
Pesawat yang Ghare tumpangi baru saja landing di salah satu bandara yang ada di Bali. Ia melihat jelas pantai Kuta dari atas langit. Matanya mulai melirik ke jendela pesawat.
Ada banyak sekali bule di sini, ia lalu keluar bersamaan dengan penumpang lain. Ghare melirik ke sekitarnya, ia berjalan menuju tempat pengambilan bagasi.
Perlu sekitar 20 menit untuk Ghare dapat menjinjing kembali kopernya. Bandara ini benar-benar ramai. 'Di kota seramai ini, gimana gua bisa temuin wanita itu secepatnya?'
Ghare menderek kopernya dan berjalan keluar bandara. Ia lalu mencari sosok seseorang dari tempat ia berdiri.
"Kemana ya?" tanya Ghare melirik sekitar.
(Klakson Mobil)
Kaca mobil itu terbuka tepat di depan Ghare. "Ghare Adrean?" tanya supir berseragam hijau itu.
Ghare mengangguk tanpa ragu. "Iya, dari driver sayhe ya?" tanya Ghare yang sudah tahu karena ia yang memesan sebelumnya.
"Iya, silahkan naik, bli..." ujar bapak itu.
Ghare membuka pintu dan memasukkan sendiri kopernya ke dalam mobil. "Maaf Bli, kaki saya lagi sakit sedikit, jadi ga bisa bantu angkat koper..." ujar bapak itu.
"Saya bukan orang bali, Pak... Panggil Ghare aja," sahut Ghare.
"Oh, saya juga bukan orang Bali," kata bapak itu.
Bapak itu melihat dari spion depan. "Panggil saya bapak Yugo, dari Semarang..." ujarnya tersenyum.
"Iya, Pak Yugo... Kita kapan jalannya ya?" ketus Ghare.
Bapak itu menggeleng dan kembali melirik Ghare dari spion. "Iya, ini segera jalan..."
Bapak Yugo segera menghidupkan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan bandara. Ghare yang memang ingin menyelesaikan masalah hari ini juga hanya bisa bercengkrama dengan pikirannya.
Sepanjang jalan, ia dipenuhi dengan banyak pertanyaan di kepalanya. Yugo nampak memperhatikan Ghare dari spion.
"Mas Ghare ke sini sendirian?" tanya beliau.
"Yang bapak liat?" ketus Ghare dengan mata tertutup.
"Iyaaaa sendiri," jawab Yugo dengan kaku.
Ia lalu kembali fokus menyetir karena sadar bahwa Ghare adalah tipe cowok yang ketus. "Silahkan diminum airnya, Mas... Perjalanan ini sedikit lama karena jalan utama ada perbaikan..." ujar Yugo.
Ghare hanya diam. Ia tak menghiraukan lagi ucapan Yugo. Ia hanya ingin memejamkan matanya dan melihat kegelapan.
...----------------...
(1 Pesan Baru)
Sasa melihat ponselnya yang berdering pelan, ia lalu membaca satu pesan dari Bila.
'Ibu baru saja sampai Inggris, kamu udah siapin barang menuju Bali? Take care ya.'
Sasa tersenyum kecil membaca pesan itu. Ia lalu mengirim balasan ke Bila.
'Segera saya siapkan, see you again, Bu....'
Sasa meletakkan ponselnya kembali dan melihat ke balkon karena mendengar suara mobil Bara. Ia lalu menunduk ke bawah untuk melihat Bara.
Bara keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah dengan membawa bingkisan. "Saaaa...."
"Saaaasaaaa...."
Sasa yang sadar kalau Bara mencarinya lalu berjalan ke lantai bawah. Ia dapat melihat jelas Bara tengah menuju ke ruang makan. Menyiapkan makanan untuk mereka.
"Saaaa...."
"Iya." Sasa berdiri di belakang Bara yang tengah membuka kantong.
Bara lalu menoleh ke belakang. "Kesukaan lo, pecel lele." Bara memberi ruang agar Sasa dapat melihat jelas.
Sasa berjalan ke arah meja makan dan segera duduk. "Lo pasti belom makan," sahut Bara seraya duduk.
"Kenapa cuma diam?" tanya Bara yang bingung akan sikap Sasa.
"Lo ga berasa lagi cosplay jadi suami gua, kan?" Sasa menatap Bara dengan senyuman.
Bara seketika salah tingkah akan ucapan itu. "Iya... ga juga,... Tapi, emang lo mau nerima gua jadi suami lo?" tanya Bara menatap Sasa balik.
Sasa seketika mengambil nasi dan pecel lele itu tanpa melihat Bara. Bara hanya bisa terkekeh dengan ulah Sasa yang mulai malu.
"Gua beli di tempat yang waktu itu kita makan," ujar Bara mencairkan suasana.
Bara lalu melahap pecel ayam yang tadi ia beli. "Pantes, rasanya sama." Sasa juga ikut melahap yang Bara belikan tadi.
Mereka makan di ruang makan berdua, seperti biasanya. Satu per satu suapan pun menghabiskan nasi di piring keduanya.
"Gua udah beberapa minggu ini ga liat lo pake earphone lagi, kenapa?" tanya Bara seraya bersandar ke kursi.
Ia baru saja selesai makan dan melepas begah di perutnya. Sasa meneguk air yang ada di depannya. "Earphone gua hilang, gua udah coba beli yang baru tapi ga ada yang senyaman earphone gua yang hilang," jawab Sasa.
"Lo udah coba inget-inget ga naruh dimana gitu?" tanya Bara.
Sasa meletakkan gelas yang tadi ia genggam. "Udah, kayaknya ketinggalan di bus atau di mana gitu," sahut Sasa dengan ragu.
"Merek earphonenya apa?" tanya Bara.
"Earphone itu spesial, ga bisa gua sebutin mereknya," jawab Sasa.
Bara menatap Sasa dengan canggung. "Katanya lo mau earphone yang nyaman kayak gitu, beli yang sama ajalah."
"Earphone itu spesial, Bara!" Sasa bangun dari duduknya dan berjalan menuju ruang nonton.
"Apa yang ngebedain earphone itu sama merek yang sama?" tanya Bara yang melihat Sasa dari ruang makan.
Sasa diam sejenak. Ia masih ingat jelas earphone dengan logo 'S' itu diberikan Zean sebagai permintaan maaf karena kejadian sebelum makan malam.
"Gua nanya, spesialnya apa?" tanya Bara seraya duduk di sebelah Sasa.
Sasa menatap lurus ke depan lalu menyalakan televisi. "Earphone itu awalnya biasa aja," jawab Sasa.
"Dia jadi spesial saat Zean nulis inisial gua di sana." Sasa menatap Bara dengan tajam.
"Lo suka sama Zean?" tanya Bara dengan tiba-tiba.
Sasa menelan ludahnya saat tatapan Bara berubah tajam. Ia menatap Sasa dengan sangat serius. "Jawab, lo suka Zean?" tanya Bara lagi.
Sasa tak menjawab. Bara lalu mendekatkan wajahnya ke Sasa. Jarak mereka hanya satu buah jari saja. Hembusan nafas Bara terasa jelas bersamaan dengan degup jantung Sasa yang tak karuan.
"Lo suka sama Zean?" tanya Bara memperdekat jarak mereka. Tangan Sasa perlahan menahan ke belakang. Ia tak mau tubuh Bara menindihnya.
"Spesial bukan berarti suka, gua seneng aja dikasih sesuatu yang gua belum punya." Sasa lalu mendorong tubuh Bara menjauhinya.
Bara terdorong dan tersandar ke sofa itu. Sasa lalu kembali menatap televisi untuk menghilangkan canggung di antara mereka.
...----------------...
Seseorang nampak memantau rumah Zean dari luar pagar. Orang itu melirik sekitar dan memastikan tidak ada yang melihatnya.
Tak lama, sosok Zean keluar dari balik gerbang dengan motor vespa seperti biasa, orang itu kemudian bersembunyi agar tak ketahuan.
Zean berlalu dengan motornya, menyisakan pria itu dengan telfon genggam di tangannya. Ia lalu menelfon seseorang untuk memberi kabar.
"Halo, dia baru aja keluar pakai motor..."
'Ikutin, dan cari tahu dimana tongkrongan dia kalau malam.'
"Siap!"
Pria itu menutup ponselnya dan segera naik ke motor. Ia lalu mengejar sosok Zean di jalan satu arah itu.