Puzzles

Puzzles
Episode 85 - MARAH



Sasa kini berada di dalam mobil milik Bara. Ia duduk di sebelah Bara dengan mata melihat ke jendela. Tarikan nafasnya nampak berat.


"Gausah dipikirin banget, nanti lo sakit."


Bara tetap fokus menatap jalanan. Sementara, yang ditegur hanya diam melamun. "Kita berhenti di sini dulu," ujar Bara seraya berhenti tepat di depan restoran seafood.


"...gua tunggu di mobil aja," jawab Sasa tanpa melirik ke Bara.


Bara keluar dari mobil itu seraya masuk sendiri ke dalam restoran. Rasa sesak atas kepergian Zean, ditambah lagi badmood ke Bara yang tidak memberitahu nya sama sekali soal kepergian Zean, membuat Sasa masih menyimpan kesal ke Bara.


Selang beberapa menit, Bara kembali dengan beberapa bungkus makanan yang ia tenteng. "Ini, diminum dulu," sahut Bara seraya menutup pintu mobil.


Sasa mengambil minuman yang Bara berikan dan meletakkannya di case minum. Bara tahu perasaan gadis itu, ia memilih diam dan kembali melanjutkan perjalanan.


***


"Larisa pamit ya Pak, jangan dibawa sedih, insyaAllah kalau ada waktu dan rejeki, Larisa akan nengokin bapak lagi ke sini," jelas Larisa seraya salaman.


"Iya, terima kasih sudah mewarnai hari-hari Zean," ucap Fergi seraya membalas uluran tangan Larisa.


"Saya juga pamit, Pak... Turut berduka yang sedalam-dalamnya," ujar Ghare ikut bersalaman.


Fergi menarik nafas dan tersenyum kecil. "Iya, terima kasih, hati-hati di jalan ya," sahut Fergi menghantar kepergian mereka berdua.


"Pamit, Pak." Larisa berjalan ke dalam taxi yang sudah menunggu mereka dari tadi.


Fergi yang tadinya tersenyum, kini mulai memasang kembali ekspresi datarnya. Ia hanya bisa menatap kepergian taxi yang semakin jauh. "Huh..." lirih Fergi seraya masuk ke dalam rumah.


Taxi itu melaju ke sebuah alamat yang sudah mereka sepakati. "Daripada apartemen, rumah gua aja, gua akan macem-macem kok!" tegas Ghare.


"Rukun iman gua nambah nih kalau percaya," sindir Larisa.


"Eh, goblok! Mikir kali, lo bakal flight lagi besok subuh, ngapain bayar apartemen atau hotel mahal-mahal untuk beberapa jam!" ketus Ghare.


"Lo kali yang goblok!" bentak Larisa membuang muka.


"Dasar!! Cewe nyebelin!!!" umpat Ghare.


"..." Mereka diam sejenak usai beradu mulut.


"Maaf, ini jadinya ke apartemen atau kemana ya? Soalnya saya dengar perdebatannya ragu mau ke apartemen?" tanya supir taxi yang sedari tadi menguping.


"Ke Hotel," ujar Larisa.


"Ke rumah saya!" ujar Ghare bersamaan dengan Larisa.


Mereka berdua lalu saling menatap dengan kesal. "Mm, maaf, ini yang benar yang mana ya?"


"Ke alamat awal aja, Pak. Sesuai rute, emang bapak mau dibilang melarikan penumpang?"


Supir itu mengangguk dan tetap fokus pada jalanan. Sementara, Larisa berada dalam kesal karena merasa jengkel dengan Ghare.


***


Mobil yang dikendarai Bara akhirnya tiba di rumah Sasa. Mereka masuk ke gerbang yang terbuka dan parkir tepat di halaman.


Bara melepas kunci mobilnya dan melepas sabuk pengaman. "Ayo," ujar Bara kepada Sasa yang masih diam di mobil.


Bara lalu membuka pintu dan bermaksud ingin keluar mobil. Namun, pada saat ia akan melangkah, suara Sasa menghentikan itu semua.


"Bar...." lirih Sasa menatap lurus ke depan.


Bara seketika menoleh ke empunya suara. "Iya? kenapa Sa?" tanya Bara.


Sasa menarik nafas dan mulai menatap Bara dengan datar. "Gua minta lo pulang ke rumah lo dulu," ujar Sasa secara tiba-tiba.


Nampak ketidakterimaan di mata Bara. "A-apa? Are you sure?" tanya Bara memastikan.


Bara menatap Sasa dengan nafas yang masih tertahan, rasanya berat meninggalkan Sasa sendiri di sini. "Gua masuk dulu, makanannya lo bawa aja!" ujar Sasa seraya turun dari mobil.


"SAAA!!???" sorak Bara yang membuat Sasa berhenti di depan pintu mobil.


"Gua bakal balik ke rumah tanpa masuk dulu ke dalam," ujar Bara dari dalam mobil.


Sasa masih berdiri mendengarkan Bara. "Tapi, lo perlu tahu... Gua ngelakuin ini karena i know you need waktu yang cukup untuk sendiri," jelas Bara.


Sasa hanya menatap Bara dengan diam, ia lalu bergerak menjauh dari mobil. " Gua minta lo jangan temuin dan hubungin gua dulu, see you!"


Bara dapat melihat jelas langkah Sasa yang sudah berjalan menuju pintu. Kini, hanya ada Bara dan dua bungkus makanan di mobil. Bara melihat makanan itu, ia lalu menarik nafas dan kembali melihat Sasa yang baru saja masuk ke rumah.


Baru saja hendak melaju meninggalkan rumah Sasa, Bara menerima sebuah telfon.


(Dering Panggilan)


"Ayah?" ujar Bara seraya menjawab telfon itu.


"Halo, apa kabar Yah?" tanya Bara.


Entah ada jawaban apa di balik sana, ekspresi Bara masih tetap datar dan tak ada yang berubah.


Sasa masuk ke kamarnya dan segera berbaring. Ia bahkan belum melepas sepatu yang ia kenakan.


"Zeann... gua ga nyangka rasa sakit kehilangan lo akan sama dengan kejadian beberapa tahun silam," lirih Sasa dengan menenggelamkan wajahnya.


Sekilas, ingatan tentang Zean semakin berputar di kepala Sasa. 'Sa, gua boleh ikut ya ke Bali? Kan gua bisa jagain lo di sana,'


'Kasih gua kerjaan aja, biar gua bisa ikut ke Bali?!'


'Makasi, udah percaya sama gua, Sa!'


'Makasi udah jadiin gua bagian dari perjalanan puzzles ini.'


Tanpa sadar air mata Sasa menetes lagi, "Huh... Hikss...hikss..hikss..."


(Dering telfon)


(Dering telfon)


Nampak nama Larisa tertera di sana. Sasa melirik sedikit panggilan itu dan enggan mengangkat. "Hikss...Hiksss..."


Disisi lain, Larisa sedang duduk di sofa milik Ghare. "Angkat dong, Sa... Gua kawathir sama lo!" Larisa masih mencoba menelfon Sasa beberapa kali.


"Ngapain? Nelfon Sasa?" tanya Ghare yang datang dengan dua gelas sirup dari belakang Larisa.


Ghare meletakkan sirup itu di meja dan duduk di kursi sebelah Larisa. "Ayo dong, Sa!" ujar Larisa dengan handphone yang masih menempel di telinga.


"Gimana?" tanya Ghare dengan raut penasaran.


Larisa menggeleng dan meletakkan ponselnya di atas meja. Ia lalu meneguk sirup yang sudah Ghare berikan.


"Gausah khawatir, Sasa pasti bisa jaga dirinya, lagian kan ada Bara juga." Ghare lalu melahap beberapa snack yang ada di meja.


Larisa menatap Ghare dengan curiga. "Heh! Gua lebih khawatir kalau sirup ini ada racunnya kali!" ketus Larisa.


"Gua minum sirup yang sama ege! Gausah parno!!" ujar Ghare melempar Larisa dengan snack.


"Shitt!! Apaan sih Ghare!!" Larisa lalu membalas lemparan itu dengan bantal.


"Whatt!!!??" ujar Ghare saat bantal itu mengenai mukanya.


Seketika keadaan hening, Larisa dirundung kecemasan saat melihat wajah Ghare dengan raut masam. "Lo duluan!" ketus Larisa.