
"Mantan suami Bu Deina itu adalah bos saya di Korsel dulu waktu jadi TKW," ujar Yati menjelaskan.
Sasa hanya diam menyimak setiap perkataan Yati. "Saya kerja dengan beliau kurang lebih 3 tahun,"
"Beliau menanggung semua biaya hidup saya selama di Korea Selatan."
Yati mencoba memutar ingatannya ke beberapa tahun silam, tepat saat ia masih berkelana sebagai TKW.
"Di tahun ke tiga, Bos saya, Mr. Kim... Memutuskan berkunjung ke Indonesia dengan alasan beliau ingin bekerja sama dengan salah satu hotel ternama di Indonesia,"
"Hotel itu adalah Gloubel!"
Yati terdiam sejenak dan kembali berbicara. "Beliau pergi beberapa bulan, sementara saya tetap bekerja di Korea Selatan," jelas Yati lagi.
"Selang waktu berlalu, 3 bulan kemudian dia kembali..." ujar Yati dengan raut miris.
"Dengan sifat dan gaya yang berbeda, raut muka nya menunjukkan ada masalah besar yang sedang ada di kepalanya," jelas Yati lagi.
"Dua minggu setelah kembalinya beliau, saya diminta pindah kerja ke Bali, tepatnya di rumah Deina,"
"Awalnya saya bingung, kenapa dipindahkan ke rumah seorang perempuan yang bahkan beliau tidak ikut tinggal bersama wanita itu."
"Lalu, apa yang terjadi setelah Mbok menetap di Bali?" tanya Sasa.
"Setelah tiga hari di Bali, saya tidak sengaja melihat testpack Bu Deina yang waktu itu baru hamil 1 bulan," ujar Yati lagi.
"Apa tujuan dipindahinnya Mbok ke Bali untuk ngejaga Tante Deina yang saat itu hamil?" tanya Sasa.
Yati mengangguk. "Sembilan bulan berlalu sampai akhirnya anak bernama Ghare lahir, dia teman satu kampus Mysa," jawab Yati.
"Terus apa yang terjadi setelah itu Mbok?" tanya Sasa penasaran.
"Saya akhirnya ga pernah balik lagi ke Korea Selatan karena Bu Deina meminta izin agar saya jadi ART di rumahnya."
"Satu tahun umur Ghare, Bu Deina memutuskan untuk kembali menghubungi Kim yang waktu itu memang sedang berada di Indonesia," jelas Yati.
"Deina berdalih keberatan merawat Ghare dan ingin menyerahkannya ke Kim. Alasannya...." Yati tiba-tiba terdiam.
"Karena apa, Mbok?" tanya Sasa.
Yati menatap Sasa dengan sangat ragu. "Mbok?" tanya Sasa lagi.
Yati mendekat ke Sasa dan menyentuh tangan gadis itu. "Jangan pernah membenci Mbok ya Mysa, setelah kamu mendengar alasan ini," ujar Yati.
Sasa menelan ludah dan mengangguk pelan. "Bu Zena Wijaya tidak mengetahui soal Ghare, Mysa. Saya tahu hal ini karena tidak sengaja membaca surat wejangan pembagian warisan keluarga dengan syarat Bu Deina tidak melakukan sesuatu yang mencoreng nama keluarga," jelas Yati.
Sasa benar-benar terdiam mendengar ini. "Dihari itu, Bu Deina terlihat panik, ia berusaha menyerahkan Ghare ke Kim, mereka sampai bertengkar hebat di halaman rumah."
"Mbok lihat dan dengar apa yang mereka perdebatkan kala itu?" tanya Sasa.
Yati mengangguk. "Saya dengar Bu Deina memberikan tawaran uang sebesar 1,2 Milyar jika Kim mau membawa Ghare pergi, uang itu dikambinghitamkan untuk membantu perusahaan Kim yang saat itu sedang di ujung tanduk."
"Setelah perbincangan itu, Ghare dibawa pergi oleh Kim, dan saya tidak pernah melihat Kim datang lagi ke rumah Bu Deina."
Sasa menarik nafas dan menyentuh kepalanya yang terasa berat. "Beberapa hari sebelum kepergian Mama, saya sempat dengar beliau menagih hutang ke seseorang," Sasa menatap Yati dengan tajam.
"Saya tidak tahu siapa orang itu sampai sekarang," jawab Sasa.
"Apa mungkin orang itu adalah Kim?" tanya Sasa kepada Yati.
Yati menggeleng dengan pasti. "Saya yakin Bu Zena tidak tahu siapa Kim, karena hubungan terlarang yang Bu Deina lakukan itu saja mati-matian ia tutup dari Bu Zena dengan umpan 1,2 Milyar."
"..." Sasa terdiam kembali. Ia membenarkan ucapan Yati. Yati memang harus ia dengar karena ia adalah kunci dari kepalsuan apa saja yang Deina miliki.
"Mbok..." sapa Sasa lagi.
Yati menatap Mysa dengan penuh keseriusan. "Apa ada hal lain yang Mbok tahu?" tanya Sasa.
"Tapi, kenapa Mbok seperti ketakutan saat bertemu Sasa setelah Mbok pulang kampung?" tanya Sasa.
"Itu karena Saya tidak mau Mysa tahu soal Ghare, saya sudah terlanjut berjanji dengan Bu Deina. Namun, setelah berjalannya waktu, saya merasa bersalah sudah terus menyembunyikan ini kepada anak alm. Bu Zena."
Mysa mengangguk dan menerima ucapan Yati. Mereka lalu meneguk teh yang ada di depannya masing-masing. Fakta yang Sasa terima kali ini benar-benar membuatnya ingin muntah.
***
Operasi yang Renita jalani berjalan dengan baik dan lancar. Saat ini, ia sudah kembali ke ruang inap meski masih terbaring lemas.
"Kamu bisa balik ke Indonesia duluan, minggu depan Ayah dan Bunda akan pulang!"
Bara melirik ke Renita yang masih tertidur. "Aku..." ujar Bara.
"Kamu harus pergi duluan, besok kan jadwal pembagian nilai magang kan? Dokter Kimo sudah chat Ayah tadi."
"Oh ya, aku sampai lupa."
"Nah, makanya kamu harus kembali ke Indonesia secepatnya. Bunda akan segera pulang ke rumah."
Bara menarik nafas dalam. Ia mencoba mencerna permintaan Arya dengan berat hati.
"Percaya sama Ayah, pulang." Arya lalu mengelus pundak Bara dengan lembut.
Bara tersenyum getir dan menatap Arya dengan penuh kebingungan. Ia rasanya ingin tetap ada di sini dan pulang bersama Bundanya saja.
***
Sasa masuk ke mobil dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menatap kosong ke depan. Nafasnya terasa berat kali ini.
"Huh..." dengus Sasa.
'Ibu akan tunggu kamu di sini,' - ujar Bila.
"Shiitt!!!!" ketus Sasa.
Sasa seketika mengambil ponselnya dan mem-vc seseorang yang sangat ia kenal.
'Mysa? Kamu? Kamu udah ga marah sama Tante?' tanya Deina dari balik layar.
Sasa menatap Deina dengan tatapan dingin. "Aku butuh penjelasan Tante soal kematian Mama!" ujar Sasa yang membuat jantung Deina berdebar.
Sasa lalu merekam layar percakapan mereka berdua agar mempunyai bukti soal pembunuhan ini. "Sa... Kamu ga mikir Tante terlibat kan?" tanya Deina dengan ragu.
"Aku udah lihat cctv 5 tahun lalu, di sana terlihat jelas wajah Tante saat berhadapan dengan pelaku yang membuka maskernya di ruang cctv."
Deina nampak sangat gugup mendengar pernyataan Sasa. Ia seolah tak bisa lagi menyangkal ucapan Sasa.
"Kenapa Tante bisa ada di ruang Cctv saat pelaku pembunuh Mama menghapus bukti rekaman di sana?" tanya Sasa to the point.
Deep!
"Saa? Kamu tahu dari mana soal semua ini?"
"Aku tanya sekali lagi, kenapa Tante bisa ada di sana saat pelaku pembunuhan Mama ada di ruang itu?" tanya Sasa.
"Tante...." ujar Deina terbata-bata.
"Aku tahu Tante udah tahu siapa pelakunya dari dulu! But, kenapa Tante sembunyiin ini semua?!!!" tegas Sasa.
"Sa, dengerin Tante dulu."
"Sekarang, apa?" tanya Sasa lagi.