pandang kepada dua orang yang duduk berhadapan dengannya walaupun Dion kini sedang memunggunginya.


" Kenapa Nangis hmm?" Tanya Dion Lagi.


" Mommy sama Daddy Curang, Jahat sama HANI." Jawabannya dengan seseguk kan.


Dion kebingungan mendengar jawaban sekali tuduhan putrinya itu, ia berbalik menatap Melly! Meminta penjelasannya. Tetapi Melly pura pura tidak mendengar." Daddy, sama mommy curang sama Hani.! Curang Nya dimana sayang. " Tanya Dion. Ia benar benar bingung saat ini.


" Mommy dan daddy punya Foto bersama! Tapi Hani nggak ada disitu." Hani menatap Bingkai besar dimana foto pernikahan Melly terpajang di sana. " Itu juga Hani nggak ada, itu, yang itu dan itu, semuanya nggak ada Hani." Gadis itu menunjuk setiap sisi ruangan dimana foto foto Melly dan Dion berada.


" Kenapa pusing." Sindir Melly saat Dion memijit pelipisnya. " Anak baru rengek gitu aja udah nggak tahan. " Sambungnya.


" Mel, bukan nggak tahan, tapi kalau cuma perkara Foto kamu bisa langsung ngomong sama aku atau ajak Hani kita bisa foto sama sama, kenapa dia sampai harus di buat Nangis kaya gini." Sahut Dion. Entah kenapa Dion merasa Melly selalu punya cara untuk menyindirnya.


" Ya sudah kalau kamu merasa sesimpel, bujuk dia. " Melly meletakkan majalahnya dan masuk ke dalam kamar. Berada terlalu lama dengan Dion, tidak akan baik untuk hati dan otaknya.


Begitu Melly pergi, Dion kembali menatap Hani seraya berkata. " Sayang, nanti kita foto sebanyak yang HANI mau, Udah ya, jangan nangis lagi."


" Kapan Deddy?" perlahan Tangisannya pun mereda, berganti binar di matanya.


" Hani maunya kapan?" Tanya Dion sambil mengusap kepala Hani.


" Besok." Dion mengangguk. " Daddy janji. " Hani mengarahkan jari kelincinya kehadapan Dion.


" Janji. " Dion menautkan jari kelincinya dengan punya Hani.


" Yeeeaaa Hani sayang Daddy." Gadis kecil itu melingkar kedua tangannya di leher Dion dan mengecup pipinya bergantian. Dion merasa kehangatan mengalir di dalam Hatinya, momen ini yang ia rindu. Dimana dia bisa merasakan di peluk dan di kecup oleh anaknya.


" Daddy juga sayang sama Hani, sayang banget." Dion melakukan hal yang sama Dengan Hani, sayangnya Hani mengecup Dion hanya di pipinya, sementara Dion mengecup hampir seluruh wajah hani ,berkali kali, membuat Hani kegelian dan tertawa.


Melly yang mendengar kegaduhan ulah, dari mantan suami dan putrinya itu, keluar untuk melihat apa yang terjadi.


" Kamu nggak balik kantor." Tanya Melly hanya sekedar basa basi.


" Di kantor nggak pekerjaan yang penting penting banget, kalau pun ada! Itu tidak lebih penting dari kalian berdua." Balas Dion.


" OH! Terus Kamu udah makan?" Tanya Melly lagi.


" Aku belum sempat makan siang! setelah terima telepon dari kamu, aku langsung bergegas kesini." Jawab Dion seadanya.


" Daddy kamu bisa cari makan sendiri, dia tidak perlu bantuan kita sayang. " Gumam Melly dalam hati, mana berani dia berkata seperti itu di hadapan Hani, karena itu sama saja Melly mengajarkan Hani untuk kurang ngajar kepada Dion selaku ayah biologisnya. Bukankah seorang ibu adalah guru pertama untuk anak anaknya. Tentu saja, Melly tidak ingin hal itu terjadi. " Tunggu sebentar." Melly beranjak ke dapur.


Tak lama setelahnya, ia kembali membawa piring berisi Nasi putih dan telur ceplok di atasnya. " Nih makan." Melly menyerahkan piring itu kepada Dion.


" Mel, serius! Kamu kasih makan aku kaya gini." Walaupun ia melayangkan protes kepada Melly tetapi tangannya tetap meraih piring itu.


" Mau gimana lagi, di apartemen ini cuma ada beras, telur dan air mineral. Aku belum belanja persediaan makanan." Sela Melly." Ya Udah sih tinggal makan aja." Ketus nya.


" Terus airnya mana."


" Ambil sendiri, jangan manja! Aku nggak berkewajiban untuk melayani kamu. "


" Daddy biar Hani yang ambil ya." Tanpa menunggu ucapan Dion, Hani sudah lebih dulu beranjak dari tempatnya." Ini Daddy. " Hani meletakkan segelas air putih di depan Dion.


" Makasih ya sayang. "


" Sama sama Daddy. " Hani kembali duduk di tempat semula.


" Mel Habis ini kita belanja ya." Ucap Dion sambil menyuap makan kedalam mulutnya.


" Hmmm."


" Yeah, asyik. " Hani bersorak gembira.


Sesuai ucapan nya tadi. Begitu Dion menyelesaikan makan nya, Dia langsung mengajak Melly dan Hani untuk belanja! Awal ia ingin membawa mereka ke mall, tetapi Melly menolak ide itu dan pada akhirnya mereka bertiga belanja di mini Market yang tidak jauh dari apartemen mereka.


Di dalam mini market Melly berjalan sambil mendorong troli di ikut Dion dan Hani yang berada dalam gendong DION. Ketiganya terlihat seperti keluarga bahagia. Membuat mata pengunjung mini Market lain menatap penuh kekaguman kepada mereka bahkan mereka tidak segan segan memuji mereka bertiga.


" Anaknya cantik ya."


" Wajar dong, Ayah nya ganteng dan ibunya saja cantik."


" Suaminya penyayang banget ya."


" Iya, di waktu sibuk aja masih sempat temani istrinya belanja."


Begitulah bisik bisik mereka dan masih banyak lagi, Melly yang samar samar mendengar hal itu, tidak menghiraukan, mungkin dari sebagian ucapan mereka ada yang benar tetapi sayangnya Dion dan Melly bukan pasang suami istri seperti yang ada dipikiran mereka, karena baik Dia maupun Dion memiliki jurang yang sangat besar untuk kembali bersatu ada pun Hani hanya bisa di ibaratkan sebagai seutas tali penghubung.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....


...HAPPY READING,. 💘💘💘...


...Segini dulu ya. 🙏...