Puzzles

Puzzles
Episode 67 - Hadiah untuk Seseorang



Ghare keluar dari taxi dan segera berjalan menuju lobi hotel. Dari luar saja, hotel ini sudah terlihat sangat megah. Ada banyak pernak pernik bernuansa gold di sini.


"Selamat siang, Tuan... Ada yang bisa kami bantu?" tanya satpam yang ada di depan hotel.


"Saya mau ke resepsionis," ujar Ghare tanpa senyum.


"Oh, silahkan... Ada di sebelah kiri ya..." ujar satpam itu dengan ramah.


Ghare mengangguk, ia lalu segera berjalan masuk ke hotel. Kakinya melangkah menuju sebuah meja tinggi dengan beberapa orang di dalamnya.


"Halo, selamat siang... Ada yang bisa dibantu?" tanya seorang perempuan berparas cantik.


"Saya mau ketemu sama orang di kartu nama ini, bisa?" tanya Ghare.


Wanita itu mengambil kartu nama yang Ghare tunjukkan. "Bu Deina? Ini manajer hotel ini, Bli. Sebelumnya apakah sudah buat janji?"


"Oh belum... Saya datang mendadak karena ada urusan dengan beliau," jawab Ghare.


"Saya tidak bisa mengizinkan bertemu manajer kalau belum ada janji," ujarnya dengan sopan.


"Gimana ya, apa bisa bantu saya menghubungi beliau? Nanti biar saya yang bicara." Ghare memperdekat jaraknya dengan meja pembatas.


Wanita itu menatap Ghare dengan tidak yakin. "Tetap tidak bisa, komunikasi dengan manajer terbatas pada jadwal, tapi saya bisa bantu hubungi sekretarisnya."


"Mm, oke deh, ga masalah." Ghare menarik nafas dengan dalam.


"Sebentar ya, Bli." Wanita itu mulai menekan beberapa angka di telfon.


"Tapi, beliau ada di kantor kan hari ini?" tanya Ghare menghentikan wanita itu menekan nomor.


"Saya dari pagi belum liat Bu Deina, tapi coba saya konfirmasi dulu ke sekretaris beliau." Wanita itu kembali memasukkan nomor dan mulai menelfon.


(Berdering)


"Halo, Salsabila? Saya dari resepsionis mau tanya, Bu Deina ada di ruangannya sekarang?" tanya wanita itu.


'Bu Deina hari ini ga ke hotel.'


"Oh gitu, oke... Terima kasih." Wanita itu kembali menutup telfon.


"Gimana?" tanya Ghare lagi.


"Bu Deina hari ini ga masuk," ujar wanita itu.


"Ga masuk? Kenapa ya?" tanya Ghare.


"Maaf, itu bagian dari privasi... Bli bisa ke sini lagi besok," ujar wanita itu seraya tersenyum.


"Saya bisa tahu alamat rumahnya ga?" tanya Ghare lagi.


"Saya sudah bilang kalau ini bagian dari privasi," ujar wanita itu lagi.


"Saya butuh sekali, ada urusan penting yang harus saya selesaikan," ujar Ghare.


"Maaf, kami tidak bisa bantu hal yang berkaitan dengan privasi. Itu adalah peraturan di sini,"


"Ini, saya kembalikan..." ujar wanita itu menyerahkan kartu nama Deina.


Ghare mengambil kartu nama itu menatapnya dengan kecewa. Ia merasa buntu karena mulai kehabisan waktu.


Wanita itu tersenyum ke Ghare, sementara Ghare hanya diam dengan tatapan dingin. "Huh..." Ghare keluar dari hotel itu.


Matanya melirik sekeliling, tidak ada taxi yang tadi di sini. Ia harus menelfon kembali untuk bisa berkelana di Bali. "Gua harus gimana lagi ya?" tanya Ghare dengan pelan.


"Selamat siang, ada yang bisa dibantu lagi, Bli?" tanya satpam di situ.


"Bapak tahu alamat rumah Bu Deina?" tanya Ghare.


"Alamatnya ga tau, tapi lokasi tempat tinggalnya tau," ujar satpam di sana.


"Di sekitar mana, Pak?" tanya Ghare.


"Maaf, Bli... Peraturan di sini tidak boleh memberitahu hal pribadi pekerja," jelas satpam itu.


"Wah, yang bener? Tapi, saya tetap tidak bisa kasih tau karena ga ada bukti falid."


"Yaudah, saya permisi dulu." Ghare langsung pergi meninggalkan satpam itu karena kesal tidak mendapat informasi.


Kenapa banyak sekali peraturan di hotel ini? Ghare berjalan ke halaman hotel. Ia berdiri di depan hotel dengan melihat kartu nama di tangannya.


"Gua kayaknya harus minum dulu deh, biar bisa lebih fokus." Ghare lalu menyimpan kartu nama itu di saku kemejanya.


Matanya melirik ke depan dan melihat satu cafe di sana. Cafe itu nampak ramai. Ghare menyeberang jalan dan masuk ke dalam cafe itu.


Ia lalu mencari kursi kosong dan segera duduk. "Mau pesan apa, Bli?" tanya waiters itu.


Ghare melihat buku menu yang ada di depannya. "Lemonad nya 1, makannya nanti aja."


"Baik, ditunggu ya."


Ghare menatap sekelilingnya dengan datar. Pikirannya dipenuhi pertanyaan. Bagaimana cara dia bisa bertemu Deina?


'Bahkan di kota yang sama pun, gua ga bisa nemuin nyokap secara cepat.'


...----------------...


Sasa masuk ke dalam Mall yang baru saja ia datangi. Kakinya melangkah menuju beberapa rak pakaian.


Ia kemudian tertarik saat melihat toko pakaian dengan beberapa jaket di dalamnya.


Sasa masuk ke dalam toko itu dan mulai melihat-lihat. "Permisi, ada yang bisa saya bantu?" ujar seseorang yang sudah berdiri di samping Sasa.


"Saya mau cari jaket puffer untuk pria."


"Oh, ada... bisa dilihat di pojok kiri," ujar penjaga toko.


Sasa melangkah menuju pojok kiri. Di depannya kini ada banyak sekali jaket puffer terpajang. "Ini adalah salah satu jaket puffer limited kami, jumlahnya cuma ada 1." Sasa melihat ke jaket yang kini dipegang oleh penjaga toko itu.


Sasa menatap dengan suka jaket puffer berwarna dongker dengan corak coklat susu di tengahnya. Dibagian bawahnya terdapat gambar fire yang sangat keren.


"Ukurannya pas untuk cowok yang badannya agak berisi ga?" tanya Sasa seraya memegang jaket itu.


"Bisa, ini one size dan cuma ada 1. Kalau kakaknya mau, saya bisa kasih diskon 20 persen sebagai bonus."


"Boleh, saya beli yang ini." Sasa lalu berjalan ke meja kasir untuk segera membayar.


Matanya langsung terpikat oleh jaket limited itu. "Totalnya jadi 875.000, mau cash atau m-banking?"


"M-banking aja, biar saya tf sekarang." Sasa merogoh ponselnya untuk membayar secara digital.


"Ini," ujar penjaga toko itu seraya menyerahkan nomor pembayaran.


"Sudah ya," ujar Sasa menunjukkan bukti.


"Terima kasih, Kak..."


Sasa mengangguk dan segera berjalan keluar toko. Ia lalu kembali melirik bag di tangannya. Hadiah ini, semoga saja yang menerima akan suka.


...----------------...


"Silahkan dinikmati," ujar pelayan di cafe itu.


Ghare tersenyum dan menyedot lemonad itu. Ia lalu kembali mengeluarkan kartu nama di sakunya. "Kartu nama ini, cuma ada alamat kantor."


Ghare lalu melihat ke hotel gloubel yang masih terjangkau oleh pandangannya. Ia lalu kembali melirik kartu nama itu. Matanya tertuju pada nomor yang tertera di sana.


"Nomor, kok gua ga kepikiran ya?" tanya Ghare.


Ghare kembali membaca nomor itu. Ia lalu merogoh ponselnya dan mencatat nomor yang ada di sana. "Apa gua telfon sendiri aja?" tanya Ghare lagi.


Ghare nampak ragu dengan niatnya. "Tapi, kayaknya lebih baik gua temuin langsung, karena kalau gua telfon akan ada resiko menghilang dari nyokap, itu akan lebih susah."


Ghare lalu meletakkan kembali ponselnya dan menatap kosong ke kartu nama itu. "Gua harus cari cara lain..."