
Ghare turun dari mobil yang tadi ia tumpangi di sebuah hotel bintang 3. Ia melihat sekeliling yang sudah gelap. "Sial!" ketusnya dengan emosi.
"Permisi, saya akan membawa koper dan barang bawaan lainnya ke kamar, Tuan..."
Ghare menatap pria di hadapannya dengan datar. "Ayo, ikuti saya.." ujar pegawai hotel itu.
FYI, Ghare sebelumnya sudah memesan kamar dengan servis terbaik di sebuah hotel. Untuk itu, Ghare langsung bisa mendapatkan fasilitas kendaraan beserta supir, pelayanan kamar, dan sebagainya.
Ghare mengikuti langkah pria yang menjinjing barang bawaannya itu. Mereka masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai 6.
Hening, hanya ada mereka berdua di dalam lift itu. Selang beberapa menit, mereka keluar dari lift saat pintu terbuka.
"Kamar tuan ada di paling ujung, nomor 23... Ini kartu untuk membuka pintu kamar," ujar pria itu yang baru saja tiba di depan kamar Ghare.
Ghare mengambil kartu itu dan membuka kamar yang sudah ia pesan. "Barangnya taruh di situ aja," ujar Ghare tak mempersilahkan pria itu masuk.
"Yang benar, Tuan?" tanya pria itu.
"Iya, biar saya yang bawa." Ghare lalu mengambil alih koper itu.
"Baik, ini kartu pengunjung atas nama Ghare..." seraya menyerahkan kartu kecil.
"Saya pamit, kalau ada keperluan silahkan tekan bel yang ada di kamar."
Ghare mengangguk. "Baik, Terima kasih..."
Pria itu lalu pergi meninggalkan Ghare. Kini, Ghare memegang beberapa barang dan segera menutup pintu.
Ia lalu masuk ke dalam kamar yang lumayan luas itu. "Huh!! ini di luar prediksi gua!" ketus Ghare meletakkan kopernya.
Ghare melihat kartu pengunjung di tangannya. Di sana, ada nama dan alamat hotel. Ia lalu teringat akan nama dan alamat yang berbeda di kartu nama Deina.
"Jl. Pandawa Pura... Hotel Heylo..." Ia lalu meletakkan kartu pengunjung itu di kasurnya.
"Gua jadi harus nunggu sampai besok untuk ke Gloubel Bali, karena di map jaraknya jauh." Ghare lalu kembali membuka ponselnya.
"Butuh waktu 45 menit lagi untuk sampai ke Gloubel Bali," kata Ghare dengan raut kesal.
"Gua akan coba besok," ujar Ghare seraya melempar ponselnya ke kasur.
Ia lalu berbaring serata istirahat sejenak di kasur empuk itu.
...----------------...
Zean memarkir motornya di sebuah kedai kecil pinggir jalan. Ia lalu memanggil empunya warung dengan nada rendah.
"Bim.. Bimaaa..." sorak Zean seraya duduk di kursi kayu.
Kedai itu nampak berdiri sendiri tanpa ada kedai lain di kiri dan kanannya. Jalanan di sini juga cukup sepi.
"Eh, ada orang kaya!" ketus Bima dengan nada menyindir.
Bima keluar dan ikut duduk di sebelah Zean. "Iyadeh, yang lebih kaya!" ujar Zean seraya terkekeh.
Zean lalu mengambil sebuah kopi kaleng yang ada di depannya. "Gimana, udah ada kabar tentang wanita itu belum?" tanya Zean sedikit berbisik.
"Masih belum, data palsu yang lo kasih, ngebuat gua susah dapetin ip ponselnya yang akurat," jawab Bima dengan kecewa.
"Kalau pakai data dia yang asli gimana?" tanya Zean lagi.
"Man, lo tau lah... Data palsu yang terlalu banyak ngebuat sistem hack jadu sibuk pas diretas ke sistem yang asli," jelas Bima.
Zean mengangguk dengan kecewa. "Lo kan suhunya dalam retas data palsu," ujar Zean lagi.
"Lo tenang aja, karena gua suhunya... Lo pasti tahu cepat atau lambat gua akan dapetin bukti soal wanita tua itu."
Zean meneguk minuman di tangannya. Ia lalu menatap kosong ke jalanan. "Btw, gua udah kenal lo lama banget, dari SMP."
Zean mendengarkan ucapan Bima seraya minum. "Lo jago banget hack dan ga pernah mau bagi ilmu itu secara umum, lo selalu rahasiain identitas freelance lo," jelas Bima lagi.
"Terus?" tanya Zean menatap Bima.
"Mbok Ira," ujar Zean dengan datar.
"Nah, iya... Lo butuh informasi itu untuk siapa?" tanya Bima menatap Zean.
Zean tersenyum kecil. Bima yang melihat itu, pasti sudah tahu apa yang ada di pikiran Zean kali ini.
"Nah, makin penasaran gua, apa yang bisa buat lo sampai senyum-senyum sendiri kayak gini nih?" tanya Bima lagi.
"Ada satu alasan yang berarti buat gua, tapi gua ga bisa kasih tahu lo sekarang, next time pasti gua akan cerita," jelas Zean lagi.
Bima yang mendengar itu langsung tertawa dan menepuk pundak Zean. "Zean... Zean... ga pernah berubah lo kalau soal rahasia, selalu pakai taruhan kinerja," celetuk Bima.
"Hehehe, iyalah... Kasih info dulu soal Mbok Ira, gua akan cerita soal alasan di balik ini semua ke lo," ujar Zean dengan sinis.
Bima hanya bisa tertawa dengan ucapan Zean. "Iyaa, harus kerja dulu ya?" sindir Bima.
Zean mengangguk dan ikut tertawa. Ia lalu meneguk minuman yang ada di tangannya. "Iya deh, iya... Kerja dulu nih, bos!!" Bima lalu masuk ke dalam kedai kecilnya.
Dari balik pohon di dekat kedai, nampak seorang pria tengah memantau Zean dan Bima. Pria itu melihat jelas Zean yang kini duduk sendiri di depan kedai.
"Lo masih kuliah?" tanya Bima dari dalam kedai.
"Masih, cuman lagi banyak bolos aja!" tegas Zean.
"Bapak lo kan rektornya, bolos perminggu kan juga masih aman."
Zean melempar kaleng yang ada di tangannya itu ke tong sampah. "Ga gitu juga, bro!"
"Ya, paling enggak lo aman lah dari pada yang lain." Bima melipat tangannya dan melihat Zean.
Mata Bima tanpa sengaja melihat sesuatu yang bergerak di balik pohon. Ia menatapnya dengan fokus agar tahu sosok di balik itu.
"Bim, lo kenapa ga buka cafe aja sih?" tanya Zean.
Bima yang diajak ngobrol itu nampak diam, matanya terus menyorot sosok di balik pohon. Pria di balik pohon itu menyadari kalau dirinya disorot, ia lalu segera mengumpat agar tak ketahuan.
"Bim?" tanya Zean lagi.
Zean yang merasa tak direspon itu mengikuti arah mata Bima. Kosong, tidak ada apapun di dekat mereka. "Ngeliat apaan sih?! BIMAA!!!" sorak Zean dengan keras.
"Eh--i--iya, kenapa?" Bima lalu menatap Zean dengan sesekali melirik ke arah lain.
"Lo ngeliat apaan sih?" tanya Zean melihat sekeliling.
"Ga ada, lagi ngantuk aja, jadi kurang fokus..." ujar Bima.
"Lo emang tidur jam berapa?" tanya Zean.
"Ga penting, tadi lo ada ngomong sesuatu ya?" tanya Bima.
"Oh, itu... Gua nanya kenapa lo ga buka cafe aja?!" tanya Zean.
"Ga ada modal." Bima lalu menatap Zean dengan serius.
Zean melempar bingkisan kue kecil ke muka Bima. "Ga usah sok serius lo, bapak lo kaya anying!!" ketus Zean.
"Kan bapak gua yang kaya!" ketus Bima lagi.
"Makanya, minta modal dong... Lo kan anak tunggalnya dosen di kampus elit surabaya," jawab Zean lagi.
"Gua lebih suka nge-hack di sini," jawab Bima lagi.
"Makanya, gua gamau buka cafe... Lo kan juga tahu kalau warung kecil ini cuma kedok?" tanya Bima.
"Iya, siapa juga yang mau jajan di sini, sepi banget kayak..." ujar Zean.
"Gausah ngomong macem-macem deh lo!" ketus Bima.
"Hahhaa, iyaaa deh..." Zean lalu menatap Bima dengan wajah cerianya