
Waktu berlalu dengan begitu cepat dari step baik step Mereka Lewati Dengan baik, perdebatan dan pertengkaran kecil dalam rumah tangga adalah hal yang wajar. Bukan masalah besar untuk mereka. Setelah kejadian di mana Melly entah sengaja atau tidak. Mengerjai teman teman Dion. Ketiga lelaki itu tidak lagi menunjukkan batang hidung meraka di hadapan Melly. Bahkan proses tujuh bulan yang di lakukan untuk Melly dan sang kakak tercinta pun, mereka hanya sekedar membeli selamat dan berlalu pergi sebelum mulut Melly terbuka untuk meminta sesuatu. Reval bahkan tidak mengindahkan permintaan sang itu dari pada harus menjadi bulan-bulanan istri sahabatnya dengan alasan ngidam itu.
" Selamat ya kak! Ini adalah buat dari kesabaran kakak." Ucap Reval kalah memberikan selamat untuk kakak dari sahabatnya. Saat itu." Hanya sedikit tapi semoga bermanfaat untuk dia." Sambungnya sambil melirik kearah perut Dian. Dan menyerahkan selembar kertas dengan angka yang cukup besar.
" Mbak aku turut bahagia, kebahagiaan keluarga Xavier menjadi berkali-kali lipat dengan adanya dia." Ucap Luna sembari mengusap perut Dian yang membuncit. " Sehat sehat ya sayang, kamu harus kuat, biar bisa hadapi sepupu kamu yang jahil itu." Lanjutnya.
"Pasti dong aunty." Balas Dian. " Sudah ketemu Melly? " tanyanya.
" Sudah tapi Reval nggak mau lama, tahu sendiri gimana takutnya mereka sama Melly." Dian mengangguk sembari tertawa.
" Ya udah mbak kita balik ya, kalau Melly sudah lahiran baru kita mau nginap di sini. " Pamit Reval membuat Dian kembali tertawa, tetapi mengizinkan mereka pergi.
" Sambutan yang sama juga di berikan Jayden kepada kakak sepupunya ia bahkan tak sungkan-sungkan mencium kedua pipi dan kening kakaknya dan memberi doa yang tulus untuk kakak dan calon keponakannya itu.
Begitu acara itu selesai Melly duduk di sofa sambil meluruskan kakinya. Begitu juga dengan Dian kakak iparnya. " Aku nggak nyangka loh, ternyata kakak juga hamil." Ucap Melly. Memulai pembicaraan mereka.
" Ia kakak juga." Seketika itu pikirannya berkelana jauh.
Saat itu semua orang begitu bahagia dengan kehamilan Melly, Dian juga merasakan hal yang sama! Dia bahkan tidak di beritahu atau merasakan sedikit saja gejala kalau ada nyawa yang bersemayam dalam perut. Morning sickness atau ngidam seperti yang di rasakan Melly, hanya saja ***** makanya bertambah dan tubuh serta bagian dadanya semakin berisi.
" Sayang kamu gampang capek nggak akhir akhir ini? Tanya Mamanya, saat itu usiah kandungan Melly baru memasuki bulan ketiga.
" Iya ma! Dian juga sering ngantuk. Mau nya tidur aja dan sering banget lapar." Jelasnya kepada sang mama.
" Ya sudah, kalau begitu! Entar sore kamu temani Melly ke dokter kandungan, sekalian ikut periksa gih, kali aja itu ada pengaruhnya dengan datang bulan kamu yang nggak teratur. Takut jangan sampai jadi penyakit atau apa gitu ya." Dian mengangguk. Sebenarnya wanita paruh bayah itu sudah menduga kalau putrinya tengah hamil tetapi dia tidak ingin melukai perasaan Dian. Sebab masalah kehamilan begitu sensitif untuk Dian.
Sore Harinya Melly dan Dian ke dokter kandungan, begitu dokter mengatakan dia Hamil, dian bahkan sampai menangis menyangkal hal itu, ia bahkan meminta dokter untuk melakukan periksaan ulang walau layar monitor telah menunjukkan dengan jelas gumpalan daging yang mulai berbentuk itu tetapi Dian masih tidak percaya.
Bayangkan saja, segala cara tidak sudah ia lakukan suntik sana sini, minum vitamin yang sudah tidak terhitung jumlah sampai proses bayi tabung pun sudah dia lakukan tapi hasilnya tidak ada satu pun yang bertahan.
Tetapi di saat dia sudah ikhlas melepaskan Andara dan meninggalkan rumah itu. siapa sangka tuhan memiliki cara tersendiri dalam memberinya kepercayaan.
Di saat dia terus meminta dengan sungguh sungguh dan merengek tiada henti, kabar baik itu tidak pernah menghampiri dan lihatlah di saat dia telah ikhlas dengan garis takdirnya dengan membulatkan tekad untuk meninggalkan Andara di situlah tuhan memberinya hadiah dengan mengganti Andara dengan seseorang yang tidak akan membagi cintanya kepada Dian.
Bahkan disaat usia kandungannya telah sebesar ini, Andara tidak pernah datang! Untuk menjemputnya! Lelaki itu hanya menanyakan kabarnya melalui pesan atau menghubunginya kalau ia sempat. Alasannya! Karena madunya itu juga tengah hamil dan membutuhkan perhatian Andara.
" Kenapa kalian duduk disini?" Tanya Dion.
" Capek." Jawab keduanya.
" Mau aku gendong ke kamar." Tawar Dion.
" Nggak usah." keduanya kembali kompak menjawab. Sebelum bergerak dari tempat mereka menuju kamar masing-masing. Semenjak Hamil kamar keduanya memang sengaja di pindahkan ke lantai bawah.
" Cih, kompak banget! Udah Sama sama hamil, sama sama buncit pula." Gerutu Dion sambil mengawasi kedua wanita itu dari belakang.
Walaupun dia sedikit kerepotan dengan kehamilan Melly yang suka aneh aneh dan Dian yang doyan banget tidur, sampai kaki dan tangan kakaknya itu bengkak karena malas bergerak. Tetapi Dion bersyukur karena kebahagiaan keluarganya semakin bertambah. Mau lahirnya nanti laki-laki atau perempuan. Yang penting kakak dan istri serta anak-anak mereka sehat.
" Papa nggak nyangka kakak kamu bisa hamil juga! Apa sebaiknya kita beritahukan hal ini untuk Andara." Ucap papanya, entah sejak kapan lelaki paruh bayah itu, berada di belakangnya.
" Tidak PA! Dion tidak setuju. Hanya karena Kak Dian tidak bisa memberinya anak, terus dia mengabaikan kak dian begitu saja. Hmm katanya cinta, sayang tapi mana! Di saat wanita lain dapat memberinya keturunan dia lupa akan kebaikan kakakku! Aku brengsek PA! Tapi cintaku tidak pernah berubah sekali pun banyak wanita yang dengan suka rela membuka pahanya dan mau melahirkan anak untukku, tetapi wanita egois itu yang aku pilih karena perasaanku tulus untuknya bukan seperti lelaki itu." Emosi Dion seakan terpancing mendengar nama kakak iparnya itu." Seandainya Melly tidak dapat memberikan aku Hani dan adiknya aku tetap akan memperjuangkan dia. Banyak cara untuk memiliki anak, entah anak kandung atau anak angkat bagi Dion sama saja."
" Maaf Nak! Papa hanya ingin terbaik untuk kakak kamu."
" Terbaik untuk dia, adalah mendukung pilihan nya. Jika dia tidak ingin kembali biarkan seperti itu. Harta kekayaan keluarga kita tidak akan habis hanya untuk memberi makan kakak dan anaknya. Aku harap papa mengerti itu dan tolong berhenti bersikap baik baik saja. Karena aku tahu papa juga tidak rela kak dian di perlakukan seperti itu." Lelaki paruh bayah itu langsung menitihkan air matanya. Selama ini ia memberi nasihat dan mengatakan baik-baik saja untuk Dian, agar putrinya itu tidak merasa pilihnya salah.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...Bersambung....
...Happy reading.. 💘💘...