
Setelah pembicaraan mereka panjang lebar beberapa saat yang lalu, keduanya memutuskan untuk pergi ke rumah orang Dion. Sepanjang perjalanan, Melly hanya diam, entah apa yang tengah di pikirkan wanita itu.
Ia menatap keluar jendela mobil, di mana orang orang berburu dengan waktu dan ada pun yang bersantai untuk menuju tujuan mereka masing masing.
" Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Dion, fokusnya masih ke depan, walaupun sesekali ia mencuri pandang kepada wanita yang berhasil menjungkir balikan hatinya.
Melly tidak menyahuti, ia masih terlena dengan lamunannya. " Mel, Melly." Panggil Dion lagi. Sayangnya Melly tetap tidak bergeming.
Hingga mobil yang ia kendarai, berhenti di lampu merah. Dion memberanikan diri menyentuh pundak Melly. " Haah, ya." Gumam Melly, ia menengok kearah Dion menatap lekat wajah pria itu.
" Kenapa? Hmmm, apa yang menganggu pikiran mu."Tanya Dion seraya mengusap lembut pipi Melly, wanita itu hanya menggeleng kepalanya. " Terus kenapa melamun." Lanjutnya.
" Siapa yang melamun. Perasaan kamu aja itu." Sangkal Melly dengan mode judesnya. Wanita itu menghindari tatapan Dion dengan kembali menatap keluar, di mana kendaraan di sekitar mereka mulai bergerak. Sesuai petunjuk lampu lalu lintas, Begitu juga dengan Dion,
Terlihat jelas Melly tidak ingin berbicara saat ini, walaupun hanya sekedar basa basi. membuat suasana di dalam mobil kembali hening.
Selang beberapa menit, mobil Dion pun sampai di kediaman orang tuanya . " Jangan lama-lama ya." Ucap Melly sebelum Dion membuka pintu mobil nya.
" Kamu nggak ikut turun." Tanya Dion, di jawab gelengan kepala wanita itu. " Kenapa Melly."
" Nggak kenapa napa! Aku hanya ingin disini, sana turun." Melly mendorong tubuh Dion agar keluar dari dalam mobil. Mau tidak mau Dion akhirnya keluar meninggalkan Melly.
Setelah Dion keluar, Melly kembali termenung. Sejak mobil itu memasuki kediaman XAVIER, Melly mulai ragu dan tidak enak sendiri untuk menampakkan wajahnya di hadapan mantan mertuanya.
Kepercayaan dirinya, beberapa saat yang lalu hilang, saat Mengingat selama menjadi menantu ia selalu di perlakukan dengan baik bahkan mamanya Dion tidak pernah membedakan kasih sayangnya, mau itu dia, Dion dan Dian! Mereka bertiga mendapatkan hak dan kasih sayang yang sama dari orang tua Dion.
Melly pun tidak lupa wajah kecewa wanita paruh bayah itu saat dia meminta izin untuk bercerai dari Dion. " Mama sayang sama Melly! Kalau soal anak kita lupakan saja. Toh masih ada ka Dian yang bisa ngasih mama cucu, yang penting kalian jangan bercerai. Kalau ada masalah kita selesaikan sama sama ya." Dan Masih banyak bujuk Rayu, yang wanita paruh bayah itu lakukan. Hanya saja tekad Melly terlalu kuat saat itu. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun kebelakang saat meninggalkan bangunan mega yang berada di hadapannya saat ini.
Pikiran Melly masih kemana mana! Ia bahkan teringat kata kata ibunya. " Wanita terbaik adalah dia yang mampu bersabar dengan keadaan dan mampu memaafkan lelakinya." Itu sebabnya ibunya tidak pernah meminta cerai, ia menghindar hanya karena rasa bersalahnya kepada Mommy.
" Kenapa aku tidak bisa sehebat ibu, ibu bahkan bisa mendongengkan kisah ibu dan ayah sebelum aku tidur, tapi sedikit pun aku tidak bisa melakukan itu kepada Hani." Gumam Melly, ia kembali menangis seorang diri. " Kenapa aku tidak sehebat ibu, ibu bahkan tidak pernah menangis, tapi aku dengan cengengnya menangis di hadapan Hani."
" Kenapa Nangis hmm. " Melly segera mengusap pipinya yang basah. Ia tidak tahu jika Dion kembali lagi.
" Nggak papa! Siapa juga yang nangis! Ini mata aku kelilipan. " Dion hanya tersenyum seraya menggeleng kepalanya." Hani Mana?"
" Hani lagi shopping sama kak Dian, mereka baru aja pergi, nggak lama kemudian kita datang." Jelas Dion, ia kini telah duduk di balik kemudi." Sini Aku lihat, kelilipan kok sampai hidungnya merah kaya gini." Tanpa menunggu persetujuan Melly, Lelaki itu, sudah lebih dulu mengusap pipi Melly dengan ibu jarinya.
" Mau di peluk nggak?" Tanya Dion.
" Nggak usaha."
" Tapi kamu butuh." Dion menarik Melly kedalam dekapannya, ia tidak menghiraukan penolakan wanita itu. " Honey, Aku keterlaluan banget ya? Maafkan aku."
Melly menggeleng kepalanya, seraya melingkarkan tangan pada pinggang Dion. Untuk sekali ini saja, dia benar benar butuh pelukan hangat itu. Mungkin di luar sana wanita lain bisa move on dengan begitu cepat. Tapi untuk Melly. Tidak akan semudah itu karena apa? Ya karena Dion adalah cinta pertamanya, Lelaki pertama yang ia cintai. Lelaki ini juga yang mengajarkan arti kenikmatan, kebahagiaan serta rasa sakit.
Itulah sebabnya ia menutup diri untuk pria pria di luar sana. Karena Melly tahu, Dia tidak akan pernah menemukan pelukan hangat serta pundak senyaman ini. Pada sosok yang berbeda. Sebab setiap orang mempunyai hangat pelukan masing-masing. Mempunyai nyaman pundaknya masing masing. Karena itu, satu Dion yang ia lepas tak akan terganti walau seribu dion yang datang.
Jika ada yang tahu seperti apa perasaan Melly untuk Dion. Maka Melly yakin mereka pasti bertanya. Jika secinta itu, kenapa harus melepaskan? Dan kalian akan menemukan jawabannya saat kalian merasakan kecewa, kecewa yang membuat kalian lelah dan memilih diam, mau marah pun rasanya sudah malas.
" Mau aku temenin ke tempat ibu?" Melly menggeleng. " Nanti Hani sama siapa."
" Ada kak Dian, ada mama, papa! Hani tidak sendiri Honey ." Sahut Dion. Sesekali ia mengecup puncak kepala Melly.
" Tapi_." Melly mendongka kepalanya untuk Melly wajah Dion.
" Tapi apa honey, hmm. " Tanyanya di sertai sebuah kecupan tepat di Dahi Melly. Membuat perasaan Melly menghangat. Seakan ada aliran listrik yang menjalar di tubuhnya. Melly pun menutup matanya, menikmati sentuhan bibir Dion yang menempel di dahinya.
Sementara Dion, Lelaki itu menarik dirinya sesaat dan ia kembali mengecup tempat yang sama. " Aku mencintaimu."
" Hmmm, aku juga." Ucapnya di dalam Hati.
" Ayo kita ke tempat ibu, sudah lama kita tidak mengunjunginya." Dion lebih dulu mengurai peluk mereka.
" Nanti Hani cari aku gimana." Tanya Melly, ia masih belum rela jauh dari Hani walaupun untuk sesaat.
" Honey, Nanti kak dian telpon kalau dia nyariin kita. " Ucap Dion seraya mengacak rambut Melly.
Melly pun akhirnya setuju, keduanya pun menuju desa di mana ibu Melly beristirahat. Langit hampir berubah senja, saat mobil Dion memasuki area pemakan. Wanita itu segera keluar dari mobil dan berjalan menuju makam ibunya. Begitu tiba di samping makam ibunya, Melly berbalik menatap Dion. " Kamu sering mengunjungi ibu?" Tebak wanita itu, saat melihat makam ibunya begitu terawat.
Dion tersenyum seraya berkata. " Ada yang bilang sama aku, Jika ingin mendapat hati anaknya, kita harus lebih dekat dengan ibunya." Melly terdiam lagi.
" IBU hari ini aku datang lagi, maaf bu, baru sekarang aku bisa membawa putri ibu." Dion berjongkok di samping makam ibunya Melly, tangannya mengusap batu nisannya.
Sementara Melly tidak dapat berkata Kata, hanya air mata yang mendeskripsikan perasaannya saat ini.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading.. 💘💘...
...Aku tadinya pengen buat mereka berantem....
...Tapi nggak jadi deh....
...Karena aku yakin. Pasti kolom komentar jadinya kaya gini....
...Masalah terus thor, kapan bahagianya. 🙄🙄...
...Hili hili Hili, cape deh. ðŸ¤ðŸ¤ðŸ˜œðŸ˜œ...