
Dari balik ruangan ICU yang sama dengan sebelumnya, nampak Bara tengah duduk di kursi yang disediakan. Ia lalu menyentuh pipi Renita yang masih lembut seperti biasa.
Selang beberapa menit, terdengar suara pintu terbuka. Mata Bara sontak menatap sumber suara itu.
"Ayah?" sapa Bara.
Dr. Arya hanya diam, ia lalu mendekat ke Bara dan menatapnya dengan serius. Melihat tatapan itu saja, Bara sudah tahu bahwa ayahnya pasti membawa kabar kurang sedap.
"Sebagai calon dokter, apa kamu siap melihat banyak keluarga yang kamu tolong nanti sedih, nangis, marah ketika saudara, adik, kakak atau keluarganya gagal kamu bantu?" jelas dr. Arya tiba-tiba.
Bara mencoba mencerna setiap ucapan dr. Arya.
"Ayah pernah bilang, menjadi dokter itu harus punya mental lebih kuat dari baja," ujar Bara.
"Jadi, seharusnya Ayah ga perlu tanya lagi soal ini," jelas Bara lagi.
Dr. Arya menatap putranya dengan sangat bangga, ia merasa berhasil menanamkan nilai mental yang baik untuk Bara.
"Siap atau tidak, kita harus siap!" tegas Bara meyakinkan Ayahnya.
Dr. Arya lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
"Jadi, apa kamu siap kalau hal yang sama terjadi sama keluarga kita?" sembari melirik ke Renita.
Bara lalu juga melirik ke Renita sebagai tanda memahami maksud Ayahnya.
"Ayah juga pernah bilang kalau apapun ketidakmungkinan yang terjadi, sebagai seorang dokter, harus selalu diusahakan," tegas Bara.
"Bara..." sembari mendekat ke Bara.
"Bunda pasti percaya kamu bisa jadi calon dokter yang hebat, bahkan lebih dari ayahmu!" tegas dr. Arya.
"Dengan kehebatan itu, kamu pasti tahu bahwa kemungkinan Bunda bertahan saat ini hanya 40,5%," jelas dr. Arya sembari menatap Renita.
"Ayah sudah coba berbagai alternatif yang ada di sini, tapi belum ada kemajuan," ujar dr. Arya.
"Dan cara terbaik saat ini adalah merujuk Bunda ke salah satu rumah sakit terbaik di Singapura," tambah dr. Arya.
Bara menatap wajah Renita yang semakin pucat, ia lalu kembali menatap Ayahnya dengan tatapan sedih.
"Oke, tapi aku ikut!" tegas Bara menggenggam tangan Renita.
Dr. Arya menggeleng atas ucapan Bara. Ia tidak setuju karena Bara harus meneruskan kuliahnya.
"Kamu udah hampir 10 hari loh ga masuk kampus, tadi dosen kamu udah nelfon ke rumah," ujar dr. Arya.
"Katanya kalau seperti ini terus praktek kamu ke rumah sakit secara langsung akan ditunda," jelas dr. Arya.
Bara terdiam, ia sadar bahwa semester ke 6 ini adalah ladang praktek. Jadi, satu kali ia bolos akan sangat berpengaruh pada nilai dan izin prakteknya.
"Kamu pasti tahu resikonya kalau praktek kamu ditunda, itu akan memperlambat seminar proposal kamu," tegas dr. Arya lagi.
"Tapi, aku ga bisa ninggalin Bunda dalam keadaan seperti ini, ke Singapura lagi, siapa yang bakal jagain Bunda, ayah pasti sibuk!" ketus Bara menyindir.
"Ayah akan ikut sama Bunda, dan ayah pastikan di sana ayah bukanlah seorang dokter, ayah akan jadi suami bunda di sana,"
Bara menatap dr. Arya dengan tatapan sendu. Ia benar-benar tidak mau berpisah dengan Renita walau hanya sebentar.
"Kalau ini akan buat keadaan Bunda membaik, aku ikhlas!" ujar Bara sembari melirik Renita dengan tatapan sendu.
"Ayah akan urus keberangkatannya lusa, kamu harus masuk kampus lagi mulai besok," jelas dr. Arya.
"Bunda pasti gamau kuliah kamu kacau gara-gara ini,"
"...." Bara hanya diam dan menyiyakan ucapan dr. Arya dengan terpaksa.
Setelah itu, Bara nampak berdiri dari duduknya. Ia bermaksud ingin menghubungi seseorang tentang hal ini.
"Aku keluar sebentar, Yah!" ujar Bara berlalu pergi.
***
Sore kali ini menjadi semakin indah saat Zean berhasil mengajak Sasa pulang bersamanya. Ia berasa mendapat undian lotre. Senang sekali.
Sasa yang kini duduk di vespa milik Zean itu nampak sudah mulai hangat, mungkin karena ia dan Zean sudah semakin dekat.
Zean lalu menoleh ke belakang sedikit, melihat sekilas wajah Sasa.
"Gamau pegangan?" tanya Zean dengan jahil.
"Mau!" ujar Sasa dengan cepat.
Zean langsung sumringah dan tersenyum lebar. Namun, kenyataan seolah membantingnya jauh ke dasar aspal.
"Pegang jok motor," tambah Sasa lagi.
Senyum di wajah Zean langsung hilang. Bagaimana pun, Sasa memang hanya menganggap Zean sebatas sahabat, tapi Zean seolah menagkap sesuatu yang berbeda.
"Udah dua kali goncengan masih megang jok?" celetuk Zean.
"Terus mau pegang apa lagi? pegang ban?!" bentak Sasa.
"Hahaha, dasar! Ga gitu juga kali, Sa."
Sasa lalu membuang pandangannya. Ia memang tipe orang yang sangat datar. Cantik saja yang menolongnya dari hujatan banyak orang.
Saat sedang asik berkendara, Sasa tersentak saat ada suara telfon berbunyi. Suara itu berasal dari dalam tasnya. Sasa memang selalu senang menggunakan ransel. Baginya, itu akan mempermudah meletakkan semua bawaannya.
Sasa mengalihkan ranselnya ke depan dan membuka sletingnya. Ia lalu merogoh ponsel dan melihat nama Bara tertera di sana.
Zean yang menyadari Sasa melakukan sesuatu itu lalu menoleh ke belakang.
"Kenapa Sa?" tanya Zean
"Minggir dulu, Ze... mau angkat telfon," ujar Sasa yang menyuruh Zean minggir itu.
"Oke," Zean lalu menepi ke dekat trotoar jalan.
(Dering telfon)
"Halo Bar?"
Bara? Seketika telinga Zean seperti tak asing dengan nama itu. Bukankah ia pernah bertemu sebelumnya?
"Gua langsung ke rumah sakit sekarang juga," ujar Sasa sembari menutup telfon.
Zean yang tidak tahu apa-apa hanya melongo. Ia menatap Sasa dengan penuh pertanyaan.
"Ada apa?" tanya Zean.
"Kita ga jadi pulang, ke rumah sakit sekarang juga," ujar Sasa sembari menepuk pundak Zean.
"Gausah banyak tanya, Ze. Buruan!" tegas Sasa.
Zean yang tidak tahu nama rumah sakitnya itu hanya diam di tempat.
"Kenapa belom jalan?" tanya Sasa.
"Gua ga atau alamat rumah sakitnya," ujar Zean.
"Jalan aja dulu, nanti gua tunjukin!" ujar Sasa.
"Okee, jalan!" ujar Zean melaju dengan motornya itu.
Ia merasa Sasa khawatir saat ini. Sedangkan, Zean tidak tahu sosok di balik ke khawatirannya itu.
Zean melaju sesuai arahan yang Sasa berikan. Perlu sekitar 20 menit untuk mereka berdua sampai di parkiran rumah sakit.
Usai sampai, Zean melepas helmnya dan mengambil helm yang Sasa berikan. Sasa lalu merapikan rambutnya dan mengajak Zean masuk.
"Ayo," ujar Sasa.
Zean yang tidak tahu akan membesuk siapa itu, hanya bisa mengikuti langkah Sasa. Ia mengikuti Sasa yang menyusuri lorong rumah sakit.
Sampai akhirnya mereka masuk ke ruangan bertuliskan VIP, dan masuk lagi ke ruang bertuliskan ICU.
Tepat, di dalam ruang yang bisa dilihat ke dalam itu, nampak dr. Arya selaku Ayah Bara dan Bara tengah berbincang. Mereka sampai tak menyadari kehadiran Sasa di depan kaca.
"Yang sakit di dalem siapa, Sa?" tanya Zean pada sosok yang kurang jelas dilihat karena sedang terbaring.
Sasa menatap datar ke kaca itu. Melihat sosok Renita yang masih terbaring lemas.
"Ibunya Bara, anggota PMI yang waktu itu bantu gua di kampus." Jelas Sasa.
Zean seketika tersentak. Ia bergumam sendiri, ternyata benar dugaannya, sosok ini memang penah ia temui sebelumnya.
Sedangkan, dari dalam nampak dr. Arya dan Bara tengah bercengkrama.
"Kita lakuin ini semua demi kebaikan kamu dan Bunda," ujar dr. Arya sembari memegang bahu Bara.
Bara menatap dr. Arya dengan mata berkaca-kaca.
"Oke," ujarnya dengan datar.
Bara lalu tak sengaja menoleh ke luar. Matanya lalu bertemu dengan mata Sasa yang sedang berdiri di luar. Menyadari itu, Bara lalu bangun dari duduknya.
"Nanti kita bicarain ini lagi, Yah. Aku mau ngobrol sebentar sama mereka," ujar Bara menunjuk sosok Zean dan Sasa.
"Oke, silahkan." Ujar dr. Arya.
Ia lalu melangkah ke luar ruangan. Membuka pintu dan berjalan ke arah Sasa.
"Udah dari tadi?" tanya Bara yang masih memakai baju steril itu.
"Lumayan," sahut Sasa datar.
Bara lalu menatap Zean, sosok yang sepertinya pernah berhadapan dengannya.
"Ini pacar lo?" tanya Bara menunjuk Zean.
Mendengar itu, Zean nampak sumringah. Ia seperti ingin menjawab iya pada pertanyaan itu. Namun, semua hanya angan-angan saja.
"Temen kampus, satu jurusan." Ujar Sasa.
"Ohh, kenalin... Abrahan Glanelio dari fakultas kedokteran, paggil aja Bara," sembari mengulurkan tangan.
"Zeano Pratama, panggil Zean aja." Zean lalu membalas uluran tangan Bara.
Mereka berdua nampak begitu kaku. Sedangkan, Sasa nampak biasa saja.
"Anggap aja ini perkenalan resmi kita, karena sebelumnya mungkin lo pernah liat gua pas bawa Sasa ke PMI?" tanya Bara memastikan.
"Iya, santai aja!" ujar Zean.
"Bu Renita jadi dirujuk ke Singapura?" tanya Sasa menatap Bara.
"Iya, lusa!" tegas Bara.
"Beliau lo sakit apa?" tanya Zean yang baru tahu itu.
"Ada komplikasi di paru-parunya, itu karena efek kanker dulu," jelas Bara.
Zean langsung tertegun. Ia lalu menatap Renita dengan belas kasihan dari jauh.
Baru saja berbincang, seseorang keluar dari ruangan itu. Ia adalah dr. Arya.
"Sasa?" sapa dr. Arya sembari tersenyum.
"Dokter," ujar Sasa.
"Ini teman kamu?" menunjuk Zean.
"Iya," sembari tersenyum kecil.
"Bara, Ayah mau ke resepsionis dulu, kamu ajak Sasa dan temannya ngeliat Bunda, silahkan..." sembari tersenyum dan pamit pergi.
Bara mengiyakan ucapan dr. Arya. Ia lalu berjalan ke loket dan mengambilkan dua baju steril untuk Zean dan Sasa.
"Pakai ini," sembari menyodorkan baju.
Zean dan Sasa memakai baju itu. Ia lalu mengikuti langkah Bara untuk masuk ke dalam. Sasa dan Bara berhenti di sisi sebelah kanan Renita.
Zean berdiri di sisi kiri Renita, dengan begini ia dapat melihat jelas wajah perempuan itu. Zean lalu mencoba mengingat sesuatu, ia merasa pernah bertemu atau melihat Renita sebelumnya, tapi dimana?
Sosok ini seperti tidak asing bagi Zean. Ia lalu menatap Bara, namun enggan bertanya. Zean memilih memikirkan sendiri kapan ia bertemu dengan Renita.
"Bu, Sasa dateng lagi," sembari menggenggam tangan Renita.
Bara dan Zean hanya diam melihat Sasa yang sedang mengajak Renita bercengkrama itu.
"Sasa ke sini karena Bara kasih kabar kalau ibu bakal dirujuk ke rumah sakit terbaik di Singapura," jelas Sasa lagi.
"Sasa percaya, ibu pasti akan sembuh!" tegas Sasa dengan nada sendu.
Sasa lalu menatap Bara. Ia menemukan sorot mata yang penuh kesedihan di sana.
"Semangat sembuh, Bu, demi Bara." Ujar Sasa yang membuat Bara tertegun.
Bara nampak tersenyum miris ke arah Sasa. Sementara, Zean nampak sibuk dengan fikirannya tentang kapan ia pernah bertemu dengan Renita.
Zean juga heran, kenapa Sasa nampak dekat dengan Renita, padahal ia adalah sosok pria yang paling sering bertemu dengan Sasa.