Secret of the Heart

Secret of the Heart
Mereka hanya anak2



Setelah menjemput dan meminta izin kepada Melly untuk membawa Hani menginap di rumahnya malam nanti, Dian bersama Hani dan Lisa kini telah sampai di rumah Luna, seperti janjinya pagi tadi.


" Mbak dian nggak sibuk kan di butik." Tanya Luna, begitu keduanya duduk di taman belakang. Tak jauh dari tempat keduanya berada Lisa, Nayna dan Naela tengah memberi makan kelinci. Sementara Hani sedang bermain dengan tiger, tentunya setelah meminta izin dari luna. Hewan yang dulunya kecil dan mengemaskan itu, kini sudah sedikit bertambah besar, membuat Hani semakin gemas kepada hewan yang di beri nama tiger oleh tuannya.


" Santai saja Lun, kaya sama siapa kamu ini." Sahut Dian. " Kalau pun aku sibuk, aku nggak mungkin ada disini minum teh bersama kamu." Lanjutnya.


" Terus butik sama siapa." Tanya Luna lagi, sebab ia yang meminta wanita itu untuk datang. Luna kenal dengan dian hampir lima tahun lebih, karena luna adalah pelanggan tetap di butik Dian. Dan ia juga baru tahu kalau Dian adalah kakaknya Dion waktu Melly kabur ke sydney bersama Hani waktu itu.


" Jangan terlalu berlebihan gitu lun, pegawai di butik aku itu ada delapan orang dan semuanya bisa di percaya. Jadi kamu tidak perlu khawatir! Sekarang katakan sama aku, tujuan kamu memanggil aku kesini, untuk apa? tidak mungkin kan kamu manggil aku kesini hanya untuk ngeteh santai saja. " Luna terkekeh sambil menggeleng kepalanya. Di angkatnya cangkir berisi teh itu dengan anggun, kemudian menyesapnya.


" Ya kamu benar sekali." Ujar luna setelah meletakkan cangkir teh, di tempat semula. " Tujuan ku memanggil kamu kesini, untuk membuatkan mereka gaun yang sama." Tunjuk nya kepada ke empat gadis kecil yang tengah bermain dengan hewan piaraan Naela dan Neyna.


" Untuk apa? " Tanya Dian.


" Pesta pernikahan Melly dan Dion. Kan tinggal beberapa minggu lagi! Mbak lupa ya. " Ucap Luna Sambil menatap ke arah Narendra yang baru saja datang.


Putranya itu walaupun baru genap delapan tahun tapi dia sudah di sibukkan dengan les sana sini. Bukan karena Reval atau luna yang mendesaknya. Tetapi semua itu murni keinginan nya sendiri, beda dengan Naela dan Nayna. Keduanya tidak ingin seperti kakaknya yang kerjanya belajar, belajar dan belajar. Kalau pun ada waktu senggang, Dia akan menghabiskan untuk bermain dengan tiger dan ibunya.


" Selamat Siang ma, aunty." Sapa Narendra, seraya mencium punggung tangan Dian dan Luna secara bergantian dan tambah kecupan di pipi Luna.


" Siang, Azzam makin ganteng aja! Kalau udah besar jagain anak aunty ya." Goda Dian sambil mengacak acak rambut Narendra.


". Harus dong mbak, kalau perlu kita jodohin mereka nanti." Sahut Luna.


" MA,." Serunya sambil merapikan rambutnya, yang di acak acak oleh Dian.


" Kenapa sih bang? Bisa nggak Mukanya abang, nggak usah di buat kesal gitu! Kaya ngerti aja." Sahut luna. Saat melihat tatapan tak suka dari putranya. " Gimana sekolah dan les abang hari ini. "


" Menyenangkan! Ma umur abang baru delapan tahun. Mama nggak boleh ngomong gitu. "


" Emangnya mama ngomong apa bang?"


" Jodoh jodoh itu."


" Kan mama becanda bang, kalau pun Benar an, belum tentu Hani mau sama abang. "


" MA. CUKUP. " Ucapnya penuh ketegasan. Membuat Dian dan Luna semakin gemas kepadanya." Aku mau lihat tiger dulu."


" Azzam, Ganti baju Dulu. " Teriak Luna, tetapi Narendra tidak menghiraukan ucapan mamanya, ia terus berlalu begitu saja.


" Bukannya, Gaun untuk keluarga udah di siapkan, kenapa aku harus menyiapkan lagi?" Tanya Dian, melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda karena kehadiran Narendra.


" Aku ingin gaun mereka terlihat berbeda dengan model gaun yang berbeda pula tapi pas untuk usia mereka. " Jelas Luna.


" Apa nggak terlalu berlebihan! Terus gaun yang sudah di pesan untuk mereka mau di kemana kan."


" Simpan ajalah buat tambah tambah koleksi." Dian menggeleng kepalanya, mendengar jawaban Luna.


" Ya sudah Nanti aku coba buat. "Putus Dian.


" Gitu dong. " Keduanya pun meneruskan obrolan mereka.


...\=\=\=\=\=\=...


" Ngapain kamu di rumah aku." Bentak Narendra, Sedikit mendorong tubuh Hani. " Siapa yang nyuruh kamu megang Tiger Aku." Sambungnya lagi, masih dengan suara membentak serta tatapan mengintimidasi.


" Aunty luna, yang ngizinin Hani! Week." Jawab Hani sambil mengeluarkan lidahnya. Ia bahkan tidak takut sedikit pun dengan tatapan serta bentak kan Narendra.


" Aku nggak mau tahu, lepasin tiger sekarang." Pintanya sambil mencoba menarik hewan kesayangannya itu dari dekapan Hani.


" Hani Nggak mau! Orang Hani di kasih izin sama aunty luna, buat main sama Dia." Tolak Hani. Tangan kirinya terlepas untuk mendorong, pundak Narendra sementara tangan kanannya masih erat mendekap kucing bertubuh bongsor itu.


" Kamu." Teriak Narendra, ia pun kembali menarik rambut Hani seperti waktu itu.


" Bang jangan kasian Hani nya." Naela mencoba membantu Hani, begitu pun dengan Lisa dan Nayna.


" Bundaaa, Rambut Hani di tarik." Teriak Hani dalam satu Tarik kan nafas, dengan suara yang begitu nyaringnya. Membuat Dian yang sedang duduk dengan luna langsung terperanjat dari duduknya dan berlari kearah datangnya suara Hani di ikuti luna di belakangnya.


" Azzam, lepas ya! Kasian kepala Hani sakit." Ucap Dian. Kedua matanya mulai berkaca kaca, melihat Hani di perlakukan seperti itu.


Dian memeluk tubuh Hani dan melepaskan jari jemari Narendra yang masih menyakut pada rambut lebat Hani dengan tangan bergetar bahkan tanpa ia sadari air matanya, sudah menetes di kedua sudut matanya.


" Abang apa yang kamu lakukan, kenapa kamu kasar banget sama Hani." Bentak Luna, ia sudah siap untuk memarahi dan menghukum putranya itu tetapi Dian mencegahnya.


" Sudah lah lun, mereka hanya anak anak, kamu tidak perlu memarahinya." Ucap Dian. Ia mengusap kedua pipinya, kemudian mengsejajarkan tingginya dengan Hani." Kepala Hani sakit nggak." Tanya Dian seraya mengusap kepala Hani dengan lembut.


Hani pun mengangguk sambil menunjuk kepalanya yang sakit. Gadis kecil itu tidak menangis sedikit pun, hanya Dian saja yang sedikit berlebihan. " Mau pulang." Hani mengangguk lagi." Luna, seperti kita harus pulang, maaf aku nggak bisa lama. Ayo Lisa." Dian mengendong Hani dan menggenggam tangan Lisa. Melangkah meninggalkan luna dan Anak anaknya. Tanpa mereka sadari, Hani mengeluarkan lidahnya untuk mengejek Narendra.


" Bang kenapa sikap abang begitu sama Hani. " Tanya Luna kepada putranya. Sayangnya, belum juga Narendra menjawab, Kedua adiknya malah memperburuk suasana dengan mengatakan, bukan kali ini aja dulu waktu Hani datang kesini abang juga menarik rambutnya seperti tadi." Besok abang harus minta maaf sama Hani."


" Aku nggak mau ma."


" Kenapa."


" karena aku nggak suka sama dia ma."


" Alasannya apa sampai abang nggak suka sama Hani, anaknya manis dan gemesin gitu."


" Emangnya aku harus punya alasan untuk benci sama orang, nggak kan ma! Dan aku nggak akan minta maaf sama dia."


" OH Ya sudah, abang mama hukum, cuci semua mobil papa yang ada di garasi dan ingat nggak boleh lecet dan nggak boleh minta bantu sama siapa pun." Narendra langsung membeo di tempatnya. Koleksi mobil papanya begitu banyak dan dia harus mencuci semuanya. Oh tidak Narendra tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan luna untuk minta maaf sama Hani.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....


...Happy reading.. 💘💘...