Puzzles

Puzzles
Episode 84 - Pemakaman Zean



"Kenapa lo ga kasih tau gua?" tanya Sasa dengan datar ke arah Bara.


Bara hanya diam tanpa ekspresi. "Kenapa lo ga kasih tau kalau Zean udah ga ada?" tanya Sasa lagi.


"Udah Sa, kita balik ke rumah Zean dulu," jawab Larisa menenangkan Sasa.


"Ayo, Sa!" ajak Ghare yang ada di depan mereka.


"Lo tau kan Bar, gua itu sayang banget sama Zean!" bentak Sasa.


Bara hanya diam seperti tadi. "Dia adalah salah satu alasan gua bisa keluar dari Zona dendam yang bertahun-tahun gua udah kekurung di situ!!" bentak Sasa dengan air mata mulai menggenang.


"Hikss, Hikkss..."


"Udah, Sa. Bara ga salah, ini musibah untuk kita semua, ini duka." Larisa kembali menenangkan Sasa.


"Iya, lebih baik sekarang kita ke rumah Zean," ujar Ghare.


"Tinggalin gua sendiri!!" sorak Sasa menyuruh mereka semua pergi.


"Saa... Gua ga mungkin tinggalin lo di sini," sahut Larisa menegaskan ke Sasa.


"Larisa, give me time for charge!" Sasa menatap Larisa penuh arti.


Melihat tatapan itu, Larisa melirik ke arah Bara yang masih diam. Ia lalu melihat Bara mengangguk. "Ayo, Ghare!" ketus Larisa yang masih ingat wajah menjengkelkan pria di hadapannya itu.


"Ayo!" ajak Larisa lagi yang tahu Sasa memang butuh waktu sendiri.


"Gua tinggal ya, Sa." Ghare dan Larisa melangkah menuju rumah Zean.


Kini, hanya ada Bara dan Sasa di sana. "Lo juga harus pergi!!" bentak Sasa.


"...gua mau tetap di sini," sahut Bara dengan posisi masih seperti semula.


"Lo jahat tau ga!!! Lo ga kasih kabar soal hal penting kayak gini?!" bentak Sasa.


"Pergi aja?!!!" ketus Sasa.


Bara lalu melangkah dan memeluk Sasa dari belakang. Ia membiarkan tubuhnya mengirim energi baik ke Sasa. "Lepasin!!" bentak Sasa.


"Hikss,,, Hikss...Hikss.."


"Gua punya alasan tersendiri untuk ga ngabarin lo di hari itu," bisik Bara masih dengan mendekap Sasa.


Sasa hanya tersedu dengan tangan meremas tanah. "Gua cuma bisa minta maaf kalau alasan yang gua pegang buat lo terluka jauh dari yang seharusnya atas kepergian Zean," jawab Bara.


"Hikss...Hikss..Hiksa..."


Sasa masih dalam posisi yang sama. "Maafin gua, maafin gua ga ada pas waktu lo lagi butuh gua banget!" tegas Bara.


"Gua emang ga akan pernah sebaik Zean, tapi gua akan gantiin posisi Zean yang bisa nopang banyak masalah lo selama ini," jawab Bara.


"Hikkss..Hikss...Hikss," mendengar ucapan Bara. Sasa perlahan bisa menerimanya, walaupun berat untuk dicerna, tapi ia benar-benar butuh sosok seseorang sekarang.


"Kenapa Zean ninggalin gua, Bar?" tanya Sasa dengan pilu.


"Udahh, Sa...." lirih Bara menahan tangis.


"Apa karena gua ga izinin dia ikut ke Bali?" tanya Sasa.


"Atau coba aja di malam itu gua izinin dia, pasti ga...."


"Udahhh, heii.... Ayo, pulang!" tegas Bara sembari memperat rangkulannya.


"Hikss...Hiksss...Hikss... Zeannnnn,"


"Ini yang gua ga mau liat, Sa. Gua ga bisa liat lo seremuk ini." Bara mengusap sedikit air mata keluar di sudut matanya.


"Zeaann..." lirih Sasa lagi.


***


"Kenapa lo bisa sama Sasa goes to Jakarta?" tanya Larisa yang duduk di warung teh es dekat pemakaman itu.


"Gua sepupunya, Sasa."


"WHATT?!!" Larisa seperti akan menyemburkan minuman yang ada di mulutnya.


"Uhuk...Uhukk..." Ghare spontan memberi air putih ke Larisa.


"Ga usah kaget," ujar Ghare dengan santai.


"Uhuk... Hmmm..." Larisa perlahan menjauhkan minuman yang ada di hadapannya itu.


"...apa Sasa bisa nerima hal itu?" tanya Larisa dengan tatapan dingin.


Ghare menggeleng. "Dia bukan ga bisa nerima gua, tapi dia ga bisa nerima nyokap gua," jelas Ghare. Ghare lalu meneguk es teh di hadapannya.


"Ghare... Gua emang ga terlalu punya banyak waktu untuk mengenal Sasa,"


Larisa menatap Ghare dengan serius. "Tapi, gua tahu Sasa ga akan semudah itu membuat jarak dengan saudaranya, "


"Semuanya pasti ada alasan, Ghare!" Larisa kembali meneguk minumannya.


Ghare menelan ucapan Larisa dan kembali meneguk minumannya. Apakah Ghare bersalah dalam hal ini?


***


Fergi bersalaman dengan beberapa orang di hadapannya. "Yang tabah ya, turut berduka..."


"Iya," jawab Fergi seraya memeluk rekannya itu.


Setiap orang mulai berlalu lalang pulang, satu per satu kembali ke hunian mereka. Fergi menatap kursi yang masih berserakan di halaman dengan tatapan kosong.


Fergi menarik nafas dalam, ia lalu kembali melangkah masuk ke rumah. "Pak?" sorak salah seorang satpam di sana.


"Apa?" tanya Fergi berbalik badan.


"Tadi, Sasa minta tolong saya sampaikan pesan ini ke Bapak," seraya menyerahkan secarik kertas.


Fergi mengambil kertas itu, ia lalu mulai membuka dan membacanya sembari berdiri.


"Saya permisi ya, Pak..." ujar satpam itu.


"Oh, iya..." Fergi lalu memutuskan ke dalam dulu dan membaca sambil duduk.


'Selamat Siang Pak Fergi, Pesan ini saya tulis saat di pesawat...'


'Maaf, tulisannya tidak sebagus saat saya berada di ketenangan daratan."


'Saya turut berduka atas kepergian Zeano Pratama,'


'Zean, adalah salah satu sahabat terbaik yang bisa dekat dengan saya,'


'Saya ingin menyampaikan dua hal di pesan ini,'


Fergi tetap membaca pesan itu sampai ke baris berikutnya.


'Pertama, Maaf... Maaf karena saya harus langsung pergi setelah melihat pemakaman Zean, saya belum berani menginjakkan kaki ke rumah ini, rumah dimana Zean pertama kali memperkenalkan saya ke Ayahnya.'


Membaca itu, Fergi menarik nafas dengan sangat dalam.


'Kedua, terima kasih sudah menjaga Zean sampai dia bertemu dengan gadis berantakan seperti saya, bapak mendidik dia dengan sangat baik...'


'Zean adalah pria yang harusnya menjadi idaman banyak perempuan di luar sana,'


'Salam, Sasa Sasilia.'


Fergi menutup pesan itu dengan mata berlinang. Ia tahu air matanya akan segera jatuh. "Huh..." dengus Fergi menyeka bulir air matanya.


***


"Lo mau pulang kemana?" tanya Ghare yang tengah men-start motor itu.


"Hmm... Kayaknya nginap di hotel aja, karena Sasa pasti ga mau diganggu."


"Rumah gua aja," jawab Ghare spontan.


"Ga!!" tolak Larisa.


"Biasa aja dong nolaknya, kenapa nggak?" tanya Ghare.


Larisa naik ke atas motor dan memegang jaket yang Ghare kenakan. "Jalan." Larisa tak menghiraukan ucapan Ghare.


"Yakin? Gua juga ga akan ngapa-ngapain lo lagi!!" tegas Ghare.


"Jalan dulu aja, nanti gua cari hotel dulu, kalau ga ada baru." Larisa kembali mengode Ghare untuk tetap jalan.


Ghare mengangguk dan membiarkan Larisa melakukan apa yang ia mau. "Paling juga lo nanti jadinya nginap di rumah gua," celetuk Ghare.


Mendengar itu, Larisa hanya bisa geleng kepala. "Bagaimana bisa ia terjebak dengan serangga seperti ini.


Ghare tanpa sadar mengukir senyum kecil di sudut bibirnya. "Yuk, jalan." Ia segera memutar gas yang ada di tangan kanan.