Secret of the Heart

Secret of the Heart
Tidak ingin kehilangan.



" Bu tolong ponselnya Di matikan." Tegur salah seorang pramugari.


" Iya maaf." Wanita itu hendak menurut dengan mematikan ponselnya. Tetapi beberapa pesan serta panggil berulang ulang menghentikannya.


Karena penasaran dengan si penelpon wanita itu langsung membuka sederet pesan yang masuk di ponselnya.


...*Melly, ini aku dokter Richard! Mel aku minta tolong, tolong ibu aku, aku mohon! Kondisi ibu aku harus segera di tangani, tetapi dokter yang biasa tangani ibu sedang keluar kota, lusa baru beliau kembali....


...Please mel, aku belum mau kehilangan ibu aku. Tolong mel, aku percaya kamu bisa bantu ibu aku. Aku sudah izin dengan pihak rumah sakit untuk kamu, kalau perlu aku juga akan kesitu buat izin sama suami kamu....


Begitu kira kira isi pesan yang Di kirim Dokter Richard untuk Melly dan masih banyak deretan pesan lainnya.


Membuat jiwa Melly seakan terpanggil, ia mengambil tas jinjing yang telah ia letakkan di kabin pesawat.


" Maaf saya tidak jadi berangkat." Ucap Melly saat seorang pramugari hendak menutup pintu pesawat.


Dokter cantik itu bahkan tidak menghiraukan tatapan tidak suka dan protes beberapa pramugari yang tidak suka dengan keputusan seenaknya Melly, tetapi kembali lagi. Mereka tidak bisa mencegah keinginan Melly dan membiarkan wanita itu kembali menapakkan kakinya di Garbarata.


Melly sedikit berlari kecil, berharap keluarganya belum pulang, sayangnya begitu ia kembali ke ruang tunggu, mereka sudah tidak ada dan mobil Dion juga sudah tidak ada di parkiran bandara.


Dering panjang kembali terdengar dari benda pipi yang ada dalam genggamannya. " Rumah sakit mana?" Tanya Melly begitu ia menjawab panggilan dari dokter Richard.


"........."


" Oke lima belas menit lagi aku sampai, tolong siapkan semuanya, aku nggak mau ada masalah." Ujar Melly lagi. Sambil melambaikan tangannya ke arah taksi yang berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"......"


" Nanti aja ucapnya." Setelah mengatakan itu Melly langsung mengakhiri panggil mereka dan masuk kedalam taksi yang ia panggil tadi.


Tepat dua puluh menit, Melly sampai di rumah sakit yang di katakan Richard. Lewat dari perkiraannya karena jalan sedikit macet tadi.


Dokter Richard sudah berdiri menunggu Melly Di luar lobby, bahkan lelaki yang pernah menaruh hati kepada dokter cantik itu, sampai membukakan pintu taksi untuk Melly.


" Terima kasih Mel."


" Nanti aja, mending kita keruang ibu kamu." Sahut Melly.


" Iya. Tapi sebelumnya kamu membutuhkan ini." Richard memberikan sebuah snelli, stetoskop dan kartu akses, di mana Melly di berikan izin untuk menangani ibunya dokter Richard, walaupun ia bukan dokter yang bertugas di rumah sakit itu.


Melly menerima pemberian, Dokter Richard sembari melangkah menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang emergency di mana ibu Richard berada. Sembari mengunakan snelli yang di berikan Richard.


" Dok, Dimana aku harus menitipkan tas ini?" Tanya Melly. Sembari menunjuk tas yang sejak tadi ia bawah. Wanita itu bahkan tidak menghiraukan koper yang berisi pakaian serta keperluannya yang telah masuk bagasi pesawat. Ia hanya membawa tas di mana terdapat benda benda berharganya.


" Sini biar aku simpan Di loker." Melly menyerahkan tasnya kepada Richard, sementara ponselnya ia matikan dan simpan dalam saku snellinya.


" Permisi Dok, ini dokter yang saya katakan tadi." Ucap Dokter Richard kepada dua orang dokter yang sudah berada lebih dulu di ruangan itu.


" Kenan."


" Stephen." Keduanya adalah Dokter bedah dan dokter anastesi.


" Melly."


Setelah itu, Melly mempelajari rekam medis ibunya Richard dan melakukan check up serta pengambilan darah lengkap, sebelum melakukan tindakan operasi seperti yang tercatat dalam rekam medis dari dokter yang sebelumnya menangani wanita paruh bayah itu. Bahkan Melly sempat berbicara melalui via telepon dengan dokter itu, mengenai kondisi ibu Richard saat ini.


Setelah melewati serangkaian pemeriksaan akhirnya proses operasi itu dilakukan dan memakan waktu sembilan jam.


Tepat jam 8 malam, barulah Parah medis itu beristirahat dan menyentuh Makanan setelah ibunya Richard di pindahkan ke ruangan pemulihan.


Sembilan jam mereka berjuang di ruang operasi untuk kesembuhan Ibunya Richard. Termasuk Melly, Dan semua itu membuahkan hasil dengan keberhasilan operasi mereka.


Begitu Melly selesai mencuci tangan dan hendak ikut duduk bersama para medis yang telah lebih dulu beristirahat dan menikmati makanan mereka. Wanita itu tiba tiba merasa pusing dan perlahan kehilangan kesadarannya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Sementara di lain tempat, Dion sudah seperti orang gila. Yang menunggu kabar Melly di bandara bersama para keluarga korban pesawat jatuh lain.


Reval dan Luna yang ikut menemani Dion hanya Bisa meminta untuk Dion sabar Dan menunggu! Walaupun keduanya juga sama khawatirnya dengan Dion.


" Sayang, Kamu janji akan pulang, kamu harus pulang! Apa pun kondisi kamu, kamu harus pulang! Aku dan Hani, Tidak ingin kehilangan kamu. Ya tuhan dimana pun istriku berada tolong lindungi dia dan kembalikan dia pada kami, kami masih sangat membutuhkannya." Ucap Dion. Sembari menitihkan air matanya, ia bahkan tidak menghiraukan tatapan orang di sekelilingnya. Sebab mereka juga tidak tahu seberapa takut dan hancurnya lelaki itu saat ini.


Dion mungkin bisa bertahan di fase melepaskan Melly untuk mencari kebahagiaannya sendiri, tetapi sampai kapan Dion tidak akan pernah siap untuk masuk kedalam fase kehilangan Melly untuk selama lamanya. Walaupun ia tahu setiap orang pasti akan kembali kepada sang penciptanya. Sekali lagi untuk saat ini dia tidak siap.


" Aku percaya Melly akan baik baik saja! Percaya sama aku, saudara perempuanku itu adalah wanita yang kuat." Ucap Luna. Sembari mengusap punggung Dion.


Sementara Reval, menemui pihak maskapai, untuk menanyakan perkembangan, proses pencarian korban pesawat jatuh. Walaupun kemungkinannya kecil korban yang selamat. mereka tetap saja berharap dan menunggu kerabat mereka masih ada yang selamat.


" Bagaimana?" Tanya Luna saat Reval menghampiri mereka.


" Kata pihak maskapai. Tidak ada korban yang selamat dan kita di minta untuk memberikan sample DNA untuk di cocok Kan dengan Jasad yang di temukan. Soalnya banyak dari jasad jasad itu yang sudah hancur dan susah di kenali." Jelas Reval sesuai yang di katakan pihak maskapai.


"Itu nggak mungkin, Melly aku pasti baik baik aja, besok aku sendiri yang akan berangkat ke sana untuk mencarinya." Teriak Dion. Dia bahkan hampir memukul Reval. Tetapi Di cegah oleh Luna.


" Kenapa kamu jadi seperti ini. Kita tahu kamu takut kehilangan Melly, kita juga begitu tetapi dengan bersikap seperti ini tidak akan bisa menyelesaikan masalah dan membuat kamu tenang." Ujar Luna. "Melly juga nggak akan suka lihat suaminya seperti ini." Sambungnya.


" Terus aku harus apa. merelakan dia gitu! Nggak akan." Bentak Dion, seraya berjalan meninggal Reval dan Luna entah kemana.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....


...Happy reading.. 💘💘...


...Mode Malak on. 🔪🔪...


...Karena ini hari senin, jangan pelit ya. Kalau pelit besok libur. Hari kamis baru update lagi. 🤣🤣🤣🤣...