Puzzles

Puzzles
Episode 35 - Day 1 Tinggal Bersama Bara



Sasa keluar dari kamar Bara mengenakan baju kaos berwarna putih yang kebesaran. Tentu saja, karena itu adalah baju Bara.


Krek!


Sasa berjalan menuju ruang tamu, di sana sudah ada Bara yang memasukkan obat-obatan ke koper mini khusus P3K. Sasa lalu duduk di kursi itu tanpa disuruh.


"Itu baju belom gua pake kok," ujar Bara menoleh ke baju Sasa.


"Baguslah," sembari menyilangkan kaki.


Sasa dapat mendengar dengan jelas suara hujan yang masih deras. Malam pun sudah semakin larut, sementara ia masih menunggu Bara berbenah.


Bara berdiri dan mengangkut kardus berisi buku-buku kampusnya. Sasa melongo melihat begitu banyak buku yang Bara bawa.


"Lo mau pindahin ruang belajar lo ke rumah gua?" tanya Sasa.


"Ini buku pelajaran yang biasa gua bawa ke kampus," jawab Bara dengan santainya.


"Gila, sebanyak itu?!" menunjuk buku di tangan Bara.


"Iyakan dibawanya satu per satu, Sa. Ga sekardus!" Bara lalu meletakkan kardus buku di meja ruang tamu.


Ia kemudian berjalan ke kamarnya untuk mengambil beberapa baju. Sementara, Sasa menunggunya di ruang tamu sendirian, tanpa kegiatan. Melamun membuat Sasa menguap beberapa kali.


Ia hanya bisa melirik ke kamar Bara, menunggu pria itu siap dengan semua barangnya. Bersamaan dengan ini, hujan pun perlahan mulai menurunkan debitnya.


Selang beberapa menit, Bara keluar dari kamar dengan sekoper baju. Ia lalu berjalan ke arah Sasa yang tengah duduk itu.


"Udah semua nih, ayo!" sembari menderek koper itu.


Sasa lalu membantu mengangkat kotak P3K, sementara Bara menderek koper dan mengangkat kardus bukunya.


Mereka berjalan menuju mobil, hujan hanya beberapa rintik saja. Bara memasukkan barangnya ke bagasi mobil. Kemudian, mereka masuk ke mobil.


Mobil melaju meninggalkan rumah Bara. Rumah itu kini ditinggalkan untuk diperbaiki dan dibersihkan karena sudah dua minggu lebih ditinggal.


Sasa yang sudah menguap dari tadi itu, tanpa sadar memejamkan mata dan tertidur di mobil. Bara yang menyadari hal ini, melirik ke Sasa dan tersenyum kecil.


"Baru begini aja udah cape, pantes lo gamau kuliah sambil jadi CEO,"


Bara lalu kembali mengendarai mobilnya menuju rumah Sasa. Ia membiarkan Sasa tertidur karena ia tahu Sasa pasti lelah seharian ini berkelana.


***


(Rumah Larisa)


Dari dalam kamar bernuansa pink itu, ada Larisa yang tengah menulis beberapa hal di bukunya. Ia sepertinya tengah sibuk membuat tugas kampus.


Saat sedang asik menulis, seseorang mengetuk kamar Larisa.


(Tok.. Tok... Tok..)


"Ini Bunda, boleh masuk?" sembari memegang gagang pintu.


"Masuk Bunda," sembari terus menulis.


Krek!


Ibu Larisa masuk ke kamar dan melihat putrinya yang tengah sibuk itu. Ia lalu merangkul Larisa dari samping.


"Sibuk banget... udah jam berapa tuh," sembari melirik ke jam dinding.


"Masih banyak, Bun... Nanti aja tidurnya," sembari terus menulis.


Wanita itu lalu melepas rangkulannya dari Larisa, ia lalu duduk di sudut kasur, tepat di belakang kursi belajar Larisa.


"Ada yang mau bunda omongin ke kamu,"


"...Soal apa Bunda?" sembari menoleh ke belakang.


"Sini, Bunda pengen ngomong serius!" sembari menepuk kasur di sebelahnya.


Larisa menatap ke arah Ibunya dengan tatapan bingung. Ada apa? Hal apa yang akan beliau sampaian di malam hari begini?


***


Mobil honda jazz berwarna hitam yang dikendarai Bara tiba di depan gerbang rumah Sasa. Bara membunyikan klakson agar Diki membukakan pagar untuk mereka.


(Klakson)


Diki membuka gerbang, bersamaan dengan Bara yang membuka kaca mobilnya.


"Di dalem ada Sasa," sembari mengode agar tetap diam karena Sasa masih tertidur.


"Baik," sembari kembali membuka gerbang dengan lebar.


Mobil itu pun masuk ke halaman rumah Sasa, Diki lalu kembali menutup pagar rumah. Hanya perlu beberapa detik untuk Bara dapat memarkir mobil itu. Bara mengambil kunci dan melepas sabuk pengamannya.


Ia lalu menoleh ke Sasa yang masih tertidur lelap. Tangannya menyentuh bahu Sasa untuk membangunkan gadis itu.


"Saa..."


"Saaa, udah sampe..." Ujar Bara sembari menepuk lembut bahu Sasa.


"Saaa..."


"Huammmm.... Apa?!" sembari perlahan membuka mata.


Sasa kemudian membuka matanya lebih lebar lagi, ia lalu melihat ke kaca depan yang sudah menampilkan rumahnya. Mereka sudah sampai.


Tanpa bicara lagi, Sasa langsung mengambil tasnya dan turun dari mobil itu, ia berjalan gontai ke pintu. Bara yang melihat itu hanya bisa bergidik, ia kemudian bermaksud menyusul.


Sebelum keluar mobil, Bara melihat map yang tadi Sasa bawa dari hotel tertinggal. Bara lalu melihat ke Sasa yang baru saja masuk ke pintu.


Ia lalu memutuskan untuk mengambil berkas itu nanti, bersamaan dengan beberapa barang yang tertinggal.


Bara lalu membuka bagasi dan mengambil koper serta kotak P3K. Ia kemudian menyusul Sasa yang sudah berjalan di tangga.


"Saa!!" sorak Bara.


"Apa? Gua ngantuk!" sembari melanjutkan jalannya.


"Eh, ini gua tidur dimana?" tanya Bara.


"Itu, kamar nomer 2 dari kanan." Sasa lalu berbelok ke kiri dan menuju ke kamarnya.


"Saaa!?" sorak Bara yang tak dihiraukan Sasa lagi.


Bara hanya bisa mendengus. Ia lalu berjalan menuju kamar yang Sasa maksud sembari menaiki tangga.


"Rumah segede ini ga ada orang apa selain Sasa?" tanya Bara sembari melihat sekeliling rumah.


Bara terus melangkah dan berhenti tepat di depan kamar yang bertuliskan 'Other Room for Other People'


Bara membuka pintu itu dan mendapati kamar yang besar, nuansa hitam dan gold berpadu di kamar itu. Kamar yang memang khusus di desain untuk tamu cowok.


Bara kemudian meletakkan kopernya dan kembali ke lantai bawah. Ia keluar dan mengambil kardus buku yang tertinggal. Saat menutup bagasi, ia teringat map yang tadi Sasa tinggalkan. Bara lalu mengambil map itu dan membawanya masuk ke dalam.


***


"Zeannn!!" sorak Fergi sembari menuju ke kamar Zean.


"Zeaaannnn?!!! Ini anak lagi ngapain ya?!"


Zean yang dipanggil masih asik dengan laptopnya. Disana, terlihat jelas informasi yang Sasa ingin. Zean mengusahakannya dengan sangat baik.


Krek!


"Zeaaannn?!! Kamu ga denger Papi manggil?" tanya Fergi membuka paksa pintu kamar Zean.


"ZEAN!!" ujar Fergi yang baru saja masuk ke kamar Zean itu.


Zean seketika menoleh ke arah suara, ia mendapati ayahnya yang tengah kesal karena panggilannya tak kunjung dijawab. Zean tersenyum kecil dan melepas earphone yang terpasang di telinganya.


"Papi? Iya Pi, kenapa?" tanya Zean sembari menoleh ke belakang.


"Kamu ini, dari tadi loh Papi manggil," sembari berjalan ke meja belajar Zean.


"Lagi apa?" tanya Fergi mendekat.


"Ga ada Pi, ada jasa hack aja..." ujar Zean menutup laptopnya.


"Jasa hack apa? kok keliatannya spesial banget sampe ga denger Papi manggil!?" tanya Fergi.


Zean lalu memutar kursinya ke arah kasur sehingga Fergi sedikit mundur dari posisi sebelumnya.


"Semua hack yang aku lakuin juga fokus, Pi." Ujar Zean sembari tertawa kecil.


"Tapi, yang ini tuh kayaknya fokusnya beda deh, apa?" tanya Fergi dengan jahil.


"Ah, ga ada Pi," ujar Zean.


"Papi tadi mau apa?" tanya Zean mengalihkan topik.


Fergi menatap Zean dengan senyum jahil.


"Nah kan, nah... Bener, langsung ngalihin topik, jadi siapa yang lagi pake jasa hack kamu sekarang?" tanya Fergi menoyor lengan Zean.


"Ih Papi, udah ah, tadi Papi mau apa?" tanya Zean.


Fergi tertawa melihat muka Zean yang mulai memerah, ia lalu duduk di pinggir kasur Zean dan mengutarakan maksudnya.


"Oke deh, kalau ga mau bilang," ujar Fergi.


"Gini, tadi ada salah satu akun e-mail kampus yang ke ban," jelas Fergi.


"Sejak kapan?" tanya Zean.


"Mulai ga bisa dibuka itu sejak 2 hari lalu, tapi baru hilangnya tadi." Jelas Fergi.


"Kamu bisa ga tolong balikin lagi akunnya," jelas Fergi.


"Soalnya, ini penting banget, semua data pengajuan beasiswa ada di sana." Jelas Fergi.


"Oke, apa sih yang anak Papi ga bisa!" ujar Zean menyombongkan diri.


Fergi bergidik dan bangun dari duduknya.


"Dapetin hati Sasa belom tuh!!" ujar Fergi berlari ke luar.


Zean yang mendengar itu langsung tertawa terbahak-bahak. Ayahnya yang terlihat galak di kampus pun memiliki sikap tengil di rumah.