Secret of the Heart

Secret of the Heart
Hamil



Melly perlahan lahan membuka matanya. Kepalanya pun masih terasa pusing, Dengan menahan rasa pusing Di kepalanya. Ia meneliti sekitarnya, belum sempat mengenali jelas tempatnya berada saat ini suara sapaan menyapa indra pendengarannya, membuat ia menengok kearah datangnya suara itu.


" Selamat Pagi Dokter Melly."


" Pagi." Balasnya dengan suara serak. Serta menahan rasa pusing yang semakin terasa hingga membuat perutnya seakan bergejolak dan ingin mengeluarkan apa saja di dalamnya.


" Apa yang Dokter Melly rasakan?" Tanya wanita itu lagi.


" Kepala saya pusing Dok. Aku juga merasakan mual." Jawab Melly. Bukan tanpa sebab, Melly memanggil wanita itu dokter. Karena wanita itu saat ini mengunakan snelli.


Wanita itu tersenyum. " Tidak apa apa wajar kok Dok. Tapi saran saya. Dokter Melly jangan telat makan lagi ya! Seperti kemarin. Kasihan Dia kalau terlalu di paksa untuk bekerja terus nggak di kasih makan." Ucapnya sembari mengusap perut Melly.


Sementara Melly hanya Diam mencerna Ucap serta sikap dokter wanita yang bernama Nesya itu.


" Untuk lebih jelasnya, kita akan melakukan USG begitu Dokter Melly menyelesaikan sarapan ya. " Nesya menunjuk sarapan yang telah tersedia di atas Nakas samping tempat tidur Melly. " Ya sudah saya tinggal dulu, kalau Dokter Melly butuh sesuatu bisa panggil suster di depan atau tekan tombol itu. " Tunjuk nya lagi pada salah satu tombol yang berada di samping kanan atas ranjang.


Sementara Melly tidak mengangguk ataupun menggeleng dia hanya diam mendengar berita bahagia itu. Bahkan sampai dokter Nesya keluar dari ruangannya pun Melly masih terdiam dengan posisi yang sama.


Satu hal yang mengusik Pikirannya saat ini adalah. Jika dia benar benar Hamil, akan sulit baginya untuk bekerja, Di trimester satu dan dua.


Rasanya Melly ingin berteriak saking pusingnya. Tapi pada akhirnya, wanita itu hanya bisa berjalan ke kamar mandi, untuk mengeluarkan apa yang sejak tadi ia tahan. Setelah melepas botol infus yang di kaitkan pada tiang infus.


Hidupnya yang kemarin masih baik baik saja, mulai hari ini akan di usik dengan rasa mual. pusing. Dan Jangan lupa hormon kehamilan yang bisa mengubah ubah moodnya.


Setelah dirasa tidak ada yang perlu untuk ia keluarkan lagi. Melly membasuh wajahnya, setelah itu ia kembali keranjang, karena kepalanya masih sangat pening. Dia dia harus merebahkan diri di sana berharap rasa itu sedikit berkurang. Melly bahkan tidak mengingat pesan dokter nesya kalau dia harus melakukan USG untuk mengetahui kondisi anaknya. Atau mungkin saja wanita itu tidak mendengar dengan jelas ucapan dokter Nesya karena larut dengan pikirannya sendiri, Entahlah hanya Melly yang tahu itu.


Saat akan memejamkan mata. Pintu ruang rawatnya kembali terbuka. Sosok Richard berjalan menghampirinya, seraya bertanya. " Bagaimana keadaan kamu? Ada yang sakit! Maaf ya karena aku kamu jadi seperti ini." Terlihat jelas raut bersalah yang terpancar dari wajah lelaki itu.


" Aku baik baik saja, kamu nggak perlu merasa bersalah dan minta maaf, lagian ini biasa, buat wanita hamil. Sekarang katakan gimana kondisi ibu kamu."


" Kondisi ibu semakin baik, terima kasih ya mel, sudah mau melakukan yang terbaik untuk ibu." Ucapnya begitu tulus, walaupun tatapannya terlihat Sendu. Lelaki itu kecewa pada dirinya sendiri karena tanpa sengaja sudah membuat Melly dan calon adiknya Hani hampir terluka atau mungkin lebih dari itu.


" Sama sama! Tapi itu juga tugas aku jadi kamu nggak perlu berlebihan."


" Tidak Ucapan ku sudah benar. aku harus mengucapkan terima kasih dan memberi Hani hadiah nanti." Sahut Richard, Lelaki itu kini sudah duduk di kursi dekat ranjang Melly.


Melly menggeleng kepalanya. " Kamu terlalu berlebihan! Tapi kalau kamu ingin memberi Hani hadiah harus dua ya! Soalnya Hani juga punya kakak perempuan." Jelas Melly. Tadi aja dia menolak so so an nggak papa. Eh ujung ujungnya minta double. Dasar Bumil.


Sementara Richard terdiam. Entah apa yang ia pikiran sampai mengeluarkan pernyataannya yang membuat Melly tertawa. Tetapi tetap mengiyakan pertanyaan itu.


" OH iya mel, aku belum mengabari Keluarga kamu, sebaiknya kamu segera mengabari mereka, jangan sampai mereka khawatir." Melly langsung menepuk jidatnya. Kenapa dia bisa lupa. " Ponsel dan tas kamu ada di dalam sini." Sambungnya, sambil menunjuk Nakas.


" Kamu mau apa? Tanya Richard lagi, sembari menahan pundak Melly, saat wanita itu akan beranjak dari ranjang.


" Aku hanya ingin mengambil ponselku." Akunya.


" Berbaringlah, kamu bisa meminta bantuan ku." Melly mengangguk." Ini ponsel kamu. "


" Terima kasih."


" Sama sama, Mel aku tinggal bentar ya! Nanti kalau kamu butuh sesuatu panggil suster di depan atau tekan tombol itu. " Pesan yang sama dengan yang di sampaikan Dokter Nesya.


Setelah kepergian Dokter Richard, Melly mencoba untuk menghubungi Dion, tetapi lelaki itu tidak menjawab panggilannya. Sekali, dua, tiga kali pun begitu. Akhirnya wanita itu memutuskan untuk menghubungi telpon rumah.


Di sana Melly tengah mencoba untuk menghubungi mereka. Sementara Disini tepatnya di kediaman keluarga Xavier, mereka tengah berdebat menentang Dion yang ingin berangkat ke Australia untuk mencari Melly.


" Kenapa kalian selalu menahan ku! Apa kalian tahu bagaimana perasaan aku saat ini. Tidak kan. Jadi jangan menghalangi aku." Tegas Dion ia bahkan tidak memandang kedua orang tua serta mertuanya yang turut mencegahnya.


" Kita juga sama khawatirnya dengan kamu nak! Tapi alangkah baiknya kita tunggu sampai kamu sedikit tenang. Pergi dalam keadaan seperti ini tidak baik, sebab pasti akan ada masalah entah kamu sengaja atau tidak." Ujar ayah Melly, Lelaki paruh bayah itu mencoba menenangkan sang menantu.


" Dion. Kalau ajal Melly memang sampainya disini. Mau kamu ke sana pun tidak akan merubah apapun. Tetapi, Jika umurnya masih panjang bersama kita! Bagaimana pun caranya dia tetap akan kembali ke tengah tengah kita." Maminya Melly turut angkat bicara.


" Tapi kapan mi, bagaimana kalau Melly tidak kembali. " Lelaki itu kembali menangis, layaknya anak Abg yang di putuskan pacarnya karena baru mengenal cinta.


" Berarti kamu harus belajar mengikhlaskan dia ya. " Sahut mamanya Dion sembari mengusap punggungnya.


" Nggak aku nggak bisa ma."


Mereka semua asyik membujuk Dion, tanpa ada yang menyadari raut bahagia Dari Hani. Gadis kecil yang baru saja keluar dari kamarnya itu, berjalan ke arah telpon rumah saat mendengar benda itu berbunyi, sementara parah orang dewasa yang tengah duduk di ruang tamu tak menghiraukan bunyi nyaring itu.


" Holla." Ucapnya setelah menempel ganggang telpon rumah itu ke telinganya.


"...."


" Ada mommy, mommy kapan pulang Hani kangen mommy."


"......"


" Yeeeyy asyik." Ucap sambil melompat lompat. Hingga semua orang yang berada tak jauh darinya. Menatap ke arahnya.


"......"


" Iya mommy." Gadis kecil itu menjauhkan ganggang telpon itu kemudian menatap kearah Dion. Sembari berkata." Daddy Mommy mau bicara. "


DEG.


Semua orang langsung menatap satu sama lain termasuk Dion.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....


...Happy reading.. 💘💘...


...Kok gantung sih....


...Udah jangan bawel. Yang penting aku update kan. 😘😘😘...


...Besok libur ya?🤔🤔...