
(Dering Telfon)
Sasa yang sedang tertidur, masih tetap memejamkan mata meski ponselnya berdering.
(Dering panggilan)
"Angkat Sa!!" ketus Ghare yang masih setia di gerbang hotel.
Tanpa menghiraukan, Sasa tetap melanjutkan tidurnya. Ia bahkan semakin pulas karena tahu itu pasti hanya manusia rese yang mengganggunya.
"Gua ga main-main, gua akan di sini Sa!!" ujar Ghare seraya duduk di depan mobilnya.
Ia tetap mencoba menghubungi Sasa yang berada di lantai dua. Yang dihubungi bahkan tetap terlelap.
***
"Ayo dong Pak, angkat..." lirik Bara dengan tangan gemetar.
Dari belakangnya, nampak pria paruh baya berlari dengan mata berkaca-kaca. Bara masih meletakkan ponselnya di telinga.
"Silahkan Pak," ujar salah seorang perawat.
Mata bara langsung menyorot pria itu. "Ze...zeann... Zeannn!!!!" sorak pria itu.
Ia langsung terkulai di atas jenazah putranya. Ponsel Bara yang tadinya di telinga mendadak turun. Ia hanya bisa menatap kosong ke depan.
"Zean, jangan tinggalin Papi, Ze!!"
"Bangunnnn!!!" Fergi berusaha mengguncang Zean.
"Pak, yang sabar ya." Perawat itu lalu berlalu meninggalkan mereka.
Fergi nampak memeluk erat tubuh Zean seraya menangis. Air mata kini menjadi bagian termudah untuk jatuh.
"Hikss...hikkss...hikks..."
Bara perlahan melangkahkan kaki, mendekat dan semakin dekat dengan Fergi. Ia lalu berdiri memandangi Fergi yang masih menenggelamkan kepalanya di dada Zean.
Bara perlahan memegang pundak Fergi. Ia lalu mengusapnya dengan lembut. "Hikss.. Hikkss.. Zeannn... Zee.. Ann... Papi udah kehilangan Mami Ze, jangan kamu lagi," ungkap Fergi.
"Yang sabar Pak, Zean anak yang sangat baik." Bara mengelus pundak Fergi dan mencoba memberi semangat.
Fergi lalu melihat ke arah Bara. Ia memperhatikan dengan seksama wajah anak di depannya itu. "Ikhlasin Zean, Pak." Bara lalu mencoba memeluk Fergi seperti memeluk Arya.
Tanpa sadar, Fergi membalas pelukan itu dengan mata melihat ke wajah putranya. "Maafin Papi, Ze."
Bara mencoba jadi sosok yang dapat menenangkan Fergi saat ini. Ia hanya diam seraya mengusap pundak Fergi.
***
Di langit yang sama di kota Bali, ada Larisa yang tengah menutup laptopnya. Ia lalu melihat ke jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB.
"Huaaaaaa...." Larisa menggeliat.
"Akhirnya proposal untuk besok selesai," ungkapnya seraya memutar kursi ke arah kasur.
Larisa lalu bermaksud berdiri dan segera tidur. Namun, notifikasi pesan membuatnya kembali memutar kursi.
(Dering telfon)
"Siapa nih yang kirim pesan tengah malam," celetuk Larisa.
Ia membuka pesan itu dan tak bisa bicara soal apapun.
'Zean udah ga ada, Larisa!'
Larisa yang baru selesai mengerjakan tugas kuliah itu, lalu membaca pesan yang Bara kirim. "Ze... Ze... Zeann?" lirih Larisa seraya menjatuhkan air mata.
Ia lalu tanpa membalas pesan langsung menangis, "Zean..." ujarnya seraya langsung menelfon Bara.
(Dering telfon)
"Halo Kak... Zean?" tanya Larisa dengan lirih.
'Zean udah meninggal jam 23.45 WIB tadi, Larisa.'
"Zeannn?? Ini ga mungkin, lo bercanda kan Kak?" tanya Larisa lagi.
'Gua ga bercanda, pemakamannya besok sekitar jam 11 pagi.'
"Zeannn... Hikkss..hikkss.."
'Yang tabah ya Larisa, lo harus ikhlasin Zean'
"Hikss...hikss..hikss.. Zean kenapa?" tanya Larisa dengan suara serak.
'Zean...' ujar Bara menjelaskan alasan Zean meninggal.
***
Fergi berdiri dengan mata yang begitu menunjukkan luka. "Iya, terima kasih." Fergi lalu berjalan menuju ambulance yang sudah ada di depan rumah sakit.
Disana sudah ada Bara yang baru saja selesai menelfon. Ia lalu berbalik badan dan menatap Fergi. "Pak..." ujar Bara seraya berjalan mendekat.
"Huhh..." Fergi mendengus lelah. Ia lalu memegang lengan Bara dan menunggu kedatangan Zean.
Bara yang mengerti Fergi sedang berduka itu enggan banyak bicara meski mereka sudah sering bercengkrama di event kampus.
Pikiran Bara tertuju ke Sasa. Ia masih enggan menghubungi karena takut Sasa akan syok, terlebih ia sedang banyak masalah di Bali.
Jenazah Zean pun tiba di depan mereka untuk segera dibawa. Fergi nampak menahan tangisnya. Ia enggan mengeluarkan sepatah kata pun dan memilih melihat jenazah Zean masuk ke dalam ambulance.
"Silahkan masuk, Pak." Supir Ambulance dan perawat memberi arah agar Fergi bisa duduk di dalam ambulance.
Fergi yang hendak masuk itu hanya bisa menoleh ke Bara dengan tatapan kosong sampai pintu ambulance tertutup. "Permisi..." ujar beberapa perawat agar tidak berkerumun di dekat ambulance.
Bara melihat mobil ambulance yang semakin menjauh dari pandangannya. "Mas, ayo kita iringan aja ke rumah Pak Fergi," ujar salah seorang yang sepertinya supir pribadi Fergi.
"Boleh," jawab Bara seraya masuk ke mobil.
Baru saja masuk ke mobil. Bara langsung teringat Sasa. Ia rasanya berat sekali mengubungi wanita itu. "Apa gua telfon aja ya?" tanya Bara.
Ia lalu kembali mengambil ponselnya dan bermaksud menelfon Sasa. Baru saja akan digunakan, ternyata ponselnya tidak merespon.
"Yah, mati lagi, lowbatt."
(Klakson mobil)
Bara langsung meletakkan ponselnya di kursi sebelah dan mengikuti mobil di depannya. "Ga bawa cas an lagi," ujar Bara seraya mengendarai mobil.
***
(Dering telfon)
Ponsel Sasa berdering beberapa kali, ia masih tertidur dan tak merespon.
'Zean meninggal, Sa. Lo sekarang dimana? Besok ke rumah Zean kan?'
Beberapa pesan masuk dari Larisa. Larisa juga beberapa kali menelfon. "Angkat dong, Sa!" ujar Larisa.
Sasa nampaknya sangat lelah sampai tak merespon bunyi apapun.
'Sa? Zean kecelakaan.'
(Dering Panggilan)
Larisa yang saat ini berada di Bali langsung melihat jadwal penerbangan hari ini. Ia mencoba mencari maskapai yang bisa membawanya landing di Jakarta paling awal.
"Keberangkatan jam 05.00 WIB, ini yang paling awal." Larisa lalu segera memesan tiket dan berkemas untuk kepergiannya subuh nanti.
"Gua harus izin Mama pagi ini," ujar Larisa seraya mempacking bajunya.
"Tunggu ya, Ze..." lirih Larisa seraya menarik nafas dalam.
***
Iringan sirene ambulance membawa jenazah Zean kembali ke rumahnya. "Harusnya Papi yang lebih dulu ketemu Mami, Ze." Fergi mengusap lembut bagian kepala Zean yang tertutup kain.
Mobil ambulance yang melaju dengan kencang itu akhirnya tiba di pekarangan rumah Zean. Rumah itu sudah sangat terang dengan banyak kursi di depannya.
Bendera hitam yang tertiup angin membuat Bara tertegun, ia merasa tidak percaya akan semua ini. Mobil ambulance itu akhirnya berhenti dan sirenenya tidak terdengar lagi.
Pintu ambulance perlahan terbuka, nampak beberapa orang berlari mendekat ke arah pintu keluar. "Hati-hati," ujar beberapa orang seraya mengangkat jenazah Zean.
Mobil Bara masuk ke pekarangan dan terparkir rapi. Ia lalu keluar dari mobil tanpa membawa ponselnya yang mati tadi. Bara berjalan mendekat ke rumah Zean.
"Bar...." ujar salah seorang yang juga sedang melangkah masuk ke rumah Zean.
Bara menghentikan langkahnya dan menatap pria di belakangnya. "Abu?" sapa Bara seraya berpelukan.
"Udah lama ga ketemu, lo kenal Zean?" tanya Abu yang merupakan sahabat perhacker-an Zean.
Bara membalas pelukan Abu dan tersenyum getir. "Satu kampus, lo juga kenal Zean?" tanya Bara kembali.
Abu tersenyum getir, ia lalu menarik nafas dalam dan mulai bicara. "Gua pernah satu club misi hacking data sama dia, gua udah kenal dia sejak pertama kali belajar coding."
"Ternyata dunia sempit ya," sahut Bara.
"Iya, gua sedih dengar kabar Zean kecelakaan," ujar Abu.
"Kita sama-sama berduka, ayo masuk ke dalam, liat Zean." Bara lalu merangkul Abu untuk masuk ke dalam.