
Dengan penuh percaya diri Ria melangkah masuk kedalam kamar Dion, meletakkan nampan di atas Nakas dan memanggil manggil Dion. " Mas, Mas Dion kamu Dimana." Langkah kaki Ria berhenti ketika ia mendengar percikkan air di Kamar mandi. " Mas, kamu Di dalam." Teriak Ria lagi sambil mengetuk pintu kamar mandi itu.
Sementara di dalam sana, Dion berusaha menyegarkan pikirannya saat ini, sebodoh apapun dia, dia tahu gejala apa yang terjadi dengan dirinya.
Dion berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan mengampuni, siapapun dia, yang telah sengaja melakukan hal menjijikkan ini.
Dion Ingin sekali menyalurkan kemarahan tetapi di situasi seperti ia harus menahannya agar tidak kehilangan akal sehatnya yang mungkin saja bisa membuat ia menyesal di Sisa hidupnya.
Dion menarik pintu kamar mandi dan membantingnya dengan begitu keras, membuat Ria yang berada di depan pintu kamar mandi terkejut ia hampir saja melompat dari tempatnya.
Dion melangkah keluar dari kamar mandi dengan basah kuyup, air menetes dari rambut dan bajunya. Wajah Dion memerah kedua matanya memancarkan cahaya gelap seakan ia ingin melenyapkan seseorang saat itu juga.
" Ada, ada apa? Kamu kenapa mas." Tanya Ria, mulai di selimuti perasaan gugup dan takut secara bersamaan. Wajah penuh percaya diri beberapa saat yang lalu, lenyap entah ke mana.
" Kamu begitu tidak sabar sampai datang kemari. Ternyata selama ini aku telah meremehkan kamu. " Dion mendorong tubuh ria ke dinding dan mencekik wanita itu itu. Ia bahkan tidak peduli dengan Ria yang terus memukuli lengannya, berharap Dion melepaskan nya.
" Maa,_as saa_k itt. " Ucapnya dengan wajah yang mulai memerah dan Air matanya menetas di wajahnya.
Dion menghempaskan tubuh Ria ke lantai. Seketika itu ria langsung terbatuk batuk dan menghirup oksigen sebanyak banyaknya. Ria tidak tahu jika Dion akan menyadari, dialah orang yang menyebabkan Dion seperti ini.
Dion melangkah kembali ke kamar mandi untuk membasahi tubuhnya lagi. Sementara Ria, wanita itu tidak pernah mengira kalau reaksi DION akan semenggerikan ini, Ria begitu ketakutan sampai tubuhnya bergetar.
Buk.
Pintu kamar mandi terbuka, Dion dengan tubuh yang basah dari ujung kepala sampai ujung kaki, memelototi ria dengan mata Merah dan rahang yang mengeras menahan amarahnya. " Dasar Wanita Sialan, kamu menjijikan." Maki Dion.
" Maaf Mas." Ucap Ria. " Izinkan aku membantu mas, aku janji nggak akan menuntut apa pun." Sambungnya, entah keberanian dari mana sampai dia sepercaya diri itu.
" Diam kau, wanita murahan! Lebih baik aku mati dari pada aku menyentuh wanita seperti kamu." Dion kembali mendorong tubuh Ria dengan begitu keras.
Setalah mengatai Ria, ia mengambil kunci mobil yang sebelumnya ia letak di atas Nakas dan berlari keluar rumah tanpa mengganti bajunya yang basah.
Mama papanya yang masih berada di ruang keluarga, sempat memanggilnya tetapi, Dion tidak menghiraukan panggil mereka dan terus melangkah masuk kedalam mobilnya sebelum meleset menuju apartemen Melly.
Dalam perjalanannya, Dion beberapa kali harus menghentikan laju mobilnya, karena efek dari obat itu.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Setelah menempuh perjalanan satu jam dari biasanya, yang hanya tiga puluh menit, akhirnya Dion tiba di apartemen Melly.
Dion masuk kedalam apartment tanpa menekan bel terlebih dahulu dan ia sedikit beruntung karena Melly belum menganti code pintu apartment mereka.
Melly yang baru saja terlelap, langsung membuka kedua matanya. Saat dion membuka pintu kamar. " Dion, apa yang kamu lakukan." Tanya Melly. Ia melirik Hani yang tertidur di sampingnya.
Melly merasa lega karena, Hani tidak terganggu sedikit pun akibat ulah Dion yang menerobos masuk ke kamar mereka.
" Kamu kenapa sih." Tanya Melly sedikit berisik karena takut Hani terbangun. Melly tidak sadar jika suara bisikan nya membuat hasrat Dion semakin meningkat. Ia pun belum tahu kondisi Dion karena hanya lampu tidur yang menyalah.
" Honey maaf." Ucap Dion Dan mulai mencumbu setiap jengkal leher jenjang Melly, Melly yang kebingungan tidak dapat menghindarinya. Pelan tapi pasti Melly sedikit terlena dengan permainan Dion yang begitu mengebu gebu, sebelum tangan Dion berada di dada Melly dan mengembalikan akal sehat wanita itu.
" Apa yang kamu lakukan." Melly mendorong tubuh Dion setelah itu menamparnya. " Kamu anggap apa aku! Wanita murahan di luar sana, yang kamu ingin langsung kamu dapatkan sesuka hatimu."
" Maaf Mel, aku nggak tahan! Tolong aku." Sahut Dion.
Melly tidak menghiraukan ucapan Dion ia ter saja memarahi pria itu. " Kamu brengsek Dion, aku nggak akan maafin kamu, keluar sekarang atau aku akan membawa Hani pergi malam ini juga. " Melly tidak main main dengan Ucapannya, ia Menghampiri sisi ranjang Dimana Hani tertidur. Menyibakkan Selimut yang menutupi tubuh putrinya itu.
" Jangan lakukan itu, aku, aku tidak ingin seperti ini, tetapi aku di jebak please tolong aku, jangan tinggalkan aku lagi, Aku sedang di jebak." Dion merasa tidak berdaya saat ini, di satu sisi ia begitu membutuhkan bantuan Melly di sisi lain ia takut hal itu akan membuat Melly pergi lagi.
" Di Jebak. " Salah satu alis Melly terangkat, menunggu penjelasan Dion! Tetapi lelaki itu tidak menjelaskan apapun, dia justru berlari ke kamar mandi, di situlah Melly tersadar tubuhnya terasa menggigil dan ia merasa bajunya basah.
Melly melangkah ke kamar mandi untuk menyusul Dion, dan mulai percaya ucapan Dion, saat Melly melihat wajahnya yang merah padam dengan nafas yang tidak teratur. " By, siapa yang melakukan ini sama kamu." Tanya Melly, suaranya melembut dengan kedua tangan terangkat menyentuh pipi Dion, Melly bahkan tidak menghiraukan percikkan air dari shower mengenainya.
" Nanti aku jelaskan, bisakah kamu membantuku! Ini sangat menyakitkan. "Dion menggenggam ke dua tangan Melly yang berada di pipinya dan mencium telapak tangan Melly secara berganti." Tolong aku Honey. "
" Iya aku akan membantu kamu. " Ucap Melly sambil mengangguk kepalanya." Tunggulah di sini sebentar. "
Melly keluar kamar mandi. Mengambil kunci mobil Dion dan berlari keluar apartemen itu, bahkan Melly tidak peduli jika sekarang ia hanya mengunakan kimono tidur.
Cukup lama wanita itu pergi. Dan begitu ia kembali, ia meminta Dion keluar dari kamar mandi. Membantu Dion mengganti pakaiannya yang basah, sebelum lelaki itu berbaring di atas tempat tidur tepat di samping Hani.
" Sini tangan kamu." Pintah Melly, ketika Dion memberikan tangannya, Melly langsung mengeluarkan selang infus dan jarumnya.
Melly memberikan Dion Natrium klorida IV. " Ini akan membantu kamu." Ucap Melly. " Aku akan tidur diluar, sebaiknya kamu juga istirahat. " Melly berjalan keluar kamar setelah Dion Di infus.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading.. 💘💘...
...Ciie ada yang ngarep adegan uuu aaa niee. 🤪🤪🤪 Jangan terlalu berharap, otak aku ini sesuci bayi baru lahir jadi nggak tahu yang begituan. 🤣🤣🤣...