Secret of the Heart

Secret of the Heart
Niat terselubung



" Nggak, aku nggak boleh kaya gini! Mas Dion itu suami aku, Jika ada yang harus mundur maka wanita itulah orangnya."Ucap Ria sambil mengusap kedua pipinya dengan kasar. " Apa pun akan aku lakukan, agar kamu kembali perhatian padaku lagi, mas Dion."


Ria beranjak dari tempatnya, ia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai dengan ritualnya di kamar mandi dan berpakaian, Ria mengobati tangannya terlebih dulu sebelum berdandan secantik mungkin. Entah apa yang tengah di rencanakan wanita ini.


Begitu selesai ia melangkah keluar kamar, dengan begitu anggunnya, seolah wanita yang tadinya terpuruk itu tidak ada. " Sayang kamu mau kemana?" Tanya Mamanya Dion, wanita paruh bayah itu melirik sekilas kedalam kamar ria sebelum kembali menatap menantunya dari atas sampai kebawa begitu pun sebaliknya. " Kamu nggak papa kan sayang?" Tanya wanita itu lagi.


" Nggak papa kok ma, maaf ya ria sudah buat kalian cemas." Ucapnya penuh penyesalan.


" Iya mama ngerti perasaan kamu! Maafin anak mama ya." Wanita itu begitu kasihan dengan Ria, tetapi dia sendiri tidak dapat berbuat apa apa untuk membantunya.


Karena Baik Dion maupun Dian, sama sama batu! Kalau mereka sudah mengatakan hal itu, maka akan seterusnya seperti itu, mau di paksakan seperti apa pun, mereka tetap kekeh pada pendirian mereka.


" Ini bukan salah mama, mungkin ria yang kurang perhatian sama mas Dion Ma." Sahut wanita itu sambil menggenggam tangan mertuanya. " Ria ingin mencoba sekali lagi ma! Doakan ria ya ma." Wanita itu mengangguk dengan senyum yang di paksakan, ia tahu pada akhirnya ria tidak akan pernah berhasil tetapi tidak tega untuk melukai hati menantunya dengan mengatakan tidak.


" Kamu mau kemana? Sudah rapih begini. " Tanya Mamanya Dion.


" Aku mau ngajak mas Dion buat makan siang bareng ma." Jelasnya.


" Sama Lisa juga."


" Nggak ma, kan Lisa sekolah! Rencananya nanti setelah makan siang dengan mas Dion, baru Ria jemput Lisa. "


" Oh gitu, ya udah sana jalan, sebentar lagi jam makan siang. " Pinta wanita itu sambil melirik jam besar yang terpasang di dinding.


" Iya MA! Ria pergi dulu ya." Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya setelah mendapat persetujuan dari mamanya Dion.


Tidak butuh waktu lama untuk Ria sampai di perusahaan Dion. Dengan penuh percaya diri ia menyusuri lobby perusahaan itu sebelum masuk ke dalam lift.


Ini bukan pertama kalinya ria datang ke perusahan Dion, tetapi setiap kedatangannya ke perusahan selalu menjadi bahan pembicaraan bawaan lelaki yang masih berstatus suaminya itu.


Mereka selalu saja membanding bandingkan, dirinya dengan Melly, mulai dari wajah, penampilan, cara berjalan, pendidikan sampai sikap.


Sesungguhnya Ria muak dengan semua itu, tetapi dia bisa apa bahkan Dion pun tidak pernah menegur bawahan nya, ia seakan, terang terang mengizinkan mereka.


Dengan penuh percaya diri, Ria melangkah masuk kedalam ruang Dion tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Ia bahkan tidak menghiraukan tegur sekretaris Dion yang melarangnya untuk masuk.


" Ada apa ini." Bentak Dion. " Apa kalian pikir ruangan ku adalah jalanan, dimana kalian bisa membuat keributan seenaknya." Sambungnya dengan tatapan yang begitu menusuk, seolah tatapan itu dapat menguliti objek yang tengah ia lihat saat ini.


" Maaf pak, saya sudah melarangnya, tetapi ibu ria tetap kekeh untuk masuk. " Sekretaris Dion segera memberi pembelaan untuk dirinya, ia tidak ingin karena wanita yang ada di hadapannya itu, dia harus kehilangan pekerjaan.


" Hmm,,, Lanjutkan pekerjaan kamu." Gumam Dion sebelum menyuruh sekretarisnya pergi." Siapa yang memberikan kamu izin untuk berlaku seenaknya di perusahaan ku. Apa selama ini, aku terlalu baik kepadamu." Dion mengintimidasi, Begitu sekretarisnya pergi.


" Maaf jika aku sudah terlalu lancang dan sedikit melunjak, Tetapi aku hanya ingin kamu mengizinkan aku merasakan bagaimana menjadi istri kamu seutuhnya, toh ini hanya sesaat, karena pada akhirnya aku akan di cerai kan dan kamu tidak perlu takut, aku tidak akan melewati batas atau melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai. " Ucap Ria, ia mencoba memberikan penawaran kepada Dion.


" Aku seberani itu, salahkan jika aku ingin membuat sedikit saja kenangan indah dalam pernikahan kita. Baiklah jika kamu tidak mau melakukannya, setidaknya kamu bisa menemani aku untuk makan siang kan. " Ria mencoba merangkul pergelangan Dion, tetapi pria itu dengan cepat menepis nya.


" Maaf aku tidak bisa, ada meeting satu jam lagi yang tidak bisa aku tinggal dan kamu bisa lihat tumpukan berkas itu. " Tunjuk Dion pada beberapa tumpukkan map yang ada di atas meja kerjanya. " Mereka membutuhkan aku sekarang dan kamu bisa keluar dari ruangan kerjaku, pintu nya masih di sana. " Dion berbalik dan menunjuk kearah pintu.


Hati ria sakit menerima penghinaan ini, kenapa begitu sulit baginya untuk menggapai lelaki itu. Dengan langkah yang begitu ia berbalik untuk pergi. " Satu lagi, tadi kamu menawarkan untuk makan bersama bukan. " Bibir Ria melengkung membuat sebuah senyuman saat Dengar hal itu, tetapi itu hanya sesaat karena di detik berikutnya ucapan di selanjutnya kembali menusuk Hatinya. " Aku akan pulang malam ini untuk makan malam bersama kalian di rumah, anggap saja aku sedang amal."


Usai mengatakan hal itu Dion berbalik Hendak kembali ke tempat Duduknya. Tetapi getar dari ponselnya membuat Ia menghentikan Niatnya itu dan segera menjawab panggilan itu setelah melihat nama si penelpon.


" Hallo, apa kamu merindukan aku. " Tanya Dion, sebelum ia tertawa mendengar jawaban si penelpon.


" Baiklah, aku segera ke sana."


"......."


" Tidak, aku tidak sibuk! Bagiku kalian lebih penting dari apa yang aku punya saat ini."


"......."


" Aku tidak berbohong, aku mengatakan yang sebenarnya. Kamu harus percaya padaku." Tak sampai menit panggil itu berakhir. Setelah itu Dion bergegas keluar ruangannya menitipkan pekerjaan kepada asisten dan sekretarisnya.


Ia bahkan tidak menyadari keberadaan ria yang belum sepenuhnya pergi dari perusahaan Dion.


Dion bergegas untuk menemui Melly, wanita itu baru saja menghubungi dia dan memintanya untuk datang karena ada sedikit masalah yang harus Dion selesaikan.


Setelah kebut kebutuhan di jalan, Dion akhirnya sampai di apartemen yang sekarang di tempati Melly.


Sementara di tempat lain, wanita itu memilih menjemput anaknya disekolah setelah gagal membujuk Dion untuk makan siang bersamanya. Sungguh miris sekali nasibnya. Nasibnya memang tidak pernah beruntung, dulu dia di bohongi lalu di campak an begitu saja dan sebentar lagi Dion akan menceraikan dirinya. Kenapa takdir begitu kejam padanya?


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...Bersambung. ...


...Happy reading. 💘💘...