
Usai pertemuan Sasa dan Zean di parkiran belakang, Sasa tidak mau lagi membahas soal Ghare. Hal ini membuat Zean bingung.
Zean lalu bermaksud hendak mencari tahu soal Ghare dengan datang lebih awal ke kampus sebelum mereka kumpul di gerbang kanan.
Hal ini, Zean lakukan agar bisa menyingkap alasan kenapa Sasa terlihat sangat misterius, bahkan hampir tentang semua hal.
"Berhenti," ujar Ghare sembari menghadang langkah Zean dengan tiga orang temannya.
Zean yang tengah celingak-celinguk itu nampak terkejut dengan kedatangan Ghare, sosok yang ia pantau.
"Kenapa?" tanya Zean spontan.
Ghare tanpa basa basi langsung bertanya ke Zean.
"Kemarin gua udah tanya temen lo si cewe songong, tapi dia ga jawab?!" bentak Ghare.
"Maksud lo?"
Zean memang tidak tahu bahwa Sasa dihadang duluan oleh Ghare kemarin saat ke toilet.
"Lo sama temen lo ternyata sama aja ya," sindir Ghare di telinga Zean.
"Iya Kap, makanya mereka temenan." Tambah anggota dari geng Ghare.
Mereka tertawa bersama sementara Zean hanya diam. Zean lalu bermaksud pergi dari para bedebah ini. Ia tidak mau urusannya semakin panjang.
Baru saja melangkah, tubuh Zean langsung dihadang oleh para bedebah ini.
"Eh, mau kemana?" tanya mereka menyindir.
"Kelas gua di sebelah sana, jadi wajar dong kalau lewat sini?" tanya Zean.
Mereka lalu mengolok-olok Zean, wajar saja karena identitas Zean sangat tersembunyi. Zean yang berkomitmen menyembunyikan identitasnya, merasa tidak perlu membalas kesombongan Ghare.
"Wajar, kalau bokap lo bisa nanem saham juga di kampus ini!" bentak Ghare.
Zean yang tidak tahu soal urusan bokap Ghare dengan kampus tempat ayahnya memimpin ini hanya diam.
"Iya, kaya bokapnya Ghare dong." Puji yang lain.
"Bokap Ghare itu penting buat perkembangan kampus ini, jadi untuk jalan aja seharusnya lo izin sama kita!!" celetuk salah satu anggota geng Ghare.
Zean hanya tersenyum sinis mendengar itu. Mereka berempat bahkan tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.
"Buruan jujur, lo nguntit gua kan sama temen songong lo itu!?" tanya Ghare sembari meremas kerah baju Zean.
Zean masih diam dengan kerah baju yang sudah mencekiknya itu.
"Buruan jawab!!! Ngapain lo nguntit gua?!" bentak Ghare lagi.
"Lo mau cari masalah sama gua??!!!"
Zean yang mulai muak itu akhirnya terpancing juga. Kesabarannya mulai menipis dan ia langsung menjawab ucapan Ghare.
"Emang cuma mobil lo doang di parkiran?" ujar Zean masih sedikit menahan emosinya.
"Feeling gua ga pernah salah, lo sama cewek songong itu pasti nguntit gua!!" ujar Ghare sembari mengeraskan remasan pada baju Zean.
"Gua bilang enggak, ya enggak!!" sorak Zean.
Zean sedikit sulit bernafas karena kerahnya ditahan. Namun, tangannya masih tak membalas.
"Ohh, jadi lo mau gua buat jatoh dan berlutut juga ya di kaki gua kayak temen lo kemarin?" tanya Ghare sembari tertawa.
"Maksud lo?" tanya Zean.
"Berani juga ya temen lo, dia ternyata ga ngadu ke lo! Dia itu kemarin gua buat jatoh sampe berlutut di bawah sini," sembari menunjuk lututnya.
Ghare lalu tertawa puas setelah menjelaskan itu.
"Apa mau dijatohin dulu baru jujur?!!!" benta Ghare lagi.
Mendengar itu Zean langsung terpancing emosi dan tanpa pikir panjang meninju mulut Ghare.
Buughhhh!!!!
Satu pukulan mendarat tepat di bibir Ghare. Terlihat jelas darah segar mengalir di bibirnya. Tangan Ghare seketika melepaskan remasan kerah baju Zean.
***
Sasa sedang duduk bersama Larisa di gerbang kanan. Mereka minum sembari menunggu sosok Zean.
"Dari tadi si Zeab ga dateng," ujar Larisa.
"Iya, nanti juga muncul tu anak." Ujar Sasa.
"Kemana ya? tumben ni anak telat!?" tanya Larisa.
"Bocor ban kali," ujar Sasa.
"Iya kali ya," sembari melihat jam di tangannya.
Perbedaan kelas membuat Larisa harus masuk lebih dulu dari Sasa, ia terpaksa pamit dan meninggalkan Sasa yang masih menunggu Zean itu.
"Eh, Sa... Gua ga bisa nunggu Zean lagi deh, ada kelas nih." Sembari berdiri.
"Gapapa, buruan pergi, gua masih 20 menit lagi." Jelas Sasa.
"Sorry ya, see you," sembari pergi dan melambaikan tangan.
Sasa melirik ke kiri dan kanan, mencari sosok Zean yang entah dimana berada.
Saat sedang asik meminum air putih, seseorang menghampiri Sasa dan menyampaikan kabar soal Zean.
"Sa, lo temennya Zean bukan?" tanya salah seorang teman kelas Sasa.
"Iya, kenapa?" tanya Sasa.
"Itu dia lagi berantem deh kayaknya sama senior ospek yang waktu itu," jelas wanita itu.
"Dimana?" tanya Sasa langsung berdiri.
"Depan gedung B1," sembari kembali ke geng nya yang duduk tak jauh dari Sasa.
"Oke, makasi ya," Sasa langsung berlari menuju gedung B1.
Ia benar-benar tidak tahu kalau Zean akan duluan ke kelas, tak biasanya Zean absen di gerbang kanan.
***
Melihat Ghare yang terluka, beberapa komplotannya langsung bergerak siaga. Mereka melangkah ke depan Ghare, dan memegangi Zean.
Zean yang empat lawan 1 itu seketika tak bisa bergerak karena dipegangi. Badannya yang membrontak seakan sia-sia.
"Pukul aja," celetuk Zean.
"Mundur, biar gua yang urus." Ujar Ghare kepada salah seorang anggotanya.
"Punya nyali juga lo ya!" sembari membalas pukulan Zean.
Pukulan hangat tepat menghantam pipi Zean sehingga darah segar mengalir di sudut bibirnya. Zean seketika terdiam dan menegakkan kembali kepalanya tanpa bisa menyentuh pipinya yang sakit.
Zean yang tak tahan itu mencoba memberontak. Namun, nihil.
"Penakut banget lo, satu lawan satu dong!" sindir Zean.
"Gausah banyak omong lo," Ghare menghajar perut Zean.
Buuuggghhh!!!
"Aa.." Zean mengernyit menahan sakit.
Sementara, Ghare nampak menghajar lagi tanpa belas kasihan.
Buuughhhhh!!!!
"Terus aja Kap, biar kita peganging," ujar bedebah itu.
Dua pukulan dilayangkan di perut Zean, hingga saat Ghare akan memukul untuk yang ketiga kalinya, Sasa berlari dan masuk ke tengah mereka.
"STOOOPPP!!!" sorak Sasa berdiri di depan Zean yang sudah lemas itu.
"Stoooppp!!!" ujarnya lagi.
Sasa lalu melirik Zean dengan darah di sudut bibirnya itu. Sedangkan, Zean tidak ngeh lagi akan apa yang dilakukan Sasa karena sudah lelah menahan sakit di perutnya.
Melihat Zean yang lemas, Sasa seketika naik pitam dan membalas perbuatan Ghare.
"Anj*ng LO YA!!" Sasa langsung memukul wajah Ghare hingga memerah.
Ghare dengan senyum sinis menyentuh pipinya yang memanas. Ia lalu mengode anggotanya untuk tidak usah ikut menghajar Sasa.
"Berhenti atau gua laporin ke rektor!!" ancam Sasa.
Sasa lalu menolong Zean agar lepas dari pegangan mereka berdua.
"Lepasin ga!!!" bentak Sasa sembari menarik tangan pria itu dari tubuh Zean.
"Ga punya adab lo!!" bentak Sasa lagi.
Sasa lalu mencoba menopang Zean dan memastikan keadaannya. Sementara, Ghare nampak diam dan menjauh.
"Lo gapapa?" tanya Sasa menopang Zean.
Zean masih terengah karena lemas dipukuli. Ia hanya diam dan meringis menahan sakit.
"Jangan pernah macem-macem sama Zean! atau gua yang akan berhadapan langsung buat habisin lo!" bentak Sasa sembari pergi dari situ dan memapah Zean.
Ghare yang dipukul dua kali itu hanya bisa merasakan sakit.
"Gapapa Kap?" tanya salah seorang.
"Gapapa pala lo, sakit anj*ng!!!" ketus Ghare.
Ghare lalu melihat ke Sasa dan Zean yang berjalan menjauh. Punggung mereka semakin lama menjadi hilang terbawa pandangan yang menjauh.
"Berani juga tuh cewek, jadi penasaran gua." Ujar Ghare dengan senyum sinis.
Ghare lalu menyentuh pipinya yang tadi dipukul sembari mencari tahu cara mendekati gadis itu.
***
Kecelakaan kecil hari ini membuat Sasa dan Zean tidak masuk ke kelas. Zean duduk di kursi yang ada di gerbang kanan, sementara Sasa pergi ke klinik untuk meminta kotak p3k.
Sasa kembali ke gerbang kanan dan duduk di sebelah Zean. Ia lalu mengeluarkan alkohol dengan kapas.
Lalu, tangannya menyentuh sudut bibir Zean yang berdarah.
"Kenapa ga dibawa ke klinik aja sih?" tanya Sasa.
"Nanti bokap tahu," sahut Zean menahan perih.
Sasa membersihkan sisa darah di bibir Zean, lalu menambalnya dengan hansaplas kecil agar tidak memakan seluruh bibir.
"Udah, ada yang sakit lagi ga?" tanya Sasa dengan cemas.
Zean menggeleng. Ia masih sedikit marah dengan Sasa. Marah karena Sasa tidak jujur soal pertemuannya dengan Ghare kemarin.
"Lo kenapa bisa berantem di situ?" tanya Sasa sembari merapikan kotak p3k.
"Lo yang kenapa!?," sinis Zean menatap Sasa dengan sedikit marah.
"Maksud lo?" tanya Sasa bingung.
"Lo kenapa ga bilang kalau lo kemarin dibuat jatoh sampe berlutut sama Ghare?"
Sasa terdiam. Ia tak menyangka juga si tengil Ghare akan mencampur adukkan semua urusan.
"Kenapa ga bilang kalau lo di jegal dia?!!"
"Gua gak mau lo terlibat," ujar Sasa.
"Kenyataannya gua akan terlibat juga, kenapa lo bohong dengan alasan bosen di kelas?"
"Ini yang gua takutin Ze, kejadian kayak gini. Kejadian yang bahayain nyawa orang lain," jelas Sasa.
"Ini yang buat lo kepancing emosi?" tanya Sasa lagi.
"Gua ga suka Ghare nyakitin lo kayak kemarin," ujar Zean sedikit emosi.
"Gua bisa jaga diri gua sendiri, awasin aja diri lo dari bahaya," ujar Sasa.
"Kalau terjadi hal lebih bahaya dari kemarin gimana?" ketus Zean.
"Gua.." ujar Sasa hendak menjawab.
"Apa sih, Sa? yang sebenernya lo sembunyiin dari gua?!!" tanya Zean serius.
Sasa terdiam mendengar pertanyaan Zean. Dalam hatinya, ada banyak sekali yang ia sembunyikan. Bahkan, Zean hanya tau 0,01% dari dirinya.
"Sampe hal sekecil kemarin aja lo ga mau kasih tau ke gua, apa Sa?!!"
"Lo ga perlu tau banyak soal gua!" ketus Sasa.
"Kenapa? Karena lo ga pernah percaya sama gua?!" sindir Zean.
"Tau banyak soal gua akan lebih bahaya buat lo, Ze." Jawab Sasa sembari membuang pandangannya.
"Tapi, jauh dari bahaya yang lo maksud, lo bener-bener ga naruh kepercayaan kan ke gua?" sindir Zean.
"Sorry, Ze." Lirih Sasa.
"Apa yang bisa buat lo percaya sama gua?!" tanya Zean.
Sasa menatap Zean dengan ragu-ragu. Apa ia harus mulai berbagi masalah dengan orang lain? Lalu, setelah ini apa yang akan terjadi?