Secret of the Heart

Secret of the Heart
Two boy's



" Ma." Jerit Dian kalah rasa sakit itu kembali menghampirinya. Wanita itu kini tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit sambil menggenggam kuat Tangan Melly dan mamanya.


Di saat dia tengah menanti lahirnya sang buah hati, masih sempat Melly memberikan kekuatan kepada Dian kakak iparnya, walaupun dia sendiri ikut merasakan mules Melihat Dian dalam keadaan seperti itu.


" Kakak yang kuat ya! Kakak sudah lama kan menanti hal ini, ini saatnya kakak harus berjuang, dia juga sedang berjuang untuk bertemu kakak, aku yakin kakak bisa." Ucap Melly sembari mengusap perut Dian. " Sayang kamu harus semangati bunda ya." Lanjutnya dengan tangan tetap mengusap perut buncit Dian.


Sementara Dion sang suami tengah mengurus segala keperluan kakaknya untuk melakukan operasi, mengingat umur dan kandungan Dian yang lemah serta terjadi sedikit pendarahan membuat Dian tidak dapat melahirkan normal.


" Aku nggak kuat mel, ini sakit banget." Rintihan nya terdengar begitu menyayat seakan ada rasa sakit lain, yang ia tanggung selain rasa kontraksi itu.


" Aku tahu, ini emang sakit kak, tapi hanya sebentar, semua itu akan terobati saat kakak Melihat wajahnya dan mendengar tangisannya." Melly mengusap puncak kepala Dian. sementara mama mertuanya terus melafalkan doa untuk cucu dan putrinya.


Seandainya rasa sakit Dian bisa di pindahkan mungkin wanita paruh baya itu akan memindahkan rasa sakit Dian pada dirinya.


Di saat mereka tengah fokus dengan Dian. Lisa dan Hani mereka titipkan, Lisa di titipkan kepada Luna sedangkan Hani pada Maminya Melly. Gadis kecil itu menolak untuk di titipkan di rumah Luna. Mau tak mau Dion harus mengantarnya ke rumah mertuanya. Walaupun banyak pelayanan yang siapa menjaga mereka, tetapi Melly lebih tenang jika mereka bersama orang orang terdekatnya.


" Maafkan kakak ya! Kalau kakak punya salah sama kamu." Ucap Dian. " Ma_"


" Jangan ngomong seperti itu. Mama nggak suka Di." Tegur mamanya.


" Tapi Dian nggak bohong Ma! Ini sakit banget, Dian nggak kuat." Mendengar keluhan putrinya. Mamanya Dian membantu Dian untuk berbaring miring ke kiri sembari mengusap punggung Dian.


" Sabar ya sayang, semua ibu melewati proses ini, kamu nikmati saja! Begitu dia keluar rasa sakit ini akan terobati, Kakak Harus percaya sama mama, semua akan baik baik saja." Dian mengangguk sembari mengusap cairan bening yang terus mengalir melalui sudut matanya.


Ada perasaan lega saat mendengar kata kata penyemangat dari sang mama, ia seakan mendapatkan kekuatan baru untuk menahan rasa itu.


Tidak lama setelah itu empat orang perawat menghampiri Dian. " Ibu dan Dokter Melly, sebaiknya tunggu di luar, Dokter harus segera melakukan tindakan untuk pasien." Melly yang mengerti betul situasi saat ini hanya mengangguk, sembari menarik tangan Ibu mertuanya untuk keluar. Tak lama setelah Melly dan mama mertuanya keluar, Dian langsung Di dorong menuju Ruang operasi.


Proses operasi itu berjalan lancar dan tidak ada kendala apapun. Bayi yang Dilahirkan Dian berjenis kelamin laki-laki dengan berat 3,2 kg dan panjang 53,1cm. Bayi laki-laki itu di beri Nama Ahyan Giovanni Bagaskara. Yang memiliki arti Anugerah dari tuhan.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Dua Hari setelah Ahyan Lahir, kini giliran Melly, yang merasakan kontraksi. Melly yang sejak Hamil tidak bisa tenang dan selalu bergerak kesana-kemari sedikit lebih tenang dari Dian.


Wanita itu terlihat begitu menikmati rasa sakitnya, entah karena ini anak keduanya atau memang fisiknya Melly yang kuat untuk menahan rasa sakit itu.


" Sakit banget ya." Tanya Dion, sembari berjongkok di depan Melly. Sementara wanita yang tengah berjuang untuk melahirkan anaknya itu, tengah duduk di bangku panjang yang ada di depan ruang bersalin. Setelah berjalan jalan kecil didepan ruangan itu.


" Ya, tapi masih bisa aku tahan kok." Jawab Melly sambil mengatur nafasnya. Dalam keadaan menahan sakit ia masih bisa tersenyum untuk Dion.


Sementara Dion sudah menitihkan air matanya. " Kamu kenapa nangis By! Aku nggak papa." Seketika itu, Dion langsung lingkarkan tangannya pada pinggang Melly. Posisinya yang tengah berjongkok membuat ia sedikit terhalang dengan perut Melly.


" Maaf, maafkan aku yang tidak ada di saat kamu berjuang untuk melahirkan Hani. " Rasa bersalah memenuhi relung hatinya.


Wajah Melly terlihat begitu masam, jelas sekali sakit yang ia rasa. Tetapi tidak ada satu pun jeritan dan keluhan yang keluar dari bibirnya, hanya kalimat penguat serta kata kata penenang yang di ucapkan untuk dirinya sendiri.


" Honey, kalau sakit bilang jangan di tahan seperti itu." Ucap Dion sambil mengikuti langkah Melly. Terkadang Dion juga ikut-ikutan menarik nafas dan menyembuhkannya. Seperti yang di lakukan Melly.


" Emangnya kalau aku bilang, By bisa bantu?" Melly masih sempat geleng-geleng kepala Melihat sikap Dion yang berlebihan itu. Sementara lelaki itu hanya Diam. Ingin sekali dia menjawab " Kalau terlalu sakit operasi saja." Tetapi kalimat itu hanya tertahan di tenggorokannya.


Jarum jam terus berputar, Rasa sakit yang di rasakan Melly pun semakin sering dan pembukaan itu semakin mendekati sempurna, berbagai cara dia lakukan untuk sedikit mengurangi rasa sakitnya, mulai dari berpegang dengan kuat apa saja yang ia gapai, memeluk Dion dan masih banyak hal lainnya.


Usapan lembut dari orang orang terdekatnya, Sedikit membesarkan hati Melly." Kalau sudah tidak kuat bilang ya Honey." Ucap Dion lagi sambil mengusap bulir keringat yang membasahi dahi Melly. Sementara wanita itu tidak mengangguk atau pun menggeleng kepalanya, ia hanya tersenyum. Sedangkan Dion tidak terhitung berapa banyak air mata yang menetes serta kata 'maaf' yang keluar dari mulutnya.


" By, Antar aku ke ranjang dong." Pinta Melly, Lelaki itu mengangguk dan menuntun Melly untuk berbaring di ranjang. Dokter Nesya yang tengah menunggu untuk membantu Melly, langsung menghampiri mereka.


" Kita periksa pembukaan lagi ya." Melly mengangguk. Dokter Nesya pun melakukan tugasnya. " Pembukaannya sudah lengkap." Lanjutnya kemudian ia meminta dua orang perawat untuk membantunya.


Tak sampai 15 belas Menit Bayi berjenis kelamin laki-laki itu lahir dengan selamat dan sehat, tanpa kurang satu apapun. Dion yang menyaksikan proses itu dari awal sampai akhir, tiada henti-hentinya mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Melly .


Lelaki itu sempat membayangkan Melly Akan kesusahan seperti kakaknya, tetapi semuanya di luar ekspetasinya, istrinya itu begitu kuat.


Setelah anaknya lahir Melly memilih memejamkan matanya, bukan karena kondisinya memburuk. Hanya saja dia begitu kelelahan. Bahkan ia tidak menghiraukan apa pun yang di lakukan dokter Nesya dan perawatnya di bawah sana.


" Honey kamu nggak papa kan?" Tanya Dion sambil menepuk-nepuk pipi Melly.


" DION AKU BELUM MATI JIKA ITU YANG KAMU PIKIRKAN." Teriak Melly, tanpa membuka kedua matanya. Bukan hanya Dion bahkan Dokter Nesya dan dua orang perawat yang tengah membantunya ikut Terkejut.


" Astaga Honey." Sahut Dion sambil mengusap dadanya. Entah kenapa Dion merasa istrinya itu akan kembali ke mode judesnya setelah ini. Tapi Dion tetap menjadi orang yang paling bahagia, karena dia memiliki istri seperti Melly dan anak secantik Hani serta seganteng Adiknya.


.......


.... ...


.... ...


.... ...


...Bersambung. ...


...Happy reading.. 💘💘...


...Satu bab lagi selesai ya. 💘💘😘...