
Pagi ini, Ghare tidak ke kampus. Ia masih tertidur lelap di kasur empuk miliknya. Di rumah yang hanya dihuni sendiri itu, tiba-tiba masuk seseorang.
Pria itu langsung menerobos pintu. Ia tak mengetuk apalagi menunggu Ghare membuka pintu.
"GHAREEE?!!" sorak Pria itu berjalan ke kamar Ghare.
Ghare yang masih ada di alam mimpi, bukan alam barzah ya, belum membuka mata. "Gharee?!!!" sorak pria itu yang semakin dekat dengan pintu kamar Ghare.
"Ghareee?!!!" ujar pria itu sembari membuka pintu kamar Ghare.
Pintu yang terkunci, membuat pria itu beberapa kali mencoba membukanya. "Gharee?" ujarnya sembari mengetuk dengan keras.
Tokkkk!!
Tokkk!!
Ghare yang kaget itu, lalu perlahan membuka matanya. Nyawanya masih belum terkumpul. Ia lalu kembali menyimak nada suara itu.
"Papi tau ya kamu di dalam, buka!!" ketus ayah Ghare yang sedari tadi di depan pintu.
Mendengar itu, Ghare langsung berdiri. Ia tak peduli dengan mata yang masih berkunang. Ghare segera berlari ke pintu dan memutar kunci.
Krekk!!
Baru saja membuka pintu, tamparan langsung mendarat di pipi Ghare.
Plakkkk!
Ghare seketika menyentuh pipinya yang mulai memanas. "Pi,..." lirih Ghare menatap pria yang sudah lama tidak bertemu dengannya itu.
Pria itu diam. Emosinya jelas memuncak. Wajahnya nampak semakin menghitam. "Papi baru nyampe? Duduk dulu Pi, ayo..." ujar Ghare seraya menyentuh pipinya yang masih panas.
"Ga usah basa-basi! Kamu tuh ya, jam segini aja baru bangun?!!" ketus ayah Ghare.
Ghare menatap ayahnya dengan cemas. "Ghare bangun siang karena hari ini free kuliah, Pi."
"Alasan kamu aja untuk malas-malasan, kamu emang ga pernah bisa bantu apa-apa!" bentaknya lagi.
"Beneran, Pi.. Maksud Papi ngomong gitu apa?" tanya Ghare.
"Halah! to the point aja ya, Papi udah tau kalau kamu gagal kan jalanin misi itu?" tanya ayahnya.
"Ghare udah jal––"
"Gausah nyangkal, tadi Papi udah hubungin rektor kamu, dan dia bilang kerjasama tetap tidak bisa dilanjutkan!" ketus ayah Ghare.
Ghare hanya diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa kali ini. "Kenapa? Kenapa jalanin misi kecil aja kamu ga bisa?"
"Kemarin ada kendala, Pi... Ghare udah temenan kok sama anak rektornya, tapi––"
"Tapi, kamu tetap ga bisa bantu kan? Kamu emang bisanya jadi beban keluarga doang!!!" bentak pria itu dengan nada tinggi.
Ghare yang mendengar itu seketika tersulut emosi. Ia sudah lelah sekali dengan semua ini. "Keluarga? Keluarga yang cuma di isi sama dua orang?" sindir Ghare dengan tatapan tajam.
"Jaga mulut kamu Ghare!!!" ketus pria itu.
"Ghare ga pernah tuh rasain punya keluarga, bahkan sedetik pun!" bentak Ghare.
Pria itu mulai menatap Ghare dengan tajam. "Kamu seharusnya bersyukur! Tanpa Ibu kamu pun, kamu masih bisa numpang hidup sama Papi!"
"Numpang? Papi nganggep aku orang lain?" tanya Ghare dengan raut bertanya.
"Kamu jangan asal bicara ya!" bentak pria itu.
"Papi yang asal bicara!" ketus Ghare.
Plakkkk!!
Ghare seketika kembali menyentuh pipinya. "Papi jauh-jauh dari Korea, udah lebih dari 5 tahun ga ketemu aku, tujuannya cuma buat nampar ya?" tanya Ghare menunjuk pipinya.
Pria itu terdiam. Ia sangat emosi kali ini. "Jawab, Pi!!! Ghare ini cuma jadi pelampiasan amarah Papi karena ga bisa ketemu istri Papi atau gimana?" tanya Ghare.
"Dia bukan istri Papi lagi!" ketusnya.
"Dan kalaupun ada kesempatan, Papi tetap gamau ketemu sama Mami kamu!" bentak Pria itu sembari menatap Ghare.
Pria itu lalu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. "Ini, mulai sekarang cari dan minta kehidupan yang layak sama Mami kamu!" bentak pria itu seraya menyerahkan kartu nama.
"Pi, kenapa? Apa sebangkrut itu?" tanya Ghare.
"Papi udah cukup bertanggung jawab atas hidup kamu, sekarang giliran perempuan itu!" ketus pria itu seraya melirik kartu nama.
Pria itu tetap menyodorkan kartu nama. "Ambil! Papi akan kembali ke Korea 2 minggu lagi," jelas pria itu.
"Selama di sini, Papi akan cover biaya hidup kamu, tapi setelah tiba di Korea, Papi ga akan kirim uang lagi," tambah pria itu.
Ghare lalu mengambil kartu nama itu. "Apa rumah ini juga akan Papi ambil?" tanya Ghare.
"Rumah dan aset yang ada di sini, akan Papi jual untuk nambah modal di Korea," jelas Pria itu.
"Tapi, Pi... Gimana kalau aku ga bisa ketemu Ibu dalam dua minggu?" tanya Ghare.
"Papi gatau, waktu kamu cuma segitu, jadi maksimalkan!" ketus pria itu.
"Kenapa? Kenapa mendadak jadi kayak gini, Pi?" tanya Ghare.
"Cari aja! Gausah banyak tanya!" ketusnya seraya berjalan keluar rumah.
Pria itu meninggalkan Ghare di depan kamarnya. "Piiii!!!" sorak Ghare yang tak dihiraukan itu.
Ghare hanya bisa menatap kartu nama yang bertuliskan 'Ardela Deina' itu dengan rasa kesal. Seketika ia langsung ingat kejadian saat Zean menghilang itu.
"ARRGG!! Ini semua gara-gara cowo rese itu!" ketus Ghare.
"Coba aja dia ikut gua kemarin dan ga ngilang gitu aja!"
"Dasar anj***!!"
"Lo udah ngancuri hidup gua tau ga!!" ketus Ghare lagi.
Ghare lalu melirik sekilas kartu nama di tangannya. "AWAS AJA LO YA, ZEAN!" sorak Ghare yang masih kesal.
"Awas aja kalau gua sampai kehilangan semua kemewahan ini!" ketus Ghare.
Ia lalu masuk ke kamarnya dengan melirik kembali kartu nama itu. "Gloubel? Itu bukannya kantor yang di pegang sama Sasa yang nyebelin itu ya!" ketus Ghare.
Ghare lalu duduk di kursi belajar dan mencoba membaca kembali kartu nama itu dengan baik. "Hotel Gloubel Cabang Bali, dia kerja sama Sasa?" tanya Ghare dengan bingung.
Ghare lalu meletakkan kartu nama itu di atas meja. "Kenapa hidup gua jadi berputar di mereka ya?"
Ghare melamun dan melirik kartu nama itu tanpa memegangnya. Ucapan ayahnya seolah masih terdengar jelas. 'Ini, mulai sekarang cari dan minta kehidupan yang layak sama Mami kamu!'
"Arrghh!!! Ini apa gua harus temuin nyokap?! Kalau ga, hidup gua ke depannya gimana?" tanya Ghare.
Ghare kembali memperhatikan kartu nama di meja. "Gloubel, apa gadis rese itu tahu ya sama nyokap gua?" tanya Ghare.
"Tapi, gua ga mungkin juga nanyain ini langsung ke dia," ujar Ghare dengan bingung.
Ghare lalu merogoh ponselnya dan memutuskan untuk menghubungi seseorang.
(Berdering)
"Halo, Bro?"
'Kenapa, tumben nelfon pagi-pagi Kap?'
"Gua mau nanya jadwal kuliah nih," ungkap Ghare.
'Hah, Haha... Ga salah nih? Nyawa udah kumpul belom?'
"Gua serius, ajg!"
'Iya, Kap. Santai, nanti gua coba tanya sama Rani dulu, biar dia kirim jadwal yang tepat,'
"Jangan lama ya!"
'Iya, kalau gua yang ngirim takutnya salah, gua kan sering cabut!'
"Yaudah, cepet!" Ghare lalu menutup telfon itu.
Ia kemudian menunggu kabar dari temannya itu. Tidak perlu waktu lama. Jadwal tersebut pun dikirim oleh temannya.
Dring!
Ghare merogoh lagi ponselnya dan membaca pesan yang masuk dari nomor yang tadi ia telfon.
"2 minggu lagi UAS," ujar Ghare memperhatikan jadwal.
Ghare lalu meletakkan ponselnya dan menutup jadwal itu. "Gua harus cari nyokap sendiri," ujar Ghare dengan mantap.