Secret of the Heart

Secret of the Heart
Astaga, Melly!



" Iya mommy." Gadis kecil itu menjauhkan ganggang telpon di tangannya kemudian menatap kearah Dion. Sembari berkata." Daddy Mommy mau bicara. "


DEG.


Semua orang langsung menatap satu sama lain termasuk Dion. Setelah itu mereka kembali menatap Hani.


" Sayang, Di tutup aja telponnya, mungkin itu cuma orang iseng." Ujar Dian. " Mommy kan sedang kerja, jadi nggak mungkin mommy telpon sayang. " Sambungnya.


Baik Hani mau pun Lisa belum di beritahu tentang kecelakaan pesawat yang di tumpangi Melly. Sehingga kedua gadis kecil itu masih bisa tertawa dan bermain tanpa perlu menangis dan berpikir seperti orang dewasa.


" Nggak kok bunda emang ini suara Mommy Hani, Bunda dengar aja kalau nggak percaya." giliran Dian yang di sodorkan ganggang telpon itu, tapi semua orang seakan tidak percaya dan tidak menghiraukan ucapan Hani. " Ya udah deh kalau Daddy sama Bunda nggak mau ngomong, Hani aja. " Lanjutnya, kemudian menempel benda itu pada telinganya.


" Mommy! Daddy, Bunda sama yang lainnya lagi sibuk ngobrol, Hani nggak tahu mereka ngomong Apa! Mommy ngobrolnya sama Hani aja ya?" Bujuknya Dengan hati hati, seolah gadis itu takut melukai hati Mommy Nya.


"........"


Entah apa yang di tanyakan Melly dari seberang sana, sehingga gadis kecil itu mulai menceritakan tentang aktivitas dia dan Lisa selama dua Hari ini.


Bahkan para orang dewasa yang awalnya tak peduli kini mulai di selimut rasa penasaran. Dan menatap kearah Hani sembari mendengar ia bercerita dengan orang yang berada di balik telpon itu. Sampai satu pertanyaan dari Hani membuat Dion berdiri dari duduknya dan merebut ganggang telpon itu dari tangan Hani.


" Daddy berikan Hani mau ngomong sama uncle Richard." Rengek Nya, tetapi tidak Hiraukan Dion.


Lelaki itu justru memberi kode kepada Dian untuk membawa putrinya ke kamar. Dion sudah pusing dengan musibah yang menimpa Melly istrinya dan Dia tidak ingin di buat pusing oleh penelpon iseng yang mengaku ngaku sebagai istrinya.


" Siapa pun kamu, sebaiknya cari keluarga lain untuk kamu tipu jangan keluarga saya, apalagi mengaku ngaku sebagai istri saya. Saya tidak akan tertipu dengan kamu. Jadi berhenti menghubungi nomor ini." Dion Hampir saja berteriak, tetapi sahutan dari sana membuat dia terdiam antara percaya atau tidak, dengan suara yang dia dengar.


" Kamu benar mel_ halo Halo. " Panggilan itu sudah terputus.


Dion terdiam, setelah meletakkan ganggang telepon itu pada Tempatnya. Dion berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita yang baru saja menghubunginya adalah istrinya tapi bagaimana bisa Melly ada di rumah sakit sementara dia sendiri yang mengantar sang istri ke bandara hari itu. Dan kalau pun Melly harus masuk rumah sakit. Sudah pasti rumah sakit yang ada di Australia. Tapi kenapa alamat rumah sakit yang di berikan adalah rumah yang ada di Jakarta.


" Ada apa Ion." Tanya sang Papa sambil menepuk pundak Dion. Entah sejak kapan lelaki paruh bayah itu sudah berada di samping Dion.


" Ada yang harus Dion urus pa." Tanpa menjawab serta mengatakan dengan jelas maksudnya, Lelaki itu langsung mengambil kunci dari Laci penyimpanan kucing mobil dan berlari ke halaman, menuju garasi di mana mobil mobilnya terparkir.


Reval dan Luna yang sejak tadi berada di rumah itu juga mengikuti mobil Dion, di ikuti keluarga yang lain. Hingga mobil Dion berhenti Di rumah sakit dimana Melly di rawat. Tidak lama setelah itu, mobil Reval sampai di ikuti mobil keluarga mereka.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Dion berjalan ke bagian informasi untuk menanyakan keberadaan pasien atas nama Mellisa Hanzie. Dan seorang perawat mengantarnya keruang VIP Yang ada di lantai lima rumah sakit itu.


" Ini Pak ruang rawat Dokter Melly." Ucap perawat yang mengantar Dion. " Ly, katanya ini suami dokter Melly." Ucapnya lagi kepada perawat yang berjaga di depan Ruang rawat Melly.


" Terima kasih." Ucap Dion begitu tulus seraya memutar hendel pintu itu dengan perlahan. Tangannya sedikit Gemetaran, karena perasaan harap harap cemasnya. Berharap di dalam itu benar benar Melly, istrinya dan cemas jika wanita yang bernama Melly itu bukan Melly nya. Walaupun pikirannya saat ini tengah melayang kemana mana.


Ceklek. Bunyi suara pintu yang terbuka.


Dion mendorong pintu itu kedalam dan terpampang lah wajah sang istri yang tengah memejamkan matanya. " Melly." Dion bergegas menghampiri Melly.


" Berhenti! Mundur." Teriak Melly. Dalam keadaan mata yang masih terpejam. " Mundur lagi." Dion yang bingung hanya bisa menurut. Tidak ada yang dapat menggambarkan kebahagiaan Dion saat ini.


" Kenapa honey." Tanya Dion, Ingin sekali dia memeluk Melly. Tetapi Belum juga dia mendekat wanita itu sudah menyuruhnya berhenti dan mundur. " Kamu marah karena ucapan ku tadi." Lelaki itu tidak mempunyai kesalahan yang membuat dia harus menjauh. Dan dia yakin sikap Melly itu karena Kata-katanya di telpon tadi.


Sementara Melly masih dalam posisi yang sama. Ia berusaha menahan gejolak di perutnya. Entah kenapa penciumannya semakin sensitif. Dia yang biasa tidur dengan menghirup aroma tubuh sang suami kini menjadi mual. Padahal waktu Hamil Hani, wanita itu merindukan sosok Dion. Tapi Kenapa Di kehamilan kali ini berbeda. Pikir Melly.


" By mending kamu keluar deh, aku mau muntah kalau kamu dekat dekat."


" Ha'ah. Cobaan apalagi ini." Gumam Dion. " Honey kalau. Becanda jangan gini dong nggak lucu. Kamu aja masih ada hutang penjelasan ke aku. Kenapa bisa ada disini." Kali ini lelaki itu tidak mengindahkan permintaan istrinya. Ia menghampiri Melly dan memeluknya. Saat itu juga Melly tidak bisa menahan rasa mual nya. Ia mencoba bangkit dan mendorong tubuh Dion, karena lelaki itu melawan ia pun terkena muntahan Melly. Bukan hanya Dion saja. Melly juga tapi lebih parah Dion.


" Astaga, Melly! Apa yang kamu lakukan." Ucap Dion, Lelaki itu begitu sok. Dalam hatinya ia menggerutu kesialannya selama beberapa hari ini.


" Aku kan sudah bilang! Jauh jauh, kamu nya aja yang ngeyel." Ucapnya dan kembali berbaring. Ia bahkan tidak menghiraukan suara pintu yang terbuka.


" Syukurlah mel kamu masih hidup." Luna ingin memeluk tubuh Melly tetapi ia mengurung niatnya melihat kondisi temannya yang berantakan dan sedikit menjijikan.


" Kalian mendoakan aku cepat mati?" Tanya Melly, wajahnya terlihat begitu pucat dan bulir keringat memenuhi dahinya." Sudahlah, jangan di bahas lagi, lebih baik kamu bantu aku ke kamar mandi." Lanjutnya tanpa memberikan kesempatan untuk Luna menjelaskan ucapannya.


Sementara Dion lelaki itu seakan kehabisan kata Kata. Serta di Landa perasaan bingung dengan keadaan Melly.


" Kenapa diam saja kamu. Sana keluar. " Usir Melly sebelum wanita itu masuk kedalam kamar mandi.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....


...Happy reading.. 💘💘...