Puzzles

Puzzles
Episode 21 - Pertemuan Dengan Zean di Taman



(Suara Alarm)


Bunyi alarm membangunkan Sasa dari tidurnya. Sial, ia lupa mematikan alarm di hari libur. Ia lalu menggeliat dan membalikkan badannya.


Arrgghh!


 


Rasanya sangat malas bangun pagi di hari weekend. Setelah diam sejenak, Sasa lalu memaksa diri untuk bangun dari tidurnya. Ia mengusap mata beberapa kali dan mengumpulkan nyawa dulu.


Perlu waktu sekitar 15 menit untuknya bengong tanpa melakukan apa-apa. Ia lalu mengambil ponselnya dan mematikan alarm yang dari tadi berbunyi.


Sasa berjalan menuju kamar mandi dan tak sengaja melihat tas yang terletak di meja belajarnya. Ia melihat ujung amplop berwarna coklat tersingkap di dekat sleting tas yang terbuka. Sasa lalu teringat kejadian kemarin. Ia mendekat ke tas itu dan merogoh amplopnya.


“Amplop ini,” ujarnya sembari mengambil.


Kemarin rasanya lelah sekali, sampai ia lupa harus membaca isi dari amplop itu. Ia langsung terlelap saat pulang kemarin usai menelfon Larisa.


Sasa memegang amplop itu dan mulai membenarkan posisi duduknya. Ia menegapkan badannya dan membuka lem yang ada pada amplop coklat itu. Jantungnya serasa berdegup kencang. Ia lalu membuka amplop itu tanpa keraguan.


 


Kreek!


Amplopnya sukses terbuka dan Sasa mendapati kertas putih di dalamnya. Sasa lalu membuka lipatan kertas itu dan mendapati pesan di dalamnya. Sasa menarik nafas dalam dan membaca kata demi kata pada kertas itu. Baru setengah halaman saja, ia langsung terbelalak, seolah tak percaya.


Sasa lalu menyelesaikan bacaannya hingga bertemu di satu kalimat yang meyakinkannya bahwa memang benar ini dibuat oleh Zena.


Sasa lalu mengingat Bila, ia sepertinya harus menemui Bila untuk membahas pesan ini lebih lanjut. Ini menyangkut hal besar, terlebih ada banyak siratan dalam surat ini yang Sasa bingung maksudnya apa.


“Bu Bila?” ujarnya sembari mencari kartu nama manajer hotel Gloubel utama itu.


Sasa lalu mengambil tasnya dan mengacak-acak isi dalamnya. Ia lalu menemukan apa yang ia cari. Kartu nama itu berisi nomor telfon dan alamat, agar lebih mudah.


Sasa lalu memutuskan untuk menghubungi terlebih dahulu. Sekedar memberitahu kalau ia akan bertamu.


(Dering Paggilan)


“Halo? Saya Bila.”


“....” Sasa hanya diam.


“Halo, ini siapa ya?” ujar Bila lagi.


"...."


"Halo? Saya Bila ada keperluan apa?" Bila nampak mengernyitkan dahi, ia heran dengan penelfon ini.


Dengan lidah yang berat, Sasa lalu mulai bicara.


“Saya akan ke rumah ibu hari ini,” Sasa lalu menutup telfon itu.


"Mysa?" ujar Bila.


"Mysa? Ini kamu?" Bila melihat layarnya yang sudah tak terhubung lagi dengan penelfon itu.


Dari rumahnya, Bila nampak heran. Namun, ia menyadari pemilik suara itu. Suara yang sejak kecil sudah ia dengar.


Sasa seketika bersiap ke kamar mandi agar dapat langsung ke rumah itu. Perlu waktu sekitar 1 jam untuk Sasa bersiap dan mengeringkan rambut.


Kali ini, ia berpakaian misterius. Ia mengenakan hoodie hitam dan rok pendek. Sasa lalu mengambil masker di lacinya dan memakainya agar tak dikenali siapapun.


Sasa lalu memasukkan beberapa barang ke dalam tas, termasuk ponselnya. Baru saja hendak menutup sleting tas, ponselnya berdering.


(Dering Telfon)


Sasa lalu mengambil kembali ponselnya dan melihat nama yang tertera di sana.


Zeano Pratama.


Sasa mengernyitkan dahinya, menerka ada apa Zean menelfon di pagi hari, libur lagi. Tangannya lalu mengangkat telfon itu.


"Iya, apa Ze?" tanya Sasa.


"Gua tunggu lo di Taman Aexa sekarang,"


"Ngapain? ini baru jam 9 kurang loh," ujar Sasa.


"Ada yang mau gua bahas!"


"Gua ga bisa sekarang," sangkal Sasa.


"Gua udah di sini, hati-hati di jalan." Zean lalu menutup telfonnya.


(Suara telfon terputus)


"Ze..." ujar Sasa.


"Zee.. Halo?" Sasa lalu melihat ke layar ponselnya.


Panggilannya sudah berakhir.


"Huhh... Kenapa sih ni anak!" Sasa membuang nafas dengan kesal. Ia jadi bingung harus mendahulukan yang mana.


Sasa lalu memutuskan untuk bertemu Zean dulu. Ia menghampiri Zean sesuai taman yang disebut tadi. Setelahnya, ia akan langsung ke alamat Bila.


Sasa melirik jam di tangannya, pukul 09.00 WIB. Ia lalu menyandang tas dan menuruni anak tangga, kemudian bertemu dengan Mbok Ira.


Mbok Ira nampak sibuk merapikan makanan di meja. Ia lalu melihat Sasa yang nampak tergesa-gesa.


"Mysa, ini sarapannya." Ujar Mbok Ira merapikan piring.


"Gausah Mbok, saya makan di luar!"


"Loh, makan dulu Mysa..." sorak Mbok Ira.


Sasa tak menghiraukan ucapan itu, ia langsung keluar rumah dan memesan taxi online untuk segera menemui Zean.


***


Sementara, Sasa nampak baru turun dari taxi. Tangannya menyerahkan sejumlah uang. Lalu, berjalan ke dalam taman.


Ada banyak orang yang berolahraga di sini. Ia lalu mencari sosok Zean. Matanya menatap sekeliling, kemana ya Zean?


Sasa terus berjalan hingga menemukan seseorang yang sedang asik melempar batu di pinggir danau. Orang itu, jelas sekali Zean. Terlihat dari postur dan potongan rambutnya.


Sasa lalu mendekat ke arah Zean dan memilih diam di belakangnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh, ia akhirnya datang ke sini sesuai permintaan Zean.


Zean yang belum sadar akan kehadiran Sasa itu masih asik dengan aktivitasnya. Sementara, Sasa enggan sejajar dengannya.


“Ada apa lo ngajak ketemuan di sini?” tanya Sasa sembari menatap belakang punggung Zean.


Tanpa membalik badannya, Zean lalu melempar kembali batu di tangannya sebelum mengutarakan maksud.


Ia tahu suara itu adalah Sasa. Jadi, ia memilih bicara tanpa membalik badan karena pikirannya sedang keruh.


“Gua adalah anak yang sangat dekat sama ibu gua,” lirih Zean menatap ke ujung danau.


"Hampir seluruh hidup gua laluin bareng ibu, meski ayah juga ada di situ, tapi ibu tetap yang pertama,"


Zean terus melempar batu itu ke danau untuk menjernihkan pikirannya dalam bercerita.


“Apapun selalu nyokap, tapi...”


“Semua berubah saat nyokap meninggal,” lirih Zean.


Zean lalu membalikkan badannya ke belakang, ia menatap Sasa dari jauh. Sementara, Sasa yang ditatap hanya diam membisu. Ia memilih mendengarkan dulu arah percakapan ini.


“Gua yang lo liat sekarang, adalah orang berbeda di masa lalu.” Jelas Zean dengan serius.


“Maksud lo?” tanya Sasa dengan nada rendah.


Zean lalu mencoba memperjelas ceritanya agar Sasa paham.


“Gua dulu sangat jauh sama bokap, bahkan jarang banget ngobrol, 180 derajat lah kalo sama ibu gua,” jelas Zean lagi.


“Gua benci bokap karena sering ninggalin nyokap untuk masalah dan urusan kampus,” jelasnya lagi.


“Gua ga suka aja liat orang lebih mentingin urusan kerja dari pada keluarganya!”


“Kenapa sekarang keliatannya hangat banget?” tanya Sasa.


“Berdamai Sa,” ujar Zean mendekati Sasa.


Zean lalu mengambil tangan Sasa dan menyerahkan satu kerikil ke tangannya. Ia menarik gadis itu ke tepi danau.


“Berdamai dengan diri dan masa lalu lo,” ujarnya menyuruh Sasa melemparkan batu itu.


Sasa dengan sigap langsung membuang batu itu.


“Kalau lo ngajak gua ke sini Cuma untuk berbagi kisah sedih biar gua bisa berdamai dengan masalah gua,” jelas Sasa.


“Lo Cuma buang waktu!” ujar Sasa


Sasa lalu menatap Zean dengan tajam dan tidak suka.


“Gua cuma berdamai ketika gua nemuin hal yang jadi sebab dan pelaku pembunuhan nyokap!” bentaknya dengan nada tinggi.


“Kasih gua kepercayaan untuk bisa bantu lo cari sebab itu,” jelas Zean menatap Sasa.


Nampak keraguan dalam mata Sasa. Ia seperti menolak keras permintaan Zean itu.


“Gua harus pergi!” ujar Sasa.


Tanpa menjawab, Sasa lalu berjalan meninggalkan Zean dari taman.


“Apa lo masih ragu sama orang yang udah percaya sama lo?” tanya Zean melihat Sasa dari tepi danau.


Sasa berhenti tanpa membalik badan. Ia hanya mendengarkan ucapan Zean yang panjang itu.


“Ketika gua ceritain hal terkelam dalam hidup gua ke lo, berarti lo adalah orang yang paling bisa gua percaya, Sa.” Ujar Zean.


“Jadi, apa itu kurang untuk buat lo percaya sama gua?” tanya Zean.


Sasa lalu membalikkan badan dan melihat Zean yang sudah seperti putus asa itu.


“Apa pentingnya buat lo ikut campur masalah gua?” tanya Sasa.


“Bahkan hidup lo bisa jauh lebih tenang kalau ga nanya-nanya masalah gua!” tegas Sasa.


“Gua pengen bantu lo berdamai dengan masalah, dan gua tau caranya adalah mecahin puzzles yang udah rumit.” Jelas Zean lagi.


“Dengan kepercayaan dari lo, gua bisa terlibat dalam masalah lo, dan gua akan bisa bantu lo,” jelas Zean.


Sasa mencoba mencerna perkataan Zean, apakah ia harus mulai berbagi masalah? Bahkan Zean adalah orang baru dalam hidupnya. Apa ini akan memperbaiki keadaan? Atau malah memperumit saja?


“Urus masalah lo sendiri, Ze!” ujar Sasa tanpa mengiyakan perkataan Zean.


“Sa, apa lo ga bisa pertimbangin ini?” tanya Zean lagi.


“....”


Sasa terus berjalan menjauh dari danau. Meninggalkan Zean di sini bersama fikirannya yang kusut. Ia bahkan tak tersentuh sedikitpun dengan kisah Zean. Baginya, kisah terkelam hanya jatuh di kehidupannya saja.


Sasa lalu berjalan meninggalkan taman, kali ini ia memilih langsung menuju rumah Bila naik taxi online karena malas menunggu bus.


Selang beberapa menit, taxi datang dan Sasa naik ke dalam. Dalam duduknya, ia memikirkan apakah ia terlalu dingin ke Zean yang ingin sekali membantunya? Apakah ini terlalu jahat?


Tak bisa dipungkiri, hati Sasa mengatakan bahwa Zean tulus ingin membantunya. Tapi, kenapa dia sulit menerima?


Sasa duduk di mobil sembari melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Sudah mulai siang, ia lalu memasang earphonenya untuk meredam bising di kepalanya.


Hanya dengan musik, sorakan masalah akan berkurang atau malah beradu bunyi tentang siapa yang paling menggema di kepala.


Apapun itu, earphone seolah sudah jadi teman bagi Sasa sejak kepergian ibunya. Saat ini, kepalanya dipenuhi ucapan Zean. Apa ia harus menerima Zean dalam misi puzzles ini? Atau menyelesaikannya sendiri?