
Melly.. " Dion seakan terpaku di tempat dan sulit untuk melangkah lebih dekat lagi.
Selama periode mereka berpisah, Dion selalu berharap bisa melihat wajah itu lagi dan hari ini pun tiba. Wanita yang sejak dulu hingga sekarang masih menguasai relung hatinya. Kini berada tepat di hadapannya.
Wanita itu menjadi semakin mempesona dengan rambut berwarna pirang madu, di buat ikal di bagian ujungnya dengan memakai riasan tipis, tetapi wajahnya yang tegas dan memiliki karakteristik ras campuran, sehingga dia memiliki tempramen yang acuh tetapi memiliki daya tarik bagi siapa saja yang melihatnya.
Tubuh Melly yang dulunya langsing kini semakin berisi di beberapa bagian yang semestinya terisi.
" Kamu kerja disini?" Tanya Luna, ia membuat Melly mengabaikan panggil Dion.
" Tidak." Jawab Melly sedikit gugup. Ia berharap Luna tidak bertanya lebih jauh lagi, sebab hatinya belum siap untuk menjelaskan semua apalagi harus kembali berbohong, Melly tidak ingin melakukan itu lagi. " Katanya, anak kamu sakit ya." Melly mencoba mengalihkan pembicara mereka.
" Iya! Biasa lah anak anak paling rentang sakit, apalagi cuaca lagi tidak menentu nya. Mana kemarin mereka main hujan, jadinya gitu deh."
Melly mengangguk seraya berkata. " Begitulah anak anak kalau sudah ada mau nya, pasti susah di bilangin."
" Iya. Tapi ngomong ngomong, kamu ngapain di dalam?" Sekuat apapun Melly berusaha untuk menghindar, saat ini pasti akan datang." Siapa yang sakit." Tanya Luna lagi, saat melihat sahabatnya itu tetap diam.
" Mel,, siapa yang sakit." Kebisuan Melly, membuat Luna semakin penasaran." Mel., Melly. " Luna melambaikan tangannya di depan wajah luna.
Melihat Melly yang tidak menjawab pertanyaan Luna, Dion memberanikan diri, melangkah lebih dekat lagi sehingga ia bisa melihat Siluet HANI yang tengah tertidur. Sebab pintu ruangan rawat Hani belum sepenuhnya tertutup.
" Apa yang kamu lihat?" Tanya Melly, ia dengan spontan menarik lengan Dion, ketika Melly tersadar, Dion sedang melihat Hani.
" Anak kamu." Jawab Dion. Ia menatap lekat kedua manik manta istrinya.
" Anak? Anak apa! Mel kamu punya anak." Tanya Luna, ia sedikit terkejut dengan apa yang baru saja ia Dengar. " Melly ada apa ini?" Bukannya menjawab, Melly kembali terdiam, ia menghindari tatapan mereka dengan melihat ke sembarangan arah.
Habis sudah kesabaran luna, untuk menunggu jawaban dari sahabatnya, ia dengan berani mengambil inisiatif untuk masuk kedalam ruang rawat Hani, bahkan ia tidak peduli dengan panggilan Melly yang memintanya untuk tidak masuk.
Begitu tiba di samping ranjangnya Hani, Luna terbelalak ia menutup mulutnya mengunakan kedua telapak tangannya. Luna berbalik menatap Melly kemudian berpindah kepada Dion setelah itu ia kembali melihat Hani dan mengikis jarak di antara mereka.
Salah satu tangan luna terangkat untuk mengusap wajah mungil itu. " Apa ini alasannya Mel? Alasan di balik kepergian mu selama ini?" Tebak kan yang tepat. Orang lain mungkin tidak menyadari hal itu. Tetapi luna sekali melihat ia sudah bisa tahu siapa Hani, wajahnya delapan puluh dua persen milik Dion sementara Melly hanya kebagian sisanya. Bagaimana dia tidak tahu.
" Di dia. " Melly begitu gugup plus bingung saat berada di situasi ini.
" Anak kalian kan?" Tebak Luna lagi.
" Bukan." Dion yang tadinya senang kini kembali menatap kearah Melly, Melly pun membalas tatapan nya seraya berkata. " Dia anakku, dialah alasan kenapa aku pergi dan kenapa aku kembali."
" Aku tahu, walaupun aku sedikit kecewa, kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari kita, tetapi aku percaya kamu punya alasan untuk hal itu. Siapa Namanya?" Luna terus berbicara dan bertanya, tetapi pandangannya tidak beralih sedikit pun dari wajah Hani.
" Haaniya. " Sahut Dion. Ia langsung mendapat tatapan penuh tanya dari kedua wanita itu." Aku tahu Namanya dari bang David, kemarin aku tidak sengaja bertemu mereka di Restoran langganan kita." Jelas Dion, seolah dia tahu apa yang ingin mereka tanyakan.
" Bang David mengatakan kalau dia, adalah anak angkat kamu." Ucap Dion lagi, seraya menegaskan kalimat anak angkat.
" Jangan memojokkan dan menatap aku seperti itu, jika kalian tidak mengetahui apapun! Sebaiknya kita keluar, Hani butuh istirahat." Seru Melly. Ia pun melangkah kearah pintu, membuka lebar lebar pintu itu, " Maaf, silahkan." Luna melangkah keluar ruangan Hani.
" Hubungi aku jika kamu sudah siap untuk berbicara." Ucap Luna sebelum benar benar meninggalkan ruang Hani.
Sementara Dion, ia tidak mengindahkan permintaan Melly, Dion justru menarik kursi dan duduk tepat di samping putrinya setelah mencium kening Hani tanpa permisi terlebih dulu kepada ibunya.
" Apa kamu tidak mendengar kata kata ku?" Tanya Melly, ia sudah pandai mengontrol rasa sabarnya semenjak memiliki Hani.
" Salah kah jika, sebagai seorang ayah aku menemani putri ku." Melly tertawa sumbang.
" Haah, Ayah? Percaya diri sekali kamu." Ketus Melly dengan melipat kedua tangannya didada. "Apa kamu tidak malu, mengakui anak orang lain sebagai anak kamu." Sambungnya lagi.
" Justru aku akan malu dan menyesal seumur hidup jika tidak bisa mengenali anakku." Sahut Dion. " Sebagai ibu yang baik dalam keadaan apapun, ia tidak akan pernah menyakal anak sendiri. "
" Tahu apa kamu?" Melly pikir ia sudah bisa mengontrol dirinya dengan baik, tetapi lihatlah lelaki ini masih sama, selalu membuat Melly habis kesabarannya.
" Tidak banyak, tapi satu yang pasti kalau aku tahu dia adalah putriku, hatiku sudah mengatakan hal itu sejak pertama kali melihatnya, tetapi aku diam! Bukan karena aku tidak peduli, tetapi aku tidak ingin mengecewakan kamu dengan melakukan tes DNA dan apapun itu, aku tidak ingin suatu hari nanti anakku dan kamu berpikir kalau aku pernah meragukan kalian berdua. Aku tahu dan sadar betul siapa aku, aku lelaki bajingan dan brengsek, tetapi aku punya hati dan perasaan, Melissa Hanzie. Sekeras apapun kamu berusaha menyembunyikan dia, hatiku tetap mengenalinya." Dion tersenyum mengejek." Sikapmu membuat aku bertanya apa dulu kamu benar tulus kepadaku?"
" Ya aku tidak pernah tulus mencintai kamu! Apa kamu puas! Kamu bisa mengenal dengan baik buah hati kamu tetapi kamu tidak bisa melihat ketulusan dari wanita yang kamu cintai, ciih dasar pembohong. Kamu bertanya tentang ketulusanku? Apa kamu lupa jika aku pernah menjadi wanita yang baik, aku mengerti kamu, tahu seperti apa sifat buruk kamu tanpa pernah mengeluh sedikit pun. Tetapi sayangnya kamu lupa jika aku hanyalah wanita biasa, yang bisa merasakan sakit, kecewa dan lelah dengan keadaan saat itu." Ucap Melly dengan perasaan mengebuh gebuh, ia seakan lupa dimana dia berada saat ini.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...Bersambung. ...
...Happy reading. 💘💘...