
Waktu terus berjalan, membawa Sasa ke titik menemukan jalan satu per satu untuk memecah pembunuhan tersebut.
Sasa berjalan ke meja belajar di kamarnya, ia lalu membuka buku jurnal yang biasa ia tulis.
Nampak banyak coretan bukti di sana, meski belum terbuka siapa pelakunya.
"Mobil sedan hitam ada di kampus," ujar Sasa sembari menulisnya di kertas jurnal.
"Ini bertepatan dengan ketidakhadiran mobil itu di depan rumah," jelas Sasa lagi.
Tapi, akhir-akhir ini Sasa tidak melihat lagi pemilik mobil itu membawanya ke kampus. Hal ini membuat Sasa kesulitam menemukan siapa pelakunya.
Baru saja menutup jurnal itu, Sasa lalu terpikir salah satu jalan keluar.
"Mobil itu diparkir di depan gedung B1, pemiliknya pasti masuk kelas di sekitar situ.."
Hari ini Sasa ada kelas jam 13.30 WIB. Ia bergegas untuk pergi lebih awal agar dapat mencari tahu soal ini.
......................
Sasa naik ke bus dan duduk di kursi no.6 seperti biasa. Ia memasang earphone dan memejamkan mata.
Ada banyak pikiran yang timbul di pejaman matanya. Bayangan permasalahan yang belum selesai seakan dikejar oleh waktu.
"Jangan terlalu lelap, nanti kelewat." Ujar seseorang berbisik tepat di earphone Sasa.
Sasa membuka matanya dan melirik ke sebelah kanan.
Ia lalu menatap sosok Bara dan seketika membuang pandangan.
"Kenapa ga cari kursi lain aja?" tanya Sasa sinis.
"Kenapa harus cari kursi yang lain?" balas Bara sembari membaca kembali buku yang ada di tangannya.
Sasa melirik ke arah Bara yang sibuk membaca buku.
"Segitu ambisnya ya jadi pinter?" tanya Sasa.
Bara seketika menghentikan bacaannya dan menutup buku itu. Nampak tertulis "Be your self" pada cover buku itu.
"Baca buku bukan berarti orang nge push kemampuannya," jelas Bara.
Sasa melihat ke judul buku itu. Ia paham arti buku ensiklopedia seperti itu.
"Ada kalanya, healing terbaik adalah membaca dan memahami diri sendiri," Bara menoleh ke judul buku itu.
"Kaya buku ensiklopedia," tambahnya lagi.
"Mata lo ga cape baca buku terus?" ujar Sasa.
"Healing setiap orang kan beda-beda, kalau gua merasa lega aja kalau baca!" jelas Bara.
"Ada ya manusia kaya lo," Sasa lalu membuang pandangannya ke jendela.
Bara lalu menyimpan buku itu ke dalam tas nya. Sasa sadar kalau bus berhenti itu lalu berdiri dan membiarkan Bara berjalan lebih dulu.
Mereka turun bergantian setelah membayar. Bara yang nampak tergesa itu tak melihat lagi ke belakang. Sasa lalu melangkah lebih cepat agar dapat mengikuti langkah kaki Bara.
"Tunggu!" sorak Sasa yang membuat langkah Bara berhenti.
Bara yang menyadari suara gadis manis itu sedikit heran. Tumben sekali ia disapa duluan.
"Kenapa?" tanya Bara menoleh ke belakang.
Sasa berjalan ke arah Bara agar langkahnya sejajar.
"Lo kan udah 2 tahun lebih di sini, gua mau nanya soal gedung itu," menunjuk ke arah gedung berwarna biru.
Bara melihat gedung itu dan kembali menatap Sasa.
"Gedung yang diisi sama anak jurusan manajemen." Ujar Bara.
"Apa ada anak jurusan lain di sana?" tanya Sasa.
"Ga ada, itu khusus manajemen, kalau yang disebelahnya IT," sahut Bara.
"Jurusan lo kan?" tanya Bara lagi.
"Iya," sembari mengangguk.
Sasa lalu berterima kasih dan segera pergi. Bara lalu menggeleng dengan sikap aneh gadis itu.
......................
"Halo?" sahut Larisa dari balik sana.
"Lo ga ngampus?" tanya Zean.
"Engga! free hari ini," jelas Larisa.
"Oh, yaudah, gua mau nelfon Sasa dulu," sahut Zean mematikan telfon.
Zean lalu menelfon Sasa karena sudah lebih 30 menit ia duduk di gerbang kanan dengan segelas teh es.
(Dringg.... Dringgg)
Sasa merogoh saku celananya dan mendapati nama Zean sedang memanggil.
"Halo?" ujar Sasa.
"Sa, lo ga ngampus?" tanya Zean.
"Gua udah di kampus, hari ini langsung ke kelas aja ya, sorry gua ga ke gerbang tadi," Sasa lalu mematikan telfon itu.
Zean yang masih bicara kemudian heran dengan sikap Sasa. Sasa lupa menuju gerbang kanan karena harus berdiri di depan gedung B1, memantau mobil sedan itu.
"Eh, boleh nanya ga?" tanya Sasa kepada salah seorang siswi.
"Iya, kenapa?" sahutnya.
"Lo anak manajemen ya?" tanya Sasa.
"Bener, kenapa?" tanya wanita itu lagi.
"Itu parkiran khusus manajemen bukan?" sembari menunjuk ke depan gedung.
Wanita itu mengangguk dan kembali bertanya.
"Lo anak baru ya?" tanya wanita itu.
"Iya, gap years!" sahut Sasa.
"Ohh, pantes nanya," ujarnya lagi.
"Anak manajemen yang pake mobil sedan hitam itu siapa ya?" tanya Sasa lagi.
"Gua kurang tahu, tapi kayaknya itu punya kating deh, soalnya gua angkatan tahun kemarin." Sahut wanita itu.
"Oke, makasi ya.." ujar Sasa berlalu pergi ke kelas.
***
Sasa duduk di sebelah Zean sembari meletakkan tas kecilnya di meja.
Belum jadi bercengkrama, dosen langsung masuk dan menerangkan pelajaran.
Dalam benak Sasa ia masih harus menemukan pemilik mobil itu sekarang.
Usai pelajaran berakhir, Sasa mengambil tas dan berjalan keluar bersama Zean.
"Sa, kantin dulu yuk sebelum pulang." Ujar Zean.
"Yuk," sahut Sasa.
Mereka berjalan ke kantin dan segera mencari tempat duduk kosong. Usai dapat tempat, mereka lalu memesan ke meja depan.
"Gua bakmi ayam ya, sama air putih aja." Sahut Sasa.
Zean mengiyakan dan berjalan ke depan. Setelah itu, ia lalu menunggu pesanan jadi dan membawakannya ke meja.
Sistem belanja di sini semi prasmanan, dimana kita memesan dan mengantar sendiri makanan ke meja.
"Ini," ujar Zean menaruh bakmi dan air putih di meja.
Sasa mengambilnya dan meneguk air putih itu sebelum makan. Zean melahap makanannya sembari mengobrol.
"Sa, lo tadi kemana aja?" tanya Zean penasaran.
"Gedung B1," ujar Sasa datar.
"Ngapain?" tanya Zean lagi.
"...." Sasa hanya diam.
"Gua bukannya kepo, tapi siapa tahu gua bisa bantu kalau lo pelu sesuatu." Ujar Zean lagi.
Seketika Sasa teringat bahwa Zean adalah Freelance hack data. Ia lalu meneguk air putih dan mulai bicara serius.
"Ze.." menatap ke arah Zean.
"Gua butuh informasi soal orang yang punya mobil ini," melihatkan foto.
Zean berpikir dan mulai mengingat sesuatu.
"Gua liat mobil itu 3 hari lalu di parkiran manajemen," jelas Zean.
"Lo tau dia anak manajemen?" tanya Sasa lagi.
"Lo suka?" tanya Zean lagi.
"Ini bukan soal perasaan, ege!" bentak Sasa menutup kembali ponselnya.
Zean terkekeh dan meneguk lemon tea di tangannya.
"Sa, sebelum gua kuliah di sini, gua udah sering ke sini," jelas Zean.
"Karena bokap lo ya," celetuk Sasa.
"Ya begitulah, dulu sih Mami yang selalu ke sini, tapi sejak mami meninggal, gua gantiin posisinya dalam partner seminar," jelas Zean.
"Tapi, dari jauh..." tambah Zean lagi.
"Jadi, itu alasannya banyak anak kampus yang ga tau lo anak pak Fergi?" tanya Sasa.
"Ga ada yang tau Sa, bukan banyak yang ga tau." Zean menjauhak piring yang sudah kosong dari pandangannya.
"Btw, lo ngapain nyari tau soal ini?" tanya Zean.
".... ada hal yang harus gua selesain, tapi..." jawab Sasa.
"Lo ga perlu kasih tau gua kalau lo belom siap orang lain tau masalah lo," jelas Zean.
"Sorry Ze, next kalau udah tepat waktunya pasti gua ceritain ke lo," ujar Sasa.
"Jadi, lo masih mau tau pemilik mobil itu?" tanya Zean.
Sasa mengangguk pasti.
"Kampus segede ini sulit banget buat anak baru kaya lo ngerti seluk beluknya," Zean lalu melihat ke Sasa.
"Gua perlu informasi soal pemilik mobil itu sekarang, Ze." Jawab Sasa.
"Ayo, selesain sekarang!" sahut Zean berdiri dan mengajak Sasa pergi.
***
Hari baru menunjukkan pukul 15.00 WIB. Belum terlalu sore untuk menguntit. Sasa dan Zean berjalan ke gedung B1. Kampus ini sudah familiar bagi Zean.
"Kita mau kemana, Ze?" tanya Sasa sembari mengikuti langkah Zean.
Zean lalu berjalan ke parkiran belakang gedung manajemen. Ia menemukan mobil yang Sasa cari.
"Itu kan mobil yang lo maksud?" tanya Zean sembari menunjuk ke mobil itu.
Sasa seketika terbelalak akan kecepatan informasi yang Zean dapat.
"Kenapa lo bisa tau? parkirnya beda lagi," celetuk Sasa.
"Ini parkiran khusus kakak tingkat di manajemen, sebenernya ga khusus sih, tapi mereka yang buat aturan abal-abal kaya gitu." Zean bergidik.
"Oh, gua baru tau." Sasa terpana sembari melihat ke mobil itu.
"Kan gua udah bilang, kalau kampus ini terlalu besar untuk lo cari tau sendiri," Zean lalu berjalan mencari tempat duduk di taman dekat parkiran belakang.
Sasa mengikuti langkah Zean dan duduk di taman belakang, tepat saat ia bertamu ke kampus ini pertama kali.
"Ze.." ujar Sasa ingin menanyakan perihal kenapa Zean tahu mobil itu ada di sini.
"Tadi, mobil itu masuk barengan sama gua di gerbang kampus," ujar Zean sembari mengingat kejadian tadi pagi.
"Gua ga sengaja liat belakang platnya yang pake SM," ujar Zean lagi.
"Lo? tau soal plat SM?" tanya Sasa penasaran.
Zean menatap lurus ke depan dan bicara serius.
"Gua udah sering hack beberapa data pengusaha yang pake plat SM," ujar Zean datar.
"Jadi, pas gua liat platnya gua liatin dari jauh ternyata dia masuk ke parkiran manajemen," jelas Zean lagi.
"Lo beneran freelance?" ujar Sasa sedikit gugup.
Zean mengangguk sebagai tanda mengiyakan ucapan Sasa. Ia sudah sering sekali mengamankan beberapa sistem perusahaan besar, jadi hal berbau hack tidak asing lagi baginya.
Saat sedang asik duduk dan bercengkrama, tiba-tiba seseorang berjalan ke arah mobil hitam itu. Pria tinggi yang wajahnya tidak asing bagi mereka berdua.
Pria itu nampak masuk ke dalam mobil dan menutup kembali pintunya.
"Jadi,.. pemilik mobil itu..." ujar Sasa terbata.
Sasa dan Zean terdiam memperhatikan mobil itu sampai pergi. Pemiliknya ternyata adalah Ghare.