
Pagi yang cerah hari ini, tidak sampai menyinari hati Bara. Dari ruang yang sama dengan sebelumnya, Renita masih saja tertidur. Sekarang sudah masuk hari ke 10, tapi keadaan masih sama saja.
Bara masih setia menggenggam tangan Renita. Matanya terpejam, ia masih berkelana di alam mimpi. Lelah sekali menunggu di kursi yang sama setiap hari, tapi ia memilih tidak pergi.
Sedangkan, Arya nampak masih sibuk mengurus pasien lain. Mau bagaimana lagi, itu adalah sumpah yang memang harus dijalani seorang dokter. Bara pun nanti akan seperti itu.
Ia hanya bisa menitipkan istrinya ke calon dokter, Bara. Bukan karena tidak peduli, tetapi memang harus seperti ini.
Bara yang sedang asik tertidur lalu terbangun dengan suara dering telfon. Matanya seketika harus dibuat fokus.
(Dering telfon)
Bara melihat nomor tanpa nama yang tertera di sana, ia lalu memutuskan untuk mengangkat telfon dari nomor tak dikenal itu.
"Halo?" ujar Bara.
Dari seberang sana terdengar suara Sasa. Ia menelfon Bara pagi ini untuk menanyakan kabar Renita.
"Ini gua, Sasa!"
Bara langsung terkejut, ia tak menyangka si gadis dingin akan menelfonnya duluan. Tapi, dari mana ia tahu nomor Bara?
"Lo tau nomer gua dari mana?" tanya Bara.
"Alien!" ketus Sasa.
Bara seketika mendengus, ternyata Sasa masih sosok yang sama. Sosok cewek yang menjengkelkan.
"Serius!!" ujar Bara.
"Kecapekan banget ya di rumah sakit?" tanya Sasa menyindir.
"Sampe lupa kalau ngisi nomer telfon ini di bawah alamat rumah waktu itu,"
Bara seketika ingat, benar, ia yang memberi nomor telfonnya sendiri di bawah alamat saat ke rumah Sasa.
"Sorry, belom makan gua!" ujar Bara mengalihkan topik.
"Gimana kabar Bu Renita? Apa udah ada kemajuan?" tanya Sasa mengabaikan ucapan Bara.
Bara menoleh ke arah Renita. Ia merasakan kesedihan saat sadar kemajuan waktu itu hanya sebentar saja, seperti ilusi.
"Beberapa hari lalu tangan Bunda bergerak," jelas Bara.
Sasa nampak sangat antusias akan kabar baik ini.
"Wah, syukurlah, mana gua mau ngobrol," ujar Sasa memaksa.
"...." Bara hanya diam.
"Bar, mana?" ujar Sasa lagi.
"Cuma beberapa menit, dan setelah itu ga ada kemajuan lagi, masih tetap tidur!" ujar Bara dengan nada putus asa.
Mendengar itu, Sasa seperti terenyuh. Kenapa belum ada kemajuan lain?
"Yang sabar ya Bar, semoga Bu Renita cepet bangun," ujar Sasa.
"Makasi Sa," ujar Bara.
"Kalau ada apa-apa kabarin gua, simpen aja nomer ini!" tegas Sasa.
"Oke, pasti gua kabarin," ujar Bara lagi.
"Jangan telat makan!" ujar Sasa tiba-tiba.
Bara lalu tersenyum kecil. Apa? Apa ini beneran? Sasa bisa ngingetin makan orang?
"Perhatian banget," ujar Bara.
"Gausah gede rasa!" ketus Sasa sembari mematikan telfon.
(Suara telfon terputus)
"Huh.. Sa?" ujar Bara.
Bara lalu tersenyum saat melihat layar ponsel yang sudah kembali ke menu utama itu. Ia seperti dapat asupan semangat pagi ini, bukan dari matahari, tapi dari salah satu makhluk yang disinari matahari.
***
Sasa menutup telfon itu sembari bergidik malas. Apa yang baru saja ia lakukan? Apakah ia baru saja menjatuhkan harga dirinya 0,18% ke dasar lantai?
Ah, sudahlah.
Sasa menaruh ponselnya di atas meja belajar. Ia lalu mengambil jurnal yang ada di rak buku. Tangannya membuka lembar jurnal satu per satu dan mencari bagian yang kosong.
Tepat di kertas kosong, Sasa menulis sesuatu yang menurutnya akan ia cari tahu kembali.
"Ghare ada hubungannya dengan mobil sedan hitam,"
"Siapa orang terdekat yang mengguncang keluarga Zena?"
"Orang dibalik jurnal AD 2016,"
Sasa lalu meletakkan pulpennya dan menutup buku itu. Ia lalu menatap ke luar jendela. Berjalan sejauh ini ternyata belum mampu membuat Sasa bertemu dengan pembunuhnya.
Lamunan Sasa akhirnya harus buyar karena dering telfon dari Zean. Sasa dengan sigap langsung mengangkat telfon itu karena memang sudah ada janji dengan Zean hari ini.
"Halo?" ujar Sasa.
"Jadi kan pagi ini ketemuan?" tanya Zean memastikan.
"Lo ga ke kelas?" tanya Sasa.
"Ga seru masuk sendiri," ujar Zean.
"Yaudah, gua otw!" ujar Sasa.
"Hati-hati!" ujar Zean menutup telfon.
Sasa lalu meletakkan ponselnya ke dalam tas. Ia yang memang sudah siap dari tadi sekarang tinggal langsung berangkat. Sasa memasukkan jurnal yang berharga itu ke dalam tas.
"Let's go!" ujarnya sembari keluar dari kamar.
Sasa menuruni anak tangga dan berjalan ke meja makan. Seperti biasa, di sana sudah ada Mbok Ira yang sedang menyiapkan makanan.
"Pagi Mysa??!" sapa Mbok Ira.
"Pagi Mbok," ujar Sasa sembari duduk di meja makan.
Kali ini, Sasa memilih untuk makan roti selai terlebih dahulu. Ia tahu hari ini akan berat, jadi harus didului dengan sarapan pagi.
Sasa mengambil satu rote dan meletakkannya di atas piring. Mbok Ira lalu menyerahkan beberapa jenis selai. Ada 3 selai, kacang, srikaya dan anggur.
Beberapa olesan pun dilakukan, hingga roti siap dimakan. Sasa melahap roti itu sembari menyelinginya dengan segelas susu.
Mbok Ira yang berada di depan Sasa nampak memperhatikan saja, Sasa lalu menyuruh Mbok Ira untuk memanggil Diki.
"Mbok, tolong panggil Pak Diki, suruh masuk ke dalem aja," ujar Sasa.
"Baik Mysa." Sembari berjalan keluar.
Sasa terus melahap roti itu hingga Diki tiba di hadapannya. Diki masuk ke rumah dan berdiri di samping Sasa.
"Ada apa Mysa?" tanya Diki.
Sasa meneguk susu yang ada di depannya. Ia lalu menyeka mulutnya dengan tisu sebelum bicara.
"Gimana kata anak bapak? Dia sukanya motor apa?" tanya Sasa menatap Diki.
"Dia sukanya motor matic, Mysa." Ujar Diki.
"Matic yang kaya apa?" tanya Sasa.
"Vespa Matic, tapi harganya...." ujar Diki hendak menjelaskan.
"Beliin 2, kasih 1 untuk anak bapak," ujar Sasa sembari bangun dari duduknya.
"Apa? Serius Mysa?" ujar Diki tidak percaya.
"Iya, nanti bapak langsung ke dealer motor aja," ujar Sasa.
"Alhamdulillah, mimpi apa saya!" celetuk Diki dengan kegirangannya.
"Saya pergi dulu, nanti kabarin kalau udah deal, biar cek nya dikirim." Ujar Sasa lagi.
"Baik Mysa, terima kasih Mysa," ujar Diki.
Sasa mengangguk dan berlalu pergi. Kali ini menjadi hari terakhir Sasa naik bus. Rasa lelah membuatnya memilih untuk membeli motor. Setidaknya, ia sudah mulai berdamai meski belum menaiki mobil peninggalan Zena.
***
Sasa berjalan ke halte bus seperti biasa. Ia berjalan dengan earphone di telinganya. Tidak ada suara lain selain suara musik. Ia lalu duduk sembari menunggu bus.
Matanya menatap kosong ke depan jalanan yang ramai. Sasa lalu terus menikmati suara musik di telinganya. Tenang, hal yang paling ia inginkan.
Selang beberapa menit, bus tiba dan ia pun masuk ke dalam. Matanya mencari kursi favorite, masih kosong. Sasa lalu duduk di kursi itu sendiri.
Perlahan, ia merasakan sesuatu yang hilang. Rasanya sepi sekali, tapi sepi karena apa? Seperti ada sesuatu yang kurang.
Sasa meilirik kursi sebelah kanan, kosong. Biasanya, ada sosok pria rese di sana. Apa ini yang membuat Sasa merasa ada yang hilang?
Sasa melalui perjalanan menunu cafe Monrow dengan musik di telinganya. Ia menatap kosong ke jendela sampai akhirnya bus berhenti.
Sasa turun dari bus setelah membayar. Ia lalu menyeberang di atas zebra cross. Matanya melirik kiri dan kanan.
Perlu beberapa detik saja untuk ia sampai di depan cafe itu. Sasa lalu masuk ke cafe dan mencari sosok Zean. Nampak sosok Zean tengah memainkan laptop di kursi sudut.
Sasa lalu berjalan sembari melepaskan earphonenya. Ia lalu duduk dan meletakkan earphone itu di meja. Zean nampak heran kenapa Sasa tidak memakai earphone itu.
"Sa," ujar Zean tersenyum.
Wajah Zean setengah tertutup laptop. Namun, Sasa tak menjadikan itu masalah.
"Gua udah pesenin lo ice cappucino," sembari menyodorkan ke dekat Sasa.
"Thank's," Sasa meneguk ice itu sembari meletakkan tasnya di meja.
"Pak Fergi tahu lo bolos?" tanya Sasa.
"Ga tau," celetuk Zean.
"Ga masalah?" tanya Sasa.
"Santai aja, lo kenapa mau ketemuan sepagi ini?" tanya Zean.
Zean lalu mengingat kejadian kemarin, kejadian saat Sasa meninggalkannya di taman sendiri dan menolak bantuannya mentah-mentah.
"Kenapa lo masih mau di ajak ketemu?" tanya Sasa.
"Kenapa enggak?" tanya Zean sembari menurunkan sedikit layar laptopnya.
"Lo ga sakit hati sama..." ujar Sasa.
"Sakit hari karena kejadian di taman kemarin?" tebak Zean.
Sasa mengangguk. Ia lalu merogoh sesuatu dalam tasnya.
"Bisa jadi kan," ujar Sasa sembari mengeluarkan jurnal.
"Lo juga ngapain masih ngajak gua ketemuan, sampe bolos lagi?" ujar Bara.
Sasa lalu menyerahkan jurnal itu ke Zean. Zean nampak kaget, ia lalu dengan hati-hati menyentuh jurnal itu.
"Sa? Lo aman?" tanya Zean.
"Itu jurnal yang belom pernah gua kasih baca ke siapapun," jelas Sasa.
Mendengar itu, Zean langsung tanggap bahwa Sasa memberinya kepercayaan untuk masuk dalam masalahnya. Zean seketika tersenyum lebar.
"Ini gua seneng bukan karena lo punya masalah ya, tapi karena lo mau berbagi masalah sama gua," jelas Zean.
"Iyaaa!!" ketus Sasa menyodorkan lebih dekat jurnal itu.
"Gua boleh baca?" tanya Zean sembari mengambil jurnal itu.
Sasa mengangguk dan meminum ice yang ada di depannya. Ia percaya Zean akan membuka jalannya satu per satu lewat retas. Setidaknya, pertama ia akan ungkap siapa Ghare sebenarnya.
Bara membuka jurnal itu dengan perlahan, ia masuk ke halaman pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Ada banyak tulisan di sana. Tulisan penuh beban.
Zean membaca satu per satu bukti yang tertera di jurnal itu, bahkan ia sampai ke titik cerita Ghare. Zean lalu menatap Sasa dengan sendu.
Apakah sebesar ini masalah yang Sasa hadapi sendiri? Bahkan melalui jurnal ini Zean baru mengetahui bukti dan puzzles tentang pembunuhan ibunda Sasa.
"Lo nampung ini semua sendiri?" ujar Zean dengan hati-hati.
Sasa menatap Zean dengan tajam. Ia lalu meletakkan ice cappucino nya.
"Iya, karena gua selalu ngerasa bisa handle semuanya sendiri," ujar Sasa singkat.
Zean lalu menatap Sasa dengan serius. Ia benar-benar paham alur cerita ini setelah membaca jurnal, dan ia harus membantu Sasa keluar dari zona gelap ini.
"Apa yang bisa gua bantu sekarang juga?" ujar Zean.
Sasa tersenyum kecil ke Zean, ia lalu menatap Zean seolah ingin menyampaikan informasi lewat kontak mata.