Secret of the Heart

Secret of the Heart
Persyaratan dari Melly.



Pagi ini Melly bangun dan melakukan aktivitasnya seperti biasa! semenjak Dion tahu dia Hamil, Melly tidak di izinkan untuk kerja! Awalnya sih mereka berdebat karena Melly menentang hal itu, tetapi Dion memilih mengakhiri perdebatan mereka dengan memohon agar Melly mau menurut hanya sampai anak mereka lahir.


Berbagai cara dia lakukan sampai menceritakan insiden pesawat jatuh itu dan bagaimana khawatirnya mereka saat Dia tidak bisa dihubungi. " Maaf Honey, aku tidak bermaksud batasi atau melarang kamu! Tapi ini hanya untuk sementara sampai anak kita lahir! Please, sekali saja turuti aku! Apa perlu aku bersujud di bawah kaki kamu." Pintanya.


" Hanya sampai anak kita lahir?" Dion mengangguk dan mencium kedua punggung tangan Melly.


" Iya, hanya sampai anak kita lahir." Sahutnya.


" Tapi ini nggak gratis loh By!" Serunya membuat Dion menatap serius wajah sang istri.


" Maksudnya?" Tanya Dion dengan perasaan harap harap cemas.


" Beli aku sehektar tanah dan bangunan yayasan di atas tanah itu dan usahakan harus sudah jadi setelah anak ini lahir! Kalau kamu setuju aku dengan senang Hati akan menetap di dalam rumah dan nggak akan kemana mana tanpa seizin kamu! Aku juga akan mencari pekerjaan disini setalah anak ini lahir." Ucap Melly sembari mengusap perutnya. Entah itu persyaratan atau tawaran yang jelas dua dua sama menguntungkan untuk Melly, karena wanita itu sudah sejak awal berencana untuk bekerja disini. Apalagi adik Hani nantinya tidak bisa di tinggal jauh.


" Aku setuju dengan persyaratan itu! Dan anggap saja persyaratan kamu telah terpenuhi. " Dion memeluk dan mengecup Dahi Melly. Melly tidak menyangka Dion dengan senang hati memenuhi persyaratannya.


" Kenapa kamu senyum senyum sendiri, Udah nggak waras?" Tanya Melly, Dion menggeleng kepalanya. Persyarat yang di Pinta Melly sangatlah muda untuk nya, jangankan satu yayasan sepuluh yayasan pun tidak akan membuat hartanya habis. Sementara Melly terus menghampiri Dion dan membantunya mengunakan Dasi.


" Nggak papa kok honey, aku hanya kaget aja! Tiba tiba kamu minta persyaratan seperti ini. Honey Kalau aku boleh tahu yayasan itu untuk apa?" Tanya Dion setelah Melly selesai membantunya.


" Nanti juga aku kasih tahu! sekarang kita kebawa ya, yang lain sudah menunggu kita untuk sarapan. " Melly mengapit salah satu lengan Dion dan keduanya melangkah keluar kamar.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Setelah melewati serangkaian kejadian yang menguras emosi dan kesabaran, tidak terasa kandungan Melly kini telah memasuki bulan keempat, ia pun tidak merasakan morning sickness separah bulan pertama dan kedua.


Hanya saja, Melly mulai merasakan yang namanya ngidam dan hal itu nggak kira kira dan terasa jahil banget untuk Dion. Lelaki itu sering kali protes tapi tetap menuruti permintaan Melly. Saat kalimat pamungkas Melly meluncur bebas dari bibir wanita Hamil itu. " By, emangnya kamu mau anak kita ngeces."


Seperti minggu kemarin misalnya, Melly yang tengah terlelap, terbangun di jam tiga pagi hanya karena menginginkan bakso mercon dan kalimat pamungkas itu, membuat Dion tidak bisa protes, hanya bisa menuruti. Setelah satu jam berputar putar, akhirnya mereka menemukan makanan yang Melly inginkan itupun pedagangnya sudah mau tutup.


" Kamu nggak mau pesan By." Tanya Melly saat keduanya duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu.


" Nggak Honey, kamu kan tahu aku nggak terlalu suka pedes." Jawab Dion sambil mengotak atik benda pipi di tangannya.


Sementara sang istri sudah berbinar melihat makan berkuah dengan asap mengepul itu. Melly bahkan beberapa kali harus menelan Saliva nya sendiri. Saat makan itu di sajikan di hadapannya. Sementara Dion hanya geleng-geleng kepala sambil meringis Melihat tingkah sang istri, seperti orang yang baru pertama kali melihat makanan.


Namanya saja bakso mercon, sudah pasti pedas tapi anehnya, Melly malah menambahkan tiga sendok sambal lagi kedalam makan itu dan dengan semangatnya ia mengadukan aduk kuat bakso itu agar sambalnya larut dengan kuah. Setelah itu barulah ia mencicipi satu sendok kuahnya saja. " Habiskan By." Ucap wanita hamil itu sambil mendorong mangkuk bakso kehadapan Dion.


Dion melongo, menatap wajah sang istri kemudian mangkuk bakso di depannya. " Ayo By di habiskan, jangan di lihat aja."


" Kamu nggak makan?" Lelaki tak menghiraukan permintaan sang istri.


" Sudah tadi! Sekarang giliran By yang harus menghabiskan bakso ini, kalau nggak Habis! Aku nggak mau pulang, biar aja anak kamu ngeces." Sahutnya, terlihat kekanak-kanakan sekali. Dion pun mau tidak mau menghabiskan semangkuk bakso didepannya dan besoknya ia tidak bisa pergi kerja karena mulas dan harus bulak balik toilet.


Dan Hari ini kesabarannya kembali di uji. Kali ini bukan hanya Dion bahkan Reval, Putra dan sepupu lauknatnya Jayden juga jadi korban uji kesabaran dari calon adik Hani.


" Nih aku buatin, kalian harus menghargai usah aku. Di habiskan ya." Entah sadar atau tidak, Melly menyajikan jus belimbing wulu dan mangga muda yang telah ia kupas dan di potong-potong kecil. Kepada Dion dan teman-temannya.


" Maaf bukannya apa ya! Tapi aku nggak lagi ngidam. " Ucap Reval. Lelaki itu hendak berdiri dari duduknya tapi di cegah oleh Melly.


" Aku juga." Sahut Jayden dan Putra bersamaan.


" Tapi aku pengen lihat kalian makan itu! Terus wajahnya harus tetap tersenyum nggak boleh masam. " Ucap Melly Melly.


" Satu lagi." Luna yang baru saja datang! Meletakkan satu piring lemon di atas meja yang ada di hadapan keempat laki-laki itu.


" Kamu ngerjain kita ya? " protes putra.


" Siapa yang ngerjain, orang itu keinginan Melly, harusnya Kalian sebagai sahabat harus setia kawan dong. Ini teman istri kalian lagi ngidam masa kalian tega. Biarin anaknya ngeces." Ketus luna.


" Bukan nya tega, nyonya Sanjaya yang terhormat, tapi nggak adil buat kita. Pas enaknya aja kita nggak di ajak, masa pas susah gini kita yang kebawa bawa. "


Bruk.


Bantal sofa melayang dengan sempurna, menghantam belakang kepala Jayden. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Dion." Enak aja. " Ucapnya tanpa dosa.


" Sudah jangan berantem. Kaya anak kecil aja." Melly menghentikan pertengkaran tak berfaedah mereka. Setelah itu mereka menikmati apa yang di sungguh kan Melly dan Luna. Walaupun terlihat ogah-ogahan tetapi wajah sendu Melly membuat mereka tidak dapat menolak dan hanya bisa mengeluh di dalam hati sambil menatap tajam ke arah Dion.


.... ...


.... ...


.......


.......


...Bersambung....


...Happy reading..💘💘...


...Maaf baru bisa update lagi....


...Ini aja aku udah di minta untuk buat cerita Dian sama editor. Tapi belum bisa karena masih fokus sama real-life. ...


...Buntut otak aku.😭...