Secret of the Heart

Secret of the Heart
Panggilan Baru



Setelah sarapan, Dian pamit kepada kedua orang tuanya untuk mengantar Hani dan Lisa ke sekolah. " MA, PA! Dian pergi dulu ya." Ucapnya sambil mencium tangan papa dan mamanya secara bergantian. " Hani, Lisa! Salim dulu sama kakek, nenek."


" Iya Aunty." Sahut Hani, gadis kecil itu pun menghampiri kakak dan nenek, lalu mencium punggung tangan mereka secara bergantian. Begitu pun dengan lisa.


" Belajar yang rajin ya sayang, nggak boleh nakal di sekolah. " Pesan wanita paruh baya itu kepada cucunya. Setelah itu ia mencium kening Hani dan berakhir di kedua pipi chubby itu. " Lisa juga." Sambungnya.


" Iya nek." Jawab kedua gadis itu kompak. Setelah itu Dian, Hani dan Lisa masuk kedalam mobil, Dan mereka pun melambaikan tangan kepada papa mama Dion, begitu Dian mulai menjalankan mobilnya.


Pejalan mereka ke sekolah di penuhi dengan banyak pertanyaan dari kedua gadis kecil itu, awalnya hanya Hani seorang yang bertanya akan hal yang di lewati mobil Dian, entah itu tentang nama gedung yang menjulang, yang dia lihat atau apapun yang mencuri perhatian dan rasa penasaran! Hal itu membuat Lisa yang berada di jok belakang, tertarik untuk berbicara dan bertanya juga. Dian pun dengan senang wanita menjawab pertanyaan kedua gadis itu walaupun pertanyaan yang ia jawab akan menimbulkan pertanyaan baru.


Tidak sampai tiga puluh menit, mereka kini sudah berada di sekolah Hani maupun Lisa. Awalnya Lisa sekolah, di sekolah yang berbeda dengan tetapi Dion meminta asisten nya untuk memindahkan Lisa ke sekolah yang sama dengan Hani, agar putrinya itu memiliki teman.


" Sayang aunty mau ke butik dulu, nanti aunty jemput lagi oke. Nggak boleh nakal dan dengar apa kata guru." Pesan Dian kepada, keponakannya itu, seraya berjongkok di hadapan Hani.


" siap aunty." Gadis kecil itu melakukan gerakan hormat kepada Dian.


" Pinter, sini cium dulu." Dian, menunjukkan kedua pipinya. gadis kecil itu langsung mendekat ke arah Dian dan mengecup kedua pipinya secara bergantian. " Ya udah, masuk ya." Hani mengangguk dan berlari kearah gurunya sambil melambaikan tangannya kepada Dian. Untuk Lisa, gadis kecil itu telah berlari lebih dulu begitu ia keluar dari mobil Dian.


Begitu memastikan Hani dan Lisa, telah masuk di kelas mereka masing masing, Dian langsung bergegas ke butik. Umur Lisa mungkin lebih tua beberapa bulan dari Hani, tetapi soal kepintaran tentu Hani lebih unggul darinya itu sebabnya keduanya beda kelas, walaupun sama sama TK, Hani Kelas B, di mana ia sudah bisa langsung ke kelas satu begitu lulus, beberapa bulan lagi, sementara Lisa kelas A dimana ia masih harus mengulang setahun lagi di kelas B.


...\=\=\=\=\=\=\=...


Disisi lain.


Setelah Melly dan Dion menyelesaikan sarapan mereka, keduanya! Memutuskan untuk jalan jalan. Seperti Mengunjungi tempat tempat yang biasanya di kunjungi kaulah muda.


" Mel, selama kamu jauh dari aku, ada nggak sih orang yang pernah ngajak kamu serius." Tanya Dion, keduanya tengah duduk di bawah pohon, jauh dari tempat keduanya terdapat beberapa pasangan muda mudik yang tengah menghabiskan waktu bersama, sama seperti mereka.


" Banyak. " Jawab Melly. Bukannya sombong atau apa, tapi kenyataan memang seperti itu. Siapa yang tidak tertarik dengan wanita seperti Melly, cantik, pintar dan sukses dalam karier walaupun tidak banyaknya yang tahu kalau ia memiliki sifat keras kepala.


" Kenapa nggak mau? Pasti karena masih cinta kan sama aku." Ujar Dion penuh percaya diri. Melihat kepercayaan diri Dion, Wanita itu hanya menanggapi ucapan suaminya dengan menaikkan kedua bahunya. " Kok gitu nanggapin nya ." Dion menatap lekat wajah Melly.


" Ya karena apa yang kamu bilang itu tidak sepenuhnya benar." Sahut Melly.


" Terus alasannya apa. Masa di saat hampir sebagian besar wanita di luar sana berlomba untuk mencari suami yang mapan. Istrinya aku ini tidak tertarik sedikit pun sama hal begituan. " Dion berucap sambil mencubit gemas pipi Melly dan mendaratkan satu kecupan di bibirnya. Setelah itu ia kembali menatap wajah Melly, seolah tidak ada bosannya ia menatap wajah Melly.


" Karena aku takut sekaligus fokus untuk menjadi lebih dewasa dalam menghadapi segala hal serta menjadi kaya. Kaya akan pengetahuan, kaya akan pengalaman hidup dan kaya akan materi itu hanyalah bonus kalau dapat." Ucap Melly di akhir dengan tawa saat melihat raut wajah bingung suaminya." Kenapa bingung gitu, Wajahnya." Giliran Melly yang mengecup pipi Dion.


" Kamu tu_" dering panjang dari ponsel yang berada dalam saku celana Dion, menghentikan ucapannya.


" Siapa yang telpon." Tanya Melly, begitu Dion mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengecek nama penelpon di pada layar benda pipi itu.


" Kak Dian." Jawab Dion.


" Angkat, terus speaker." Dion mengangguk, setelah itu dia melakukan apa yang di minta Melly.


" Hallo kak, ada apa? Tumben kakak telpon! Hani baik baik aja kan?" Tanya Dion.


" Hani baik baik aja kok, kakak telpon cuma mau masti in kalau kalian belum pulang kan! Soalnya kakak mau ngajak Hani ke rumah suami kakak." Sahut Dian dari seberang sana. " Melly mana, kasih ponsel kamu ke Melly, biar kakak izin sama dia. " Sambungnya lagi.


" Nih Melly nya ada di samping aku, kakak ngomong aja, Melly juga denger kok. "


" Mel, aku boleh bawah Hani kan! "Tanya Dian kepada adik ipar nya itu.


" Aku sih Boleh aja sih kak, cuma takutnya dia nggak repotin kakak di sana. " Ucap Melly.


" Ya nggak lah mel, Hani itu kan keponakan aku! Berarti dia juga anak aku! Mana mungkin aku kerepotan dengan anak aku sendiri." Sahut Dian, membuat Melly dan Dion tidak bisa berkata kata.


" Terima kasih ya kak, udah mau bantu aku jaga in Hani."


" Kalau kakak menganggap Hani, seperti anak kakak sendiri kenapa kakak nggak minta sama Hani buat manggil kakak, mama, Bunda atau ibu aja. "


" Kakak sih mau nya gitu, tapi nggak enak sama kamu. "


" Kenapa Kakak harus nggak enak, aku justru senang, kalau Hani bisa manggil kakak kaya gitu. Siapa tahu dengan begitu kakak dibisa ngasih Hani adik, nggak ada kan yang nggak mungkin di dunia ini. " Dion menggeleng kepalanya, sebab ia tahu kakaknya itu sudah menyerah dan tidak ingin membahas tentang anak lagi.


" Amiin mel, tapi jujur kakak udah nggak berharap lagi, mungkin ini takdir kakak. "


" Terus, Hani nya ada nggak kak?" Tanya Melly, mencoba, mengalihkan pembicaraan mereka, karena Dion terus saja, memberinya kode untuk berhenti.


" Nih, lagi main ayunan sama temannya! Kamu mau ngomong sama dia. " Melly mengangguk, walaupun Dian tidak dapat Melihatnya." Hallo Mommy, Mommy masih kerja ya! Kapan Mommy pulang." Tanya Hani dari seberang sana, begitu ponsel Dian berpindah ke tangannya.


" Maaf ya sayang, Mommy janji. nanti kalau pekerjaan Mommy sudah selesai, Mommy langsung pulang! Oke."


" Benar ya mommy. "


" Iya sayang! sekarang mommy punya satu permintaan sama Hani."


" Apa itu mom."


" Hani mau nggak panggil aunty dian Bunda?"


" Mau dong mommy! Tapi aunty nggak marah kan, kalau Hani panggil aunty bunga. "


" Nggak dong sayang, aunty pasti seneng kalau Hani panggil gitu. "


" Benar an mommy? "


" Iya sayang."


" Yeah, berarti Hani punya Dua Mommy sama seperti Stella. " Ucap Hani kegirangan Dari seberang sana.


" Stella siapa sayang?"


" Stella itu teman Hani di kelas Mommy, dia juga punya dua Mommy, sama seperti Hani. Katanya ibu dan mamanya itu adik kakak mommy." Hani menceritakan temannya yang bernama Stella itu kepada Melly.


" Oh ya, bagus dong kalau gitu."


" Iya mommy! Mommy kata bunda udah dulu ya, soalnya kita mau ke rumah aunty luna."


" Ya udah hati hati ya sayang. Nanti salam ya buat aunty luna nya."


" Iya mommy, Miss you."


" Mee too." Dan panggilan itu pun berakhir, bersamaan Dengan Melly melepaskan bekapan tangannya dari mulut Dion. Sejak berbicara dengan Hani, Melly sengaja membekap mulut Dion, karena tidak ingin membuat Hani menangis jika tahu mereka bersama tanpa mengajaknya.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....


...Happy reading.. 💘💘...