
Selesai sarapan bersama, Reval dan Dion pamit pergi ke kantor. Mereka berdua mengunakan mobil Reval, berhubung rute yang mereka ambil melewati kantor Dion terlebih dahulu.
" Aku turun disini." Ucap Dion, membuat Reval spontan menginjak rem mobil nya. " Terima kasih." Sambungnya, setelah menutup pintu mobil dari luar dan melesat begitu saja.
" Mau apa dia disini." Tanya Reval pada diri sendiri sambil menatap gedung berantai yang baru saja Dion masukin.
Sementara di rumah sakit, Luna kembali menghampiri Melly dan duduk di sofa yang sama. Sesekali ia melihat kearah ranjang putrinya juga Hani, Kedua gadis kecil itu tengah asyik dengan dunia mereka masing-masing, mungkin karena baru bertemu! Jadinya mereka masih malu malu meong untuk sekedar bercerita.
" Aku ingin berbicara banyak dengan kamu, tapi terpaksa aku tahan karena dua makhluk pengganggu itu." Yang di maksud pengganggu adalah Dion dan Reval. " Apa kamu akan kembali bersama Dion." Tanya Luna, Sedikit berbisik.
" Apa kamu sedang mendukungku untuk menjadi perebut suami orang. " Alih alih menjawab, Melly justru balik bertanya.
" Apa nya yang merebut! Anggap saja Dion itu sedang kamu titipkan kepada wanita itu dan sudah saatnya dia mengembalikan apa yang menjadi milik kamu. Lagian istri Dion yang sekarang tidak secantik kamu. " Melly geleng geleng kepala mendengar apa yang di katakan Luna barusan.
" Enteng sekali kata katamu. "
" Salahkah? "
" Tidak, Hanya saja! Kamu berbicara seperti seorang wanita yang baru jatuh cinta. Kamu tahu, setelah jatuh cinta dengan seseorang, orang itu akan berpikir picik dan terlalu khawatir untuk sesuatu yang tidak perlu iya khawatir kan. Tapi sayangnya aku tidak berada di fase itu saudariku." Jelas Melly panjang kali lebar.
" Terserah padamu! Tapi kamu juga harus memikirkan HANI, ia juga butuh sosok seorang ayah. " Luna tetap pada pemikirannya.
" Ya, aku tahu, tapi tidak dengan menghancurkan kebahagiaan orang lain bukan. " Sahut Melly, ia pun tetap pada pendiriannya.
" iihhsss Kamu berbicara seakan kamu pernah bertemu dengan wanita itu dan melihat keharmonisan mereka berdua. " Desis luna.
" Bagaimana jika, aku mengatakan iya, aku pernah bertemu dengan mereka. " Tantangan Melly.
" Dan aku tidak akan mempercayai hal itu, aku saja baru ketemu wanita itu tiga kali Padahal kita masih Berada di negara sekaligus kota yang sama. Apa kabar kamu yang menghilang lima tahun. " Melly menunjukkan senyuman termanisnya.
" Sayangnya kamu harus percaya. Karena itu kenyataannya luna sayang, Wanita itu bernama Ria, dan dari yang aku lihat Umurnya mungkin satu atau dua tahun di bawah aku. " Luna tidak bisa menutupi keterkejutannya. Sementara Melly bersikap biasa saja.
Melly meninggalkan luna dan menghampiri Hani karena gadis kecil itu memanggilnya." Ada apa sayang. " Tanya Melly sembari mengusap kepala Hani dengan begitu lembutnya.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Dion bergerak cepat, ia meminta asistennya untuk mendaftar gugatan perceraian ke pengadilan setelah menyiapkan semua berkas perkara dan menyerahkan kepada orang kepercayaannya itu.
Jika sebelumnya ia selalu meminta izin kepada mamanya dan berbicara dengan Ria mengenai rencananya ini. Maka kali ini Dion tidak melakukan hal itu, sebab dia tahu kedua wanita itu pasti akan berulah lagi seperti sebelum sebelumnya.
Dion sudah cukup berbaik hati selama ini, tetapi kali ini ia tidak akan mau di bodoh lagi, Sedikit saja di bersantai atau acuh. Besar kemungkinannya ia akan kehilangan Melly dan Hani. Jadi, Dion tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Tok tok tok...
Dion mengangkat kepala, menatap pintu ruangannya yang baru saja di ketuk dari luar. " Masuk." Pintanya.
" Hanya ini." Tanya Dion, langsung di angguki pria itu. " Baiklah, aku akan mengurusnya. Kamu bisa kembali bekerja sekarang. " Sambung Dion setelah beberapa saat berpikir.
Saat asistennya hendak melangkah keluar ruangan Dion, sesuatu terlintas di benak Dion." Tunggu." Pria itu berhenti dan berbalik menatap Dion.
" Ada lagi pak. " Tanya pria itu, tanpa mengurangi sopan santunnya.
" Ya, lakukan tes DNA untuk saya dan Lisa! Dan saya ingin hasilnya secepat mungkin." Titah Dion, ia tahu betul, Lisa bukan putrinya! Tetapi hanya ini satu satunya cara, jika Ria menolak untuk menandatangani berkas dari pengadilan itu. " Saya akan pulang sekarang dan tidak akan kembali, kalau ada meeting, kamu bisa mengantikan saya, saya percaya sepuhnya sama kamu." Dion menepuk pundak pria itu.
" Saya akan melakukan yang terbaik." Sahut pria itu sedikit menunduk kepalanya.
" Itu yang saya harapkan dan akhir bulan kamu akan mendapatkan bonus, untuk kerja kerasmu. "
" Terima kasih pak. " Ucapnya sambil menatap punggung Dion yang perlahan menjauh.
Setelah pulang dari kantor, Dion segera pulang ke rumah orang tuanya. Ia tidak sabar untuk mendapatkan tanda tangan Ria.
Sampainya di rumah, Dion di sambut pertanyaan tanpa jeda dari mamanya, membuat dentingan keras di kepalanya memekak rongga kepalanya. " MA, berhenti memperlakukan Dion seperti anak kecil." Ucap Dion dengan suara yang sedikit meninggi. Kalau bukan karena berkas yang ada di tangannya, Dion pasti sudah berada di rumah sakit bersama Melly dan Hani. Ketimbang ia harus berada disini dan mendengar tuntutan mamanya." Ada yang harus aku bicarakan sama kamu, ikut aku." Pintahnya kepada Ria, tanpa menunggu persetujuan dari Ria, Dion sudah melangkah terlebih dahulu menuju ruang kerjanya Dan ria pun mau tak mau harus mengikuti langkah Dion.
" Tanda tangan." Dion melempar berkas yang ia bawah ke hadapan Ria, begitu mereka tiba di ruang kerjanya.
" Aku tidak mau, aku mohon jangan lakukan ini Dion, aku tidak akan menuntut apapun dari kamu, aku janji! tapi jangan cerai kan aku." Kedua tangan Ria bergetar saat menggenggam. Berkas itu matanya merah. Ia terlihat begitu frustasi saat ini.
" Maaf aku tidak bisa, aku tidak ingin kehilangan wanita yang aku cintai untuk kedua kalinya. " Sahut Dion.
" Nggak papa, jika kamu ingin menikah lagi, aku tidak akan mencegah kamu, aku siap kamu dua kan asal jangan cerai kan aku." Ria, berlutut dan memohon belas kasih dari Dion.
" Kamu pikir wanitaku mau di duakan! Tidak kamu camkan itu! Jangan menganggap semua wanita sama seperti kamu dan kalau pun dia mau di duakan! Sampai kapan pun aku tidak akan melakukannya. Jadi jangan buang buang tenaga kamu. Tanda tangan surat itu besok asisten aku akan datang mengambilnya. Dion meninggalkan Ria tanpa mau repot repot membantunya berdiri.
" Aku tidak akan pernah menandatanganinya Dion." Teriak Ria.
Dion menghentikan langkahnya. " Itu pilihan kamu. Tepatlah duduk manis sampai kamu mendapat akta cerai kita." Dion tersenyum penuh arti sembari meneruskan langkahnya.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading. 💘💘...