Secret of the Heart

Secret of the Heart
Wanita wanita hebat



Malam belum juga larut tetapi suara decapan bibir basah beradu dengan suara des*han sepasang anak manusia yang tengah bergulat di atas ranjang. Membuat suasana di dalam kamar itu semakin terasa panas, bahkan dinginnya pendingin ruang tidak dapat menghentikan keringat yang bercucuran dari tubuh mereka.


Tubuh sang pria menghentak dengan cepat, bahkan cengkram kuat pada bahunya tidak menurunkan kecepatan hentakkan nya.


Sementara di bawahnya seorang wanita. Mengigit bibirnya menahan setiap hasr*t yang menggebu saat kenikm*tan itu mengalir pada alam bawahnya. Mengikuti aliran darah yang bergejolak seakan ingin meledak saat itu juga.


" Aahhhh...." Suara des*han panjang itu akhirnya terdengar dari bibir keduanya. Saat gelombang kenikm*tan dari alam bawah menghampiri keduanya.


Melly dan Dion masih berdiam pada posisinya masing masing. Lelaki itu bahkan tidak mendapatkan protes dari sang istri walaupun jelas terlihat tubuhnya saat sedang di tindih. Akibat gelombang ken*kmatan yang baru saja mereka rasakan, karena perlu beberapa saat untuk mengembalikan deburan nafas dan pikir mereka kembali normal lagi.


Dion berbaring di samping Melly, begitu ia melepas, penyatuan mereka dari lembah milik Melly. Dan membawa wanita itu masuk dalam dekapan hangatnya.


" Bagaimana pertemuan mu dengan wanita itu." Tanya Dion, Lelaki itu mulai membuka pembicaraan di antara mereka seraya mengusap lembut punggung polos sang istri.


" Aku tidak menyangka wanita itu bisa sejahat itu, dia bahkan tidak peduli dengan lisa putrinya. Dan Jangan kan menyentuh anak itu, menyebut kata kata manis untuknya saja tidak. Apa begitu cara seorang ibu Mencintai anaknya." Tanya Melly, walaupun wanita itu cerdas dan berpendidikan tinggi. Ia tidak pernah berpikir seorang ibu akan memperlakukan anaknya seperti itu, sebab ia selalu melihat kasih sayang dari seorang ibu untuk dirinya. Ibunya yang telah meninggal, begitu mencintainya. Mami yang hanya ibu Sambungnya juga begitu dan Bunda Vio, mamanya Dion, semuanya bisa mencintai anak dan menantu serta cucu cucunya tanpa membedakan. Ini kali pertamanya dia mendapati hati seorang ibu yang begitu dingin untuk anaknya.


" Sayang, Di luar sana, masih banyak yang seperti itu. Selama ini kamu hanya fokus dengan cita cita dan orang sekitarmu sehingga kamu tidak dapat melihat kekejaman para orang tua di luar sana, hanya karena anak mereka melakukan kesalahan kecil untuk mencari perhatian mereka. " Melly mengerutkan dahinya." Terkadang orang tidak berpikir saat ia di kendalikan oleh perasaan marah dan kecewa sehingga ia lupa ada sosok yang membutuhkan dirinya dan mencintainya. Bahkan mereka tidak tanggung tanggung menyingkirkan mereka yang di anggapnya sebagai beban atau sebuah halangan yang menghalangi langkah mereka."


" Kenapa mereka seperti itu, apa mereka tidak berpikir, jika banyak wanita di luar sana yang setiap waktu selalu menadahkan tangannya sambil menangis berharap di berikan kesempatan dan kepercayaan untuk merawat dan menjaga titipan tuhan. " Ucap Melly dengan menggebu gebu.


" Akkhh. " saking marahnya, wanita itu tidak sadar memukul dada Dion dengan begitu kerasnya." Kamu marah kepada orang lain tapi kenapa aku yang di hukum sayang. " Ucap Dion sembari mengusap dadanya.


" Maaf by. Aku tak bermaksud seperti itu."


" Sudahlah, jangan di bahas lagi, aku tidak ingin mati muda di tangan istriku." Ucap Dion. " Sebaiknya kita tidur dan jangan memikirkan hal ini lagi, karena setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda dan kamu tidak bisa menyamakan mereka dengan kamu sayang." Dion mengecup Dahi Melly dan mengerat pelukannya pada Melly. Dan mulai memejamkan matanya, berbeda dengan Melly yang masih terjaga. Ia memikirkan nasib anak anak seperti Lisa.


Saat dirasa nafas Dion mulai teratur, Melly dengan perlahan melepas tangan Dion yang melingkar di tubuhnya. Setelah itu ia mengenakan piyama tidurnya yang tadi di buka oleh Dion dan di hempaskan begitu saja.


Melly keluar dari kamarnya, tujuannya saat ini adalah kamar sang kakak ipar, entah kenapa sudah seminggu ini wanita itu tidak pulang kerumah suaminya. Melly tidak mau memikirkan hal itu sebab itu urusan pribadi kakaknya.


Tok tok tok..


" Apa aku menganggu tidak kakak?" Tanya Melly begitu Dian membukakan pintu untuknya.


" Tidak, kakak belum tidur! Ayo masuk." Aja Dian ia melangkah lebih dulu ke dalam kamarnya di ikuti Melly di belakangnya. " Ada apa? Kenapa belum tidur." Tanya Dian begitu keduanya duduk di sofa yang ada dalam kamar Dian.


" Apa kakak bisa mencarikan aku info rumah sakit yang butuhkan dokter sepertiku." Tanya melly.


" Katakan seperti itu tapi aku ingin gajinya sama dengan yang aku terima di sydney. " Sahut Melly. Membuat mata Dian membulat sempurna.


" Kamu ini ingin bekerja atau merampok rumah sakit? Jangan bilang adikku yang bodoh itu tidak memberikan kamu uang." Melly menggeleng." Terus untuk apa kamu ingin bekerja dengan gaji setinggi itu kalau kamu tidak butuh uang. Bukannya dulu kamu ingin menjadi dokter untuk menolong orang, kenapa sekarang berubah pikiran. "


" Aku ingin membuka sebuah yayasan untuk menampung anak anak seperti Lisa dan memastikan mereka mendapatkan pendidikan yang layak dengan gajiku."


" Seperti Lisa, memangnya Lisa kenapa."


" Maksudnya, anak anak yang di terlantar orang tuanya di luar sana atau mereka yang kehilangan orang tuanya dan membutuhkan kasih sayang serta bantuan kita." Jelas Melly, Dian pun paham dengan maksud adik iparnya.


" Kakak akan membantumu untuk mencari pekerjaan disini dan kakak juga akan ikut serta dalam pembangunan yayasan dengan menyumbangkan gaji serta kasih sayang kakak untuk mereka yang membutuhkan."


" Terima kasih ya kak, aku harus istirahat sekarang karena besok aku akan kembali ke sydney, titip Hani ya. "


" Iya, tanpa kamu minta pun kakak akan menjaganya. Sana sana tidur kakak juga mau tidur. " Ucap nya dengan nada mengusir. Melly hanya geleng geleng kepala dengan sikap kakak iparnya.


Setelah pembicaraan mereka malam itu, Paginya Melly kembali ke Sydney. Dan Dian pun meminta bantuan luna untuk mencari informasi pekerjaan untuk Melly juga rencana pembangunan yayasan yang di inginkan Melly.


Mendengar hal itu, Luna mengatakan keikut sertanya. Ia juga mengajak Nurul dan Dina, awalnya kedua wanita itu ragu untuk ikut, karena tidak ingin menghambur hamburkan uang suami. Tapi kata kata dari bunda Vio membuat kedua wanita itu berusaha pikiran hitung menit.


" Kalian bisa mengunakan uang hasil kerja kalian untuk beramal dan membantu sesama. Dan biarkan kartu kredit berjalan kalian bekerja untuk memenuhi kebutuhan kalian dan anak anak Kalian karena itu sudah tugas dan tanggung jawab mereka." Sungguh pencucian otak yang luar biasa.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...Bersambung. ...


...Happy reading.. 💘💘...


...Besok hari minggu. Ingat libur ya. 🤣🤣...