
Bara memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah Sasa. Ia tidak ingin masuk dulu kali ini sebelum memastikan keberadaan Sasa.
Ting...Ting...
Diki berlari ke gerbang dan melihat dari celah yang tersedia. “Eh, Bara...” ujar Diki hendak membukakan gerbang.
“Pak, bentar... saya mau tanya, Sasa ada di dalem ga?” tanya Bara.
Diki yang tadinya mau membuka gerbang itu, lalu memilih mengobrol lewat celah yang ada.
“Lah, Mysa udah 2 hari ga pulang ke sini, Bara... kamu juga semalam kemana?” tanya Diki.
“Oh, yaudah pak...” Bara langsung berlari ke arah mobilnya.
“Eh, Bara... tunggu dulu,” ujar Diki membuka gerbang itu.
(Klakson Mobil)
Baru saja Diki membuka gerbang, mobil Bara sudah meninggalkan rumah Sasa. “Belom juga masuk, udah pergi aja.”
Diki lalu kembali menutup gerbang itu dengan berat hari. Ia mendorong dan menguncinya kembali.
...----------------...
Motor yang dikendarai Zean berhenti tepat di depan halte bus. Sasa lalu turun dari atas motor.
“Lo serius ga mau makan bareng gua?” tanya Zean yang kini tengah menunggu Sasa melepas helm.
“Gua mau ke hotel, bisa makan di sana kok.” Sasa menyerahkan helm itu ke Zean.
“Kenapa ga gua anter aja sih?” tanya Zean seraya mengambil helm dari tangan Sasa.
“Zeee... kita udah bahas ini di motor ya, jadi jangan ditanyain lagi!” tegas Sasa menjauh dari Zean.
Zean mengangguk dengan tatapan putus asa. "Jadi, gua beneran balik nih?" tanya Zean menatap Sasa.
Sasa memutar bola matanya dengan datar. Ia lalu mendengus atas pertanyaan Zean. "Iya.... Iyaa..." Zean lalu menstart motornya.
Ia kemudian diam sejenak dan kembali melihat Sasa. “Kalau lo butuh temen untuk ke Bali, jangan sungkan hubungin gua.”
“Zee.....” lirih Sasa menyuruh Zean berhenti bicara.
Zean melirik ke Sasa dan tersenyum getir. “Gua cabut, hati-hati ya!”
Sasa hanya mengangguk tanpa bicara. Ia kemudian melihat Zean yang semakin menjauh dari hadapannya.
Sasa menunggu bus untuk tujuan yang sudah ada di kepalanya. Ia lalu naik ke bus yang sudah datang. Kakinya melangkah dan memilih tempat duduk seperti biasa.
...---------------...
Bara tiba di Hotel Gloubel dan segera masuk ke dalam. Ia lalu menuju resepsionis untuk bertanya. “Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” tanya resepsionis itu.
“Siang Mba, saya mau tanya, apa CEO hotel sekarang ada di sini?” tanya Bara.
“Soal itu, sebentar ya Mas... saya cek dulu...” ujarnya lagi.
Bara mengangguk, ia lalu menunggu informasi dari wanita itu. Saat sedang asik menunggu, Bila tidak sengaja melihat sosok Bara dari jauh.
“Bara?” Bila yang memang bermaksud ke luar itu, kemudian mendekat ke arah Bara.
“Baraa?” sapa Bila menepuk lembut pundak Bara.
Bara membalik badan. “ Bu Bila?”
“Kamu ngapain ke sini? Mau pesan kamar?” tanya Bila.
“Nggak Bu, saya ke sini mau cari Sasa, soalnya dia ga ada di rumah dan nomernya ga bisa dihubungin,” jawab Bara.
“Mas... “ ujar resepsionis itu.
“Biar saya aja,” ujar Bila ke resepsionis itu.
“Mysa tadi siang memang sempat ke sini, tapi dia udah buru-buru pergi, bahkan gamau dijamu.”
Bara mencoba berfikir. “Habis dari sini dia kemana, Bu?”
“Saya ga tau juga, yang jelas dia pulang naik taxi dan bawa berkas di tangannya.”
“Berkas?” tanya Bara.
“Ooo, jadi saya harus cari Sasa kemana, Bu?” tanya Bara.
“Kamu bisa menunggu dia di rumah saja, dia pasti pulang.”
“Baik, Bu... saya pamit dulu.” Bara lalu meninggalkan Bila yang masih berdiri di aula hotel itu.
Ia kemudian berjalan menuju mobilnya. Bara masuk ke mobil dan diam sejenak seraya memegang stir. “Jangan-jangan.... Sasa pergi ke....”
Bara langsung memutar arah mobilnya ke suatu tempat yang menurutnya ada Sasa di sana. Ia lalu sedikit ngebut agar dapat sampai lebih cepat.
...----------------...
Sasa baru saja turun dari bus yang tadi ia tumpangi. Ia turun di area sekitar alamat rumahnya. Sasa masih menjinjing berkas seraya berjalan ke suatu tempat.
Bara yang tiba di makam Zena Wijaya itu, mendekat ke nisan yang sudah pernah ia kunjungi sebelumnya. Tidak ada Sasa di TPU ini. Bara melihat sekeliling untuk mencari tahu apakah ada tanda-tanda kedatangan Sasa di sini.
"Kalau bukan ke sini, Sasa kemana lagi?" tanya Bara. Bara yang menyadari ketidakhadiran Sasa memutuskan untuk berdoa terlebih dahulu.
Sasa berjalan ke area makam. Ia lalu menuju makam ibunya dengan pandangan datar. Kaki Sasa berhenti melangkah saat melihat sosok pria di makam ibunya.
Sementara, Bara yang selesai berdoa itu, lalu membalik badan dan bermaksud ingin pulang. Baru saja berbalik, Bara langsung terdiam.
Mereka berdua saling menatap dengan kosong. Tanpa bicara sepatah katapun, Bara langsung berlari memeluk Sasa yang ada di depannya.
Sasa yang kaget itu, merasa bingung akan perlakuan Bara. “Ba––Bar..” ujar Sasa dengan terbata.
“Jangan pernah menghilang kayak tadi lagi, gua khawatir!” tegas Bara mempererat pelukannnya.
Sasa yang berfikir Bara marah kepadanya itu, tak membalas pelukan Bara. “Tolong kabarin gua dimana pun lo berada,” ujar Bara seraya melepas pelukannya.
“Lo yang pergi tanpa kabar tadi pagi,” ujar Sasa.
“Gua emang marah kemarin malam, tapi gua ga bisa marah esok paginya sama lo,” ungkap Bara.
“Kenapa?” tanya Sasa.
“Karena.... gua –– gua,” ujar Bara.
“Lo kenapa?” tanya Sasa.
“Gapapa, pokoknya mulai sekarang, kabarin gua kalo pergi sendirian,” ujar Bara dengan tatapan penuh rasa bersalah.
Sasa terdiam dengan kebingungan. Ia lalu melangkah ke sebelah Bara untuk berdoa di makam ibunya. Bara hanya diam melihat apa yang Sasa lakukan.
"Mamm, aku dateng ke sini bawa sesuatu..." ujar Sasa melirik berkas di tangannya.
Bara yang mendengar ucapan Sasa itu, lalu berjalan mendekat dan berdiri sebelahnya. "Ini... Berkas yang belum pernah Mama tahu," ujar Sasa lagi.
Bara hanya diam sembari melihat berkas itu. "Mysa janji akan ungkap lagi kasus ini sampai selesai!" tegas Sasa sembari memegang nisan itu.
Sasa lalu menyeka air matanya yang perlahan jatuh. "Wasiat Mama udah Mysa jalanin satu per satu," jawab Sasa.
Bara jongkok di sebelah Sasa dan mengelus pundak gadis itu. "Mysa akan jalanin semua ini walaupun banyak rintangan," ujar Sasa lagi.
"Mama jangan khawatir," ujar Sasa lagi.
Bara melihat ke langit yang sudah mulai gelap. Bahkan butiran hujan sudah jatuh satu per satu. "Keadilan harus berjalan meski Mama udah ga bernafas lagi!" tegas Sasa.
Bara yang merasakan titik hujan itu jatuh, lalu berbisik ke telinga Sasa. "Udah mau hujan lebat, ayo balik."
Sasa hanya menatap kosong ke nisan di depannya. "Ayo, Sa... nanti bisa tambah lebat," ujar Bara mengajak Sasa berdiri.
Dengan berat hati, bersamaan dengan turunnya hujan, Sasa lalu mencium nisan ibunya. "Mysa pamit Mam, nanti ke sini lagi."
Sasa berdiri dan berjalan bersama Bara. Hujan pun semakin deras dan membasahi mereka berdua. "Ayo, lari ke mobil." Bara segera membuka pintu mobilnya.
Mereka masuk dan segera menutup pintu. "Hmmmm,...." Saaa sedikit menggigil karena tubuhnya basah.
Bara yang juga basah itu, lalu mengambil baju kemeja yang ada di belakangnya. "Gua ga bawa handuk, lap badan lo pake ini, terutama kepala."
Sasa mengambil kemeja itu dan segera melap badannya. Rasanya dingin sekali karena hujannya lebat. "Kita akan pulang ke rumah lo," ujar Bara seraya mengemudikan mobil.
Sasa tak membantah ucapan Bara. Ia lalu melihat ke berkas yang ia bawa. "Syukurlah, ga basah." Bara melirik ke berkas itu.
"Penting banget ya isinya?" tanya Bara.
"Begitulah," jawab Sasa sembari terus melap kepalanya.
Bara lalu fokus menyetir dan membiarkan Sasa mengeringkan badannya. Sementara, ia membiarkan tubuhnya tetap basah.