Puzzles

Puzzles
Episode 73 - Welcome Bali



Ghare yang dari tadi duduk di taxi akhirnya sampai ke alamat yang di tuju. Ia berhenti tepat di depan rumah mewah bernuansa hijau itu. Ada pagar tinggi berwarna silver.


Ghare turun dari taxi itu setelah membayar. Ia memilih untuk tidak ditunggu kali ini. Ghare mendekat ke pagar untuk mencari bel di rumah ini.


"Permisi," ujar Ghare seraya menekan bel.


Ia beberapa kali menekan bel yang ada di tembok pagar sebelah kanan. "Permisi," ujar Ghare lagi.


Tingg!! Ting!!


"Permisi!!!" sorak Ghare lagi.


Ghare sedikit mengintip ke rumah itu, pintunya tertutup rapat. Tidak ada orang yang keluar dari situ sejak tadi.


Ghare melirik rumah yang berdampingan dengan rumah ini. Semua rumah pagarnya terkunci. Hanya ada mobil yang letaknya di depan bagasi.


"Permisi!!" sorak Ghare lagi dengan suara bel setelahnya.


Tetap tidak ada jawaban. Tak lama, seseorang keluar dari rumah yang berada di sebelah rumah ini.


Krekk!!


"Nyari Deina, Bli?" tanya wanita tua yang baru saja keluar.


"Permisi Buk, saya cari Deina... Tapi, dari tadi dipanggil ga ada respon."


"Deina nya lagi ke kantor, tadi dia titip pesan kalau ada yang nyari suruh tunggu di depan rumah aja, atau kalau mau tunggu di sini juga boleh."


Ghare menggeleng. "Saya tunggu di sini aja, Bu... Makasi ya," jawab Ghare.


"Iya, saya masuk dulu ya."


Ghare mengangguk. Ia lalu kembali melihat rumah Deina dengan pagar yang terkunci. "Udah jam setengah 12, apa gua gagal lagi ya untuk selesain masalah hari ini?" tanya Ghare.


Ghare lalu membuyarkan pikirannya dan memutuskan mencari warung untuk membeli minuman. "Gua ke warung dulu aja deh," jawab Ghare.


Ghare meninggalkan rumah mewah itu dan berjalan menyusuri perumahan ini. "Dimana ya warung?"


Ghare terus berjalan hingga bertemu dengan satu stand minuman yang berada sejajar tak jauh dari rumah Deina.


"Permisi," ujar Ghare seraya duduk di kursi yang ada.


"Siang Bli, mau pesan apa? Silahkan dipilih," ujar pria itu seraya menyodorkan buku menu.


Ghare mengambil menu itu dan memilih apa yang hendak ia pesan. "Hari ini ada diskon 30% karena tepat perayaan stand kami yang ke 365 hari atau satu tahun, Bli."


Ghare terus memilih seraya mendengarkan ucapan orang di depannya. "Jadi, silahkan dipesan dan dapatkan diskon."


"Saya mau ini 1, itu aja." Ghare kembali menyerahkan buku menu itu.


"Silahkan ditunggu, Bli. Terima kasih," jawab pria itu.


Ghare hanya tersenyum kecil kepada pelayan di depannya itu. Ia lalu melirik jalan masuk ke rumah Deina. Ia ingin memantau jika ada mobil yang masuk ke dalam.


...----------------...


Setelah perjalanan panjang, akhirnya pesawat yang ditumpangi Sasa landing juga di bandara Bali. Semua penumpang turum secara bergantian untuk mengambil bagasi masing-masing.


'Pengambilan bagasi dapat dilakukan pada lobi A-8.'


Sasa keluar dari dalam pesawat dengan earphone di telinganya. Earphone yang ia pakai kali ini hanya earphone polos berwarna hitam. Earphone yang ia pakai pada saat usianya masih 13 tahun.


"Terima kasih sudah memilih maskapai kami," ujar pramugari yang ada di depan pintu kepada orang yang keluar dari pesawat.


Sasa berjalan keluar menuju lobi A-8 untuk segera mengambil kopernya. Baru saja tiba, belum ada koper yang keluar dari mesin di sana. Sasa terpaksa harus sabar menunggu.


Ia yang masih setia menunggu koper itu memilih merogoh ponsel dan mengaktifkannya. Saat ponsel itu sudah aktif, Sasa tidak membuka pesan. Ia langsung menyimpan ponsel itu.


Sasa merogoh kopernya yang sudah keluar dari mesin berjalan. Ia segera menderek dan naik di atasnya. Sasa menekan tombol otomatis agar koper itu dapat membawanya keluar bandara.


Saat baru keluar dari bandara, Sasa melihat jelas papan putih bertuliskan namanya. Ia tahu itu adalah utusan dari hotel gloubel di Bali.


Sasa menghampiri pria yang tengah berdiri di sana. Ia lalu melepas earphonenya dan turun dari koper.


"Nona Sasa? Ayo, naik ke mobil." Pria itu menyimpan papan itu dan langsung mengangkat koper Sasa.


"Ayo, Nona..."


Sasa berjalan mengikuti langkah pria itu. "Kenapa bapak bisa kenal saya?" tanya Sasa.


Pria itu membukakan pintu mobil untuk Sasa.


"Ayo, masuk dulu Nona." Sasa enggan masuk karena ingin tahu alasan kenapa beliau kenal dengan Sasa.


Supir itu lalu memasukkan koper ke bagasi. Ia kemudian menghampiri Sasa yang masih berdiri di samping pintu.


"Saya sudah di kasih foto Nona satu bulan sebelum keberangkatan Nona ke sini," jelasnya lagi.


"Hah, siapa yang ngasih?" tanya Sasa.


"Bu Bila, manajer pusat." Pria itu lalu kembali mempersilahkan Sasa untuk masuk.


Sasa menggeleng karena ternyata Bila sudah mempersiapkan ini semua untuknya. "Kita akan segera melaju menuju alamat Nona Deina, soal barang bawaan biar saya yang serahkan ke hotel."


"Saya percaya Bu Bila pasti udah atur yang terbaik selama saya di sini," jawab Sasa.


"Baik, Nona... Mari kita mulai perjalanan," ujar pria itu segera melaju.


Sasa yang kini sedang duduk di dalam mobil itu, melirik sekeliling yang ia lewati dari jendela. "Welcome Bali, Nona."


"Thanks ya, Pak."


Sasa kembali melirik jalanan yang ia lewati, ia lalu mengeluarkan ponselnya untuk memotret suasana Bali.


"Apa Nona mau kita berhenti sebentar untuk foto langit?" tanya pria itu.


"Ga usah, Pak... Lanjut aja," jawab Sasa.


Sasa yang baru saja memotret itu lalu melihat hasil jepretannya. Ia tanpa sadar melihat notif panggilan tak terjawab.


"Bara," ujar Sasa seraya mengklik pesan dari Bara.


Sasa membaca pesan itu dan tak membalasnya. Ia lalu membuka kontak dan mencari nomor Bila untuk dikirimi pesan.


'Saya sudah di Bali, Bu... Servisnya baik.'


Sasa lalu kembali membuka kontak dan mencari nomor Zean di sana. Ia membuka kolom pesan dan mengirimkan foto yang tadi ia ambil.


'I'm in Bali right now!' (+ one pict.)


Sasa tersenyum kecil dan kembali melihat pesan yang Bara kirim. Ia sesekali mengetik pesan di sana, dan kembali menghapusnya. "Gua ga mau ganggu kesibukan lo, Bar."


Baru saja mengirim pesan ke Zean, Sasa langsung mendapat balasan. 'I'm happy your landing in safe. Stay happy in Bali ya!'


Sasa lalu kembali membalas pesan itu dengan kalimat 'Trust me, see you in Jakarta ya!'


Sasa lalu menyimpan ponselnya dan kembali memasang earphone hitamnya itu. "Musicnya di off aja, Pak. Saya mau pakai earphone."


"Baik, Nona." Pria itu mematikan musik yang tadi terputar.


Sasa lalu mengeraskan volume earphonenya dan memejamkan mata.


'Mysa sudah ada di Bali, Ma.'


'Tepat di kota dimana ada pembunuh Mama di sini.'


Ia lalu memejamkan matanya untuk mempercepat waktu. Semoga saja, hari ini akan baik sesuai rencana yang ia bawa dari Jakarta.