Puzzles

Puzzles
Episode 27 - Siapa Sebenarnya Mbok Ira?



Usai membesuk Renita, mereka berdua berjalan ke parkiran ditemani Bara. Hanya perlu beberapa menit untuk mereka sampai ke parkiran.


Zean yang akan mengeluarkan motor itu, berjalan lebih dulu. Sementara, Sasa dibiarkan menunggu bersama Bara di dekat arah keluar gerbang rumah sakit.


"Lusa kalau lo mau ikut, boleh dateng langsung ke bandara." Ujar Bara yang tengah berdiri di samping Sasa.


"Oke, lusa gua kabarin!"


Sasa perlahan mengusap tangannya yang mulai dingin itu. Malam yang sudah mulai larut, membuat udara semakin menusuk.


Bara yang menyadari hal itu, lalu mencoba membuka jaket levis yang ia kenakan.


"Pake ini," sembari menyodorkan jaket levis.


Sasa menatap ke Bara bersamaan dengan Zean yang baru saja siap mengeluarkan motor. Zean lalu hadir di depan mereka. Melihat dengan jelas perlakuan Bara.


"Ga usah," sembari mendorong tangan Bara yang memegang jaket itu.


Baru saja hendak memberikan helm, Zean harus melihat Bara yang tiba-tiba memakaikan jaket itu ke Sasa.


"Udara malem ga bagus buat kesehatan lo," sembari memasangkan jaket.


Sasa mencoba menolak dengan mendorong tangan Bara yang dari lengannya. Namun, tenaga Bara jauh lebih kuatbm untuk sekedar memasang jaket.


"Bar... Huh..." sembari menoleh ke Bara.


Zean yang hanya merasa jadi penonton, mulai tidak suka atas adegan ini.


"Ehem!!" dehem Zean membuyarkan suasana.


Sasa seketika menatap Zean, ia lalu mencoba merapikan sendiri jaket yang sudah terpasang itu.


"Udah, lo bisa naik ke motor sekarang," sembari menatap Zean.


Zean kembali menyerahkan helm yang ada di tangannya ke Sasa. Sasa lalu mengambil helm itu dan memakainya. Ia lalu naik ke atas motor.


"Gua balik dulu," ujar Zean yang dibalas anggukan oleh Bara.


"Iya, makasi udah jenguk Bunda ke sini," ujar Bara.


"Balik dulu," ujar Sasa.


"Hati-hati, Ze, Sa!"


Zean lalu meng-gas motornya, meninggalkan Bara yang masih berdiri di parkiran itu.


***


Selang beberapa menit, motor Zean sudah ada di depan gerbang rumah Sasa. Sasa turun dari motor dan membuka helm yang ia pakai.


"..." Zean hanya diam memperhatikan Sasa.


"Thank's ya!" ujar Sasa menyerahkan helm.


Zean lalu tersenyum dan mengamb helm itu. Ia kemudian menyangkutkan helm itu di stang motor sebelah kiri.


"Besok lo bisa dateng ke sini," ujar Sasa.


Zean lalu mengangguk.


"Gua balik ya," ujar Zean.


"Hati-hati," sembari menekan bel rumah.


Zean lalu melaju pergi. Sasa masuk ke gerbang yang sudah terbuka itu.


"Pak, besok kalau ada laki-laki namanya Zean, suruh masuk ke dalem aja!" sembari berjalan ke pintu rumah.


"Siap, Mysa!" sembari menutup gerbang.


Melihat Sasa yang terus berjalan, Diki pun mengejarnya untuk memberikan kunci motor yang tadi pagi ia belikan untuk Sasa.


"Mysaa!!" sembari mengejar.


Sasa lalu terus berjalan dan berhenti di depan motor vespa matic berwarna hijau metalic itu. Motor itu di parkir tepat di dekat mobil alm. Ibunda Sasa.


"Ini kunci motornya Mysa," sembari menyerahkan kunci.


Sasa melirik ke Diki yang kini ada di sampingnya. Ia lalu mengambil kunci itu.


"Makasi Pak," ujar Sasa.


"Motor buat anak bapak udah dikirim ke kampung?" tanya Sasa memastikan.


"Sudah Mysa, pihak perusahaan yang mengurus cargo nya tadi siang,"


Sasa mengangguk dan mencoba menaiki motor vespa itu.


"Sekali lagi, terima kasih Mysa..." ujar Diki.


"Iyaa, santai aja Pak!" ujar Sasa sembari menggerakkan stir motornya.


"Surat-suratnya, semua sudah saya taruh di ruang tamu Mysa, helm nya juga ada di sana," jelas Diki lagi.


"Besok Mysa sudah bisa pakai ke kampus," ujar Diki.


Sasa menatap Diki dengan datar, ia lalu memasukkan kunci tadi ke dalam saku jaket milik Bara.


"Saya ga bisa bawa motor, Pak." Ujar Sasa yang membuat Diki tercengang.


"Ha, jadi Mysa beli motor ini untuk apa?" ujar Diki lagi.


"Ya, untuk dipakai, cuman nanti kalau udah bisa," ujar Sasa sembari berjalan masuk ke dalam.


"Oalahhh, apa perlu saya ajarkan Mysa?" tanya Diki.


"Ga usah, Pak!" sembari melambaikan tangan dan membuka pintu rumah.


Sasa lalu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Diki yang masih geleng-geleng kepala itu.


"Orang kaya kayaknya beli barang bukan karena butuh," ujar Diki menatap vespa di hadapannya.


"Tapi, karena iseng deh!" celetuk Diki sembari kembali ke pos satpam.


Sasa yang baru masuk itu berjalan ke ruang tamu. Ia lalu melihat beberapa surat dan helm bogo berwarna hitam polos.


Sasa duduk sejenak dan membaca beberapa surat bertuliskan namanya itu. Ia lalu membawa semua surat itu, dan juga helm ke kamarnya.


Sasa masuk ke kamar dan meletakkan helm serta surat-surat itu. Ia lalu merogoh saku jaketnya dan meletakkan kunci motor di atas meja belajar.


Sasa lalu berdiri di depan kaca rias. Ia melihat dirinya yang mengenakan jaket Bara dan perlahan membuka jaket itu. Masih ada aroma Bara di jaket ini.


Sasa tersenyum kecil dan menggantung jaket itu di tempat gantungan baju miliknya. Ia lalu berjalan menuju kamar mandi untuk berbenah.


***


Sasa yang baru siap mandi itu lalu mengambil baju di lemari untuk ia kenakan. Ia tertuju pada kaos oversize berwarna hitam dan celana levis pendek.


Sasa mengenakan baju itu dan mengeringkan rambutnya di meja rias. Usai mengeringkan rambut, ia lalu melihat ada notifikasi di ponselnya.


Sasa lalu merogoh ponsel itu dan membaca pesan dari Larisa.


(Pesan from Larisa)


\= Lo tadi kenapa ga ngampus sama Zean? Besok ngampus kan?


Sasa lalu mengirim balasan atas pesan itu.


\= Besok enggak juga, gua ada urusan beberapa hari ini.


Sasa lalu meletakkan ponselnya di meja. Karena rambut sudah kering, ia lalu berjalan ke ruang makan.


Satu per satu anak tangga ia pijak untuk sampai ke bawah. Sepi, tidak ada seorang pun termasuk Mbok Ira.


"Mbok?" ujar Sasa sembari mencarinya di dapur.


"Mbok Iraaa?"


Tidak ada juga, Sasa lalu berjalan ke kamar Mbok Ira untuk memastikan apakah Mbok Ira sakit atau tidak, karena tidak biasanya beliau tidur sebelum Sasa makan malam.


Sasa sampai di depan kamar Mbok Ira yang tertutup. Ia mendengar suara seseorang yang tengah menelfon.


"Tadi, Mysa pakai uang perusahaan untuk beli 2 motor," ujar Mbok Ira.


Suara yang tidak terdengar jelas itu membuat Sasa harus menelpelkan telinganya di pintu kamar Mbok Ira.


"Sekarang cuma itu informasi yang bisa saya kasih," jelas Mbok Ira.


Sasa lalu bergidik akan hal itu. Informasi? Informasi apa? Dan siapa yang seolah menjadi mata-mata atas kegiatannya?


"Iya, Baik..." sembari menutup telfon.


Sasa yang tidak lagi mendengar suara itu lalu menjauhkan telinganya, ia sengaja tidak membuka pintu kamar itu dan memilih pergi ke meja makan.


Sasa melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 22.15 WIB. Sudah larut sekali untuk makan malam. Ini karena sehari tadi ia punya banyak sekali urusan.


Sasa duduk dan mengambil piring untuk makan. Ia lalu mengambil beberapa lauk untuk disantap.


Sasa melahap masakan Mbok Ira itu sembari memasang earphone agar ia dapat mendengarkan musik.


Hingga ia tidak sadar sosok Mbok Ira sudah berada di dekatnya. Mbok Ira lalu menuangkan air untuk Sasa.


"Mysa, kenapa tadi ga panggil Mbok untuk siapin makan?" tanya Mbok Ira.


Sasa yang tau Mbok Ira ada di sampingnya itu hanya diam. Ia seolah disibukkan oleh pertanyaan, dengan siapa Mbok Ira tadi menelfon?


"Mysa?" ujar Mbok Ira yang baru melihat earphone di telinga Sasa itu.


Sasa yang sudah selesai makan itu lalu meneguk air yang Mbok Ira tuang. Ia lalu langsung bangun dari duduknya dan berjalan ke lantai atas tanpa bicara dengan Mbok Ira seperti biasa.


Mbok Ira yang masih ada di ruang makan itu nampak kebingungan sekali.


"Mysa kenapa ya? Apa karena pakai earphone ya?" tanya Mbok Ira sembari berbenah meja makan.