Puzzles

Puzzles
Episode 40 - Kabar dari Singapura



Bara sedang berdiam di kamarnya. Ia tidak berniat keluar hari ini, kebetulan sekarang juga sedang free. Bara memandang langit-langit kamarnya, ia memikirkan sesuatu di sana.


(FlashBack)


Saat sedang duduk di ruang makan kala itu dan ada telfon dari Arya. Bara segera menjawab telfon itu.


"Halo, Yah?"


'Halo, kamu gimana kabarnya?'


"Aku baik, Bunda gimana, Yah?"


Suara telfon hening sesaat. 'Ada yang mau Ayah sampaikan ke kamu,'


'Bunda lusa akan di operasi,'


'Ada penyebaran sel kanker yang tak beraturan di paru-parunya.'


'Dan sel itu sudah menyebar sampai ke otak,'


Mendengar itu, Bara seperti disambat petir. Perjalanan jauh ke Singapura ternyata masih belum memiliki kabar yang baik.


'Bara... kamu tau kan resiko besar dari hal yang akan dilakuin lusa?'


Bara diam. Ia tidak menjawab soal resiko terburuk yang sebenarnya sudah ia ketahui.


'Bara...' lirih Arya dari balik telfon.


"Iya, Yah... kalau ini yang menurut Ayah baik, lakukan."


'Bara? Ini cara terakhir yang dapat kita usahakan untuk Bunda.'


"...Aku udah bilang, kalau ini yang menurut Ayah baik, lakuin!" tegas Bara.


'Lusa, yang penting Ayah udah kasih tau kamu.'


'Sekarang, fokus sama kuliah kamu, jangan hubungi Ayah dulu,'


"Apa? gimana aku bisa fokus kalau keadaan Bunda aja semakin down!" ketus Bara.


'Ayah yang akan handle ini semua.'


'Sekarang kamu harus fokus, kalau keadaan sudah baik, Ayah yang akan telfon kamu duluan!'


"Terserah!" ketus Bara sembari menutup telfon.


(Back)


Dalam benak Bara ada banyak sekali ketidakterimaan soal keadaan ini. "Kenapa harus Bunda?" tanya Bara.


Bara adalah tipe yang memang memilih memendam masalahnya. Ia akan diam sekali saat sedang kusut. Pikirannya penuh pertanyaan.


Kenapa Ayah hanya memikirkan soal fokus kuliah? Kenapa harus hal membahayakan yang dilakukan ke Bunda? Kenapa?


Bara menatap lurus tanpa semangat. Rasanya ada beban yang benar-benar berat. Ia kemudian memejamkan matanya. Namun, baru beberapa menit terpejam, suara telfon membuyarkannya.


(Dering telfon)


Tertera nama Dr. Kimo di ponselnya. Bara lalu menjawab telfon itu.


'Halo, Bara?'


"Iya, kenapa dokter?" tanya Bara yang kini sedang duduk di ataa tempat tidur.


'Saya minta berkas awal pengajuan magang kamu, biar saya bisa proses dari sekarang.'


"Kenapa terlalu awal dokter?" tanya Bara bingung.


"Kan masih 2 bulan lagi."


'Ini semua pesan dari Ayah kamu.'


"..." Mendengar itu Bara hanya diam.


'Saya tunggu ya!'


Bara langsung mematikan telfon itu. Emosinya semakin berkumpul sekarang. Ayahnya kenapa terlihat memaksa sekali?


...----------------...


Berbeda dengan Bara, Sasa yang baru bangun itu mencoba melihat ponsel di sebelahnya. Ada 3 panggilan tak terjawab dari Bila.


Sasa melihat tanggal dan jam yang tertera di sana. Saat ini adalah waktunya. Ia meletakkan ponsel dan berjalan ke kamar mandi.


Sasa membersihkan badan, lalu keluar dari kamar mandi dan menuju stand yang menjadi gantungan baju. Nampak dress hitam yang elegan di sana.


Sasa mendekat dan merogoh dress itu. Ia lalu tersenyum kecil, dan mengenakannya. Perlu beberapa detik saja untuk memakainya.


"Mamm, sekarang adalah waktunya." Sasa menatap wajahnya di cermin. Ia kemudian mengeringkan rambut.


Aura Sasa sangat berbeda sekarang, ia nampak lebih dewasa. Setelah semuanya selesai, Sasa kembali merogoh bingkai foto Zena. Ia lalu mencium foto itu.


Sasa meletakkan foto itu di meja, ia lalu memilih tas berwarna pink terang untuk menemani dress kali ini. Selain itu, ia juga memilih heels berwarna hitam dengan tinggi 5 cm.


"I'm ready!"


Sasa berjalan keluar dari kamarnya, saat akan membuka pintu ia melihat jaket Bara yang tergantung rapi. Seketika, Sasa teringat sosok pria menyebalkan itu.


Tanpa menghiraukan, Sasa lalu berjalan keluar kamar. Ia juga melihat kamar Bara yang masih tertutup rapi. Sasa terus menuruni tangga dan tiba di ruang makan.


Tidak ada Bara juga di sana. Sasa lalu menggeleng. Dalam hati ia berkata 'Mungkin Bara kuliah kali ya, tumben ga keliatan.'


Sasa yang memang ada urusan, memilih keluar rumah untuk segera pergi. Baru saja sampai di pintu. Ponselnya berdering.


(Dering telfon)


"Iya, Halo?" ujar Sasa.


"Di depan rumah?" tanya Sasa.


"Oh, oke!" Sasa berjalan keluar gerbang.


Diki lalu membukakan gerbang. "Mysa cantik banget, mau kemana?" tanya Diki.


"Saya ada acara di Hotel Gloubel sampai siang ini, tolong semua tamu yang akan datang di kick off aja!"


Diki mengernyitkan dahinya. "Tamu? biasanya kan cuma teman Mysa yang namanya Zean yang dateng ke sini."


Sasa berjalan keluar gerbang yang sudah terbuka. "Liat aja nanti, pokoknya ga usah dibukain!"


"Siap Mysa..." jawab Diki yang masih bingung.


"Siapa ya?" tanya Diki.


Sasa berjalan ke mobil yang sudah ada di depan gerbang. Mobil itu secara otomatis membukakan pintu.


"Silahkan masuk, Nona..." ujar supir itu.


Sasa tak membantah ucapan itu, ia membiarkan dirinya dipanggil Nona sekarang. Sasa masuk tanpa bicara.


Mobil itu kemudian kembali menutup pintu. Mereka melaju menuju hotel Gloubel.


...----------------...


Dari sisi Hotel Gloubel, nampak Bila tengah sibuk berdiri di aula hotel. Ia memperhatikan sekitar, ada banyak hiasan yang terpasang.


"Dekorasi sudah oke, Buk... apa ada yang perlu diperbaiki?" tanya seseorang.


Bila memperhatikan lagi setiap detailnya. "Bunga yang di ujung situ diganti sama yang warna putih aja, biar nuansanya elegan."


"Baik Buk," orang itu langsung berjalan mengganti.


Bila berjalan lagi ke arah tim sound yang sedari tadi sibuk bekerja. "Mic aman?" tanya Bila.


"Aman, Buk... udah semua, ini kita tinggal klik sound aja kalau acara udah jalan."


Bila mengangguk, ia kemudian tersenyum kecil, memperhatikan ruangan aula yang sudah rapi dan siap untuk peresmian itu.


"Red karpet di luar tolong disapu dulu 10 menit sebelum Mysa datang," ujar Bila kepada ob di situ.


"Baik Buk."


Bila berjalan keluar ruangan, ia menuju ke pos satpam. Dari luar nampak banyak karangan bunga dari berbagai collega. Tertulis juga stand flower dengan tulisan 'Happy Day for New CEO.'


"Tim keamanan di luar dan di dalam gerbang sudah siap, Buk... 10 orang sudah berjaga di ujung jalan," jelas Satpam itu.


"Kamu inget kan, tidak ada seorang pun yang boleh masuk tanpa card."


"Baik Buk, saya akan sampaikan ke tim penerima tamu," jawabnya lagi.


"Iya, dan selalu jaga gerbang karena akan ada banyak orang yang bisa dateng tiba-tiba," jelasnya lagi.


"Baik, saya akan pastikan..." ujar Satpam itu lagi.


Bila mengangguk, ia lalu berjalan kembali ke aula, untuk memantau setiap detail persiapan. Hal ini ia lakukan sebelum Sasa datang.


"Pagi, Buk... Kenapa ibu tadi panggil saya?" tanya sekretaris hotel.


"Semua tamu akan datang lebih awal, nanti semuanya berdiri di sepanjang red karpet aja," jelas Bila.


"Baik Buk, 10 menit sebelum acara, saya pastikan semuanya sudah di sepanjang red karpet."


Bila mengiyakan ucapan wanita itu. "Tolong hubungi supir yang tadi jemput Mysa, biar kita tahu berapa lama lagi mereka sampai," ungkap Bila.


Sekretaris itu mengangguk, ia lalu mencoba merogoh ponselnya dan mencari kontak supir itu. "Halo, Pak? Udah dimana ya?" tanya wanita itu.


"Ooo yasudah, 10 menit sebelum tiba kabarin saya ya," pinta sekretaris itu.


Bila yang masih sibuk memperhatilan detail, membiarkan sekretarisnya mengurus masalah konfirmasi secara menyeluruh.