
Cuaca sangat mendukung pagi ini. Awan dan matahari seolah bersahabat, ia sama-sama memberi warna pada dunia. Sinar matahari pagi memasuki celah gorden Sasa.
Perlahan, matanya silau karena cahaya. Ia mendengus karena masih ingin terlelap, namun cahaya seolah memaksanya untuk beraktivitas.
Sasa bangun dari tempat tidur dan pergi ke toilet untuk mencuci muka dan gosok gigi. Hanya beberapa menit, perutnya lalu berbunyi.
"Laper," ujar Sasa.
Sasa memegangi perutnya sembari berjalan keluar. Ia yang ingat ada Bara di rumahnya itu, melirik sekilas kamar Bara yang tertutup. Setelah itu, ia langsung turun ke bawah.
"Mbok Ira masak apa ya?"
Sasa sampai di lantai 1 rumahnya, ia berjalan ke ruang makan dan mendapati seseorang yang tengah menghidangkan nasi goreng.
Bukan, orang itu bukan Mbok Ira.
"Selamat pagi, sarapan yuk," ujar Bara sembari duduk.
Dengan sedikit melongo, Sasa berjalan ke meja makan. Ia sesekali melirik sekeliling untuk mencari keberadaan Mbok Ira.
"Ini lo yang masak?" tanya Sasa sembari duduk.
"Iya, siapa lagi? Kan cuma ada kita di rumah ini." Ujar Bara sembari meneguk air.
"Kita? lo tuh salah, ada Mbok Ira yang biasa masak dan siapin sarapan," ungkap Sasa.
"Mbok yang waktu itu gua titipin alamat kan?" tanya Bara.
"Iya, lo liat ga? gua dari kemarin ga ketemu," ujar Sasa.
"Kata satpam di rumah lo beliau pulang kampung karena sodaranya ada yang mau jual tanah," ujar Bara sembari melahap makanannya.
"Emang lo ga dikasih tau?" tambah Bara.
"Kapan? kok gua ga tau?" tanya Sasa.
"Mungkin karena lo seharian kemarin pergi, dan beliau buru-buru, jadi ga pamit," ungkap Bara.
Sasa nampak berfikir, kenapa Mbok Ira tak menunggu kedatangannya sebelum pulang? Tidak biasanya Mbok Ira menghindar untuk berkomunikasi.
"Bentar gua mau tanya satpam dulu," ujar Sasa sembari bangun dari duduk.
"Eh, nanti aja. Sarapan dulu, kalau udah dingin ga enak," ujar Bara.
Sasa lalu kembali duduk, ia mulai mengambil sendok yang ada di piring dan menyuap nasi goreng itu.
"Enak ga?" tanya Bara menatap Sasa.
Sasa mengangguk. Nasi goreng ini benar-benar enak, seperti ada rasa khas dari setiap bumbu yang dipadukan. Sasa lalu melahap kembali nasi goreng buatan Bara itu.
"Oh iya, kabar nyokap lo gimana?" tanya Sasa.
"Udah sampe Singapura, tapi masih belom sadar, rencananya 2 hari lagi bakal dilakukan cara lain untuk mengatasi sistem tubuh yang mulai menurun," jelas Bara.
"Kemarin lo udah di telfon bokap lo?" tanya Sasa.
"Udah, gua juga udah dikabarin langsung sama dr. Kimo, salah satu dokter yang jadi sahabat Ayah di rumah sakit," jelas Bara.
Satu per satu suapan masuk dengan mudah sembari mengiyakan ucapan Bara. Rasa nasi goreng ini benar-benar sempurna ditambah lagi cuaca yang cerah pagi ini
"Lo ternyata bisa masak ya?" celetuk Sasa sembari meneguk air.
Bara meletakkan sendoknya karena sudah selesai makan. Ia lalu minum untuk melepas dahaga.
"Gua sebenarnya cuma bisa masak nasi goreng sih," ungkap Bara.
"Serius?" tanya Sasa memastikan.
"Iya, emang kenapa?" tanya Bara.
Sasa tertawa kecil. Ia lalu meledek Bara atas pernyataannya.
"Bisa bosen dong, calon istri lo nanti makan nasi goreng terus," goda Sasa.
Bara menatap Sasa dengan dalam. Ia kemudian tersenyum.
"Emang lo bakal bosen?" tanya Bara.
"Uhuk!!" Sasa meneguk air yang ada di sebelahnya. Ia melepas tersedak karena pertanyaan Bara.
"Oh iya, ketawa lo bagus," ujar Bara sembari mengemas piring.
Sasa yang mendengar itu malah dibuat salah fokus. Kenapa Bara yang tadinya dingin bisa selumer ini?
Sasa meneguk air dengan tatapan menatap ke arah lain. Ia merasa kenyang setelah menghabiskan satu porsi nasi goreng. Ia lalu melihat Bara yang sudah mulai membawa piring ke dapur.
"Eh, jangan... Biar gua aja, lo ga usah repot-repot di sini," kata Sasa menahan Bara.
"Ini doang, gapapa," sahut Bara.
"Ga usah," ujar Sasa menahan lagi.
"Gapapa, Sasa!" Bara terus berjalan dan meletakkan piring kotor itu di dapur.
"Ga usah dicuci!!" pekik Sasa.
"Iyaa!!" ujar Bara seraya berjalan ke meja makan lagi.
"Gua mau ke kampus dulu," ujar Bara sembari mengambil kunci mobilnya di atas meja.
Sasa yang masih duduk di ruang makan itu, melihat Bara yang sudah bersiap ke kampus.
"Lo yakin ga mau ke kampus?" tanya Bara.
"...ga dulu deh," sahut Sasa.
"Yaudah, duluan." Bara melangkah pergi meninggalkan rumah Sasa. Sementara, Sasa masih diam melamun di meja.
Saat sedang asik dengan lamunannya, ia lalu teringat berkas yang kemarin ia bawa.
"Berkas, di mobil Bara..." lirih Sasa berlari ke luar.
Baru saja sampai pintu, mobil Bara sudah terlihat keluar gerbang dengan klakson yang masih terdengar.
"Yah, nanti aja deh..." lirih Sasa lagi.
Sasa yang masih berdiri di depan pintu itu, harus masuk karena mendengar suara telfon rumah.
(Dering telfon)
Sasa berjalan ke telfon rumah, dan menjawab panggilan itu.
"Halo, dengan kediaman Ibu Zena?" tanya seseorang di balik sana.
"Iya. Saya anaknya," ungkap Sasa dengan datar.
"Mysa. Ini Bu Bila,"
"Ibu? kok bisa tahu nomor telfon rumah?" tanya Sasa. Masalahnya, nomor telfon rumah ini baru diganti beberapa bulan lalu.
"Satpam kamu yang waktu itu beliin motor yang kasih," jelas Bila.
"Mysa, ibu cuma mau memberitahu kalau surat pengeluaran manajer di 25 kantor cabang sudah selesai di buat," jelas Bila.
"Belum ada orang yang tahu satu pun masalah ini, termasuk Deina tante kamu."
"Apa tante Deina juga harus dikasih surat?" tanya Sasa lagi.
"Mysa, kita sudah bahas soal ini waktu itu, dan kamu sudah setuju, saya tidak punya banyak waktu di sini karena harus mengurus kerjasama hotel kita dengan investor dari Inggris," jelas Bila lagi.
"Saya harus segera melantik kamu secara resmi, sebelum pergi ke Inggris," ungkap Bila.
"Apa ga bisa pelantikan dulu aja, nanti soal pergantian manajer kita bahas lagi?" tanya Sasa yang mulai ragu.
"Kalau peresmian dilakukan lebih dulu, akan ada resiko besar ke diri kamu, tolong ikuti saya."
Sasa menarik nafasnya dengan dalam. Mungkin, Ibunya benar, hanya Bila yang bisa menjadi kunci dalam kasus ini.
"Baik, kapan suratnya akan dibagikan?" tanya Sasa.
"Lusa, tapi saya mohon ke kamu agar tidak mengangkat telfon dari siapapun dulu, karena pasti akan banyak pertanyaan soal ini," jelas Bila.
"Ini semua untuk mempermudah kamu dalam peresmian," jelas Bila.
"Baik, tolong urus pembagian suratnya lusa, dan persiapan peresmiannya dengan baik," pinta Sasa.
"Pasti, peresmian akan dilakukan sekitar satu minggu lagi, kamu mau persiapan baju sendiri atau saya yang akan siapkan?" tanya Bila.
"Saya mau semuanya beres aja," pinta Sasa lagi.
"Baik, saya sangat berharap kamu akan konsisten sampai peresmian nanti, karena saya masih melihat jelas keraguan di dalam diri kamu sekarang," kata Bila.
"..." Sasa menutup telfon itu tanpa menjawab ucapan Bila. Ia benar-benar ragu, meski Deina dicurigai terlibat dalam kasus ini, namun hanya bukti hack yang Sasa pegang.
Bukti itupun masih membuat hati Sasa mendua, apakah ia sudah berada di jalan yang tepat kali ini?