
Siang ini, Bara baru saja selesai kuliah. Ia melirik jam di tangannya yang sudah pukul 15.00 WIB. Sudah menjelang sore untuk makan siang.
"Mau makan dulu ga, Bar?" tanya Hanum.
Bara yang sebenarnya lapar itu, malah menolak. "Ga dulu, gua buru-buru."
Hanum nampak kecewa dengan Bara. Sementara, Bara yang tidak mau diganggu itu langsung berjalan menuju parkiran. Ia kemudian masuk ke mobilnya dan segera berlalu.
Di sisi lain, Sasa tengah menuju ke Hotel Gloubel dengan taxi online. Ia menyimpan earphonenya di tas karena akan berbicara dengan Bila.
Setelah sampai, Sasa turun dari taxi. Ia kemudian berjalan ke dalam hotel.
"Siang, Mysa..." ujar Satpam itu.
Sasa tersenyum dan segera berlalu. Ia masuk dan melewati resepsionis.
"Siang, Nona..." ujar beberapa pegawai di sana.
Sasa tersenyum tanpa menjawab. Ia langsung berjalan ke lift untuk menuju ruangan Bila dengan berkas di tangannya.
Sasa menunggu beberapa saat hingga pintu lift terbuka, ia lalu keluar dan berjalan ke depan pintu ruangan Bila.
"Siang, Nona.." ujar pegawai yang ada di sana sembari membungkuk.
Sasa tersenyum lagi, dan segera membuka pintu ruangan itu. Ia lalu masuk dan mendapati Bila yang tengah duduk di kursinya.
"Selamat siang, Mysa... Silahkan duduk," ujar Bila sembari ikut duduk di ruang santai.
Sasa berjalan dengan berkas di tangannya. Ia lalu duduk dan meletakkan berkas itu di pahanya. "Saya akan telfon ob dulu untuk buatin minum," ujar Bila.
"Ga usah, Bu... Saya ga haus," ujar Sasa.
"Gapapa, CEO harus dikasih hidangan haus atau tidaknya," ujar Bila.
"Beneran, gausah Bu..." ujar Sasa lagi.
Bila mendengus dan meletakkan ponselnya di meja. Ia lalu melirim berkas di paha Sasa, tapi enggan bertanya.
"Ada informasi penting apa, Bu? Sampai ga bisa dibicarakan lewat telfon?" tanya Sasa.
Bila menarik nafas dalam. Ia lalu nenatap Sasa dengan serius. "Deina masih bekerja sebagai manajer di Hotel Gloubel Bali," ujar Bila.
"Ha? Bukannya semua manajer cabang sudah dapat surat?" tanya Sasa.
Bila mengangguk. "Sepertinya Deina sengaja mengabaikan perintah pada surat itu, bahkan dia berani melarang manajer baru utusan Gloubel pusat untuk bertugas di sana," jelas Bila.
Sasa menggeleng akan ulah Deina. "Informasi ini saya dapati langsung dari manajer yang kemarin kita kirim sebagai pengganti Deina," jelas Bila.
"Sudah berapa lama dia bekerja pasca PHK?" tanya Sasa.
Bila merogoh ponselnya dan mencari sesuatu di sana. Ia lalu menyerahkan ponsel itu ke Sasa. "Itu rekap absen Deina selama PHK, di sana tidak terlihat tanda ketidakhadiran," jelas Bila.
Sasa melihat jelas bahwa Deina selalu masuk bekerja. "Apa ini alasan Deina tidak pernah menghubungi atau protes ke saya soal pemecatan?" tanya Sasa.
"Iya, dia beranggapan bahwa surat itu tidak ditujukan ke keluarga," jawab Bila.
"Dan salah satu alasan lain, dia tidak mengbunungi kamu selaku CEO adalah agar tidak ada yang tahu kalau dia masih bekerja," jelas Bila.
"Jadi, kesimpulannya Deina sengaja kerja diam-diam agar tetap memegang kuasa di Gloubel Bali?" tanya Sasa.
Bila mengangguk. Ia lalu mengambil kembali ponselnya. "Ini harus segera kita atasi, Mysa..."
Sasa terdiam, ia bahkan baru menyadari alasan Deina tidak menghubunginya. "Kalau tidak diberhentikan, gejolak dari mantan manajer di 24 cabang akan timbul kembali."
"Karena mereka tahu, setiap kontrak yang ditekan pada hotel cabang pasti punya keputusan dan peraturan yang sama," jelas Bila.
Sasa hanya diam mendengar ucapan Bila. "Saya berencana kirim surat ulang ke Deina, dan itu hanya bisa dikirim atas persetujuan kamu, Mysa..."
Sasa menatap Bila dengan datar. "Tidak usah, Bu..." ujar Sasa.
"Kenapa? Apa kamu mulai ragu menuntaskan wasiat itu?"
Sasa menggeleng. "Tidak, untuk masalah Deina biar saya yang menemuinya secara langsung."
"Mysa yakin?" tanya Bila.
"Iya, saya yang akan temui Tante Deina dan bicarakan soal ini," ujar Sasa.
"Saya minta Ibu fokus saja mengurus kerjasama dengan investor di Inggris."
Bila menyetujui permintaan Sasa. "Baik, bicara soal Inggris, saya akan berangkat lusa."
"Apa Mysa bisa ikut mengantarkan?" tanya Bila lagi.
Sasa mencoba mengingat jadwalnya. Ia kemudian ingat bahwa sudah ada janji dengan Larisa. "Maaf Bu, saya sudah ada janji... Tapi, saya akan pastikan semua kebutuhan Ibu selama di sana nanti akan dicover oleh kantor."
Bila mengangguk. "Terima kasih, Mysa... Saya yakin kamu bisa menghandle semuanya selama saya satu bulan di Inggris."
Sasa mengangguk. Ia kemudian menggenggam kembali amplop yang ada di pahanya. "Kalau ada apa-apa silahkan kabari saya, Bu.."
Bila berdiri dan tersenyum ke Sasa. "Mari, saya antar..." ujar Bila.
Sasa mengangguk dan berjalan bersama Bila ke luar ruangan. Ia kemudian masuk ke lift dan menuju ke lantai dasar.
"Sebentar, saya akan panggilkan supir kantor," ujar Bila sembari berjalan.
"Ga usah, Bu... Saya naik taxi aja," jawab Sasa.
"Nanti kamu kenapa-napa, sama supir aja."
Sasa meyakinkan Bila. "Ga usah, Bu... Ini saya udah pesan taxi kok, bentar lagi sampe."
"Kamu yakin?" tanya Bila. Sesaat taxi yang ditunggu pun tiba.
"Itu, mobilnya udah dateng, saya pamit ya, Bu..." ujar Sasa.
"Iya, hati-hati, Mysa..." Bila tersenyum dan melambaikan tangan.
...----------------...
Bara yang baru selesai memarkir mobilnya itu, lalu keluar dari mobil dan masuk ke rumah. Bara membuka pintu dan tiba di ruang tamu.
"Saaa..." ujar Bara sembari berjalan ke ruangan yang ada di rumah.
"Sasaaa..." Bara melihat rumah yang nampak hening, ia kemudian berjalan ke ruang makan dan kosong.
"Tidur kali ya," ujar Bara seraya berjalan ke kamar tamu.
Bara mengetuk pintu kamar tamu, tidak ada jawaban. Ia kemudian membuka pintu yang tidak dikunci itu. "Sasaaa?" ujar Bara sembari masuk.
Bara melihat sekeliling, nampak kosong. Yang Bara lihat hanya baju kaos kemarin yang telah Sasa lepas. "Sasa?" ujar Bara menyentuh baju itu.
Bara seketika langsung menuju kamarnya, ia bermaksud ingin mengambil beberapa barang dan pergi mencari Sasa.
Bara masuk dan berjalan mengambil beberapa buku. Saat sedang berbenah, Bara tidak sengaja melihat kertas yang tadi Sasa tulis.
'Gua pergi dulu, makasi tumpangannya, sorry kalau lo marah sama ucapan gua kemarin.'
Bara seketika tersentak. "Apa Sasa kembali ke rumahnya ya?" tanya Bara.
Bara bergegas memasukkan buku ke tas dan memegang kertas itu. Ia lalu berjalan ke luar rumah untuk mencari Sasa.
Bara masuk ke mobil dan segera menuju rumah Sasa. "Sasa, lo pasti salah paham..." ujar Bara sembari mengendarai mobilnya.
...----------------...
Sasa turun dari taxi online tepat di sebuah perpustakaan terbuka. Ia membayar dan segera berjalan masuk ke perpustakaan itu.
"Silahkan kak, batas waktu hanya sampai jam 18.00 WIB," ujar pegawai di sana.
Sasa melirik ke jam yang ada di tembok perpustakaan itu, sudah pukul 17.00 WIB. Ia lalu masuk ke dalam dan mencari kursi kosong untuk duduk.
Sasa ke sini untuk kembali membaca berkas yang ia bawa. Ia duduk dan membuka berkas itu. Ada beberapa informasi soal pernikahan Deina di sana.
'Pernikahan Sirih, 28 Agustus 2000,'
"Di sini cuma ada data pernikahan, apa mereka udah bercerai ya?" tanya Sasa.
Sasa kembali membaca berkas itu. Hanya ada informasi seputar tanggal di sana. "Gua harus cari tau soal ayah Ghare," ujar Sasa sembari meletakkan kertas itu.
(Dering telfon)
Sasa merogoh ponselnya, ia lalu milihat nama yang tertera di sana.
"Halo, Zean?" ujar Sasa dengan nada pelan.
'Halo, lo kenapa bisik-bisik?'
"Gapapa, lagi di perpustakaan terbuka," jawab Sasa.
'Gua mau ngasih tau, kalau tadi Larisa ga dateng ke kampus.'
"Ha? Ga biasanya dia libur," jawab Sasa.
'Gua curiga dia pindah tanpa konfirmasi ke kita, gimana kalau kita cek ke rumahnya aja?'
"Boleh sih, nanti kita ketemuan di rumahnya aja."
'Gua yang jemput lo, lo di perpustakaan terbuka deket Mall kan?'
"Iya, yang deket rumah lo,"
'Yaudah, 5 menit.' Zean lalu menutup telfon dan segera bersiap menuju perpustakaan terbuka.
Sasa membereskan berkasnya untuk segera pergi. Ia harus menemui Larisa sekarang karena jika tidak akan ada masalah baru lagi.