Secret of the Heart

Secret of the Heart
Wanita pengganggu



Suara Dering panjang dari atas Nakas, mengusik tidur kedua orang yang tengah bergelut di balik selimut dengan nyamannya.


Melly yang terusik, mulai mengulurkan tangannya meraih benda pipi yang berada di atas Nakas tanpa membuka kedua matanya.


" Hallo." Ucap Melly dengan suara serak kas bangun tidur. Dalam keadaan mata yang masih enggan terbuka Melly menerima panggilan itu, Bersyukur ia menekan icon berwarna hijau bukan merah.


" Jangan bilang kamu masih tidur." Suara nyaring dari seberang sana membuat Melly membuka mata dan sedikit menjauhkan benda pipi itu dari telinganya.


Tanpa melihat, Melly dapat menebak suara siapa yang telah mengusik tidurnya.


" Luna, ada apa?" Alih alih menjawab pertanyaan luna, Melly justru balik bertanya.


" Jawab saja, apa aku menganggu tidur mu." Tanya balik luna. Keduanya saling bertanya tanpa ada yang menjawab, sungguh orang orang yang aneh bukan.


" Tidak."


" Syukurlah, aku hanya ingin bertanya! Kapan kamu akan berkunjung ke rumahku, sudah dua minggu setelah kita berpisah di rumah sakit, kamu sekali pun belum pernah mengunjungi aku, sekarang aku berada di depan apartemen bersama si kembar dan nayna. Cepat buka pintunya. " Jelas luna, memberi tahu kedatangannya." Kamu tahu, aku hampir setengah jam berada disini dan anak anak mulai bosan. "


" Maaf lun, kenapa tidak memberitahu sebelumnya. " Ucap Melly dengan raut sedikit menyesal. Walaupun luna tidak dapat melihatnya.


" Kenapa, apa kamu takut aku akan menganggu waktumu. "


" Tidak bukan seperti itu. Hanya saja aku sedang berada di luar kota, tapi sebentar lagi aku akan sampai, bisa kah kalian menunggu ku?" Tanya Melly.


" Baiklah, karena aku dan anak anak merindukan kamu dengan Hani, maka kita akan menunggumu, cepat lah sedikit. Tapi sebelum itu berikan tahu dulu cara membuka pintu ini, sebelum aku meminta suamiku meratakan tempat ini. "


" Cih, sekarang kamu sombong sekali lun, dulu aja main kabur kabur."


" Lupakan, masa lalu biarlah berlalu." Luna langsung mengakhiri panggil itu secara sepihak. Membuat Melly tertawa.


Setelah meredakan tawanya! Melly langsung mengirim pesan kepada luna, memberi tahu kunci apartemen.


" Siapa yang telpon, Honey? " Tanya Dion. Lelaki itu kini tengah bersandar pada kepala ranjang, sesekali ia memijit pangkal hidungnya.


" Lun, by." Jawab Melly. " Kita pulang sekarang ya by, Luna sama anak anaknya lagi nungguin kita di apartemen." Sambung Melly.


" Emang jam berapa sekarang. Kenapa pagi pagi begini Reval sudah membiarkan anak dan istrinya keluyuran! Dasar wanita pengganggu." Tanya Dion sekaligus mengeluh akan sikap Reval di dalam hati.


" Astaga by, hampir jam 10." Jawab Melly setelah melihat jam yang tertera di layar ponselnya." Kenapa aku bisa kesiangan gini sih. " Keluh Melly sambil bergegas turun dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Melly hanya menyikat gigi, cuci muka dan buang air. Setelah itu ia segera keluar dari kamar mandi.


" Ayo by, siap siap kita balik sekarang. " Desak Melly.


" Santai saja honey, biarkan dia menunggu! Siapa suruh bertamu Tanpa memberi kabar terlebih dulu."


" Nggak bisa gitu dong, luna itu sahabat aku, apalagi di sana ada Naela, Narendra dan Naina! Pasti mereka akan bosan! Pokoknya dalam lima menit kamu tidak siap! Aku balik sendiri. " Ucap Melly tidak main main.


" Mel, serius lima manit! Aku mandi saja tidak secepat itu. "


" Terserah. " Ucap Melly sambil menyisir rambutnya. Sementara di belakang sana Dion langsung bergegas ke kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian mereka telah bersiap untuk meninggalkan hotel. Tetapi Dion terus melayangkan protes kepada Melly.


Bagai mana tidak, Melly hanya mengunakan kemeja Dion dan celana hot pants. Di tambah Ia tidak mengunakan dalam bagian atas. Hanya rambut panjangnya yang ia urai untuk menutupi bagian dadanya.


" Jangan berlebihan seperti itu. Kamu hanya akan membuang buang waktu kita." Melly mendorong tubuh Dion agar menyingkir dari hadapannya, ia mengambil tas serta paper bag berisi pakai Dan melangkah terlebih dulu, meninggalkan Dion, yang mau tak mau harus mengikuti langkah wanita keras kepala itu.


Ketika berada di dalam lift Dion sedikit bersyukur karena ruangan berbentuk kotak itu hanya ada mereka berdua dan lobby pun tidak banyak pengunjung. Sehingga Dion tidak perlu khawatir sebagian tubuh Melly akan menjadi tontonan gratis.


Dari dulu sampai sekarang, Dion merasa Melly hanya miliknya seorang, tentu saja dia tidak akan membagikan keindahan itu dengan orang lain walaupun hanya sekadar melihat.


...\=\=\=\=\=\=...


Setelah menempuh perjalanan panjang dan sedikit melelahkan akhirnya keduanya sampai di apartemen.


" Kamu balik aja! Sampai kan maaf ku untuk mama, papa dan kak Dian." Ucap Melly penuh penyesalan. Ia sebenarnya ingin ikut berfoto bersama mereka tetapi Melly cukup sadar dan tahu diri. Ia siapa.


" Mel kamu yakin." Tanya Dion. " Bagaimana kalau Hani merengek karena kamu tidak ikut. "


" Kamu tidak perlu khawatir, karena Aku akan membujuknya! Sebaiknya kamu pulang. Mama dan yang lain pasti sudah menunggu kamu." Tanpa menunggu Sahut an dari Dion, Melly sudah lebih dulu berbalik meninggalkan lelaki itu.


Sementara di belakang sana! Dion hanya menatap punggung Melly yang perlahan menjauh dari pandangannya.


Entah hanya ini hanyalah ketakutan atau kecemasan biasa, tetapi sikap Melly! Membuat Dion merasa jika wanita itu semakin menjauh darinya. Ada rindu yang tidak terobati walaupun jelas Melly kini berada di hadapannya.


" Andai waktu bisa di putar kembali, aku pasti akan berusaha untuk memperbaiki semuanya, bukan melepaskan mu." Gumam Dion.


Yang Namanya penyesalan pasti datangnya terlambat, hanya waktu yang bisa menentukan cepat atau lambatnya sebuah penyesalan.


Setelah punggung Melly menghilang dari pandangannya, Dion kembali melajukan mobilnya menuju kediaman orang tuanya.


Tidak butuh waktu lama. Akhirnya Dion sampai di kediaman orang tuanya. Dion keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk kedalam rumah itu. Ia mencari keberadaan orang tua dan putrinya.


" Bi, mama sama yang lain mana." Tanya Dion kepada salah seorang pelayan yang lewat di hadapannya.


" Di taman samping tuan, mereka sedang menunggu tuan." Jawab pelayanan itu. Dion mengangguk, setelah mengusap terima kasih. Dion langsung melangkah ke tempat yang di bilang pelayan itu.


". Daddy." Teriak Hani saat melihat kedatangan Dion. Gadis kecil itu langsung Berlari kearah Dion sambil membuka lembar kedua tangannya.


Dion yang mengerti keinginan sang anak! Langsung meraih Hani dan menggendongnya. " Mommy mana?" Tanya Hani sambil melihat ke belakang Dion. Namun yang di cari tidak ada di sana.


" Mommy sedang tidak enak badan sayang, jadi nggak bisa kesini." Ucap Dion. Tentu saja lelaki itu berbohong. Tidak mungkinkan kalau dia mengatakan Melly tidak ingin datang.


" Ya, padahal Hani pengen foto bertiga sama Daddy dan Mommy." Wajah Gadis itu terlihat murung.


Dian yang melihat itu, langsung menghampiri sang keponakan. " Kenapa." Tanya Dian. Sebuah kata seakan mewakili semua pertanyaan di benaknya saat ini. Dan Dion hanya menatap sang kakak di serta gelengan kepala." Sayang, Hari ini Hani foto sendiri dulu ya, sama papa, tante, kakek dan Nenek! Nanti kalau Mommy sudah sembuh. Hani bisa ajak Mommy lagi. Kalau Hani tetap maksa terus mommy nya kenapa napa gimana?" Sambung Dion, ia berharap gadis kecil itu mengerti. Dan sesuai harapan, sebuah anggukan kepala hani dan senyum di wajahnya dapat menggambar kan kalau gadis kecil itu mengerti keadaan ibunya. Setelah itu sesi foto pun berjalan walaupun tanpa kehadiran Melly.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...Bersambung. ...


...Happy reading. 💘💘...